Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 43


__ADS_3

"Kamu ... eh maaf, saya salah masuk ruangan," sesal dokter Ivan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia kemudian kembali menutup pintu ruangan Adinda


"Nah loh." Adinda melipat kening heran. Ia kemudian kembali merebahkan diri.


"Aneh," gumam Adinda. Tak lama kemudian ia mulai menjelajah alam mimpi.


Adinda terbangun ketika terdengar suara bising di ruang inapnya. Adinda menolehkan kepala ke arah sumber suara. Tampak dua orang sahabatnya yang sedang asyik mengobrol di sofa. Sesekali Sinta tertawa, sedangkan Alia tampak cemberut. Entah apa yang sedang mereka bahas.


"Sin, Al, kapan kalian datang?" tanya Adinda.


Sinta dan Alia menghentikan obrolannya dan menoleh ke arah Adinda. Mereka beranjak menghampiri Adinda.


"Hey Din, maaf ya jadi keganggu tidurnya. Kita baru nyampek kok. Gimana keadaannya?" tanya Sinta.


"Alhamdulillah, sudah baikan kok," jawab Adinda seraya tersenyum.


"Sini, aku bantu," kata Alia ketika melihat Adinda berusaha untuk duduk.


"Terima kasih," ucap Adinda tulus.


"Kalian tahu dari mana kalau aku sedang dirawat di rumah sakit?" tanya Adinda.


"Aku menelponmu karena kangen banget sama kamu, udah lama sekali kan kita gak ketemu, tapi yang angkat oma kamu. Beliau bilang, kalian sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Beliau juga bilang kalau kamu ditemukan tidak sadarkan diri di kamar mandi. Kebetulan waktu itu aku lagi main ke rumahnya Alia. Dengar kabar kamu sedang sakit, kami berdua langsung cuuzz meluncur ke sini buat nengokin kamu," jelas Sinta.


"Makasih ya, kalian udah dateng jauh-jauh buat nengokin aku. Kalian memang sahabat terbaik yang aku miliki," kata Adinda.


"Ya iyalah cuma kita sahabat terbaikmu. Si Devin kan sekarang udah jadi ayang," goda Alia seraya menaik turunkan alisnya.


"Aku udah pisah sama Devin," ucap Adinda sendu.


"Serius, Din? Maaf ya, aku beneran gak tahu tentang ini," sesal Alia.


"Pantas saja waktu kami ke apartemen kamu, di sana tidak ada penghuninya. Kamu yang sabar ya Din," kata Sinta seraya mengusap punggung Adinda.


"Oh ya, tadi waktu kita sampai, ada om-om tampan di ruangan ini. Terus waktu kami bilang bahwa kami adalah sahabatmu, si om tadi minta tolong kami buat menemani kamu. Katanya mau pulang dulu sebentar. Beneran Din, om tampan tadi ayah kamu yang katanya udah meninggal?" tanya Alia.


"Iya, alhamdulillah ternyata ayahku masih hidup," jawab Adinda.

__ADS_1


"Kami turut bahagia Din, ternyata ayahmu masih hidup. Kami juga turut prihatin atas akhir rumah tanggamu," kata Sinta.


"Iya, makasih banyak atas perhatian kalian." Adinda memeluk kedua sahabatnya yang berada di samping kanan kirinya.


"Oh ya, kalian lagi bahas apaan sih tadi? Kayaknya seru banget?" tanya Adinda seraya mengurai pelukannya.


Sinta dan Alia saling pandang. Alia berdecak kesal membuat Sinta kembali tertawa. Adinda mengerutkan kening heran melihat tingkah laku kedua sahabatnya.


"Jadi gini Din, tadi tuh waktu kami menuju ruangan ini, kami berpapasan sama dokter laki-laki yang cakep banget. Nah, si Alia ini kan jomblo akut--"


"Enak aja ngatain aku jomblo akut. Aku kan pengennya punya pasangan yang halal tanpa proses pacaran," potong Alia cepat.


"Emangnya kenapa sih? Lanjut Sin ceritanya, aku penasaran," pinta Adinda. Sinta kembali tertawa membuat Alia mencebik kesal. Alia menghentakkan kakinya dan berjalan menuju sofa.


"Alia itu sepertinya suka sama dokter itu, tapi sayang, dilirik pun enggak."


"Terus aja dibahas, sampai kalian puas," gerutu Alia.


"Ok, sesuai perintah anda Nyonya," gurau Sinta membuat Alia melotot kesal. Adinda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya yang masih seperti anak kecil.


