
"Maaf, anda siapa?" tanya Adinda pada seorang laki-laki paruh baya yang masih setia berjongkok di samping pusara sang bunda.
Laki-laki itu mendongak. Suara itu adalah suara yang selama ini ingin ia dengar. Suara yang teramat ia rindukan kehadirannya. Tanpa terasa air mata mengalir di pipinya.
Adinda mengerutkan kening heran. Ditatapnya punggung laki-laki tersebut yang bergetar. Suara isakan lirih pun tertangkap rungunya. Padahal Adinda hanya bertanya, tapi kenapa laki-laki di depannya kini harus menangis.
Posisi laki-laki tersebut yang membelakangi Adinda membuat Adinda terus menerka-nerka tentang siapakah gerangan orang tersebut. Ada hubungan apa orang tersebut dengan bundanya? Banyak tanya yang kini berkelebat di benaknya.
"Maaf, anda siapa?" tanya Adinda sekali lagi.
Perlahan laki-laki itu bangkit berdiri. Dia menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia membalikkan badannya. Netra mereka kini beradu pandang. Terpancar sorot kesedihan dan kerinduan dari tatapan mata tua tersebut.
Deg
"Wajah itu, kenapa seperti tidak asing? Bukankah itu adalah wajah yang selama ini, aku dan bunda, hanya bisa menatapnya dalam sebuah lembaran usang? Ya Tuhan, apakah ini nyata?" batin Adinda.
"A-ayah," desis Adinda lirih.
Ia tak menyangka bisa melihat ayahnya secara langsung. Selama ini ia hanya bisa menatap wajah ayahnya lewat selembar foto yang ditunjukkan oleh bundanya.
Namun, bukankah setahu dia ayahnya sudah meninggal. Apalagi posisinya sekarang sedang berada di pemakaman. Bisa saja yang ada di hadapannya sekarang adalah arwah sang ayah yang ingin bertamu ke rumah baru mendiang istrinya. Tiba-tiba saja bulu kuduknya terasa merinding.
"Ti-tidak mungkin." Adinda menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
Adinda menunduk, netranya tertuju pada kaki sang ayah yang mengenakan sepatu pantofel. Terlihat sangat jelas bahwa kaki itu menapak di tanah. Adinda mendongak kembali, dilihatnya sang ayah tengah tersenyum dengan kedua tangan yang direntangkan.
"Apa ayah akan terbang dan pulang kembali ke pangkuan Tuhan? Oh tidak, jangan sekarang. Ya Tuhan, baru pertama kali aku bertatap muka dengan ayah, berikanlah kesempatan untukku walau hanya sebentar saja," batin Adinda. Ia masih tetap bergeming di tempatnya.
"Sayang, ini Ayah." Fathan berjalan perlahan mendekati Adinda yang hanya bergeming melihat dirinya.
"Ja-jadi, ini nyata. Bukan mimpi ataupun halusinasi?" tanya Adinda.
__ADS_1
"Iya Sayang, ini nyata. Ini Ayah, Ayahnya Adinda." Lagi-lagi air mata itu mengalir dengan sendirinya.
"AYAH!" seru Adinda. Kemudian ia berhambur ke pelukan sang Ayah.
Dua puluh empat tahun lebih usianya kini. Namun, ini adalah kali pertama ia merasakan pelukan hangat seorang ayah. Terasa seperti mimpi, namun semua ini benar-benar terjadi.
"Ini bukan mimpi kan Yah? Ini beneran Ayah? Ayah Fathan? Ayahya Adin? Kenapa Ayah baru datang? Ke mana saja Ayah selama ini? Kenapa bunda bilang Ayah sudah tiada? Lantas, siapa yang sekarang Adin peluk? Apa Ayah tahu, bahwa Adin sangat merindukan Ayah?" cecar Adinda.
Fathan tetap tak bersuara, hanya air mata yang mewakilkan dirinya bahwa ia sungguh sangat terluka. Diusapnya punggung putri semata wayangnya penuh sayang. Walau ia terlalu banyak kehilangan waktu yang berharga dengan anak dan istrinya, namun setidaknya ia bersyukur masih bisa merasakan kebahagiaan melihat putrinya baik-baik saja.
Adinda melerai pelukannya. Ia memindai wajah sang ayah yang tampak sembab oleh air mata. Tangan Adinda terangkat, diusapnya air mata yang masih menetes di pipi sang ayah yang masih terlihat tampan di usia senjanya.
"Maafkan Ayah Sayang, seharusnya Ayah yang mengusap air matamu ketika kamu menangis, bukan malah sebaliknya. Namun, Ayah sangat bersyukur Tuhan masih berbaik hati mempertemukan kita walau Ayah sedikit terlambat," ucap Fathan. Netranya beralih menatap pusara sang istri tercinta.
