
"Kenapa mamanya Ayah jahat sekali sama bunda?" tanya Adinda.
"Oma, Sayang," sela Fathan.
"Ya, itu maksud Adin Yah, oma," ralat Adinda.
"Dari awal memang oma tidak setuju kalau Ayah berhubungan dengan bundamu. Bukan hanya omamu, tapi sebagian keluarga besar Ayah tidak setuju. Namun, Ayah tetap bersikeras untuk menjadikan bundamu ratu di hati Ayah, apalagi opamu mendukung Ayah." jelas Fathan.
"Terus sekarang gimana Yah, apa oma masih membenci bunda?" tanya Adinda.
"Apakah kamu percaya jika Ayah bilang kalau oma lah yang memberi tahu Ayah kalau kalian masih hidup?" tanya Fathan, "Sudah pasti omamu itu sangat menyesal atas apa yang terjadi pada kalian di masa lalu," terang Fathan.
"Maksud Ayah?" tanya Adinda.
"Begini Sayang, Ayah sangat terpukul saat mengetahui kalian pergi meninggalkan Ayah. Awalnya Ayah tidak percaya, tapi adanya makam kalian berdua menjadi bukti nyata bahwa hidup Ayah begitu hancur tanpa adanya kalian. Sejak saat itu Ayah hanya kerja, kerja, dan kerja sebagai pelampiasan rasa sepi."
"Bahkan, omamu setiap hari mengatur kencan buta untuk Ayah, tapi Ayah sama sekali tidak tertarik, padahal sudah sepuluh tahun berlalu. Sampai suatu ketika Ayah dijebak oleh salah satu wanita yang disodorkan pada Ayah oleh omamu. Entah bagaimana ceritanya, pagi itu Ayah bangun dalam keadaan tanpa busana dengan wanita itu yang berada dalam pelukan Ayah--"
"Ayah, malu ih ngomongin kayak gitu sama Adin," sela Adinda.
"Kan Ayah lagi cerita biar kamu tahu. Lagi pula kan anak Ayah ini sudah menikah. Apa jangan-jangan kalian belum--"
"Stop Ayah, jangan diteruskan. Silakan Ayah lanjutkan ceritanya, Adin siap jadi pendengar setia," sela Adinda memotong kalimat yang akan di ucapkan oleh ayahnya. Tentu saja Adinda tidak tahu. Hanya membayangkannya saja membuat Adinda tersipu.
"Baiklah, Ayah lanjutkan." Fathan menghembuskan napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Ayah harus bertanggung jawab karena telah meniduri Elisa, meskipun Ayah tidak yakin karena Ayah tak pernah merasa melakukannya. Kami akhirnya menikah, tapi kami tetap tidur terpisah. Elisa tidak keberatan karena ia hanya ingin sebuah pengakuan."
"Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Meskipun Ayah tak bisa menerima Elisa sebagai istri Ayah seutuhnya, tapi lain halnya dengan Dirga yang notabene adalah putra Ayah. Apalagi kehadiran Dirga membawa warna baru dalam hidup Ayah."
"Sampai suatu ketika, waktu acara perpisahan sekolah dasar, Dirga mengalami kecelakaan. Sigap Ayah membawanya ke rumah sakit, sedangkan Elisa tengah sibuk dengan teman-teman sosialitanya."
"Dirga kehilangan banyak darah, sedangkan stok darah di rumah sakit yang cocok dengan Dirga habis. Ayah mengajukan diri untuk jadi pendonor. Apa pun akan Ayah lakukan asal putra Ayah selamat. Sudah cukup Ayah kehilangan kalian pada waktu itu. Ayah juga tidak ingin kehilangan Dirga."
"Namun, setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan ternyata golongan darah Ayah tidak cocok dengan Dirga. Lalu, pada saat itu juga Ayah baru tahu kalau Ayah ternyata tidak bisa memiliki keturunan lagi semenjak kecelakaan yang pernah Ayah alami." Fathan menghembuskan napas berat. Netranya berkaca-kaca.
"Jadi, Dirga itu bukan anak kandung Ayah, begitu?" tanya Adinda ingin tahu.
"Iya, benar, Dirga bukan anak kandung Ayah. Namun, kenyataan itu tak dapat merubah kasih sayang Ayah padanya," ucap Fathan serak.
"Lalu, bagaimana keadaan Dirga sekarang, Yah?" tanya Adinda.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Maafin Adin Yah. Adin turut berduka cita," ucap Adinda tulus.
