
POV Adinda.
Terdengar suara lantunan adzan subuh berkumandang. Namun, aku masih belum sempat memejamkan mata walau sejenak. Gegas aku berlalu menuju kamar mandi. Kemudian melaksanakan ritual wajib sebagai seorang muslim.
Ku adukan segala risalah hati ini pada sang pemilik jiwa. Berharap menemukan secercah harapan walau hanya secuil kesempatan. Walau diri ini terkesan egois, namun apa salahnya meminta yang sudah sah menjadi hak milik.
Sesak terasa mengingat kembali pesan gambar yang dikirimkan oleh seseorang. Tanpa bertanya pun aku tahu itu pasti dari Liona, yang aku tak habis pikir adalah Devin, bisa-bisanya ia melakukan hal yang tak sepantasnya tanpa ikatan pernikahan dengan Liona.
Aku putuskan untuk tidur sebentar. Karena bagaimanapun juga badan ini butuh istirahat walau hanya sejenak. Rasanya, aku sudah tak sanggup menahan kantuk yang begitu mendera. Percuma aku menunggu Devin kembali. Kata sebentar yang ia ucapkan tak lebih dari sekedar bualan.
Aku setel alarm ponsel jam tujuh pagi agar aku tidak kesiangan. Rencananya aku dan keluarga besar Devin akan sarapan bersama di resto hotel ini. Malu rasanya jika aku terlambat untuk bergabung.
Baru saja aku memejamkan mata, alarm ponselku berbunyi dengan nyaring. Mata ini masih terasa berat seperti ada bongkahan batu besar yang menggelayut. Enggan rasanya aku beranjak dari ranjang empuk ini. Biarkanlah seperti ini sebentar saja.
Namun, bunyi alarm perutku juga tak kalah nyaring. Membuatku mau tak mau harus segera bangun untuk menyudahi aksi demo para cacing yang minta asupan makanan. Aku tak mau dicap sebagai manusia yang telah dzolim terhadap cacing di perut sendiri. Dan baru aku ingat bahwa tadi malam aku telah melewatkan makan malamku.
Cepat-cepat aku melakukan ritual mandiku. Rasanya tak nyaman melakukan segala aktifitas dalam keadaan lapar. Hanya lima menit saja kini aku telah selesai dengan ritual mandi kilatku.
Kulangkahkan kaki ini menuju koper di sudut kamar. Menggeledah isinya untuk mencari pakaian yang pantas untuk aku kenakan. Tanpa sengaja tanganku menyentuh lingerie yang disiapkan mama Intan untuk menaklukkan hati Devin di malam pengantin kami.
Aku tersipu membayangkan jika harus memakainya. Berlenggak lenggok bak perempuan penggo*a yang mengincar mangsanya. Merayu seorang Devin agar melihatku sebagai seorang wanita yang telah halal untuknya. Namun, segera ku tepis pikiran yang sudah membuat otakku berkelana. Karena nyatanya aku takkan pernah bisa menaklukkan hati seorang Devin.
"Ya ampun, kenapa jadi bengkak gini sih. Seharusnya aku tak perlu menangisi Devin semalaman. Ini semua gara-gara Devin. Lihat! Sudah jam berapa ini, namun ia tak kunjung kembali. Mungkinkah ia amnesia hingga lupa arah jalan pulang," gerutuku seraya mematut diri di depan cermin.
Ku kompres mataku yang tampak bengkak dengan es batu yang aku minta pada room service. Lagi-lagi bulir bening terasa berdesakan ingin keluar dari sarangnya kala aku mengingat pesan gambar yang aku terima waktu dini hari tadi. Tampak mataku yang kembali berkaca-kaca. Gegas aku menuju wastafel untuk mencuci mukaku agar tidak nampak kalau aku habis menangis.
__ADS_1
Ku aplikasikan make up ke wajahku untuk menyamarkan wajahku yang tampak sembab. Tak ingin rasanya diintrogasi layaknya seorang tersangka. Jika mama dan papa menanyakan perihal keberadaan Devin, ya sudah tinggal aku katakan yang sebenarnya.
Setelah selesai merias diri dan memastikan wajah ini siap dipublikasikan pada khalayak ramai, gegas aku melangkah menuju resto hotel. Mama Intan mengirim pesan bahwa semuanya telah berkumpul dan tinggal menunggu kehadiran pemeran utama. Siapa lagi kalau bukan aku dan Devin.