Adinda perlahan mendekati makam bundanya. Ia berjongkok menghadap makam yang masih basah dan dipenuhi bunga. Kemudian ia melantunkan dzikir dan doa. Berharap sang bunda mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
"Assalamualaikum Bunda. Maaf, Adin baru datang. Bunda, ternyata ayah masih hidup bunda. Ayah sekarang ada di sini bersama Adin, Bun. Adin masih punya ayah," kata Adinda. Adinda tersenyum dan menoleh ke arah Fathan yang ikut berjongkok di sampingnya.
"Adin...." Sungguh tak kuasa Adinda untuk melanjutkan setiap rangkaian aksara yang ingin ia utarakan.
Fathan membawa Adinda dalam pelukannya. Diusapnya punggung ringkih itu dengan linang air mata yang sama. Ia berjanji, akan memberikan kebahagiaan kepada putrinya.
"Sudah Sayang, jangan menangis lagi. Bunda sudah tenang di alam sana. Maafkan Ayah Sayang. Bukan maksud Ayah untuk mengabaikan keberadaan kalian," ucap Fathan.
"Adin mengerti Yah, tapi Adin juga butuh penjelasan dari Ayah," kata Adinda. Ia melerai pelukannya. Disekanya air mata yang masih menetes di pipinya.
Cukup lama mereka tenggelam dalam tangis haru kebahagiaan. Kini, mereka beranjak meninggalkan pemakaman. Adinda senang kini ia tak lagi sendiri. Jikalau pun nanti ia benar-benar tak bisa bersama dengan Devin, Adinda tahu di mana tempat ia bisa bersandar.
"Kita mampir ke restoran dulu ya Sayang, ini sudah waktunya makan siang," ajak Fathan. Kini mereka berdua sedang berada dalam perjalanan pulang.
"Iya Ayah. Adin juga pengen tahu tentang Ayah. Adin bingung, setiap Adin bertanya pada bunda, bunda selalu bilang Ayah sudah meninggal, sedangkan kondisi Ayah segar bugar. Atau jangan-jangan Adin anak di luar nikah, terus Ayah meragukan bunda. Jadilah bunda pergi dan mengatakan padaku bahwa Ayah sudah meninggal," kata Adinda menggebu-gebu.
__ADS_1
"Hust, ngomong apa kamu ini. Apa wajah Ayah yang tampan ini bertampang kriminal? Ayah bukan laki-laki bej*t seperti itu dan yang pasti, kamu adalah anak Ayah dan bunda dalam sebuah ikatan yang sah dan halal, baik secara hukum maupun agama," jelas Fathan. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya putrinya mempunyai pengandaian demikian.
"Maaf Ayah." Adinda memamerkan deretan giginya yang berjajar rapi.
"Ayah berhutang banyak penjelasan pada Adin," sambungnya.
"Ya maka dari itu, kita mampir dulu buat makan, setelahnya Ayah akan menceritakan semua yang ingin kamu ketahui tentang Ayah. Ayah juga masih kangen sama kamu, apalagi wajah kamu juga sangat mirip sama almarhumah bunda," ucap Fathan. Ia melirik putrinya yang cemberut.
"Jadi Ayah kangen sama aku karena wajahku mirip sama bunda, gitu?" Adinda mencebik kesal.
"Bukan begitu sayang, tapi karena kamu adalah putri Ayah," kata Fathan seraya menghentikan mobilnya di parkiran restoran.
Adinda hanya tersenyum menanggapi perkataan sang Ayah. Mana mungkin dia akan cemburu pada wanita yang sudah bertaruh nyawa untuknya sejak di dalam kandungan.
Adinda bergandengan tangan dengan Ayahnya. Sebenarnya Adinda bukan tipe orang yang mudah dekat dengan lawan jenis. Mungkin karena ikatan batin antara ayah dan anak, sehingga membuat mereka cepat menyesuaikan diri, meskipun ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Ya Tuhan, terima kasih atas segala nikmat yang Engkau berikan. Aku masih tak percaya, bahwa yang terjadi saat ini adalah nyata, semuanya terasa seperti mimpi."
"Impian yang selalu aku panjatkan ketika masih kecil. Ketika anak-anak yang lain digendong Ayahnya, diajari bersepeda, menghabiskan liburan bersama, ditemani setiap pertemuan rutin para orang tua di sekolah, dan masih banyak lagi momen-momen masa kecil mereka yang ingin aku alami."
"Sekarang, aku sudah punya ayah. Aku sungguh bahagia. Ya Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu dan menghilang," batin Adinda penuh harap.
---
Hello Readers kesayangan, apa kabar?
Jangan lupa tap like, favorit, dan komennya juga ya.
Terima kasih buat para Readers yang sudah meninggalkan jejak. Dukungan kalian adalah mood booster buat Author remahan sepertiku.
Salam sayang banyak-banyak buat kalian semua 🥰
__ADS_1