
Seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa lalu, mungkin takkan ada yang namanya penyesalan itu. Melihat seseorang yang masih menguasai hati sedang tertawa bahagia bersama dengan laki-laki lain, membuat rasa cemburu semakin merajam kalbu. Niat hati ingin mengobati rindu, namun tak dinyana semakin menggores sembilu.
Dahulu, segala rasa tak nyaman ia tepis sebagai rasa cemburu. Dalil persahabatan yang mengikat erat, tanpa sadar telah membutakan mata hatinya bahwa cinta itu telah tumbuh dan mengakar seiring berjalannya waktu. Mengukuhkan hati bahwa rasa yang dimiliki tak lebih dari sekedar keinginan untuk melindungi.
Kini, di saat semuanya tak lagi sama, rasa itu semakin mencuat dan terpampang nyata. Tak bisa ia pungkiri lagi, bahwa rasa itu telah memporak-porandakan segumpal daging yang bernama hati. Ia harus berjuang untuk menetralkan segala rasa yang berkecamuk di dasar hatinya yang telah remuk.
Di balik kacamata hitam yang ia pakai, bulir bening memupuk di sudut netra. Seberapa kuat ia mencoba untuk tegar, namun kenyataan membuatnya semakin rapuh dan menyedihkan. Ia masih berharap kesempatan itu masih bisa ia dapatkan, walau ia tak tahu kapan waktu itu akan tiba.
Lain halnya dengan dua anak manusia yang kini tengah ia perhatikan dari kejauhan. Mereka tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa. Membuat hatinya semakin dicabik rasa penyesalan yang tak berkesudahan.
"Mau nambah lagi?" tanya Candra ketika melihat Adinda menghabiskan porsi keduanya.
"Memang boleh?" tanya balik Adinda.
Candra meneguk saliva. Bukan ia tak ikhlas jika Adinda ingin menambah porsi makanannya lagi. Namun, ia tak menyangka jika gadis yang ia kenal sangat menjaga pola makannya, kini malah terlihat seperti orang yang tak makan selama sebulan.
"Belum kenyang memang?" tanya Candra seraya mengelap bibir Adinda yang terlihat belepotan dengan tisu. Adinda tentu saja salah tingkah dengan perhatian yang Candra curahkan padanya.
"Kenyang sih, hehe." Adinda memamerkan deretan giginya yang berjajar rapi. Dia sudah tak sanggup jika harus mengisi perutnya lagi. Walaupun dia begitu suka yang namanya gratisan, namun ia tak ingin disangka kesurupan.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Candra. Ingin rasanya ia menawarkan diri untuk mengantar Adinda kemana pun Adinda ingin pergi. Namun, ia sadar bahwa tak seharusnya berharap lebih pada mantan yang telah berstatus istri orang.
"Mau ke minimarket dulu buat beli cemilan, setelah itu pulang," jawab Adinda seraya meminum sisa minumannya sampai tandas tak bersisa.
__ADS_1
"Mau aku antar?" tawar Candra. Ia berharap tak ada penolakan dari Adinda.
"Boleh, asal tidak merepotkan saja," jawab Adinda tanpa ragu.
Candra bersorak dalam hati. Entah mengapa ia ingin mengulang masa-masa indah saat masih bersama dengan Adinda dulu. Meski rasanya tak pantas, namun biarlah untuk saat ini ia menyenangkan diri.
"Enggak kok, aku malah senang bisa terus bersamamu," ungkap Candra. Ia gemas melihat wajah Adinda yang tersipu karenanya.
Mereka berdua meninggalkan restoran diiringi pandangan nanar seorang laki-laki di balik topi dan kacamata hitamnya. Pemandangan yang membuat hatinya bagai ditempa bara api.
"Din, aku rindu," ucap Devin sendu. Gegas ia beranjak mengikuti kemana perginya Adinda dan Candra.
"Silakan masuk tuan putri." Candra membukakan pintu mobil untuk Adinda.
