Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 57


__ADS_3

Keesokan harinya, Adinda sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah baik-baik saja. Adinda sangat bahagia kini bisa menjadi seorang ibu dari putri yang cantik dalam dekapannya. Entah mengapa setiap ia melihat wajah damai putrinya, ia teringat akan setiap momen kebersamaan dengan ayah kandung dari putrinya.


Sempat terbersit untuk memberikan kesempatan pada Devin dan juga keluarga yang utuh untuk putri mereka. Namun, tadi malam ayah Fathan memberitahukan niat baik dokter Ivan yang ingin menghalalkannya. Rencananya minggu depan dokter Ivan beserta kedua orang tuanya akan datang untuk melamar Adinda. Sungguh, situasi seperti ini membuat Adinda dilema.


Menolak pun ia seakan tak kuasa. Sebab selama mengenal dokter Ivan, Adinda selalu diperlakukan dengan baik. Bahkan tante Rita, ibu dari dokter Ivan selalu menyempatkan diri untuk datang menemani Adinda setiap akhir pekan.


Adinda belum pernah mengetahui kekurangan dokter Ivan selain predikat jomblo yang telah mendarah daging. Bukan karena tidak laku, hanya saja dokter Ivan betah menyendiri setelah kepergian sang calon istri. Kini, haruskah ia menghancurkan harapan laki-laki baik tersebut?


Tok tok tok.


Suara ketukan di pintu menarik Adinda kembali dari lamunannya. Adinda meletakkan bayi mungilnya yang telah terlelap ke dalam boksnya.


"Siapa?" tanya Adinda.


"Ini Bi Ningsih, Non. Di ruang tamu ada ibu Intan," jawab bi Ningsing.


"Sebentar, Bi," kata Adinda.


Adinda memastikan sekali lagi putrinya berada dalam posisi tidur yang nyaman sebelum menemui mantan mama mertuanya. Setelah dirasa aman, ia segera beranjak keluar untuk menemui mama Intan.


Adinda melangkah menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan. Sampai di ruang tamu, Adinda melihat mama Intan sedang mengobrol dengan oma Fani. Adinda tersenyum melihat mantan mama mertunya yang sudah seperti ibu baginya.


"Mama, apa kabar?" tanya Adinda setelah ia sampai di hadapan Intan. Adinda meraih tangan Intan dan mencium punggung tangannya dengan takdzim


"Sayang." Intan berdiri dan langsung memeluk Adinda dengan erat.


"Mama baik-baik saja, Sayang. Mama kangen sama kamu," jawab Intan seraya melerai pelukannya.


"Adinda juga kangen sama Mama," ucap Adinda seraya tersenyum bahagia.


"Sayang, Oma mau istirahat dulu ya. Kamu temenin mama Intan dulu," kata oma Fani pada Adinda.


"Iya, Oma," jawab Adinda.


"Nak Intan, Tante pamit mau istirahat dulu," pamit oma Fani pada Intan.


"Iya, Tante. Tante istirahat saja. Biar saya sama Adinda," ucap Intan.


Oma Fani pun beranjak meninggalkan Adinda dan juga Intan. Ia merasa sangat kelelahan karena selama menemani Adinda di rumah sakit, ia tidak bisa istirahat dengan nyaman.


"Ayok, Ma. Kita ke kamar Adinda," ajak Adinda.


"Iya, Sayang," jawab Intan.

__ADS_1


Adinda menggandeng Intan menuju kamarnya. Walau kini ia tak lagi mempunyai seorang ibu, namun setiap ia bersama dengan mantan mama mertuanya itu, ia merasa bundanya turut hadir di tengah-tengah mereka.


"Silahkan masuk, Ma." Adinda mempersilahkan Intan untuk masuk ke kamarnya.


"Terima kasih, Sayang," kata Intan.


Mereka pun melangkah memasuki kamar Adinda. Intan langsung menuju boks bayi untuk melihat cucu pertamanya. Ia tersenyum saat melihat cucunya terlelap dengan damai.


Bahagia sekaligus sedih, itulah yang dirasakan Intan saat ini. Ia bahagia cucunya lahir dengan selamat, tapi ia juga merasa sedih sebab ayah dari cucunya sampai saat ini belum mengetahui tentang hal ini.


"Ma, kenapa?" tanya Adinda saat melihat Intan menyeka air mata di pipinya.


"Gak apa-apa kok, Sayang. Mama cuma kelilipan aja," jawab Intan.


Adinda tahu jika mantan mama mertuanya itu berbohong. Ibu mana yang tak bersedih jika anaknya tak mengetahui tentang sesuatu yang begitu berarti dalam hidupnya. Perlahan Adinda mengusap punggung mantan mertuanya itu. Ada rasa bersalah yang menyusup dalam hatinya.


"Maafin Adinda ya, Ma. Adinda pasti akan memberitahukan tentang hal ini pada Devin, tapi tidak sekarang. Adinda masih takut jika teringat kejadian itu, walaupun pada akhirnya Adinda tahu jika Devin tidak pernah berniat menyakiti Adinda," jelas Adinda.


