
"MILA," teriaknya histeris ketika melihat Mila tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir tiada henti.
"Pa, ayo cepat kita bawa Mila ke rumah sakit, Pa," kata Intan pada suaminya.
Sigap Bima membopong Mila dan meletakkannya di kursi penumpang belakang. Intan menyusul dan ikut duduk di kursi penumpang belakang. Intan meletakkan kepala Mila di pangkuannya. Bima pun mulai melajukan mobilnya membelah jalan raya.
"Sabar ya Mil, kamu pasti kuat. Ayo Pa, lebih cepat lagi." Intan sungguh cemas melihat kondisi Mila yang seperti ini.
"Iya Ma, sabar," kata Bima.
"Pantas saja Mil, dari kemarin aku teringat terus sama kamu. Perasaan aku juga gak tenang. Bertahan ya Mil, demi anak kamu," ucap Intan serak.
Sesampainya di rumah sakit, Mila segera mendapat penanganan. Mila harus melahirkan lebih awal dengan tindakan operasi caesar karena kondisinya sangat kritis. Mila pun segera di bawa ke ruang operasi setelah mendapat persetujuan dari Intan dan Bima yang mengaku sebagai wali.
Bayi perempuan yang cantik dan menggemaskan itu kini lahir dengan selamat. Sementara Mila, kondisinya masih kritis. Untuk sementara waktu, Intan dan Bima yang bertugas menjadi orang tua pengganti. Bima mengadzani bayi itu dengan suara tercekat.
"Malang sekali nasibmu, Nak." Bima membelai pipi mulus bayi mungil itu penuh sayang.
"Sini Pa, biar sama Mama." Intan mengambil alih bayi itu.
"Sayang, karena bundamu belum sadarkan diri, jadi tante yang akan memberikan nama padamu. Semoga kamu suka ya Sayang. Tante pengen sekali punya anak perempuan supaya Devin ada temennya. Bahkan Tante sudah menyiapkan nama. Namun, apa daya Tante tidak bisa hamil lagi." Intan menimang-nimang bayi mungil itu.
"Tante beri kamu nama 'Adinda'. Semoga kamu suka ya sayang dengan nama itu," imbuhnya.
"Kurang panjang Ma," sela Bima.
"Terus siapa?" tanya Intan.
"Bagaimana kalau 'Adinda Eka Lestari'. Eka artinya satu, dan Lestari adalah nama belakang bundanya. Jangan memakai nama belakang Angkasa, karena Papa tidak mau mereka mengetahui keberadaan Mila dan bayinya. Sudah cukup selama ini Mila menderita karena ulah mereka," tegas Bima.
__ADS_1
"Mama setuju Pa. Biar pun Fathan itu orangnya baik pake banget tapi omongan mertuanya itu pedasnya minta ampun. Seandainya waktu acara syukuran kehamilan Mila waktu itu, kita tidak melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perlakuan mertuanya yang judes itu, mungkin sampai saat ini kita tidak akan pernah tahu karena Mila pasti akan tutup mulut. Sekarang lihatlah, kalau bukan pak Rudi yang memberitahu kita mungkin semuanya akan terlambat. Beruntungnya lagi, kita memang dalam perjalanan menuju rumah Mila dan Fathan," ucap Intan menggebu-gebu.
Intan dan Bima sedang dalam perjalanan menuju rumah sahabatnya itu, ketika pak Rudi mengabari kalau Fathan kecelakaan dan sedang di operasi, sedangkan Mila mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari mertuanya. Pak Rudi sendiri tak berani mencegah tindakan nyonya besarnya karena selain pekerjaannya akan terancam, tindakannya itu pasti akan menambah hukuman bagi nona mudanya.
"Kita kok malah ngeghibah ya Ma?" tanya Bima.
"Papa sih mulai duluan. Mama kan sebagai makmum hanya mengikuti imam," jawab Intan
Sementara itu di tempat yang berbeda ada sebuah keajaiban. Fathan yang sudah di nyatakan meninggal, perlahan menggerakkan jari-jemarinya.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Fani.
"Alhamdulillah Bu. Ini adalah sebuah keajaiban. Detak jantung pak Fathan kembali normal. Hanya saja, pak Fathan mengalami koma. Teruslah berdoa Bu, agar pak Fathan bisa lekas sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarga dalam keadaan sehat wal afiat," terang dokter.
