Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 75


__ADS_3

Adinda memejamkan kedua matanya. Ia sungguh harap-harap cemas. Namun, ia sangat berharap kali ini harapannya menjadi nyata. Tak lama kemudian, ia perlahan membuka kedua netranya. Namun, sekali lagi ia mendesah kecewa.


"Sayang, sudah belum?" tanya Devin dari balik pintu kamar mandi. Ia khawatir karena Adinda sudah cukup lama di dalam kamar mandi, namun tak ada tanda-tanda istrinya itu akan keluar.


Ceklek...


Adinda membuka pintu kamar mandi. Ia melangkah keluar dengan wajah yang tertunduk lesu. Melewati Devin yang menatapnya bingung.


"Sayang, ada apa, hem?" tanya Devin seraya mensejajari langkah kaki sang istri.


"Gak apa-apa kok," jawab Adinda. Ia menoleh pada Devin dan memaksakan senyumnya.


Devin tak lagi bertanya. Mereka kemudian melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Setelah melaksanakan ibadah, Adinda membereskan perlengkapan sholat mereka. Namun, tentu saja pikirannya masih gundah, sehingga tak menyadari jika Devin memperhatikannya.


Adinda melangkah perlahan menuju pintu, namun Devin segera menahannya. Adinda menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Devin.


"Kenapa?" tanya Devin heran. Tak biasanya Adinda bersikap demikian kecuali sedang ada sesuatu yang dipikirkan.


Adinda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melepaskan genggaman tangan Devin dan memutar langkahnya menuju kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar kembali. Adinda melangkah menghampiri Devin yang masih bergeming di tempatnya. Disodorkannya benda pipih persegi panjang yang ia genggam. Devin menerimanya dan melihat hal apa gerangan yang membuat istrinya jadi demikian.


"Maaf Sayang, lagi-lagi aku mengecewakanmu." Adinda menunduk sedih.


Devin mengikis jarak di antara mereka. Ia membawa Adinda dalam pelukannya. Perlahan ia mengusap punggung Adinda.


"Sudah, jangan sedih. Semua ini bukan salahmu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah mengutarakan keinginan yang mustahil terjadi jika Tuhan tak menghendaki." ucap Devin.


Adinda tak kuasa menahan laju air matanya. Devin melerai pelukannya. Disekanya air mata yang membasahi pipi Adinda. Devin perlahan menuntun Adinda menuju sofa.


"Padahal aku sudah telat seminggu tapi hasilnya masih negatif," ucap Adinda dengan wajah murungnya.


"Gak apa-apa, Sayang. Kita masih punya banyak waktu untuk mencobanya kembali," bujuk Devin.


Lima bulan sudah usia pernikahan mereka kini. Setiap bulan Adinda selalu melakukan uji tes kehamilan mandiri. Namun, lagi-lagi garis satu yang terlihat. Seperti saat ini, telat seminggu bukan jaminan garis dua yang akan mereka dapatkan.


Bahkan, mereka sudah sangat rajin membuatnya. Mereka tak pernah cuti kecuali saat Adinda berhalangan. Padahal dulu pertama kali mereka melakukannya, benih yang Devin semai tumbuh subur dan berkembang.

__ADS_1


Rencana Tuhan siapa yang tahu. Namun, setidaknya mereka masih bersyukur karena memiliki Vina. Hanya saja Adinda selalu merasa takut Devin akan kecewa. Walau pada kenyataannya Devin tak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Ya sudah, senyum dong. Apa perlu kita mencobanya lagi sekarang?" tanya Devin menggoda Adinda agar istrinya itu cepat melupakan kesedihannya itu.


"Apaan sih? Bukannya mau menghibur, tapi malah ngajakin begituan." Adinda memalingkan wajahnya ke samping, sedangkan Devin tersenyum gemas mendengar jawaban istrinya.


Devin meraih dagu Adinda dan membuat Adinda kembali menoleh padanya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Ia mencium sekilas bibir Adinda.


"Iiihhh, dasar mesum." Adinda menjauhkan wajahnya untuk menghindari ciuman Devin.


"Gak apa-apa mesum. Yang penting kan mesumnya sama istri sendiri," ucap Devin.


"Ya udah, aku mau ke dapur dulu." Adinda beranjak dari duduknya, tapi Devin menarik tangan Adinda sehingga Adinda terduduk di pangkuannya.


"Mau ngapain ke dapur?" tanya Devin.