"Iya, Mama mengerti kok, Sayang. Oh ya, sudah nyiapin nama apa belum buat cucu Mama yang cantik ini?" tanya Intan seraya mengelus pipi cucunya.


"Sudah, Ma," jawab Adinda.


"Siapa, Sayang?" tanya Intan penasaran.


"Devina Aulia Putri, Ma" jawab Adinda mantap.


"Makasih, Ma. Adinda memang sengaja tidak memakai nama belakang keluarga Wijaya ataupun Angkasa. Karena Adinda tidak bisa memilih salah satunya. Jadi, menurut Adinda ini adalah yang terbaik," jelas Adinda.


Intan tersenyum ke arah Adinda. Memang keputusan Adinda sudah tepat karena status yang disandangnya kini, sehingga tidak akan menimbulkan selisih paham di kemudian hari.


"Oh ya, tadi Mama ke sini sama siapa?" tanya Adinda seraya menggandeng Intan menuju sofa.


"Sama papa Bima, Sayang," jawab mama Intan.


"Terus sekarang papa Bima di mana, Ma?" tanya Adinda lagi.


"Tadi cuma mengantar saja sebab ada meetting penting di kantor siang ini. Mau berkunjung lain kali katanya, takut telat kalau masih mampir," jelas Intan.


"Memangnya tadi Mama berangkat jam berapa ke sini?" tanya Adinda.


"Jam 4, Sayang. Makanya bisa pagi sampai ke sininya. Tadi Mama sempat ke rumah sakit dulu, tapi kamunya sudah pulang. Jadi, Mama sama papa langsung ke sini," jelas Intan.


"Mama sebaiknya istirahat dulu. Mama pasti capek karena jarak dari rumah Mama ke sini sangatlah jauh. Lagipula si dedek lagi tidur," kata Adinda.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang," jawab Intan.


Intan kemudian istirahat di kamar Adinda. Perjalanan yang cukup menyita waktu membuatnya lelah. Hanya sebentar Intan tertidur. Ia terbangun karena cucunya menangis.


"Maaf ya, Ma. Mama tidurnya jadi terganggu," kata Adinda seraya mengganti popok bayinya.


"Iya, gak apa-apa. Memangnya cucu Mama kenapa kok menangis?" tanya Intan.


"Tadi pup, Ma," jawab Adinda seraya menimang bayinya agar kembali terlelap setelah selesai mengganti popoknya.


"Sini Sayang, sama Oma," pinta Intan.


Adinda memberikan bayinya pada mama Intan. Kemudian Intan mulai menimang cucunya penuh sayang. Wajah bayi mungil yang merupakan perpaduan antara Adinda dan Devin, membuat rasa rindu pada putranya seakan terobati.


Intan berencana menginap seminggu lamanya, karena memang ia tak punya kegiatan apa-apa selain berkebun di rumahnya. Sebenarnya Intan merasa sungkan karena selama seminggu ia hanya membantu menjaga cucunya saja. Semua tugas rumah sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga.


"Bi, banyak banget masaknya?" tanya Intan saat ia mengambil minum di dapur.


"Iya, Bu. Katanya mau ada tamu penting," jawab bi Eli.


"Kalau begitu, saya bantuin ya, Bi," tawar Intan.


"Jangan, Bu. Ini sudah tugas kami," tolak bi Ningsih.


"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke kamar dulu ya Bi. Mau main sama cucu," pamit Intan yang diangguki oleh keduanya.


Malam hari pun tiba, tamu yang ditunggu-tunggu pun sudah datang. Tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Maaf, Om. Adindanya mana ya?" tanya Ivan saat ia tak melihat Adinda di ruang tamu.


"Sebentar ya Nak Ivan, Oma panggil dulu," jawab Fani seraya beranjak menuju kamar Adinda.


Sementara itu di kamar Adinda, Intan sibuk membantu merias Adinda tanpa tahu siapa dan apa tujuan tamu penting itu hadir di kediaman Angkasa. Adinda sendiri hanya diam. Adinda takut jika berbicara akan membuat mama Intan kecewa.


"Sudah selesai, Sayang?" tanya Fani.


"Sebentar Tante," jawab Intan, "Nah, sudah. Wah, anak Mama cantik sekali," pujinya.


"Iya, cucu Oma jadi cantik sekali," puji oma Fani.


"Makasih," jawab Adinda seraya tersenyum.


"Makasih ya Nak Intan. Pasti nanti Nak Ivan langsung pangling waktu lihat cucu Oma ini," kata oma Fani seraya menggandeng Adinda untuk turun menemui dokter Ivan dan keluarganya.

__ADS_1


Deg.


"Ivan? Siapa dia? Mungkinkah Adinda akan...? Tidak, ini tidak boleh terjadi," batin Intan seraya menatap nanar kepergian dua orang perempuan beda generasi tersebut.


__ADS_2