Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 49


__ADS_3

POV Adinda


"Dokter Ivan. Mau ngapain dia ke sini?" batinku.


Aku tak menyangka, tamu yang di maksud oma adalah dokter Ivan. Untuk apa dia datang ke rumah ini hanya untuk mencariku? Jangan-jangan ... ah sudahlah, kenapa jadi ge-er gini sih.


Aku mendudukkan diriku di samping oma setelah terlebih dulu menyalami dokter Ivan. Entah mengapa sepanjang obrolan berlangsung, dokter Ivan sering mencuri pandang ke arahku. Atau bisa jadi ini hanya perasaanku saja karena terngiang kata-kata oma yang mengatakan bahwa kedatangannya kali ini untuk menemuiku.


Cukup lama dokter Ivan berada di rumah ini, hingga makan malam pun dia masih berada di sini karena oma yang memintanya. Oma, oma, pasti ada niat terselubung di balik senyum oma itu.


Ayah dan opa tidak ikut makan malam karena selepas maghrib mereka pergi menghadiri undangan jamuan salah satu kolega bisnis yang sedang merayakan anniversary pernikahannya.


Setelah makan malam, oma mohon diri untuk ke kamarnya sebentar. Tinggallah aku yang hanya berdua dengan dokter Ivan di ruang tamu. Entah mengapa suasana mendadak menjadi canggung.


Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Berada dalam satu ruangan dengan seorang laki-laki sungguh membuatku merasa tidak nyaman. Ingin rasanya menghindar, namun aku takut dikira tidak sopan.


"Ehem." Aku menoleh ke arah dokter Ivan yang berdehem. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu.


"Maaf kalau saya lancang menyimpan nomor ponselmu tanpa ijin terlebih dahulu." Aku mengernyit, apa maksudnya?


"Saya yang menghubungimu tadi siang. Saya juga yang mengirim pesan tidak penting itu. Maaf, jika gaya bahasa saya terkesan kaku. Sudah lama saya tidak berinteraksi dengan lawan jenis dalam urusan pribadi," akunya.


Oh, jadi dia orang yang tadi siang menghubungiku. Namun, kenapa aku masih tidak paham ya apa maksudnya. Ah, kenapa otakku jadi loading gini sih.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanyanya.


"Oh, tentu saja boleh. Silakan, Dok," jawabku.


"Bisa tidak, jangan panggil saya dokter?" Pertanyaan macam apa itu.


"Loh, anda kan memang seorang dokter," selaku.


"Iya, tapi ini sudah di luar jam kerja," jelasnya.


"Oh, gitu ya." Aku hanya manggut-manggut seolah aku paham apa maksud perkataannya. Padahal aslinya tidak.


"Panggil apa saja yang penting bukan om. Kakak mungkin," pintanya yang membuatku semakin tak mengerti apa maksudnya.

__ADS_1


Kalau dilihat dari penampilannya sih, he is perfect. Ya kali aku mau manggil dia om, yang benar saja. Eh, tapi dia ini umur berapa sih? Tuh kan, aku jadi penasaran. Nih oma mana lagi? Lama banget sih.


"Hehe." Aku hanya tertawa garing untuk menyembunyikan rasa tak pahamku.


"Oh ya, hampir saja lupa. Dulu waktu kecil, apa kamu suka main ke danau?" tanyanya.


"Suka, tapi jarang," jawabku. Untuk apa dia bertanya tentang danau? Apa dia mau mengajakku kencan? Waduh, nih otak mikir apa sih.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ya, karena aku kan sekolah dan bunda juga harus bekerja, jadi nunggu waktu sama-sama libur dulu," jawabku. Eh tadi kenapa pakai 'aku' ya ngomongnya, seharusnya kan 'saya'.


"Oh, gitu. Terus sekarang bundamu mana? Kok saya tidak pernah melihat beliau," tanyanya.


"Bunda sudah tenang di alam sana," jawabku sendu. Aku jadi kangen bunda. Sejak berada di sini belum pernah sekalipun aku berziarah ke makam bunda lagi.


"Maaf, saya tidak bermaksud membuatmu bersedih," sesalnya.


"Ya, tidak apa-apa kok, Dok." Kulihat dia memalingkan wajah dan menghembuskan napas kasar. Memangnya ada yang salah ya dengan perkataanku barusan?


"Hehe, maaf." Memangnya ada apa dengan panggilan kakak? Ngotot banget sih.


"Oh ya, om Fathan itu benar ayahmu ya?" tanyanya.


