
POV Ivan
Flashback lima belas tahun yang lalu...
Duniaku terasa runtuh saat menyaksikan orang yang begitu aku sayangi kini perlahan diturunkan ke liang lahat. Impianku yang sangat indah kini berubah kelam. Semua ini bagai mimpi buruk dalam lelap tidurku.
'Adinda Putri' gadis manis yang telah setia mendampingiku selama satu tahun ini, kini ia telah pergi dan tak mungkin kembali. Kami pernah berjanji akan melangkah bersama ke pelaminan setelah lulus kuliah nanti. Namun, ia ingkar dengan segala janji yang ia ucapkan. Kini ia berada di bawah sana dengan janji yang tak kan pernah jadi kenyataan.
Hari-hari aku jalani bertemankan sepi. Aku adalah seorang yang introvert. Hanya dia yang selalu setia menemaniku. Namun, kini dia pun telah pergi meninggalkan aku sendiri.
Aku melajukan mobilku tanpa arah dan tujuan. Sampai di sebuah danau aku menghentikan mobilku. Aku menangis tergugu di balik stir kemudi.
Aku turun dan melangkah ke sebuah bangku di pinggir danau. Aku berteriak sekeras mungkin sambil memanggil namanya.
"Om ngapain sih teriak-teriak manggil Adin? Memangnya Om tahu dari mana nama Adin?" tanya seorang gadis kecil yang entah dari mana datangnya.
"Hey gadis kecil. Siapa yang manggil kamu? Terus apa tadi kamu bilang, om? Oh ayolah, umurku ini baru dua puluh tahun." Aku mencebik kesal. Bisa-bisanya anak kecil ini memanggilku om. Apakah wajahku terlihat sangat tua?
"Terus maunya dipanggil apa?" tanyanya lugu.
"Kakak aja, jangan om lagi," kataku.
"Oke Kak. Kakak tadi ngapain teriak-teriak? Kalau memang gak manggil Adin, terus Kakak manggil siapa?" tanyanya lagi.
"Kakak cuma lagi teriak manggil nama kekasih Kakak yang sekarang ada di atas sana," tunjukku pada langit.
"Mana? Gak ada apa-apa di atas sana." Aku menepuk kening pelan. Aku lupa kalau yang sedang aku ajak bicara adalah seorang anak kecil yang takkan paham dengan istilah perumpamaan.
"Maksud Kakak, kekasih Kakak sudah meninggal," jelasku.
"Kekasih itu apa, Kak?" tanyanya.
"Hem, kekasih itu sama seperti teman," jawabku. Rasanya pengen aku cubit gemas pipi gadis kecil di sampingku yang terlihat bulat seperti bakpao.
"Oh, teman. Sama kayak ayahnya Adin dong Kak? Kata bunda, ayahnya Adin meninggal, terus jadi bintang di langit. Sekarang kan masih sore kak, belum ada bintang. Teman Kakak jadi apa di atas sana?" tanyanya.
__ADS_1
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Jawaban apa yang akan aku berikan pada gadis kecil yang masih lugu ini. Pada akhirnya aku hanya bisa diam menerawang jauh ke masa lalu. Tanpa terasa bulir bening bergulir membasahi pipi.
"Kakak jangan nangis. Cup cup cup." Tangan mungil itu mengusap lelehan air mata di pipiku.
Aku tersenyum mengingat diriku yang tak mudah akrab dengan orang lain, kini bisa mengeluarkan banyak kosa kata saat bersama gadis kecil yang mengaku memiliki nama yang mirip dengan Adinda.
"Adin meskipun tidak punya ayah, tapi Adin tidak pernah nangis. Kalau Kakak, apa masih punya ayah atau sama kayak Adin?" tanyanya.
"Kakak punya orang tua lengkap, ada papa sama mama, ada adik juga," jawabku seraya mengacak gemas surai panjang yang memakai bandana berbentuk pita.
"Kakak, ih. Rambut Adin jadi berantakan ini," protesnya. Aku tertawa kemudian membantu merapikan rambutnya kembali.
"Jadi, Kakak masih punya ayah ya?" tanyanya lagi. Ternyata gadis kecil ini memiliki bakat untuk jadi seorang wartawan. Banyak tanya dan tak mudah teralihkan. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Harusnya Kakak tidak boleh sedih. Sama seperti Devin, dia punya papa sama mama. Si Manis meninggal tapi dia tidak menangis," katanya.
Siapa lagi itu Devin dan si Manis? Eh tunggu, si Manis, sepertinya nama kucing. Aku menghembuskan napas panjang. Jelas bedalah kondisinya. Tak mungkin aku tak bersedih ketika seseorang yang kuharapkan untuk menjadi masa depanku, kini hanya bisa menjadi masa lalu.
"Adin, Sayang. Adin di mana?" terdengar seseorang memanggil gadis kecil di sampingku dari kejauhan.
Aku tersenyum memandangi gadis kecil yang berlari sambil melompat-lompat itu. Kehadirannya yang sesaat mampu melupakan kesedihanku sejenak. Seandainya kita seumuran, mungkin aku akan memintanya tuk jadi istriku.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tak mungkin aku jatuh cinta pada gadis kecil yang baru aku temui. Lagipula aku tak ingin di cap sebagai ped*f*l.
