Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 48


__ADS_3

Ketika luka yang ditorehkan teramat dalam, kata maaf pun seakan tak bisa mengembalikan keadaan. Berharap mendapatkan kembali sebuah kesempatan, laksana pungguk yang merindukan rembulan.


Meski hati terbakar cemburu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa seolah menjadi dungu. Seandainya rasa itu tidak terlambat disadari, pasti kebahagiaan senantiasa mengiringi.


Pemandangan di depan sana sungguh mengiris jiwa, membuat luka itu semakin menganga. Terpuruk sendiri tanpa ada seorang pun menyadari. Bahkan mereka yang di sana terlihat sangat bahagia. Berjalan beriringan walau tak bergandengan tangan. Bercanda ria seakan dunia hanya milik berdua.


"Terima kasih ya Dra buat semuanya," kata Adinda.


"Ya sama-sama, Din. Setelah ini, mau ke mana lagi?" tanya Candra seraya meletakkan kantong belanjaan Adinda di kursi penumpang belakang.


"Pulang aja, Dra. Sudah sore ini." Adinda melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Ok, Din," kata Candra.


Candra membukakan pintu mobil untuk Adinda. Sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Perhatian yang Candra berikan membuat Adinda merasa senang, namun Adinda tak ingin berharap dan memberi harapan.


Sebenarnya Candra masih belum puas menikmati momen berdua dengan Adinda, namun ia tak mungkin menahan Adinda lebih lama lagi. Mereka berdua pun beranjak meninggalkan minimarket.


"Oh ya Din, nomor ponselmu ganti ya? Sudah beberapa kali aku mencoba menghubungimu, namun selalu tidak aktif," tanya Candra. Ia menoleh sekilas ke arah Adinda.


"Iya, Dra," jawab Adinda. Netranya fokus menatap ramainya kendaraan yang berlalu lalang.


Ingin rasanya Candra meminta nomor ponsel Adinda yang baru, namun ia tak ingin Adinda dan suaminya berselisih paham karena dirinya. Sekalipun rasa itu masih tersimpan, namun ia tak ingin menjadi penyebab keretakan rumah tangga sang mantan.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Adinda. Candra turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Adinda.


"Mampir dulu, Dra," tawar Adinda basa-basi.


"Terima kasih, Din. Lain kali saja," tolak Candra.


"Terima kasih ya Dra untuk hari ini," kata Adinda.


"Ya, sama-sama Din. Kalau begitu, aku pamit dulu," pamit Candra.


"Iya, Dra. Hati-hati di jalan," kata Adinda.

__ADS_1


"Ok," balas Candra.


Candra pun masuk ke mobilnya. Candra membunyikan klakson dan melambaikan tangannya pada Adinda. Adinda pun membalas lambaian tangan Candra. Perlahan mobil Candra melaju meninggalkan kediaman Adinda. Setelah mobil Candra hilang dari pandangan, Adinda membalikkan badannya dan melangkah melewati pintu gerbang.


Di tempat biasa Devin memarkirkan mobilnya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa mantan istrinya itu terlihat sangat senang. Namun, itu justru membuat Devin semakin bersedih dan kehilangan.


"Harusnya aku yang ada di sana. Harusnya aku yang bisa membuatmu nyaman. Ingin rasanya aku menghampirimu lagi, tapi aku tak ingin kamu merasa ketakutan seperti tempo hari."


"Adinda, aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Tak bisakah kita memulai lagi hubungan ini dari awal? Seperti dulu, saat hanya ada aku seorang yang menjadi tempat bersandarmu."


"Ya Rabb, apa yang harus hambamu ini lakukan? Semakin aku mencoba untuk merelakan, rasa ini semakin bertahta di relung hati terdalam."


Netranya berkaca-kaca. Rasa sakit ini terlalu menyiksa batinnya. Diusapnya setetes bulir bening yang menetes saat ia mengerjap. Devin memukul-mukul dadanya yang terasa teramat sesak, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang menggelayut di dasar hatinya.