"Iya, Kak. Ayah Fathan itu adalah ayah kandung saya," jawabku.


"Bukannya dulu kamu pernah bilang kalau ayahmu sudah meninggal?" tanyanya.


Aku mengerutkan kening heran. Dulu? Dulu kapan? Seingatku, pertama kali aku bertemu dengan dokter Ivan itu di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Aku pun tak pernah membahas tentang ayah yang dinyatakan meninggal, sebelum aku tahu bahwa ayahku masih hidup.


"Memangnya kapan saya pernah bilang kalau ayah saya sudah meninggal? Memang sih, dulu itu saya dan bunda tidak tahu kalau ternyata ayah saya masih hidup. Lalu, Kakak tahu dari mana? Karena seingat saya, kita baru bertemu baru-baru ini," cecarku.


"Dulu, tepatnya lima belas tahun yang lalu. Kita pernah bertemu di sebuah danau di kota A. Waktu itu saya sedang berteriak memanggil nama seseorang. Kamu tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya," jelasnya.


Aku mengerutkan kening, mencoba berpikir keras tentang kejadian lima belas tahun yang lalu, tapi tetap saja aku tak bisa mengingat kejadian itu.


"Mungkin kamu sudah melupakan kejadian itu karena memang sudah terlalu lama. Namun, saya masih sangat mengingatnya dengan sangat jelas. Itulah sebabnya, saat kita bertemu kembali, saya sangat yakin bahwa kamulah gadis kecil yang pernah saya temui waktu itu," jelasnya.

__ADS_1


"Oh." Aku hanya beroh ria, karena memang aku tidak tahu harus memberi jawaban apa.


"Oh ya, satu lagi. Saya tidak pernah melihat suami kamu. Apa dia bekerja di luar kota?" tanyanya.


"Saya tidak punya suami, Kak," jawabku.


"Apa kamu--"


"Saya sudah berpisah sebelum saya tahu bahwa ada kehidupan lain di dalam sini," potongku cepat seraya mengelus pelan perutku yang masih rata.


"Oh, maaf. Jadi, statusmu sekarang single?" tanyanya pelan. Mungkin dia takut pertanyaannya menyinggung perasaanku.


"Ya, begitulah," jawabku seraya meraih gelas yang berisi orange juice untuk membasahi tenggorokanku yang terasa kering.


"Kalau begitu, bolehkah saya mencalonkan diri untuk menjadi imam serta ayah sambung untuk anakmu?" Aku tersedak karena kaget mendengar pertanyaan yang dokter Ivan lontarkan padaku. Apa ini artinya dia melamarku?


"Maaf, saya tidak bermaksud membuatmu kaget," sesalnya.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Dokter Ivan memandangku dengan raut wajah khawatir.


"Saya serius dengan apa yang saya sampaikan padamu barusan. Saya akui, saya telah jatuh hati padamu saat kita berjumpa untuk yang pertama kali. Kamulah yang telah mengembalikan semangat hidupku. Namun, saat itu kamu masih menjadi seorang gadis kecil yang pantas disebut adik, sehingga aku hanya berani menyimpan rasa itu dengan harapan kita bisa berjumpa lagi di kemudian hari."


"Saya tidak akan memaksa jika kamu tidak menginginkannya. Namun, jangan pernah meminta saya untuk berhenti berharap sebelum kamu menemukan seseorang yang tepat," ungkapnya.


"Kalau begitu, saya mohon pamit," imbuhnya.


"Sebentar, saya panggilkan oma saya dulu," kataku.


Aku segera beranjak menuju kamar oma. Aku mengetuk pintu kamar oma, namun tak ada jawaban. Aku memutar handle pintu yang tak terkunci dan membukanya. Aku menghembuskan napas panjang. Pantas saja oma tidak kembali lagi ke ruang tamu. Ternyata oma sudah tertidur. Aku menutup pintu perlahan. Kemudian kembali menemui dokter Ivan yang masih berada di ruang tamu.


"Maaf, Kak. Ternyata oma sudah tidur," kataku.


"Iya, tidak apa-apa. Sampaikan salam saya sama beliau," ujarnya.


Aku mengantar kepergian dokter Ivan hingga ke teras. Dokter Ivan beranjak menuju mobilnya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Setelah mobil itu tak terlihat lagi dari pandangan, gegas aku masuk kembali ke dalam.


"Aakkkhhh." Aku berteriak kaget kala seseorang yang berada di balik pintu membuatku terkejut.

__ADS_1


__ADS_2