Gegas aku beranjak meninggalkan danau ini untuk pulang ke rumah. Sudah beberapa hari aku tidak pulang. Pasti mama dan papa begitu mengkhawatirkanku.
Flashback off...
Aku menatap lurus pada kejauhan. Teringat pertemuan pertamaku dengan seorang gadis yang bernama Adinda. Mungkin dulu aku bisa mengelak kalau aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, saat kita dipertemukan kembali, ada desir aneh yang hinggap dalam kalbuku.
Namun sayang, sepertinya semua rasa ini sudah terlambat untuk aku ungkapkan. Dia sedang hamil, itu artinya dia sudah memiliki suami. Namun, selama tiga hari dia dirawat di rumah sakit, tak pernah sekalipun aku bertemu dengan suaminya. Apa ini artinya aku masih punya harapan?
"Ivan, Mama manggil-manggil dari tadi, tapi tak dijawab," kata mama. Perkataannya membuyarkan lamunanku tentang masa lalu.
"Ada apa, Ma?" tanyaku walau aku sudah tahu pasti apa jawabannya.
__ADS_1
"Kenapa tidak datang ke restoran yang sudah Mama rekomendasikan? Kasihan anak orang kamu buat menunggu. Tadi tante Vio nelpon Mama, katanya anaknya nangis karena kamu tidak datang," ucap mama menyalahkanku.
Ya, mamaku selalu mengatur kencan buta untukku setiap akhir pekan, namun tak pernah sekalipun aku datang. Di hatiku hanya ada nama Adinda seorang. Wanita yang takkan pernah bisa aku pinang di kehidupan nyata.
"Ivan sibuk, Ma," kilahku.
"Sibuk terus alasanmu. Kapan kamu mau memberikan Mama cucu? Lihat itu adikmu, si Indah, sekarang sudah otw anak kedua. Umur kamu sudah tiga puluh lima tahun. Terus mau nunggu sampai kapan, Ivan? Mama sama papa semakin tua. Gimana nanti kalau kami gak kuat buat menggendong cucu lagi." ucap mama menggebu seraya mendudukkan dirinya di kursi yang berada di balkon ini.
Aku mendesah panjang. Selalu saja seperti ini. Aku tahu mama sangat menginginkan cucu dariku, tapi entahlah aku tak pernah menginginkan wanita lain setelah kepergian Adinda.
Namun, setelah pertemuanku dengan gadis kecil di danau itu, membuatku selalu tersenyum kala mengingat wajahnya yang sungguh menggemaskan. Meski keinginan untuk memilikinya harus aku telan kembali.
"Nanti malam kamu ikut mama sama papa ke rumah teman kami yang dulu nyomblangin mama sama papa. Sudah lama sekali kami tidak pernah ke sana. Kamu juga, gak pernah mau Mama ajakin ke sana. Papa sibuk ngurus perusahaan seorang diri jadi kami gak sempat ke sana. Kamu sih lebih milih jadi dokter daripada ngurus perusahaan." Tuhkan, selalu saja aku yang disalahkan.
"Ok, kali ini Ivan ikut, tapi Ivan tidak mau nanti di sana ada acara jodoh-jodohan lagi." Aku menatap mama yang tersenyum penuh arti. Huft, sudah kuduga.
Malamnya, kami pun menuju rumah teman mama dan papa yang katanya telah menjodohkan mereka hingga mereka menjadi pasangan halal sampai saat ini. Semoga saja kali ini bukan diriku yang dijodohkan.
Rumah yang besar dengan pagar menjulang kini berada di hadapanku. Papa membunyikan klakson dan security pun membukakan pintu gerbang untuk kami.
Kami di sambut dengan hangat oleh tuan rumah di rumah ini. Hey tunggu, bukankah mereka adalah orang-orang yang belum lama ini aku temui. Seketika senyumku terbit kala melihat gadis yang aku sukai berada di antara mereka. Pandanganku tak lepas dari dirinya.
"Ivan, Ivan." Mama menyenggol lenganku berulang kali.
"Apa?" tanyaku gelagapan.
Mama menunjuk tangan oma Fani yang menggantung dengan dagunya. Ya Tuhan, pesona Adinda membuatku lupa bahwa di ruangan ini kami tidak sedang berdua. Aku tersenyum canggung seraya menyalami mereka satu persatu.
Saat aku menjabat tangan Adinda, lagi-lagi pesonanya mampu membuat tubuh ini membeku. Senyumnya yang manis sungguh menawan hati.
"Ehem." Suara deheman dari om Fathan menyadarkanku dari pesona putrinya.
Aku tersenyum canggung kala semua mata memandangku dengan pandangan yang entah. Kami pun melangkah bersama menuju ruang tamu.
"Katanya tidak mau ada acara jodoh-jodohan. Lah tadi itu apa?" bisik mama di telingaku.
__ADS_1
Jika mereka menjodohkanku dengan Adinda, sudah bisa dipastikan takkan ada penolakan dariku. Namun, bagaimana dengan suaminya? Aku hanya bisa pasrah pada takdir hidup yang akan aku jalani.