
"Boleh?" tanya Ivan seraya menyeka sisa saliva di b*bir sang istri.
Adinda memalingkan wajahnya ke samping. Ia tidak tahu harus menjawab apa saat mendapat pertanyaan seperti itu dari suaminya. Wajahnya kembali menghangat mengingat adegan demi adegan yang terjadi di antara mereka barusan.
"Gak apa-apa kalau kamu belum siap. Ya sudah, kita tidur yuk." Ivan membaringkan dirinya di samping Adinda. Ia menghela napas panjang karena sepertinya ia harus menunda aktivitas malam pertamanya malam ini.
Adinda menoleh pada Ivan yang kini berbaring di sampingnya. Ada rasa bersalah karena tak bisa memenuhi keinginan sang suami. Namun apa daya, ia benar-benar belum siap walau tadi sempat terbawa suasana.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Suara rintik hujan di luar sana seakan menjadi irama di tengah keheningan mereka. Beruntung listrik sudah kembali menyala, sehingga rasa takut yang dialami Adinda berangsur menghilang.
Ivan melingkarkan tangannya di perut rata sang istri. Meskipun tak bisa menjalani ritual malam pertama yang akan membuatnya berkeringat, namun begini saja sudah cukup mengingat wanitanya belum sepenuhnya siap.
Terdengar dengkuran halus dari Adinda yang menandakan ia sudah tertidur. Perlahan Ivan turun dari tempat tidur. Ia menuju kamar mandi untuk mendinginkan suhu badannya yang masih memanas. Akankah ia kuat bertahan untuk tak menyentuh wanita yang telah halal untuknya, sedangkan makin hari ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Walau ia sendiri tak tahu itu apa.
Selesai mandi ia segera memakai piyamanya. Perlahan Ivan naik ke atas tempat tidur agar tak mengusik Adinda yang tertidur pulas. Ivan memiringkan badannya. Ia menopang kepalanya dengan satu tangannya agar leluasa memperhatikan wajah wanita yang selama ini hanya menghiasi mimpinya.
"Aku bahagia bisa memilikimu dalam sebuah ikatan yang halal. Namun, apakah kamu juga bahagia? Karena aku lebih merasa bahagia jika kamu juga merasakan hal yang sama. Berbahagialah, karena hanya hal itu yang aku inginkan," gumam Ivan.
Ivan mengelus pipi Adinda perlahan. Ia menurunkan kepalanya dan mencium kening sang istri. Kemudian ia membaringkan badannya dan ikut menjelajah alam mimpi.
Suara adzan shubuh terdengar berkumandang. Adinda terbangun dari tidur lelapnya. Hampir saja ia berteriak, tapi ia segera membekap mulutnya. Perlahan ia menyingkirkan lengan kokoh yang melingkari perutnya. Lalu ia segera bangun dan beranjak menuju kamar mandi.
Ivan membuka matanya, namun ia tak menemukan istrinya. Ia tersenyum saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tak berapa lama, Adinda keluar dari kamar mandi dengan badan yang hanya terlilit handuk di atas paha.
"Aakkhhh," teriak Adinda terkejut. Ia segera berlari menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Ivan hanya tersenyum geli melihat Adinda yang lari terbirit-birit seperti melihat hantu. Ia segera beranjak menuju kamar mandi dengan membawa serta pakaiannya yang masih tersimpan rapi di dalam kopernya.
Hanya sebentar Ivan melaksanakan ritual mandinya karena tak ingin membuat wanitanya menunggu terlalu lama. Benar saja, saat ia keluar dari kamar mandi, Adinda sudah menunggunya untuk melaksanakan ibadah bersama.
"Kita sholatnya di sini?" tanya Ivan seraya memasang peci yang telah disiapkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Iya Kak. Di mushola keluarga paling sudah selesai berjamaah. Kalau kita ke sana pasti sudah terlambat," jawab Adinda.
Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah berdua untuk pertama kalinya. Setelah selesai mereka berbincang-bincang sebelum turun untuk sarapan.
"Kak, aku rapikan ya bajunya." Adinda hendak meraih koper Ivan, namun Ivan mencegahnya.
"Biar suamimu ini yang bawa. Ini berat loh." Ivan pun menarik kopernya menuju walk in closet, sedangkan Adinda mengekori langkah Ivan.
