Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 38


__ADS_3

Pagi ini langit tampak cerah. Awan-awan terkesan enggan menampakkan diri karena sang mentari bersinar dengan angkuhnya. Cuaca yang mendukung untuk melaksanakan aktivitas di dalam ruangan.


Namun, lain halnya yang terjadi dengan suasana hati seorang gadis yang tengah duduk bersandar di tempat tidurnya. Mendung senantiasa menghiasi harinya sejak kejadian tragis yang telah mencabik harga dirinya sebagai seorang wanita.


Sudah hampir sebulan Adinda hanya berdiam diri di kamarnya sejak kejadian itu. Bulir bening senantiasa menetes setiap kali teringat perlakuan Devin yang tak manusiawi. Bahkan untuk sekedar menelan satu suap makanan pun, tenggorokannya terasa tercekat.


Kondisi psikisnya terguncang namun ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Adinda selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Hanya saja setiap kejadian itu terlintas di benaknya, membuat Adinda tak kuasa menahan bulir bening yang membanjiri netranya.


"Fathan, bagaimana kondisi putrimu?" tanya Nathan saat selesai sarapan bersama, namun ia tak pernah melihat cucu satu-satunya itu ikut bergabung. Ia sangat khawatir akan kondisi cucunya yang begitu menyedihkan.


"Masih sama seperti sebelumnya, Pa," jawab Fathan.


Fathan menghembuskan napas panjang. Ia begitu terpukul melihat kondisi sang putri yang sungguh mengenaskan. Trauma yang dirasakan membuat putrinya seperti tak memiliki semangat hidup.


"Semua ini salah Mama. Mama yang terlalu mendewakan harta dan kasta, sehingga membuat cucu Mama satu-satunya harus menderita," sesal Fani seraya mengusap lelehan air mata di pipinya.


"Sudahlah Ma, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat putri Fathan kembali ceria seperti sedia kala," kata Fathan.


"Biar nanti Mama yang akan bujuk dia untuk sarapan, sekalian Mama ingin minta maaf," kata Fani seraya menyiapkan sarapan untuk cucunya.


Fani melangkah perlahan dengan membawa nampan di tangannya. Beruntunglah ia, di usia senjanya ia tak butuh bantuan tongkat untuk berjalan. Ia masih terlihat segar bugar walau usianya kini tak lagi muda.


Tok tok tok


"Boleh Oma masuk?" tanya Fani dari ambang pintu yang telah lebih dulu dibukanya.

__ADS_1


"Masuk saja, Oma," jawab Adinda lemah.


Fani melangkah perlahan ke arah sang cucu. Ia meletakkan nampan yang berisi sepiring makanan dan segelas susu hangat di atas nakas. Ia mendudukkan dirinya di samping Adinda. Diraihnya tangan Adinda yang sejak tadi hanya memilin ujung bajunya.


"Maafkan Oma, Sayang. Ini semua salah Oma yang sudah membuatmu menderita. Seandainya, dulu Oma menerima bundamu dengan baik, mungkin cucu Oma ini tak akan pernah terluka sampai sedalam ini. Maafkan Oma, Sayang. Tolong maafkan Oma yang tak berguna ini," sesal Fani seraya terisak.


"Semua sudah takdir Oma, jadi Oma tidak boleh menyalahkan diri Oma sendiri." Adinda mengusap deraian air mata di pipi sang oma.


Fani mendekap Adinda dengan erat. Ia begitu menyesali perbuatannya di masa lalu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya dia memperbaiki semuanya dan memulai hubungan yang lebih baik dengan sang menantu.


"Sekarang cucu Oma yang cantik ini makan ya. Oma suapin ya?" tanya Fani seraya mengurai pelukannya.


Adinda hanya mengangguk. Fani meraih piring yang berisi makanan di atas nakas. Kemudian ia mulai menyuapkan makanan itu pada Adinda. Perlahan Adinda mengunyah makanan di mulutnya. Adinda kembali menangis membuat Fani bingung.


"Sayang, kenapa menangis lagi?" tanya Fani heran.