"Lantas bagaimana keadaan tante Elisa, Yah?" tanya Adinda.
"Dia datang bersama omamu tepat setelah Dirga dinyatakan meninggal. Dia menangis meraung-raung. Omamu menegur Ayah karena Ayah hanya diam saja."
"Selepas acara pemakaman selesai, kami semua berkumpul bersama di ruang keluarga. Ada Ayah, oma, opa, Elisa, dan beberapa kerabat yang masih belum pulang. Ayah mengeluarkan bukti berkas-berkas dari rumah sakit. Elisa tak bisa mengelak dan akhirnya dia mengakui di depan seluruh anggota keluarga kalau ia memang bersalah. Saat itu juga, Ayah langsung menjatuhkan talak padanya meskipun ia keberatan."
"Omamu syok dan jatuh pingsan. Setelah sadar beliau meminta maaf berkali-kali pada Ayah. Omamu kemudian mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini jadi rahasia."
__ADS_1
"Sejak saat itu Ayah mulai mencari keberadaan kalian. Ayah juga menyewa beberapa detektif handal. Namun sayang, informasi tentang kalian tidak bisa kami dapatkan. Sampai suatu hari, salah satu informan Ayah berhasil menemukanmu. Dia mengirim foto beserta data-datamu."
"Ayah sangat bahagia sekaligus bersedih dalam waktu yang bersamaan. Ayah bahagia karena menemukanmu, tapi Ayah juga bersedih karena Ayah benar-benar tak bisa bertemu lagi dengan bundamu." jelas Fathan panjang lebar.
Kini, air mata itu tak sanggup lagi ia tahan. Biarlah semua orang menatap heran ke arahnya. Fathan hanya ingin melampiaskan rasa sesak yang menggelayut di dadanya. Dia memang seorang yang terkenal angkuh dan dingin dalam dunia bisnis, tapi ia juga bisa rapuh jika itu menyangkut belahan jiwanya yang kini telah tiada.
Adinda bangkit dari duduknya. Ia menghampiri sang Ayah dan memeluknya dari samping. Disekanya perlahan air mata yang mengalir di wajah renta yang masih terlihat rupawan itu. Ia bisa merasakan kesedihan yang ayahnya alami. Sama halnya dengan dirinya yang sangat berduka ditinggalkan oleh bunda tercinta.
Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin Adinda tanyakan pada sang ayah. Namun, melihat kondisi ayahnya yang tidak baik-baik saja, serta tatapan beberapa pasang mata yang menatap iba, membuat ia urung menanyakan semua hal yang berkelebat di benaknya.
"Ayah, udah dong sedihnya. Adin ikutan sedih nih," kata Adinda seraya mengurai pelukannya.
"Maafin Ayah ya Sayang, udah buat kamu sedih," kata Fathan seraya mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Ayah gak perlu minta maaf karena Ayah gak salah. Sekarang yang perlu Ayah lakukan adalah selalu tersenyum bahagia demi Adin dan demi diri Ayah sendiri," ucap Adinda.
"Ya sudah, kita pulang sekarang, sudah sore," ajak Fathan seraya melihat arloji di tangannya yang telah menunjukkan angka empat.
Kini mereka tengah berada dalam perjalanan pulang. Fathan mengendarai mobilnya dengan sangat pelan agar ia tak lekas berpisah dengan putrinya.
"Sayang, besok Ayah sudah harus pulang. Banyak pekerjaan yang harus Ayah selesaikan. Insyaallah tiap sebulan sekali Ayah akan datang. Ayah juga ingin mengajakmu untuk mengunjungi oma dan opa, tapi tidak sekarang karena Ayah sedang sangat-sangat sibuk," kata Fathan.
"Jangan dulu beritahu tentang Ayah pada suamimu ataupun keluarganya. Jaga diri baik-baik ya Sayang," imbuhnya.
"Baik Ayah, tapi Ayah harus janji buat sering-sering menghubungi Adin," kata Adinda dengan seulas senyum yang ia persembahkan untuk sang ayah.
__ADS_1
Mobil yang mereka kendarai telah sampai di apartemen. Adinda turun dan melambaikan tangannya pada sang ayah. Adinda masih berdiri di tempatnya hingga mobil itu tak terlihat lagi dari pandangannya.
Adinda kemudian melangkah menuju unit apartemennya. Ia tersenyum riang sepanjang jalan. Adinda berharap Kebahagiaan yang ia rasakan sekarang, bisa seterusnya ia rasakan.