Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 13


__ADS_3

Gegas Devin meninggalkan hotel untuk mencari keberadaan Adinda. Rencana menginap selama tiga hari harus ia cancel. Devin merutuki perbuatannya yang telah membuat Adinda menunggu hingga kini Adinda lebih memilih pergi.


Berulang kali Devin menghubungi Adinda, tersambung namun tak diangkat. Malah sekarang ponsel Adinda non aktif. Devin meraup wajahnya kasar. Segala kemungkinan yang berkelebat di benaknya membuat kepalanya terasa pening.


Tak mungkin Devin menghubungi kedua orang tuanya untuk menanyakan perihal keberadaan Adinda. Jika hal itu ia lakukan maka sama saja dengan ia menggali lubang kuburnya sendiri.


Devin memacu mobilnya menuju rumah kontrakan Adinda. Karena Devin yakin kalau Adinda tak mungkin pulang ke rumah orang tua Devin. Tak ia pedulikan umpatan kekesalan para pengendara yang lain karena Devin mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Devin bergegas turun setelah sampai di kontrakan Adinda. Devin mengambil napas dan menghembuskannya berulang kali. Devin mencoba membuka pintu, namun terkunci. Devin mengintip dari jendela berharap Adinda ada di dalam. Namun sayang, sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


"Loh nak Devin! Ibu pikir tadi siapa," seru ibu Lastri. Tadi ibu Lastri duduk-duduk di teras rumahnya. Melihat ada seseorang yang mencurigakan di rumah Adinda gegas ia menghampirinya.


"Eh, iya Bu." Devin tersenyum kikuk.


"Adindanya mana Nak?" ibu Lastri menolehkan kepalanya ke kanan dan kekiri mencari keberadaan Adinda.


"Dari pertanyaan bu Lastri sudah bisa di pastikan bahwa Adinda tidak ada disini," batin Devin.


"Adinda tidak ikut Bu. Saya mau ngambil barang yang ketinggalan saja Bu, tapi saya lupa tidak bawa kuncinya." Devin beralasan demikian karena dia tidak ingin ibu Lastri curiga kalau tujuannya datang kesini hanya untuk memastikan keberadaaan Adinda.


"Owalah. Memangnya nak Devin tidak tahu kalau nak Adinda sudah menyerahkan kuncinya sama pemilik kontrakan? Dia bilang katanya setelah menikah mau ikut tinggal di rumah suaminya," jelas ibu Lastri.


"Oh maaf Bu saya lupa. Kalau begitu saya permisi dulu Bu." Devin baru tahu fakta ini. Namun dia tidak ingin orang lain curiga.


"Oh ya. Hati-hati nak Devin," pesan ibu Lastri.


Devin mengangguk ke arah ibu Lastri seraya mengulas senyum. Gegas ia memacu mobilnya kembali ke arah jalan raya. Tujuannya kali ini adalah butik milik Adinda.


Devin memarkirkan mobilnya setelah sampai di butik Adinda. Perlahan ia melangkah memasuki butik. Dilihatnya Alia yang tengah sibuk melayani p*******n dan Sinta yang sama sibuknya di balik meja kasir.


"Maaf, Adindanya ada di dalam?" tanya Devin pada Alia.


"Pak Devin!" Alia membalikkan badannya dan terkejut melihat Keberadaan Devin di hadapannya.


"Iya saya. Adindanya ada di dalam?" tanya Devin sekali lagi seraya menunjuk pintu ruangan Adinda yang tertutup.


"Oh iya Pak. Ibu Adinda ada di dalam," jawab Alia.

__ADS_1


"Terima kasih. Kalau begitu saya permisi kedalam dulu." Tanpa menunggu jawaban Alia, gegas Devin melangkah menuju ruangan di mana kini Adinda berada.


Tok tok tok.


Devin mengetuk pintu ruangan Adinda. Sebenarnya bisa saja ia langsung menerobos masuk ke dalam mengingat ini adalah ruang kerja sang istri. Namun, rasanya sungguh sangat tidak sopan jika Devin langsung masuk tanpa dipersilahkan.


"Masuk!" seru Adinda dari dalam. Membuat Devin menghembuskan napas lega.


Diputarnya handle pintu kemudian Devin melangkah masuk. Tak lupa Devin juga menutup pintunya kembali. Tampak Adinda yang tengah sibuk mencorat-coret kertas.


"Din!" seru Devin.


Deg.


Adinda terkejut mendengar suara Devin memanggilnya. Sontak ia mendongakkan kepala. Sekilas mereka beradu pandang. Sedetik kemudian Adinda membuang pandangannya ke samping. Diraihnya pensil yang tadi sempat terlempar karena terkejut. Kemudian ia melanjutkan kembali aktifitas menggambar desain baju pesanan p*******n.