Devin seakan tak memiliki gairah kehidupan. Bahkan, pekerjaannya jadi terbengkalai. Sengaja ia mengambil cuti hari ini untuk menemui sang pujaan hati. Walau hanya bisa menatapnya dari kejauhan, tapi tak mengapa asal rasa rindu itu ada penawarnya. Namun, kedatangannya justru disuguhkan dengan pemandangan yang membuat batinnya semakin tersiksa.


Belum reda rasa sesak yang dirasa, tampak sebuah mobil Range Rover warna hitam yang dilihatnya tempo hari masuk melewati pintu gerbang rumah mantan istrinya. Devin menenggelamkan wajahnya di balik stir kemudi. Terdengar isakan seiring air mata yang tak bisa lagi ia tahan.


"Mengapa rasanya sesakit ini? Ya Rabb, tak adakah kesempatan lagi untuk kami bersama kembali? Aku mencintainya, sungguh mencintainya." Devin menangis tergugu di balik stir kemudi.


Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, gegas Devin melajukan mobilnya menuju masjid terdekat. Sudah jam setengah lima, tapi ia belum menunaikan kewajibannya. Menjalankan ibadah serta menyampaikan segala keluh kesah.


"Bismillah," ucap Ivan seraya menekan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka.


"Assalamualaikum," kata Ivan.


"Waalaikumsalam," jawab bi Ningsing.


"Maaf, Den. Aden cari siapa?" tanya bi Ningsing.


"Adindanya ada, Bi?" tanya Ivan.


"Oh, non Adinda. Iya ada Den, mari masuk." Bi Ningsing menggeser sedikit tubuhnya dan mempersilahkan tamu majikannya untuk masuk ke dalam.


"Siapa Bi?" tanya Fani dari arah ruang tengah.

__ADS_1


"Ini Nyonya, tamunya non Adinda," jawab bi Ningsing.


"Assalamualaikum, Oma," ucap Ivan seraya meraih tangan Fani dan mencium punggung tangannya dengan takdzim.


"Waalaikumsalam. Silakan duduk dulu, Dok. Saya panggilkan Adindanya dulu." Fani mempersilahkan Ivan untuk duduk terlebih dahulu di ruang tamu. Kemudian beranjak menuju lantai dua di mana kamar Adinda berada.


"Sepertinya dokter Ivan benar-benar menyukai cucuku. Aku sih setuju, kalau mereka bersatu," gumam Fani seraya menapaki anak tangga satu persatu.


Tok tok tok


"Adin sayang. Buka pintunya, ini Oma," panggil Fani.


Beberapa saat menunggu, namun tak ada sahutan dari dalam. Fani pun memutar handle pintu yang ternyata tidak terkunci. Fani melongokkan kepalanya ke dalam. Ternyata Adinda sedang sholat.


Fani masuk dan melangkah perlahan menuju sofa. Ia mendudukkan dirinya dan menunggu sang cucu sampai selesai melaksanakan ibadahnya.


Tak lama kemudian, Adinda telah selesai. Adinda menolehkan kepalanya dan mendapati sang oma yang sedang tersenyum menatap dirinya.


"Oma, ada apa?" tanya Adinda seraya melepas mukenah yang sedang ia kenakan.


"Di bawah ada tamu," jawab Fani.


"Terus?" tanya Adinda.


"Dia nyariin cucu Oma yang cantik ini," jawab Fani.


"Apaan sih Oma ini. Siapa memangnya?" tanya Adinda.


"Penasaran ya? Coba tebak dia siapa?" Fani tersenyum geli melihat Adinda yang mengerucutkan bibirnya.


"Oma ih, kenapa pakai main tebak-tebakkan segala sih?" Adinda mencebik kesal seraya meletakkan kembali peralatan sholatnya ke tempat yang semestinya.


"Ya udah, turun yuk biar tidak penasaran lagi," ajak Fani seraya menggandeng tangan cucu semata wayangnya.


Adinda tersenyum ke arah omanya yang sedang berjalan beriringan dengannya. Perlahan mereka turun menapaki anak tangga satu persatu. Adinda mengernyit saat sampai di ruang tamu dan mendapati dokter Ivan tengah berbincang dengan ayah dan opanya.

__ADS_1


"Dokter Ivan. Mau ngapain dia ke sini?"


(Ada yang bisa jawab?)


__ADS_2