Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 7


__ADS_3

Adinda pulang cepat hari ini. Biasanya ia akan pulang jam lima sore. Sore ini ia akan foto prewedding dengan background sunset di tepi pantai. Romantis bukan? Namun sayang, semua ini hanyalah kebohongan.


Sebenarnya Adinda enggan melakukan sesi foto prewedding. Karena berdekatan dengan Devin membuat jantungnya seakan lari maraton. Namun, mengingat betapa antusiasnya Intan menyiapkan semua ini membuat Adinda tak bisa menolak.


Dirapikannya meja kerjanya yang tampak berantakan sebelum ia pulang. Kemudian melangkah keluar dan menghampiri Sinta dan Alia yang tengah sibuk melayani customer.


"Sin, Al, aku pulang duluan ya. Mau foto prewedding hari ini. Urusan butik aku serahkan pada kalian," ujar Adinda berpamitan sekaligus menyerahkan urusan butik pada dua rekannya, Sinta dan Alia.


"Siap bos!" ucap mereka serempak disertai gerakan tangan tanda hormat.


"Ya udah aku cabut dulu. Bye," ucap Adinda.


"Bye, hati-hati di jalan!" jawab Sinta.


"Bye, dandan yang cantik bos biar si doi makin klepek-klepek," timpal Alia.


Adinda hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Kemudian ia melangkah keluar. Taxi online yang di pesannya pun sudah menunggu di depan butik. Segera ia masuk dan duduk di kursi penumpang setelah memastikan bahwa taxi tersebut adalah taxi yang dipesannya.


Taxi tersebut melaju perlahan membelah jalan raya. Untunglah kendaraan di siang hari seperti sekarang nampak lengang. Lain halnya jika pagi atau sore hari, maka kendaraan akan padat merayap.


Lima belas menit kemudian taxi yang membawanya telah sampai di jalan depan rumahnya. Gegas Adinda turun setelah memberikan ongkos pada si supir taxi.


Adinda melangkah menuju rumahnya. Diputarnya handle pintu sembari mengucap salam. Adinda kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Ranjang pun tampak melambai-lambai di hadapannya. Adinda melihat jam yang melingkar di tangannya. Masih jam dua siang. Jadi, masih cukup waktu untuk dia istirahat. Semalam Devin mengabarinya bahwa akan menjemputnya jam empat sore ini.


Setelah satu jam Adinda istirahat, gegas ia ke kamar mandi. Guyuran air dingin yang menerpa tubuhnya membuat Adinda sedikit lebih rileks. Hanya sepuluh menit dia melakukan ritual mandinya. Kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Adinda menuju lemari dan memilih dress yang akan dia pakai. Pilihannya jatuh pada dress floral selutut warna putih dengan bawahan yang lebar, berlengan pendek dengan potongan kerah v neck. Outfit yang pas di gunakan untuk tema preweddingnya.


Kemudian ia duduk menghadap meja rias. Perlahan ia mulai mengaplikasikan make up ke wajahnya. Riasan make up yang natural namun tidak mengurangi kadar kecantikannya. Namun sayang, Devin hanya memandang dirinya sebagai seorang sahabat. Bahkan, gelar persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun pun kini sepertinya harus bubar jalan.


Sikap Devin yang biasanya ramah dan hangat kini berubah menjadi sedingin es. Seandainya Adinda tahu bahwa akan seperti ini akhirnya, ia pasti akan berusaha untuk tetap menolak perjodohan ini. Namun, tetap saja ia tak bisa menolak jika mengingat kebaikan Intan dan Bima. Tanpa uluran tangan mereka, bisa di pastikan ia tak akan sampai di posisi seperti sekarang.


 ---

__ADS_1


Tepat jam empat terdengar deru suara mesin mobil yang berhenti di halaman rumah Adinda. Adinda segera membuka pintu untuk menyambut kedatangan sang calon suami. Ah, lagi-lagi predikat calon suami yang di sandang Devin saat ini membuat Adinda tersenyum getir.


Devin turun dari mobil dan melangkah menghampiri Adinda. Dari kejauhan ia memindai penampilan Adinda yang sederhana namun memukau membuat Devin terkesima.


"*Cantik dan se*y*," batin Devin terpana. Devin menggeleng-gelengkan kepala mencoba menghalau pikirannya yang mulai berimajinasi liar.


"Udah siap?" tanya Devin begitu sampai di teras rumah Adinda.


"Udah kok. Masuk dulu Dev!" Adinda menepi dari pintu dan mempersilahkan Devin masuk.