"Nah, pas kami berdua sedang asyik ngobrol di sofa, tiba-tiba ada yang membuka pintu, auto kicep kitanya. Ternyata si dokter tampan itu yang masuk. Alia langsung tuh senyum-senyum sendiri. Dia pikir tuh dokter mau nyamperin dia. Eh, ternyata nyamperin kamu yang lagi pulas. Pas aku berdehem, si dokter tampan itu noleh ke arah sofa, dia bilang gini 'Maaf gak kelihatan, permisi!'. Dia kira kami ini makhluk tak kasat mata, apa. Kecewa gak tuh si Alia. Definisi sakit tak berdarah." Sinta kembali tertawa puas setelah berhasil membeberkan kejadian tadi.


"Assalamualaikum." Terdengar seruan salam dari arah pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Fathan melangkah memasuki ruang rawat inap Adinda. Ia mengenakan jaket dengan kaos polos warna hitam di dalamnya, celana jeans warna navy, serta sneakers warna hitam. Fathan terlihat seperti anak muda dengan pakaian santainya. Apalagi wajahnya masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda.


"Din, kalau begitu kami pamit dulu ya," pamit Sinta.


"Loh, kalian sudah mau pulang. Sebaiknya kalian menginap saja dulu di rumah kami. Ini sudah hampir jam sembilan malam loh," kata Fathan.


"Maaf Om, kami besok harus kerja. Lagi pula tunangan saya sudah jemput di depan," ucap Sinta, "Din, cepat sembuh ya, kami pulang dulu."


"Makasih ya, hati-hati di jalan," kata Adinda.


"Din, ayahmu boleh juga. Mau dong jadi ibu tiri," bisik Alia di dekat telinga Adinda.

__ADS_1


"Ogah, yang ada kamu bakal terus menjahiliku," bisik Adinda.


"Ih, gak asik. Ya udah aku pulang dulu, semoga lekas sembuh," ucap Alia seraya memeluk Adinda.


Sudah tiga hari Adinda dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah mulai membaik. Bahkan hari ini ia sudah boleh pulang. Adinda menghembuskan napas lega. Akhirnya ia bisa merebahkan diri kembali di kasur empuknya.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Fani.


"Iya, Oma," jawab Adinda, "Ayah sama opa mana, Oma?" tanya Adinda.


"Mereka masih belum pulang. Masih ada meeting katanya," jawab Fani.


Kemudian mereka beranjak meninggalkan ruang rawat inap Adinda. Sampai di lobi, Fani pamit ke kamar mandi sebentar.


"Sayang, Oma ke toilet dulu ya, tiba-tiba kebelet nih. Kamu tunggu saja di mobil," pamit Fani. Ia berjalan tergesa menuju toilet tanpa menunggu jawaban Adinda.


Adinda kembali melangkahkan kakinya menuju tempat parkir. Adinda sampai di parkiran bertepatan dengan dokter Ivan yang baru keluar dari mobilnya. Sesaat pandangan mereka beradu.


"Pulang sekarang?" tanya dokter Ivan yang ditujukan pada Adinda.


"Iya, Dok," jawab Adinda.


"Sendiri? Boleh saya antar?" tawar dokter Ivan.


"Saya sama oma saya Dok, tapi beliau masih ke toilet. Di sana juga ada sopir saya yang sedang menunggu," tunjuk Adinda ke arah mobilnya berada.


"Oh, saya pikir kamu sendiri." Dokter Ivan terlihat salah tingkah.


"Aneh, gak mungkin kan dokter Ivan suka sama aku? Gak mungkin juga dia tidak tahu kalau aku lagi bunting," batin Adinda.


"Kalau begitu, apa boleh saya meminta nomor ponselnya?" tanya dokter Ivan.


"Hah, buat apa Dok?" tanya Adinda heran.


"Hem, itu, buat ... gak apa-apa kalau memang tidak boleh," desah dokter Ivan.


Adinda tidak tega melihat raut kecewa di wajah dokter Ivan. Namun, ia juga tidak bisa memberikan nomor ponselnya tanpa alasan yang jelas. Untunglah Fani segera datang dan mereka beranjak pulang.

__ADS_1


"Din, aku yakin kalau kamu adalah wanita yang selama ini aku cari," gumam dokter Ivan seraya memandangi mobil Adinda yang bergerak menjauh.


"Semoga waktu dapat mempertemukan kita kembali."


__ADS_2