Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 56


__ADS_3

POV Adinda...


Alhamdulillah, setelah melalui proses perjuangan yang terasa nano-nano, akhirnya bayi mungil nan cantik itu kini terdengar menangis untuk pertama kalinya. Rasa sakit yang sejak tadi mendera, kini berganti dengan rasa bahagia yang tiada tara. Terasa damai hati ini tatkala makhluk mungil ini terasa nyaman saat berada dalam dekapanku.


"Maaf, Ibu. Babynya sini dulu ya, mau dibersihkan dulu," kata dokter itu ramah.


Aku tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dokter itu mengambil alih bayiku untuk dibersihkan. Kuperhatikan bayiku yang kini sedang dibersihkan oleh dokter dan perawat yang membantunya. Aku bersyukur bayi mungil itu hadir dalam hidupku, walau tanpa adanya suami di sampingku.


Beberapa saat kemudian, lantunan adzan yang terdengar merdu dan syahdu itu tertangkap runguku. Kubuka mata ini yang tadi sempat terpejam saat suara itu terasa tak asing bagiku. Kutolehkan kepalaku ke asal suara yang seketika membuatku menitikkan air mata.


Ya Rabb, seharusnya Devin yang berada di sini untuk mengadzani anak kami. Namun, status ini seakan jadi penghalang. Maafkan aku yang terlalu egois bersikeras untuk menghindar. Aku masih terlalu takut sesuatu yang buruk kembali menimpaku. Jujur, aku turut merasa bersalah membiarkan Devin dalam penyesalan tanpa tahu bahwa ada seorang malaikat kecil yang kini telah hadir.


Kulihat laki-laki baik yang kini sedang menimang putriku tersenyum bahagia seakan bayi itu adalah d*rah dagingnya. Dia baik, bahkan sangat baik. Beberapa bulan ini dia selalu ada untukku. Sering membawakanku makanan tanpa aku minta. Aku yang menjadi sangat rakus sejak berbadan dua, tak pernah menolak setiap apa yang dia bawa.


Tak lama kemudian, aku dan bayiku dipindahkan ke ruang VVIP atas rekomendasi dokter Ivan. Seperti biasa, ia selalu tahu apa yang harus dilakukan tanpa aku memintanya. Ia sudah menghubungi ayah, oma, dan opa. Mereka langsung pulang untuk menemuiku dan menyambut kedatangan keluarga baru. Mungkin mereka akan segera sampai di sini esok hari.


Di ruangan ini bukan hanya dokter Ivan yang menemaniku, tapi juga ada bi Eli yang turut menemani. Walau usianya sudah sepuh, tapi beliau cukup cekatan. Saat bayiku menangis karena haus, bi Eli sigap menggendongnya dan memberikannya padaku. Beliau juga membantuku untuk belajar memberikan ASI.


"Kalau begitu, saya tunggu di luar dulu," pamit dokter Ivan.


Aku tersentak kaget saat suara bariton itu menggema di ruangan ini. Ya Tuhan, kenapa aku bisa lupa bahwa di ruangan ini ada makhluk lain yang bernama laki-laki. Hampir saja aku menunjukkan bagian t*buhku yang tak sembarang orang bisa melihatnya.


Setelah pintu tertutup sempurna, aku mulai memberikan ASI pada bayiku. Bayi mungil ini terlihat sangat menggemaskan. Sesekali aku meringis tatkala bayiku terlalu semangat saat meny*su. Namun, rasa sakit ini tak berarti apa-apa saat melihatnya begitu lahap dan nyaman dalam dekapanku, hingga lambat laun ia mulai tertidur.

__ADS_1


"Bi, tolong panggilkan dokter Ivan ya Bi," kataku pada bi Eli yang tengah duduk di sofa.


"Siap, Non," jawabnya seraya beranjak keluar.


Kembali aku melihat bayiku yang tertidur pulas. Sekilas wajah bayiku terlihat mirip denganku. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, wajahnya perpaduan antara aku dan Devin. Hal itu membuatku semakin merasa bersalah padanya. Apalagi aku sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dari mama Intan.


Aku menoleh ke arah pintu yang perlahan terbuka. Aku tersenyum saat dokter Ivan melangkah menghampiriku dengan senyuman di wajahnya. Dia mendudukkan dirinya di kursi samping brangkar.