"Makanya, makan yang banyak ya. Nanti kita sama-sama berziarah ke makam bundamu," bujuk Fani.


Adinda menganggukkan kepalanya. Kemudian menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh sang oma. Perlahan kini makanan di piringnya tandas tak bersisa.


"Mau lagi Sayang?" tanya Fani melihat Adinda yang masih memandangi piring kosong yang telah diletakkan di atas nakas.


"I-iya, Oma. Boleh?" tanya Adinda malu-malu. Entah mengapa na*s* makannya tiba-tiba membaik. Mungkin karena beberapa hari ini ia tak bisa makan dengan baik dan benar.


"Boleh Sayang, tentu saja. Sebentar ya, Oma ambilkan dulu." Fani tersenyum senang karena cucunya bisa menghabiskan sepiring makanan dan kini minta tambah lagi. Gegas ia beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan seperti tadi.

__ADS_1


"Loh Ma, buat siapa itu?" tanya Fathan ketika berpapasan dengan Fani di tangga.


"Buat cucu Mama, Sayang. Dia mau nambah lagi," jawab Fani antusias.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Oh ya Ma, tolong sampaikan pada Adinda bahwa hari ini sidang putusan perceraiannya. Adinda tak perlu hadir agar proses perceraiannya berjalan cepat. Fathan pastikan mereka akan tetap bercerai. Fathan tidak rela jika putri semata wayang yang begitu Fathan sayangi harus menderita lebih dari ini," kata Fathan.


"Iya, nanti Mama sampaikan," jawab Fani.


"Ya sudah Ma. Fathan berangkat dulu ya, biar tidak terlambat sampai ke pengadilan," pamit Fathan seraya meraih tangan sang mama yang bebas dari memegang nampan.


Fani melanjutkan langkahnya menuju kamar Adinda. Dilihatnya sang cucu yang tengah tersenyum padanya. Kemudian ia mulai menyuapkan lagi makanan di piring pada Adinda.


"Mau nambah lagi?" tanya Fani ketika makanan di piring kedua kini sudah habis.


"Sudah Oma, Adinda sudah kenyang," jawab Adinda seraya mengusap perutnya yang rata.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu ya Sayang. Kalau butuh apa-apa panggil Oma. Oma mau berkebun dulu," pamit Fani.


"Iya, Oma." Adinda kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Seharusnya setelah makan ia tidak boleh rebahan terlebih dahulu. Namun, entah mengapa badannya terasa sangat lelah dan ia butuh istirahat segera.


"Oh ya, hampir saja Oma lupa. Tadi ayahmu berpesan bahwa hari ini sidang putusan perceraianmu. Kamu tak perlu hadir biar prosesnya cepat. Oma turut prihatin atas apa yang menimpamu, namun Oma tidak mau kamu jatuh kembali ke lubang yang sama." Fani beranjak meninggalkan Adinda.


"Maafkan aku Dev. Aku memang mencintaimu, tapi aku tak sanggup lagi bertahan di sisimu. Apalagi sejak kejadian itu kamu terlihat begitu menakutkan. Aku takut kamu akan mengulanginya lagi dan hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan," gumam Adinda lirih.


Adinda menenggelamkan wajahnya di bantal. Setetes bulir bening kembali membasahi sudut netra. Gegas ia menghapusnya kasar. Namun, rasa sakit yang dirasakannya membuat air matanya tak kunjung reda.

__ADS_1


"Mengapa rasanya sesakit ini? Aku mencintaimu tapi aku juga membencimu. Aku sadar bahwa kebersamaan kita selama ini tak berarti apa-apa untukmu. Maafkan aku jika aku tak bisa menjadi seperti yang kau inginkan."


"Aku lelah, sebenar-benarnya lelah menjalani rumah tangga yang penuh kepalsuan. Membohongi setiap orang hanya untuk menutupi aibmu. Maaf, jika saat ini semua orang harus tahu. Aku memilih mundur daripada bertahan tapi batinku terluka. Semoga kau bisa berbahagia dengan pilihan hatimu," lirih Adinda.


__ADS_2