
Beberapa hari berlalu. Tak ada hal yang berbeda. Semuanya masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Adinda menjalani hari dengan keluarga kecilnya, sedangkan Devin kembali beraktivitas seperti biasanya.
Namun, pagi ini terasa berbeda. Adinda sudah terlihat cantik dalam balutan gaun yang dirancangnya sendiri. Riasan yang natural, namun tak mengurangi kadar kecantikannya.
"Istriku cantik sekali," puji Ivan. Ia menghampiri Adinda yang tengah memindai penampilannya di depan cermin. Memeluknya dari belakang dan menghirup wangi yang menguar dari wanita halalnya.
"Terima kasih, Suamiku." Adinda tersenyum pada suaminya.
"Maaf ya Sayang, aku tak bisa mengantar," sesal Ivan.
"Iya, enggak apa-apa kok. Pekerjaan kamu itu lebih penting karena menyangkut nyawa orang lain. Oh ya, memangnya tidak apa-apa jika Devin yang menjemputku?" tanya Adinda.
"Ya Sayangku, tapi nanti setelah operasi selesai, aku langsung menyusul," jawab Ivan.
Hari ini adalah hari pernikahan salah satu sahabat Adinda, Sinta. Ivan tak bisa mengantar Adinda karena sudah ada jadwal operasi yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Jadilah Devin yang akan menjemput Adinda karena hari ini akhir pekan. Setiap akhir pekan Devin selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi putrinya.
"Terima kasih," ucap Adinda.
"Oh ya, aku berangkat sekarang ya Sayang. Kamu hati-hati, jaga diri baik-baik. Sampaikan salamku pada ayahnya Vina." Ivan melerai pelukan mereka.
Adinda membalikkan badannya. Mata mereka beradu. Ivan mengecup bib*r Adinda sekilas. Seandainya tidak terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit, pasti Ivan tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Aku antar sampai depan," ucap Adinda. Mereka pun turun bersama dengan bergandengan tangan.
Adinda mengulurkan tangannya pada suaminya dan mencium punggung tangan suaminya dengan takdzim. Ivan mengecup kening Adinda sekilas sebelum dirinya beranjak untuk pergi ke rumah sakit.
"Aku berangkat ya, Sayang," pamit Ivan.
"Iya, hati-hati," balas Adinda.
Ivan masuk ke dalam mobilnya. Ia melambaikan tangan pada Adinda. Adinda pun membalas lambaian tangan suaminya. Perlahan mobil yang dikendarai Ivan melaju membelah jalan raya.
Adinda masih berdiri di tempatnya sampai mobil suaminya hilang dari pandangan. Adinda membalikkan badannya dan melangkah perlahan. Namun, belum sampai ia mencapai pintu, sebuah mobil mewah memasuki halaman rumahnya. Adinda menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya.
Mobil mewah itu berhenti. Kemudian sosok laki-laki yang begitu Adinda kenal turun dari mobil tersebut. Laki-laki itu tersenyum dan melangkah menghampiri Adinda.
"Assalamualaikum, Din," sapa Devin saat sudah sampai di dekat Adinda.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Dev," balas Adinda.
"Mari masuk, Dev," ajak Adinda.
Adinda membalikkan badannya dan melangkah masuk ke dalam, sedangkan Devin masih terdiam di tempatnya berdiri. Aura kecantikan Adinda membuatnya seakan terhipnotis. Devin bahkan tak sadar jika Adinda sudah tak berada di hadapannya.
"Loh, kemana Devin?" gumam Adinda saat menyadari jika Devin tak mengikutinya.
Adinda kembali melangkahkan kakinya keluar. Dilihatnya Devin masih berdiri terpaku di tempatnya. Gegas ia menghampiri Devin untuk kembali mengajaknya masuk.
"Dev!" seru Adinda.
"Eh, i-iya Din." seketika Devin tersentak kaget dari lamunannya.
"Ngapain masih di sini? Yuk masuk!" ajak Adinda.
Devin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pesona Adinda membuatnya gagal fokus. Devin menghembuskan napas pelan untuk menetralkan debaran jantungnya yang berdetak tak karuan. Sanggupkah Devin berjuang untuk mengubur mati perasaannya? Jika hanya sekedar melihat Adinda saja sudah membuatnya tak berdaya.
