
POV Devin
Aku terjaga dari lelap tidurku, namun tak kutemui keberadaan Adinda di sampingku. Gegas aku melangkah ke kamar mandi untuk mengguyur badan ini. Setelah selesai, aku melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim.
Wangi masakan yang menguar membaui indera penciumanku membuatku tersenyum. Sudah lama aku tak merasakan lezatnya masakan istriku. Namun, baru saja aku hendak melangkah untuk keluar kamar, ponselku berdering. Kuraih benda pipih persegi panjang itu di atas nakas. Tertera nama papa di layar. Lalu ku geser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas.
"Halo, assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam, Dev," jawab papa.
"Ada apa, Pa?" tanyaku.
"Papa sudah tahu semuanya Dev. Kenapa hal sebesar itu tak kamu beritahu pada Papa? Berangkat ke kantor sekarang, Papa adakan meeting dadakan."
"Baik, Pa," jawabku.
Panggilan telepon pun terputus. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Aku lihat jam di atas nakas masih pukul lima lewat, tapi aku harus pergi ke kantor sepagi ini.
Gegas aku bersiap diri untuk pergi ke kantor. Gagal sudah rencanaku untuk menikmati lezatnya masakan istriku yang sudah cukup lama tak kurasakan. Kulihat Adinda masuk ke kamar ini ketika aku tengah bersiap-siap.
Setelah selesai bersiap, aku melangkah menuju kamar mandi. Namun, belum sempat aku mengetuk pintu untuk berpamitan, papa kembali melakukan panggilan.
Aku bergegas pergi ke kantor tanpa berpamitan terlebih dahulu. Biarlah nanti akan aku jelaskan semuanya. Aku pun harus meminta maaf akan sikapku selama ini yang begitu egois. Baru aku sadari bahwa rasa nyaman yang aku miliki lebih dari sekedar sahabat.
Kulajukan mobil ini membelah jalan raya yang masih tampak lengang. Sampai di kantor, aku langsung menuju ruang meeting. Ternyata sudah banyak para petinggi perusahaan yang berkumpul. Serta para klien yang meragukan keaslian produk kami pun turut hadir di ruangan ini.
Melihat kedatanganku, papa segera memulai rapat ini. Meeting berjalan lama karena awalnya para klien bersikukuh menarik diri dari perusahaan ini. Namun, ketika semua bukti-bukti yang berhasil aku kumpulkan kutunjukkan pada mereka, mereka akhirnya percaya.
Alhamdulillah masalah perusahaan satu persatu menemukan titik terang. Tinggal masalah dengan wanita si*l*n itu yang harus segera aku selesaikan.
Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Kurenggangkan otot-ototku yang terasa kaku. Di hadapanku masih menumpuk berkas-berkas yang harus segera aku periksa. Aku kembali melakukan tugasku sebelum pulang dan bertemu dengan istriku.
__ADS_1
Baru saja aku menyelesaikan pekerjaan, ponselku berdering. Terpampang nama 'Honey' di layar membuatku merasa mual. Aku harus segera merubah nama kontak tersebut, kalau perlu blokir sekalian jika urusan dengannya sudah usai.
"Hallo, Sayang. Lagi ngapain Sayang? Pasti lagi mikirin aku ya," ucapnya sambil tertawa renyah. Percaya diri sekali dia. Aku memang lagi memikirkan dia, tapi memikirkan dalam arti menyesal karena memiliki rasa padanya.
"Iya, aku lagi mikirin kamu." Sumpah, rasanya aku mau muntah ketika mengatakan ini.
"Ketemuan yuk. Aku kangen banget ini sama kamu," ucapnya manja, tapi terdengar seperti perempuan pengg*d* di telingaku.
"Ok, ketemuan di mana?" tanyaku tanpa embel-embel sayang.
"Aku sharelock alamatnya ya. Ya udah dulu ya Sayang. Aku harus dandan yang cantik malam ini, supaya kamu makin cinta sama aku, bye Sayang." Segera aku akhiri panggilan tersebut tanpa ada niat untuk membalas ucapannya.
Ting
Satu pesan masuk di ponselku dari Liona. Baiklah, akan segera aku selesaikan urusan ini. Akan aku turuti apa maunya agar semakin banyak bukti yang aku dapatkan. Baru kusadari selama berhubungan denganku, dia hanya menjadikanku ladang uangnya.
Aku melajukan kendaraan dengan perasaan gelisah. Entah mengapa, aku merasa akan terjadi sesuatu pada diriku. Namun, aku tetap berpikir positif bahwa ini hanya perasaanku saja.
Liona menuntunku menuju meja makan yang sudah tersaji berbagai hidangan. Kami pun segera menyantap hidangan di meja ini. Entah mengapa malam ini Liona seperti sengaja menggodaku. Gaun yang ia kenakan terlalu mini dan berbelahan d*d* rendah.
Gegas aku menghabiskan makanan di piringku. Kemudian meneguk minuman yang sudah tersedia di hadapanku hingga tandas. Tak beberapa lama kurasakan hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhku. Padahal ruangan ini begitu sejuk, namun mengapa terasa panas bagiku. Apa jangan-jangan Liona telah membubuhkan sesuatu pada minumanku? Das*r brengs*k!