Devin mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan Adinda yang hanya di batasi oleh meja. Ditatapnya Adinda yang tengah fokus mendesain seakan keberadaan Devin bagaikan makhluk tak kasat mata.


"Maaf," kata Devin. Netranya masih tak beralih memandangi Adinda.


Devin meraup oksigen dengan rakus dan menghembuskannya kasar. Sumpah! Devin paling tidak suka diacuhkan seperti ini oleh Adinda.


"Maaf semalam aku tidak kembali." Devin benci kecanggungan ini.


"Oh, it's ok," jawab Adinda datar.


"Kamu marah?" Pertanyaan yang konyol. Namun, Devin ingin memastikannya sendiri.


"Untuk apa marah. Kamu bilang hanya sebentar kan? Ini bahkan belum 1×24 jam." Adinda mendongakkan kepalanya dan menatap tepat di manik mata milik Devin.


Devin terhenyak. Tampak jelas kemarahan dan kesedihan di mata Adinda berbaur jadi satu. Devin merasa sangat bersalah. Devin tak pernah bisa melihat Adinda bersedih karena dia juga akan turut merasakan kesedihan yang sama.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu seketika mengalihkan atensi mereka. Mengurai kecanggungan yang telah siap menyemburkan lava.


"Masuk!" instruksi Adinda

__ADS_1


"Permisi Bu, klien dari CS Resto sudah datang," jelas Sinta di ambang pintu.


"Suruh beliau masuk," perintah Adinda seraya beranjak menuju sofa. Tak ia acuhkan keberadaan Devin di ruangannya.


"Baik Bu," jawab Sinta seraya melangkah keluar


Tak lama kemudian seseorang yang di maksud melangkah memasuki ruangan. Orang itu berhenti di depan Adinda. Sesaat mereka sama-sama terkejut.


"Adinda!" seru orang tersebut.


"Candra!" desis Adinda lirih masih dalam keterkejutan yang sama.


"Hei, apa kabar? Lama sekali ya kita tidak bertemu." Candra nengulurkan tangannya ke arah Adinda yang langsung disambut dengan senyuman lebar oleh Adinda.


"Duduk dulu Dra!" Adinda mempersilahkan Candra duduk di sofa. Kemudian mereka terlibat obrolan yang sesekali diiringi dengan tawa.


Devin mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dengan gigi yang saling bergemeletuk. Rasanya ia tak terima melihat pemandangan yang ia saksikan di depan matanya langsung.


Dilihatnya Adinda yang selalu tersenyum dan sesekali tertawa dengan laki-laki lain membuatnya panas. Padahal beberapa menit yang lalu Adinda memasang wajah dingin dan memasang ekspresi datar padanya. Namun lihatlah sekarang, Adinda bahkan tak menganggap keberadaannya.


"Ehem!" Devin berdehem supaya mereka menyadari keberadaannya. Seketika tawa yang menggema berhenti tiba-tiba.


Devin berdiri dan beranjak menuju sofa dimana kini Adinda dan laki-laki yang bernama Candra itu duduk. Devin menghenyakkan dirinya di samping Adinda.


"Dia siapa Din?" tanya Candra. Kaget saja dia melihat seorang laki-laki yang kini duduk di samping Adinda menatapnya dengan tatapan permusuhan.


"Dia--"


"Perkenalkan, saya Devin, suaminya Adinda." Devin memotong ucapan yang akan Adinda katakan. Bahkan kini dengan santainya Devin mengakui sebagai suami Adinda.


Adinda mendesah pelan. Dia memutar bola mata malas. Jengah akan sikap Devin yang telah berhasil mengobrak-abrik perasaannya, dan semua itu tak luput dari penglihatan Candra. Membuat Candra menyunggingkan senyum tipis.


"Saya Candra, teman SMAnya Adinda sekaligus mantannya Adinda yang sampai saat ini masih menunggunya," aku Candra seraya menjabat uluran tangan Devin.


Dinginnya AC tak mampu menyejukkan suhu ruangan yang tiba-tiba memanas. Adinda syok dengan pernyataan dua orang tersebut yang tak pernah ia prediksi sebelumnya. Devin yang mengakui dirinya sebagai suami saja telah membuat Adinda syok. Ditambah pernyataan Candra yang mengatakan masih menunggunya, membuat Adinda benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke laut.


Sementara Devin berusaha menekan amarahnya. Tatapannya tajam menghunus ke manik mata Candra. Candra pun membalas tak kalah tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2