"Gak usah Din. Kita langsung berangkat aja. Biar gak macet di jalan," kata Devin.


Kata kita yang diucapkan oleh Devin membuat Adinda tersipu walau Devin mengucapkannya dengan ekspresi datar.


"Sebentar Dev, aku ambil tas dan kunci pintu rumah dulu," kata Adinda sambil melenggang masuk ke kamarnya.


"Aku tunggu di mobil!" teriak Devin karena Adinda sudah masuk ke dalam kamarnya.


Tak lama kemudian mobil Devin bergerak perlahan. Lagi-lagi hening menemani perjalanan mereka. Devin sesekali melirik ke arah Adinda yang lebih memilih menghadap ke samping.


Satu jam perjalanan mereka tempuh. Kini mereka telah sampai di pantai yang akan menjadi latar foto prewedding kali ini.


Samuel sang fotografer telah menunggu mereka bersama Intan dan Bima. Devin berdecak melihat keberadaan orang tuanya. Namun, ia tak bisa mengungkapkannya.


"Ini dia calon pengantinnya. Lama banget sih Dev?" Intan bertanya pada Devin sambil melipat tangan di dada.


"Macet Ma!" bela Devin


Pandangan Intan beralih pada Adinda yang berada di belakang Devin. Intan memandang kagum pada penampilan Adinda, begitupun Bima dan Samuel.


"Wow, anak Mama cantik banget!" puji Intan.


"Ma, aku kan cowok, kok di bilang cantik sih?" Devin berdecak kesal.

__ADS_1


"Duh, yang ngomong sama kamu itu siapa? Jangan ge-er deh." Intan geleng-geleng kepala.


"Lah terus ngomong sama siapa dong? Anak Mama kan cuma aku," ungkap Devin.


"Maksud Mama kamu itu si Adinda Dev. Dia kan sekarang sudah jadi anak kami," jelas Bima sambil menahan tawa.


"Oh, jadi Adinda udah dianggap anak gitu?" tanya Devin.


Intan dan Bima serempak mengangguk.


"Jadi, karena sekarang Adinda sudah dianggap anak, berarti Adinda jadi saudaraku dong? Alhamdulillah, Engkau mendengar doaku ya Allah. Aku tak perlu lagi menjalani perjodohan ini." Devin tersenyum.


"Semprul nih bocah!" geram Intan sambil memukuli punggung putranya.


"Aduh sakit Ma. Udah dong Ma! Aduh!" Devin mengaduh merasakan sakit di punggungnya akibat pukulan seorang Intan.


Sementara Adinda hanya bisa tersenyum getir. Kalimat penolakan yang dinyatakan Devin sungguh sangat membuat hatinya teriris.


"Bisa kita mulai sesi fotonya sekarang?" Kalimat tanya dari Samuel seketika mengalihkan atensi mereka dari perdebatan. Mereka sampai lupa tujuan mereka berada di tempat ini.


"Kalian pegangan tangan sambil berpandangan." Samuel mulai mengintruksikan pose foto untuk prewedding Adinda dan Devin.


"Senyumnya yang manis. Jangan tegang, rileks aja. Nah gitu! Siap? Satu, dua, tiga. Sempurna!" Samuel mulai menjalankan tugasnya sebagai fotografer profesional.


"Sekarang ganti pose. Tangan Adinda disini. Tangan Devin disini. Pandangannya lurus, fokus sama pasangan." Samuel meletakkan tangan Adinda di dada Devin. Sementara tangan Devin merangkul pinggang Adinda.


"Ok sip. Senyum, rileks." Samuel mulai membidikkan kamera.


Jantung Adinda berdegup kencang. Memang ini bukan yang pertama kalinya ia bersentuhan dengan Devin. Namun, ini adalah kali pertama mereka berada di posisi yang int*m.


Begitupun dengan Devin. Tangannya tanpa sengaja menyentuh bagian belakang tubuh Adinda. Pandangannya yang menunduk ke arah Adinda harus membuat Devin memejamkan mata. Kerah dress yang digunakan Adinda membuat sesuatu yang bulat dan kenyal itu sedikit terekspos jika dilihat dari posisi Devin saat ini.


Berbagai macam gaya mereka lakukan untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus dan maksimal. Setelah dirasa cukup, Samuel pamit undur diri.

__ADS_1


Matahari perlahan beranjak menuju peraduannya. Suara adzan maghrib pun telah berkumandang. Mereka menuju masjid terdekat untuk melaksanakan panggilan-Nya. Setelah selesai mereka mencari resto terdekat untuk makan malam.


__ADS_2