Kulihat Liona berjalan ke arahku dan mendudukkan dirinya di pangkuanku. Ada gelenyar aneh yang terasa menggelitik perutku. Liona mengalungkan tangannya ke leherku dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Selama aku memiliki hubungan dengannya, aku tak pernah membiarkan dia menc**mku. Namun, kali ini sepertinya aku dikalahkan oleh na*s*.
Namun, belum sempat b*b*r kami beradu, bayangan Adinda berkelebat dalam benakku. Refleks aku mendorong Liona dan menurunkannya dari pangkuanku.
"Sebentar, aku mau ke toilet dulu," pamitku. Dengan sisa kesadaran yang aku miliki, aku melangkah keluar dari ruangan ini. Aku tak mau sampai melakukan sesuatu yang melewati batas dengan wanita yang tak halal untukku.
Namun, belum sempat aku mencapai pintu keluar, kulihat istriku tengah tersenyum sambil mengusap kalung yang ia kenakan. Tak lama kemudian dia terlihat berpegangan tangan dengan laki-laki paruh baya yang sedang bersamanya. Bahkan laki-laki itu menc**m punggung tangan Adinda sampai berulang kali dan lebih parahnya lagi mereka berpelukan di tempat umum seperti ini.
Panas yang kurasakan di tubuhku belum kunjung reda, ditambah lagi aku harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri di depan sana istriku sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Rasanya hati ini sungguh terbakar.
__ADS_1
Kuhampiri Adinda setelah laki-laki itu pergi meninggalkannya. Dia terlihat terkejut menyadari kehadiranku. Aku seret dia tanpa peduli dia meringis kesakitan. Dia harus menerima hukuman karena telah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang suami. Aku sanggup memberikannya kalung berlian seperti yang ia kenakan, tapi kenapa dia malah dengan senang hati menerima pemberian dari laki-laki lain.
Sesampainya di apartemen, aku segera mencercanya dengan berbagai umpatan. Mungkinkah selama ini ia telah menusukku dari belakang? Ternyata semua wanita sama saja.
Sebenarnya ada rasa iba melihatnya ketakutan seperti ini, namun hawa panas yang kurasakan semakin sulit untuk aku kendalikan. Aku tertegun sejenak ketika milikku terasa sulit menerobos gua miliknya. Kulihat Adinda merintih kesakitan. Ternyata dia tak seperti yang aku bayangkan. Aku jadi merasa bersalah karena telah menghinanya.
Namun, untuk saat ini aku harus menuntaskan apa yang sejak tadi membuatku merasa pusing. Biarlah nanti aku jelaskan apa yang terjadi padanya. Dia pun berhutang penjelasan padaku.
Aku menghujam bagian inti Adinda dengan brutal hinga membuatnya tak sadarkan diri. Efek obat yang diberikan Liona ternyata sangat dahsyat. Berkali-kali aku mendapatkan pelepasanku, namun rasanya aku tak bisa berhenti. Aku terkapar di samping Adinda setelah efek obat itu tak lagi kurasa.
Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Gegas aku menuju kamar mandi. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Seandainya dari awal aku menerima Adinda sebagai istriku, pasti aku bisa merasakan nikmatnya surga dunia itu sedari dulu. Meskipun ada perasaan bersalah karena melakukannya tanpa kelembutan.
Aku bergegas menuju dapur untuk mencari keberadaan istriku yang tak kutemui sejak aku membuka mata. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaannya.
Aku masuk kembali kedalam kamar, namun aku juga tak menemukan dia. Seketika netraku tertuju pada selembar kertas di atas nakas. Aku melangkah mendekati nakas dan meraih kertas yang aku duga milik Adinda.
^^^Dear Devin^^^
Dev, sebenarnya dari awal aku sudah jatuh cinta padamu, namun aku tak ingin rasa yang aku miliki menciptakan jarak di antara kita. Aku sadar posisiku yang hanyalah istri di atas kertas. Aku pun tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kekasihmu. Namun, aku mencoba bertahan dengan harapan kamu akan luluh dengan ketulusanku.
Namun, malam ini harapanku bagai terhempas ke dasar jurang. Cacian dan hinaan yang kau tujukan padaku, sudah cukup membuktikan bahwa kamu tak layak untuk aku perjuangkan. Bahkan dengan sangat keji, kamu memaksaku melayani na*s* bej*tmu. Kamu tak mempedulikan rintihan kesakitanku hingga aku kehilangan kesadaranku.
Jika kamu melakukan ini atas dasar cemburu menurutku itu tidak mungkin, karena selama ini kamu hanya menganggapku sahabat. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Dev. Laki-laki yang kamu cemburui tak pantas untuk kamu curigai. Karena laki-laki itu adalah Fathan Angkasa, ayahku dan juga ayah mertuamu. Mungkin kamu takkan percaya, namun itulah kenyataannya.
Maaf jika aku harus pergi. Aku sudah tak sanggup lagi bertahan dalam sebuah hubungan yang penuh kepura-puraan. Aku ucapkan terima kasih atas hadiah ulang tahun yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupku.
^^^Adinda^^^
Badanku luruh ke lantai. Aku menangis tergugu. Aku merutuki kebodohanku yang telah membuat istriku pergi meninggalkanku. Bahkan, aku melupakan hari ulang tahunnya. Padahal setiap tahun, akulah orang pertama yang mengucapkan selamat di saat semua orang tengah terlelap. Namun hari ini, aku telah menorehkan luka yang teramat dalam.
"Aaaakkkkhhhhhh!"
__ADS_1