
"Bosan sekali. Enaknya ngapain ya?" desah Adinda.
Seharian ini kegiatannya hanya rebahan dan nonton televisi sambil nyemil. Biasanya jam-jam segini ia tengah sibuk berkutat dengan pensil dan kertas gambar, tapi semua itu hanya tinggal kenangan.
Ingin ia memulai kembali karirnya di bidang desain, namun apa daya dana tak sampai. Bisa saja ia meminta pada Devin untuk mewujudkan kembali impiannya, namun Adinda tak ingin dicap sebagai wanita yang materialistis, meskipun ia berhak atas harta Devin karena statusnya adalah istri sah.
Berulang kali Adinda menggonta-ganti channel televisi, namun tak ada satu pun yang menarik. Adinda menghembuskan napas panjang. Ia mematikan televisi karena memang tak ada satu pun tayangan di televisi yang menggugah minat menontonnya.
"Bosan di rumah terus. Pengen jalan-jalan. Apa aku ke kantor Devin saja ya? Sekalian bawa makan siang buat dia. Ah, sepertinya itu ide yang bagus," gumam Adinda.
Adinda beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan siang yang akan ia bawa ke kantor suaminya. Ia membuka kulkas dan memilah bahan apa yang akan jadi menu masakannya kali ini. Segera ia eksekusi semua bahan yang sudah ia pilih.
Hampir satu jam Adinda berkutat dengan peralatan dapur, kini semua masakannya sudah tersaji dengan epik di meja makan. Tumis kacang panjang, dadar jagung, jamur krispi dan tak lupa sambal goreng kesukaan Devin. Kemudian Adinda memindahkan sebagian makanan itu ke dalam kotak bekal yang telah ia siapkan.
"Ya ampun, aku jadi laper. Aku makan dulu aja kali ya," gumam Adinda.
Adinda melirik jam yang tergantung di dinding sudah menunjuk ke angka sebelas. Gegas ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauknya. Ia makan dengan cepat agar ia tidak terlambat untuk mengantar makanannya.
Selesai makan, Adinda membereskan dapur yang terlihat berantakan karena ulahnya. Kemudian ia segera mandi karena badannya terasa bau asap dan bawang.
Tak butuh waktu lama, kini Adinda telah selesai dengan ritual mandinya. Adinda memilih dress yang akan ia kenakan. Kemudian, memoles tipis wajahnya dengan make up. Sederhana namun tampak elegan.
Kemudian ia memesan taxi online yang akan mengantarnya menuju ke kantor Devin berada. Sengaja ia tak memberi tahu Devin, karena ia ingin memberikan kejutan untuk suaminya itu. Sikap Devin memang tak acuh padanya, tapi Devin juga tak pernah menolak segala hidangan yang Adinda suguhkan.
Sementara itu di kantor Devin, Liona juga sedang mengunjungi Devin. Biasanya ia tak pernah datang langsung ke kantor Devin karena Devin melarangnya. Entah apa tujuannya kali ini.
"Permisi Mbak, apa pak Devin ada di ruangannya?" tanya Liona pada sekretaris Devin.
"Oh ya Mbak. Pak Devin ada di ruangannya. Apa sebelumnya Mbak sudah membuat janji temu dengan pak Devin?" tanya balik Diana, sekretaris Devin.
"Oh sudah, tentu saja," aku Liona berbohong.
"Oh, kalau begitu silakan masuk saja Mbak. Pak Devin sudah menunggu dari tadi." Diana mempersilakan Liona untuk masuk ke ruangan Devin, karena ia pikir Liona adalah klien yang memang di tunggu oleh Devin.
"Kalau begitu, saya permisi Mbak," pamit Liona.
"Silakan Mbak." Diana menunduk sopan.
Liona memutar handle pintu dan membukanya. Perlahan ia melangkah masuk dan menutup pintunya kembali. Dilihatnya Devin yang tengah fokus menatap layar laptop sampai tak menyadari kehadirannya.
__ADS_1
"Sayang!" seru Liona seraya melangkah menghampiri Devin.
Devin menoleh ke asal suara. Ia terperanjat kaget ketika menyadari Liona kini berada di ruangannya. Ia berdiri dari duduknya dan menatap Liona yang tengah tersenyum padanya.
"Lio, kenapa gak bilang-bilang kalau mau ke sini?" tanya Devin.
"Kalau aku bilang, kamu juga gak bakalan ijinin aku buat datang. Kamu takut hubungan kita akan terbongkar di depan orang tuamu," ketus Liona.
"Bukan begitu, Sayang. Aku kaget saja melihat kamu tiba-tiba sudah ada di sini," sanggah Devin.