"Ya mau masak, Sayang. Memangnya mau apa lagi?" Adinda berusaha bangkit, namun Devin semakin erat memeluknya.


"Kan sudah ada Art," ucap Devin.


"Vina sudah mandiri, Sayang," ucap Devin. Suaranya mulai terdengar serak. Devin memejamkan matanya. Gerakan Adinda di pangkuannya membuat Devin tersulut gair*h.


"Mending bantuin aku aja, Sayang," ucap Devin di dekat telinga Adinda.


"Ba-bantuin apa?" Hembusan napas Devin yang begitu dekat membuatnya merinding. Namun, Adinda masih berusaha melepaskan diri, sehingga pergerakannya membuat Devin tak bisa menahannya lebih lama lagi.


"Kamu harus tanggung jawab." Devin meraih dagu Adinda dan mulai melahap bibir istrinya. Devin kembali melakukan aksinya. Ronde tambahan di pagi hari yang berhasil membuat wajah murung istrinya menjadi merah merona sekaligus masam.


Tak hanya melakukannya di sofa. Devin kembali menyerang Adinda di kamar mandi. Devin seakan tak pernah puas. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mengajak Adinda untuk menjelajah surga dunia bersama.


"Gimana, sudah hilang sedihnya? Atau mau mencobanya kembali?" tanya Devin seraya membantu mengeringkan rambut istrinya.


"Huft, apa kamu tidak lelah? Setiap ada kesempatan selalu mengajakku begituan," gerutu Adinda seraya mematut dirinya di depan cermin.


Devin terkekeh mendengar Adinda menggerutu kesal. Entahlah, Devin sudah merasakan kecanduan. Bahkan dia rela over dosis. Ia tak pernah merasa lelah, tenaganya justru akan semakin bertambah.

__ADS_1


Adinda memutar bola mata malas. Ia jengah menghadapi kemesuman suaminya yang sudah mencapai level dewa. Walau tak bisa ia pungkiri jika ia merasa senang karena Devin bersikap demikian hanya padanya seorang.


Setelah selesai merias diri, Adinda membantu Devin memasangkan dasi. Karena jarak yang begitu dekat, Devin bisa menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut istrinya. Merasa diperhatikan, Adinda mendongak menatap suaminya. Melihat gelagat aneh suaminya, gegas Adinda menghindar.


"Jangan macam-macam!" ucap Adinda.


"Cuma satu macam aja kok, gak mau macam-macam," kilah Devin.


"Apaan sih? Ya udah yuk, kita turun. Kasihan Vina, pasti dia sedang menunggu kita untuk sarapan," ajak Adinda seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.


Devin mengekori langkah Adinda. Keduanya pun turun bersamaan. Terlihat Vina yang sudah duduk manis menunggu kedatangan kedua orang tuanya di meja makan.


"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Bunda," sapa Vina dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi juga, Sayang," jawab Adinda dan Devin serempak. Kemudian mengambil posisi duduk di tempat biasanya. Mereka pun mulai sarapan bersama.


"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Devin.


"Iya, hati-hati di jalan." Adinda mencium punggung tangan suaminya.


"Ingat, jangan sedih lagi." Devin melabuhkan sebuah ciuman di kening Adinda cukup lama.


"Ayaaahhh, lupa ya kalau masih ada Vina?" tegur Vina. Vina mengerucutkan bibirnya sebal. Bisa-bisanya kedua orang tuanya bermesraan tanpa melihat keadaan sekitar.


Adinda menatap Devin tajam. Sementara Devin hanya terkekeh. Devin menarik gemas hidung Vina, membuat sang empunya semakin cemberut.


"Udahan dong cemberutnya, nanti telat loh. Pamitan gih sama bunda," ucap Devin pada putrinya.


"Bunda, Vina juga berangkat ya, assalamualaikum" pamit Vina seraya mencium punggung tangan bundanya.


"Waalaikumsalam, baik-baik ya di sekolah. Belajar yang rajin." Adinda menciumi pipi Vina.


"Baik bunda." Vina kemudian melangkah masuk ke dalam mobil ayahnya.


"Aku berangkat ya Sayang, assalamualaikum," ucap Devin seraya menyusul Vina yang telah duduk manis di kursi penumpang.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Adinda. Adinda masih berdiri di teras sampai mobil yang dikendarai suaminya hilang dari pandangan.


__ADS_2