Kini hanya tinggal Fani sendirian yang menunggui putranya. Di genggamnya tangan Fathan yang tidak terdapat jarum infus. Dia bahagia, sungguh bahagia. Putra semata wayangnya yang sudah di nyatakan meninggal, kini punya harapan untuk hidup. Walaupun ia tak tahu kapan putranya itu akan sadar dari komanya. Di sisi lain ia juga cemas, jika Fathan sudah sadar dan menanyakan keberadaan istrinya.
"Maafkan Mama Sayang. Mama harap setelah ini kamu akan bahagia tanpa perempuan pembawa s*al itu," lirih Fani.
"Pa...." Fani berhambur ke pelukan suaminya. Sebagai ibu ia merasa sangat terpukul atas kejadian yang menimpa putranya.
"Sudah Ma, jangan menangis lagi," hibur Nathan seraya mengelus punggung sang istri.
"Oh ya, di mana istrinya Fathan?" tanya Nathan seraya mengurai pelukannya dari sang istri. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sang menantu.
Fani tetap bergeming di tempatnya. Otaknya bekerja untuk mencari alasan yang masuk akal yang akan dia sampaikan pada suaminya. Bagi Nathan, Mila adalah menantu kesayangannya.
Drrtt drrtt drrtt...
Beruntung ponsel Nathan berdering. Nathan mengangkat telepon yang ternyata panggilan dari kantor.
__ADS_1
"Ma, Papa harus ke kantor sekarang. Ada urusan penting yang mengharuskan kehadiran Papa. Tolong jaga anak kita." Nathan mencium kening istrinya sebelum berlalu pergi menuju kantor.
Fani menghembuskan napas lega. Sekarang ia bisa selamat, tapi lain kali ia tidak tahu.
"Tak mungkin jika aku mengatakan kalau perempuan pembawa s*al itu kabur dengan laki-laki lain karena Fathan pasti tak akan percaya dan akan mencari perempuan itu ke mana pun. Ah, aku bilang saja kalau perempuan itu syok ketika mendengar Fathan kecelakaan dan meninggal saat melahirkan. Sepertinya itu adalah ide yang cemerlang." Fani merogoh ponselnya di dalam tas kemudian menghubungi seseorang untuk memperlancar aksinya itu.
Tiga bulan kemudian Fathan tersadar dari komanya. Fathan memindai sekelilingnya. Ada mamanya yang tengah tersenyum menatapnya, juga ada papanya yang tengah menatap iba padanya. Lalu istrinya? Di mana istrinya itu.
"Alhamdulillah Sayang, kamu sudah sadar," kata Fani senang.
"Ma, Pa, di mana istriku?" tanya Fathan yang membuat Fani mencebik kesal.
"Sayang, yang sabar ya. Istri kamu begitu terpukul saat mendengar kabar bahwa kamu kecelakaan. Karena kondisinya sangat lemah, dia melahirkan lebih awal. Namun sayang, istri dan anakmu tidak dapat diselamatkan," jelas Fani dengan air mata buayanya.
"Ya Tuhan, kenapa Kau selamatkan aku jika aku harus kehilangan orang yang aku sayang, bahkan aku juga harus kehilangan putriku sebelum sempat melihat wajahnya." Fathan menangis tergugu.
"Sabar." Hanya kalimat itu yang mampu Nathan ucapkan untuk menenangkan sang putra.
Nathan juga sama terpukulnya saat mengetahui kabar bahwa menantu kesayangannya itu telah pergi untuk selamanya dan membawa serta cucunya yang belum sempat dilihatnya. Sebenarnya ia masih tak percaya bahwa menantu dan cucunya itu telah tiada, namun ia tak bisa menyangkalnya lagi ketika sang istri membawanya berziarah ke makam Mila dan anaknya untuk yang pertama kali.
Flashback off...
***
Hello Readers kesayangan, Author ucapkan 'Selamat Hari Raya Idul Adha' bagi yang menjalankannya. Minal aidzin wal faidzin ya Readers sekalian. Maafkan Author jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan banyaknya typo yang bertebaran, maklum masih newbi 😊.
Maafkan Author juga ya kalau part flashbacknya sampai 3 bab, bingung soalnya mau motongnya di mana.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers. Dukungan kalian adalah sesuatu hal yang selalu Author nanti-nantikan.
__ADS_1
Salam sayang banyak-banyak buat para Readers sekalian 🥰