"Wah wah wah. Kalau pengantin baru auranya beda ya." Sambutan dari tante Sesil, adik dari papa Bima membuatku tertunduk malu. Bukan hanya tante Sesil yang membuatku salah tingkah. Hampir seluruh anggota keluarga menyambut kedatanganku dengan seringai menggoda.
Aku mendudukkan diriku di kursi setelah menyapa seluruh anggota keluarga baruku.
"Devin mana Sayang?" Sesuai dugaanku, pasti akan ada saat keberadaan Devin di pertanyakan.
Aku menatap mama Intan. Kulihat tatapan teduh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usia senjanya. Aku tak ingin jawabanku akan melukai hati wanita sebaik mama. Namun, apa yang harus aku katakan selain fakta yang ku ketahui? Jawabannya tentu tak ada pilihan lain bukan.
Kuhirup udara dan menghembuskannya perlahan. Menetralkan debaran jantung yang seakan siap melompat kapan saja dari sarangnya. Semua pasang mata kini tertuju ke arahku. Tatapan yang seakan bersiap menguliti mangsanya.
Beruntung makanan yang kami pesan segera datang, sehingga aku bisa menghindar dari pertanyaan yang lainnya. Kami makan dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
Beruntungnya aku meski dalam kondisi terpuruk sekalipun, aku masih bisa menikmati makanan dengan lahap. Jadi, tak perlu aku merasa cemas bahwa masalah rumah tanggaku akan terendus oleh mereka.
Karena aku sadar menjalani realita kehidupan yang tak sesuai harapan itu butuh tenaga. Kecuali saat aku kehilangan bundaku untuk selamanya. Itu adalah momen yang paling menyedihkan dalam hidupku.
Waktu terus bergulir, namun Devin belum menunjukkan batang hidungnya. Ku bereskan barang-barang pribadiku. Gegas aku check out seorang diri. Sungguh aku merasa sangat kecewa akan perubahan sikap yang Devin tunjukkan.
---
Devin mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat. Devin memijit pelan keningnya. Dilihatnya sekitar ternyata ia masih berada di apartemen Liona. Diliriknya arloji yang bertengger manis di tangannya. Seketika Devin tersentak kaget mengetahui waktu telah mununjukkan pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
"Sayang, sudah bangun?" tanya Liona dari arah dapur. Ia menata makanan di atas meja yang ia delivery.
"Kenapa gak bangunin aku Lio?" tanya Devin seraya beranjak menghampiri Liona.
"Maaf Sayang. Aku lihat tidurmu terlalu pulas sehingga aku tak berani membangunkanmu. Pasti rasanya tidak nyaman semalaman tidur di sofa? Sekali lagi maaf ya Sayang." Liona meraih tangan Devin membawanya dalam genggamannya.
"Maaf Sayang, kamu gak salah apa-apa. Jadi tak perlu meminta maaf. Mungkin aku terlalu lelah sehingga aku bangun kesiangan seperti ini," sesal Devin.
"Ya udah, kamu mandi dulu gih. Terus kita makan bareng," kata Liona seraya menunjuk makanan yang telah terhidang di meja makan.
Devin mengangguk mengiyakan. Ia mengusap pucuk kepala Liona sebelum berlalu menuju kamar mandi.
---
Kini Devin mengendarai mobilnya menuju hotel tempat ia dan Adinda menginap. Meski sempat melalui banyak drama karena Liona tak mengijinkan ia untuk pergi.
Devin meraup udara dan menghembuskannya kasar. Sungguh ia merasa sangat bersalah telah meninggalkan Adinda melewati malam pengantinnya seorang diri. Meski hubungan pernikahan mereka hanyalah sebatas hitam di atas putih. Namun, bukan begini seharusnya yang terjadi.
Devin merasa telah menjadi laki-laki breng**k. Bisa-bisanya ia ketiduran di apartemen kekasihnya dan membiarkan istrinya melewati malam yang sunyi seorang diri. Devin mengacak rambutnya frustrasi. Apa yang harus Devin jelaskan nanti pada Adinda.
Gegas Devin menuju kamar tempat ia seharusnya menghabiskan malam bersama Adinda setelah ia sampai di hotel. Devin melangkah masuk namun hanya kesunyian yang menyambut kedatangannya.
Devin membuka pintu kamar mandi namun tak ia temui keberadaan Adinda. Netranya lekat memandang sudut ruangan, seperti ada yang kurang.
" Oh ****." Devin meraup wajahnya kasar kala menyadari koper Adinda tak lagi berada di tempatnya.
__ADS_1