"Sini bayinya Non, biar Bibi letakkan di boxnya," kata bi Eli seraya mengambil alih bayiku untuk diletakkan di box bayi agar tidurnya lebih nyaman.


"Terima kasih, Bi," ucapku yang dibalas dengan senyuman oleh beliau.


"Non, Bibi cari sarapan dulu ya, Non," pamit bi Eli setelah memastikan bayiku berada dalam posisi tidur yang nyaman.


"Terima kasih Kak, sudah mau aku repotkan. Di rumah benar-benar tidak ada orang yang bersedia mengantar. Ayah dan opa sedang berada di luar kota. Pak Rudi sedang mengantar oma ke rumah tante Febri, sedangkan si Tono sedang mengantar bi Ningsing pulang kampung karena anaknya sedang sakit," jelasku panjang lebar.


Rasanya sangat tidak nyaman mengusik ketenangan orang lain saat tengah malam. Apalagi orang lain itu tak ada hubungan apa-apa denganku. Namun, keadaan yang mendesak membuatku mau tidak mau meminta bantuannya.


"Iya, gak apa-apa kok. Kakak tidak merasa direpotkan, malah Kakak senang melakukan semua ini," jelas dokter Ivan, "Oh iya, bagaimana tentang permintaan Kakak?" tanyanya.


"Permintaan apa ya, Kak?" tanyaku tak mengerti akan permintaan apa yang dia maksud.


"Berhubung kamu sudah melahirkan, jadi masa iddahmu telah selesai. Bolehkah Kakak meminta kesempatan untuk menjadi imammu?" tanya dokter Ivan.

__ADS_1


"HAH." Aku tersentak kaget dan merasa syok dengan ucapan dokter Ivan. Aku pikir apa yang pernah ia utarakan dulu hanyalah bualan belaka, karena ia tak pernah membahasnya lagi setelah mengatakannya padaku waktu itu. Tak kusangka ternyata ia benar-benar menyimpan rasa yang sulit untuk aku membalasnya.


"Assalamualaikum." Beruntung seruan salam dari pintu yang terbuka membuatku terhindar dari kecanggungan ini.


"Waalaikumsalam," jawabku dan dokter Ivan serempak.


"Sayang, maafin Oma ya," kata oma seraya melangkah menghampiriku.


"Gimana keadaanmu sekarang? Maafin Oma karena tidak ada di sampingmu saat kamu melahirkan." Oma memelukku dan menc*um pucuk kepalaku berkali-kali.


"Alhamdulillah, Adin baik-baik saja Oma. Lagi pula kita kan tidak tahu jika Adin akan melahirkan dua minggu lebih awal dari hari perkiraan lahir. Oma jangan khawatir, di rumah juga masih ada bi Eli dan juga ada dokter Ivan yang bersedia membantu." Aku dan oma menoleh ke arah dokter Ivan yang sedang tersenyum.


"Terima kasih banyak ya, Nak Ivan. Maaf kami sudah merepotkan," kata oma.


"Tidak apa-apa Oma, saya ikhlas kok. Kalau begitu, saya pamit dulu ya," pamit dokter Ivan seraya beranjak meninggalkan kami.


Oma Fani melangkah menghampiri box bayi. Beliau tersenyum seraya mengelus pipi bayi mungilku. Walau oma tak bisa menggendong bayiku karena sedang tidur, namun beliau terlihat sangat bahagia.


"Cicit Oma yang cantik, ini Oma Sayang. Nanti mainnya sama Oma ya, tapi jangan main kuda-kudaan, nanti encok Oma kambuh," kelakar oma yang membuatku tersenyum geli.


"Oma pasti belum sempat istirahat, sebaiknya istirahat dulu, Oma. Lagipula si dedek masih tidur," bujukku yang langsung di angguki oleh beliau.


Aku pun turut memejamkan mata setelah kulihat oma Fani tertidur di sofa panjang yang terlihat nyaman untuk dit*duri. Entah berapa lama aku terlelap sampai tidak sadar bahwa ayah dan opa sudah berada di sini.

__ADS_1


Namun, ada satu hal yang membuatku mengerutkan kening heran. Mimik wajah mereka terlihat serius saat berbincang dengan dokter Ivan. Entah apa yang mereka bicarakan. Apa mungkin mereka membahas tentang pernyataan dokter Ivan yang ingin menghalalkanku? Ah, apa yang harus aku lakukan?


__ADS_2