Satu persatu pakaian Ivan berpindah ke tempat yang telah disediakan oleh Adinda. Adinda meletakkan koper Ivan yang kosong di sudut ruangan.
"Aakkhhh." Adinda terjengkit kaget saat berbalik dan mendapati wajah Ivan yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Hampir saja ia terjatuh jika Ivan tak menahannya.
Adinda memejamkan matanya saat wajah Ivan kian mendekat. Dapat ia rasakan benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Adinda refleks membuka mulutnya. Ivan tersenyum dan tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Adinda membuka mata dan mendorong dada Ivan perlahan. Adinda butuh asupan oksigen setelah beberapa saat terbuai. Ivan pun melepaskan tautan bibir mereka. Ia pandangi wajah Adinda yang memerah sebelum kembali menyusuri setiap inci wajah Adinda. Perlahan ciuman itu turun ke leher jenjang yang tak sempat ia eksplor tadi malam.
"Eegghh," lenguh Adinda yang semakin menyulut gairah sang suami.
"Aakkhhhh." Adinda menggigit bibir bawahnya ketika ia mengeluarkan suara yang membuatnya merinding sendiri.
"Stop, please," mohon Adinda ketika tangan Ivan hendak melucuti kain segitiga sebagai penutup terakhir tubuhnya. Adinda sudah tak kuasa menerima serangan demi serangan yang membuatnya panas dingin.
Ivan tersenyum mendengar perkataan Adinda yang tak sesuai dengan reaksi tubuhnya. Mulutnya boleh mengatakan berhenti, tapi tubuhnya menginginkan lebih dari ini. Malah Adinda kini mengalungkan kedua tangannya di leher Ivan dan semakin mendekatkan diri.
"Baiklah," kata Ivan seraya menarik kembali tangannya yang hendak menyentuh kain keramat milik istrinya.
Adinda juga menarik tangannya kembali seperti tidak rela. Seperti terjatuh sebelum terbang tinggi ke awan.
"Kak," panggil Adinda.
"Hemm," jawab Ivan. Sedetik kemudian ia dibuat kaget karena Adinda tiba-tiba memeluknya.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Ivan dengan pandangan yang tertutup kabut gairah.
Adinda mengangguk mengiyakan. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Malu? Tentu saja. Namun, ia tak ingin membuat suaminya lagi-lagi harus kecewa.
Ivan membopong tubuh Adinda dan membawanya ke peraduan. Ia membaringkan Adinda perlahan. Kembali ia menyusuri setiap inci tubuh Adinda tanpa terlewatkan. Jadilah pagi itu menjadi pagi pertama untuk keduanya.
"Yakin mau pergi sekarang? Bukannya Kakak masih cuti?" tanya Adinda pada keesokan harinya.
"Iya, Sayang. Kondisi pasien memerlukan penanganan yang khusus dan harus segera dilakukan tindakan operasi segera," jelas Ivan seraya mengecup kening istrinya.
"Sayang, Ayah berangkat kerja dulu ya." Ivan mencium pipi gembul Vina yang berada di gendongan Adinda.
"Sayang, Kakak berangkat dulu. Jaga diri baik-baik. Ingat, dilarang ada air mata di sini." Ivan mengelus pipi Adinda penuh sayang.
"Iya, hati-hati di jalan." Adinda meraih tangan Ivan dan mencium punggung tangan suaminya.
Adinda mengantar Ivan hingga ke teras rumah. Ia membalas lambaian tangan Ivan. Perlahan mobil Ivan melaju dan hilang dari pandangan. Adinda menuju taman belakang di mana oma Fani berada dengan Vina di gendongannya. Adinda menemani oma Fani berkebun walau hanya duduk-duduk saja.
"Oma, Adin masuk dulu ya. Vina kayaknya sudah ngantuk," pamit Adinda seraya beranjak berdiri.
"Iya, kamu juga istirahat. Semalam kan sudah begadang," goda oma Fani.
"Iihhh, Oma apaan sih." Adinda bergegas masuk ke dalam dengan wajah yang tersipu.
Adinda meletakkan Vina yang tertidur di boksnya setelah selesai menyusu. Ia pun merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Namun, baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya berdering dengan nyaring.
"Halo, assalamualaikum," sapa Adinda tanpa melihat terlebih dulu siapa yang menghubunginya.
"................."
"APA?," teriak Adinda seraya menjatuhkan ponsel di tangannya.
__ADS_1