"Sebentar ya, aku selesaikan ini dulu," imbuhnya
Liona hanya mengangguk dan melangkah menuju sofa. Devin segera meraih berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku harus nganterin berkas-berkas ini ke ruangan papa, karena memang membutuhkan tanda tangan papa." Devin beranjak dari kursi kebesarannya dan segera menuju ke ruangan sang papa berada.
"It's gold moment," gumam Liona.
Segera ia beranjak menuju meja kerja Devin. Dilihatnya laptop Devin dalam keadaan menyala, membuat Liona menyunggingkan senyum senang. Tangannya mulai bergerak lincah mencari file yang ia butuhkan.
"Yes, ketemu," soraknya Lirih.
"Done," gumamnya bertepatan dengan pintu ruangan Devin yang terbuka.
"Liona, ngapain kamu di sana," selidik Adinda.
Gegas Liona mencabut flashdisknya dan mengembalikan tampilan layar seperti semula. Ia harus bisa bersikap senormal mungkin agar Adinda tak curiga.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Apa itu salah?" tanya Liona. Ia meraih tasnya dan memasukkan flashdisk di tangannya secara sembunyi-sembunyi.
Adinda melangkah menuju sofa dan meletakkan kotak bekal yang ia bawa. Ia menoleh ke arah Liona yang tengah berjalan ke arahnya.
"Di mana Devin?" tanya Adinda.
"Untuk apa kamu bertanya keberadaan Devin?" tanya balik Liona.
"Aku hanya ingin menanyakan keberadaan suamiku, itu saja," jawab Adinda tegas.
"Suami?" Liona terkekeh pelan." Suami di atas kertas," bisiknya.
__ADS_1
Adinda menoleh ke arah Liona. Pandangan mata mereka beradu. Adinda mengerutkan kening heran atas ucapan yang Liona katakan padanya barusan.
"Kenapa? Heran ya? Bukankah sudah aku katakan bahwa Devin sangat mencintaiku? Jadi, tak ada satu hal pun yang tak Devin bagi denganku." Seolah dapat membaca pikiran Adinda, Liona tersenyum sinis ke arah Adinda.
"Ya Tuhan, kenapa Devin harus membeberkan rahasia yang seharusnya aku dan dia saja yang tahu. Sebegitu cintanya dia pada kekasihnya ini, sampai sesuatu hal yang sangat bersifat pribadi harus ia umbar juga," batin Adinda kesal.
"Dasar gak punya malu. Sudah tahu Devin itu gak cinta, masih saja berharap lebih. Kalau aku nih ya yang jadi kamu, udah pasti aku akan pergi jauh-jauh dari kehidupan Devin. Dasar benalu," sindir Liona.
Adinda memejamkan matanya sejenak. Jangan sampai ia terpancing emosi dan mengakibatkan baku hantam dengan perempuan yang satu ini.
"Dasar anak haram," cibir Liona.
Sontak Adinda membuka mata dan menatap tajam pada Liona. Jelas ia tak terima dikatakan sebagai anak haram.
"Upss keceplosan." Liona menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Emang bener sih, anak haram. Gak tahu bapaknya siapa. Katanya meninggal, tapi tak pernah jelas di mana makamnya," sindir Liona lagi.
"Jahat kamu Dev, sampai hal pribadi aku pun turut kamu umbar," batin Adinda mengumpat kesal.
"Dasar ibu sama anak sama saja. Sama-sama murahan!" seru Liona sinis.
"Lancang kamu!" seru Adinda.
Adinda mengangkat tangannya ke udara. Namun, belum sempat tangan itu mendarat di pipi Liona, Liona sudah jatuh tersungkur di lantai, membuat Adinda menatapnya heran.
"ADINDA! Apa yang kamu lakukan," seru Devin dari ambang pintu.
Adinda tersentak kaget mendengar teriakan Devin, sedangkan Liona tersenyum sinis ke arahnya. Gegas Devin berlari menghampiri Liona dan membantunya berdiri.
Adinda menatap nanar pemandangan di hadapannya. Seumur-umur baru kali ini Devin membentaknya. Namun hari ini, ia dibentak karena sesuatu yang tak ia lakukan.
"Dev, aku bisa jelasin. Semua ini gak seperti yang kamu lihat," ucap Adinda.
"Stop Din! Semuanya sudah jelas, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang tadi kamu lakukan terhadap kekasihku. Aku tahu kamu cemburu, tapi bukan begini caranya," murka Devin.
Adinda segera pergi dari tempat itu. Percuma saja ia menjelaskan panjang lebar kalau Devin enggan untuk percaya. Apalagi perempuan itu sengaja mengadu domba antara Devin dan dirinya.
"Ya Tuhan, aku lelah."
__ADS_1