Devin mengekori langkah Adinda menuju ruang keluarga. Ingin rasanya Devin membawa Adinda dalam dekapannya, namun ia harus merasa puas hanya dengan melihat punggung wanita yang dulu pernah ia sia-siakan.
"Kamu sama Vina dulu," sambungnya. Adinda menunjuk Vina yang sedang di pangku oma Fani di sofa. Kemudian Adinda melangkah menuju kamarnya setelah melihat Devin menganggukkan kepalanya, sedangkan Devin sendiri melangkah menuju tempat di mana putrinya berada.
"Assalamualaikum, Oma," sapa Devin pada oma Fani yang tengah duduk di sofa sembari memangku Vina.
"Waalaikumsalam," balas oma Fani.
Devin meraih tangan oma Fani dan mencium punggung tangannya dengan takdzim. Oma Fani menyambut hangat kedatangan Devin. Memang dulu oma Fani tidak menyukai Devin karena telah menyakiti cucu semata wayangnya. Namun, ketika Adinda menjelaskan tentang semuanya, barulah oma Fani mau memaafkan Devin. Karena walau bagaimanapun juga, keluarga Devin lah yang selalu ada untuk Adinda dan juga almarhumah menantunya.
"Oma, boleh Vina saya gendong?" pinta Devin.
"Tentu saja." Oma Fani dengan senang hati menyerahkan Vina untuk di gendong oleh ayahnya.
Devin menerimanya dengan senang hati. Sepekan tak bertemu dengan putrinya membuatnya benar-benar rindu. Devin menciumi pipi bayi mungil yang semakin berisi itu.
Tak lama kemudian, Adinda turun dan menghampiri Devin. Devin kembali menyerahkan Vina pada oma Fani setelah melihat kedatangan Adinda.
"Adin langsung berangkat ya Oma, biar tidak terlalu malam pulangnya. Adin titip Vina" pamit Adinda. Ia meraih tangan oma Fani dan menciumnya.
__ADS_1
"Devin juga pamit ya Oma," pamit Devin. Ia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Adinda.
"Baiklah, kalian hati-hati," pesan oma Fani.
Hening ... tak ada percakapan di antara keduanya selama perjalanan. Mereka sama-sama merasa canggung untuk memulai pembicaraan.
Kurang lebih tiga jam, kini mereka sudah sampai di kediaman Sinta. Devin memarkirkan mobilnya di sisi jalan karena halaman rumah Sinta dipakai untuk tempat resepsi. Setelah mobil terparkir sempurna, barulah Adinda turun dan melangkah masuk ke tempat resepsi berada, sedangkan Devin tetap menunggu di mobilnya.
"Adinda, akhirnya kamu datang juga," sapa Alya di pintu masuk.
"Iya, Al. Oh ya, kamu udah lama?" tanya Adinda.
"Baru sampai juga, hehe," jawab Alya sambil nyengir.
"Kamu ini." Adinda menepuk pelan lengan temannya itu.
"Eh Din, kok kamu gak bareng sama suami kamu sih? Malah bareng sama mantan," tunjuk Alya pada mobil di seberang jalan. Jiwa keponya mulai meronta-ronta.
"Iya, suamiku ada jadwal operasi, tapi nanti dia yang mau jemput," jelas Adinda.
"Oh." Alya hanya beroh ria.
"Ya udah yuk, masuk." Adinda menggandeng tangan Alya menuju pelaminan.
"Selamat ya, Sin. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah dan semoga langgeng," ucap Adinda mendoakan.
"Terima kasih Din," balas Sinta.
Alya pun juga melakukan yang sama seperti Adinda. Kemudian mereka turun untuk menikmati hidangan yang ada.
Setelah lebih dari satu jam Adinda bertamu, ia kemudian pamit karena tak ingin membiarkan Devin terlalu lama menunggunya. Adinda merogoh ponselnya dan mengetik pesan pada suaminya untuk tidak menjemputnya. Adinda terlalu fokus pada ponselnya sampai tak menyadari ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang ke arahnya.
"Adinda, awas!" seru Devin.
"Aakkhhh," teriak Adinda.
BRAKKK...
__ADS_1