Candra kembali menutup pintu mobil setelah memastikan Adinda duduk dengan sempurna. Ia berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri. Kemudian mendudukkan diri di balik stir kemudi. Ia menoleh dan melempar senyum termanisnya ke arah sang mantan terindahnya. Perlahan mobil pun melaju meninggalkan parkiran.
Hening, tak ada percakapan di antara keduanya. Sesekali Candra melirik ke arah Adinda yang memilih menikmati pemandangan di pinggir jalan. Ingin rasanya Candra menggenggam erat tangan Adinda yang bertumpu di pangkuannya. Namun, itu hanyalah sebuah keinginan yang tak bisa ia realisasikan.
Tak lama kemudian mobil pun berhenti di pelataran parkir sebuah minimarket. Candra turun setelah mobilnya terparkir sempurna. Kemudian membukakan pintu mobil untuk Adinda turun. Mereka berjalan beriringan menuju ke dalam minimarket.
Adinda langsung menuju tempat snack yang berjejer di rak seraya mendorong troli. Ia mengambil satu persatu snack kesukaannya dan memasukkannya ke dalam troli.
"Biar aku saja yang dorong trolinya," pinta Candra seraya mengambil alih troli dari tangan Adinda dan mulai mendorongnya.
__ADS_1
Adinda tersenyum senang akan kebaikan hati Candra. Candra adalah sosok laki-laki yang selalu baik terhadapnya. Bahkan, di saat fitnah yang ditujukan padanya saat hari kelulusan keduanya, Candra tak marah. Namun dia didiamkan dan Candra lebih memilih melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Tak pernah ada kata putus di antara keduanya, namun tak adanya komunikasi membuat Adinda tak lagi berharap. Sejak saat itu Adinda menjadi pendiam. Hanya Devin yang selalu ada dan membuatnya kembali ceria.
Lambat laun rasa nyaman yang ia rasakan berubah menjadi rasa cinta. Namun, ia tak ingin hubungan persahabatan yang telah terjalin sejak kecil menjadi hancur. Adinda lebih memilih menyimpan semua rasa itu sendiri.
Saat Adinda memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Devin seutuhnya, saat itu pula Devin menghancurkan segalanya. Bahkan, harga dirinya sebagai seorang wanita turut hancur lebur kala itu. Walau tak bisa Adinda pungkiri bahwa rasa itu masih tersimpan rapi di sudut hati, namun rasa trauma itu semakin memupuk rasa benci.
Adinda menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Ia tak ingin memikirkan lagi semua hal yang telah lalu. Mengingat kejadian itu hanya akan membuat hidupnya menjadi buntu.
Lantas bagaimana dengan Candra? Jikalau pun Candra masih memiliki rasa padanya, Adinda tak ingin memberikan harapan yang akan membuat laki-laki baik itu terluka. Ia masih ingin sendiri. Menikmati masa-masa indah bersama keluarga ayahnya serta calon buah hatinya kelak.
"Dra, biar aku saja yang bayar, ini kan belanjaanku," sela Adinda ketika melihat Candra mengulurkan kartu sakti pada kasir. Adinda melamun hingga tak sadar bahwa Candra telah lebih dulu menuju kasir.
"Gak apa-apa Din, santai saja," kata Candra.
"Jangan, Dra. Tadi makananku kamu gratisin, dua porsi lagi. Lalu sekarang, kamu yang bayarin belanjaanku. Aku gak mau ya, sampai ada yang bilang kalau kamu hanya aku manfaatkan." Adinda merasa tak enak hati karena Candra telah merogoh isi dompetnya terlalu banyak hari ini hanya untuk dirinya.
"It's ok, sama-sama," kata Candra santai.
"Iisshhh, aku ngomong apa, jawabnya apa. Ya udah deh, terima kasih Candra yang baik hati dan tidak sombong," kata Adinda seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Gak ikhlas banget ngomongnya." Candra hanya tersenyum geli melihat ekspresi Adinda yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
Ingin rasanya Adinda menimpuk kepala Candra, namun segera ia tepis keinginan itu. Karena bagaimanapun, hari ini ia telah menguras isi dompet mantan kekasihnya itu.