Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 45


__ADS_3

POV Devin...


Sudah seminggu berlalu sejak penolakan Adinda terhadapku, aku tak lagi datang ke rumahnya. Aku mencoba untuk menahan diri untuk tak menemuinya lagi. Mengingatnya yang ketakutan saat melihatku membuat dada ini berdenyut nyeri.


Aku melampiaskannya dengan kerja, kerja, dan kerja. Alhamdulillah kondisi perusahaan sudah semakin stabil. Liona sendiri sekarang sudah mendekam di balik jeruji besi. Ternyata perusahaan keluarganya pernah mengalami gulung tikar saat ia masih kuliah. Om Danu menderita stroke dan memerlukan banyak biaya untuk pengobatannya.


Gaya hidup yang serba mewah membuat Liona frustrasi menjalani kehidupan yang berubah drastis dalam sekejap. Tante Mirna mengalami depresi karena tidak terima hidup susah.


Liona si anak manja yang tak pernah andil dalam dunia kerja memutuskan untuk melakukan hal yang sangat merugikan dirinya. Menawarkan diri pada salah satu investor yang berhati licik. Sejak saat itulah kehidupan Liona berubah.


Tak puas menawarkan kehangatan pada satu laki-laki, ia pun melakukannya dengan banyak laki-laki. Perlahan perusahaan keluarganya mulai bangkit kembali. Tante Mirna dinyatakan sembuh total, sedangkan om Danu masih dalam tahap pemulihan.


Walau Liona sebelumnya tak pernah terjun ke dunia bisnis, dia adalah wanita yang cerdas, sehingga dengan cepat bisa membuat perusahaan keluarganya berkembang pesat. Namun sayang, ia bekerja dengan cara licik. Mencuri data-data perusahaan laki-laki yang ia ajak kencan tanpa mereka sadari.


Namun, apapun alasannya yang menjadikannya seperti sekarang, aku tak ingin menaruh simpati padanya. Gara-gara dia, hidupku sekarang hancur. Gara-gara dia, wanita yang benar-benar tulus mencintaiku, kini sangat membenciku.


"Dev, kamu datang?" Aku melirik sekilas ke arah sumber suara. Wanita dengan seragam berwarna jingga yang membalut tubuhnya itu tampak tersenyum senang akan kehadiranku.


"Pasti kamu mau mencabut tuntutanmu kan, Dev? Aku tahu, kalau kamu begitu mencintaiku," ucapnya percaya diri.


Aku hanya diam membisu. Kupindai penampilannya yang tampak menyedihkan. Ada rasa iba melihat kondisinya yang seperti ini. Walau bagaimanapun dia pernah singgah di hati ini. Namun, rasa kecewa yang ia torehkan teramat dalam. Menghapus rasa cinta yang pernah ada dan merubahnya menjadi rasa benci.

__ADS_1


"Dev." Liona berusaha meraih tanganku yang bertumpu di atas meja, sigap aku menarik kedua tanganku dan menyembunyikannya ke dalam saku celana yang aku kenakan.


"Kedatanganku memang sengaja untuk menemuimu, tapi tidak untuk mencabut tuntutanku." Aku menghembuskan napas panjang. Kulihat senyum di wajah itu kian memudar.


"Lalu, untuk apa kamu datang menemuiku? Jika alasanmu karena merindukanku, maka segeralah cabut tuntutan itu. Aku siap menjadi istrimu kapan pun kamu mau," katanya mengiba.


Aku tersenyum miring. Tak mungkin aku menikahi wanita yang telah menghancurkan hidupku. Perusahaan yang dirintis oleh kakekku hampir saja berada di ambang kehancuran akibat ulahnya. Bahkan akibat perbuatannya itu, tangan serta tubuh ini telah melakukan perbuatan yang keji terhadap wanita yang aku sayangi.


"Kedatanganku ke sini hanya untuk mengakhiri hubungan kita. Mulai detik ini, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi," ucapku mantap.


"Sampai kapanpun aku tidak ingin hubungan kita berakhir, Dev. Aku sangat mencintaimu. Aku pun tahu bahwa kamu juga merasakan hal yang sama denganku." Dulu, ekspresi seperti ini membuatku luluh, tapi kini aku merasa muak melihatnya yang penuh drama.


"Aku terpaksa, Dev. Semua ini gara-gara Bayu, pesaing bisnismu. Dia memintaku melakukan semua ini dengan imbalan apa pun yang aku inginkan akan dikabulkan," kilahnya.


"Terpaksa kamu bilang? Cckk, tapi bukan dengan cara menjadi j*l*ng." Kulihat wajahnya yang tampak pias. Dia pikir aku tidak tahu profesinya yang menjadi pelay*n plus-plus.


"Ma-maksudmu apa?" tanyanya. Sudah jelas kan perkataanku. Tak mungkin dia tak paham.


"Ah, sudahlah. Kamu hanya membuang waktuku saja." Aku beranjak meninggalkan Liona yang masih bergeming memikirkan ucapanku.


Aku melajukan mobilku membelah jalan raya. Ingin rasanya aku menemui Adinda dan meminta kesempatan untuk mengulang semuanya dari awal. Karena, seberapa kuat aku menahan diri, rasa ini kian terpatri.

__ADS_1


Keesokan harinya, aku memutuskan untuk mendatangi rumah Adinda lagi. Semoga kali ini aku bisa berjumpa dengannya dan dia bisa menerima kehadiranku. Sungguh, aku merasa sangat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga. Waktu terbuang percuma hanya untuk menyakitinya.


Seperti biasa, aku memarkirkan mobilku di kejauhan. Aku menatap rumah besar di balik pagar yang tinggi menjulang. Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Berharap kedatanganku kali ini tak sia-sia.


Aku turun dari mobil dan mendekat ke rumah Adinda. Walau rasanya tak mungkin aku bisa menembus dinding, tapi aku berharap setidaknya ada celah untuk aku lewati.


Mataku menyipit kala melihat sebuah mobil Range Rover warna hitam masuk melewati pintu gerbang setelah security membukanya. Gegas aku nyelonong masuk sebelum security itu menyadari kehadiranku.


Aku mengendap-ngendap seperti pencuri. Rasa rindu ini sudah tak bisa ditahan lagi. Aku bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan. Kulihat di teras sana semua orang menyambut kedatangan tamu yang baru saja datang, tidak terkecuali Adinda.


Namun, ada yang ganjal dengan pemandangan ini. Laki-laki yang kuakui sangat tampan itu seperti terpikat oleh pesona mantan istriku. Jangan sampai dia menyukai Adindaku. Sungguh aku tidak rela kalau sampai itu terjadi.


Mata ini terasa perih saat di depan sana laki-laki itu menjabat tangan Adinda cukup lama. Ingin rasanya aku menghampirinya dan mengatakan bahwa Adinda hanyalah milikku seorang. Namun, semua itu tak bisa aku lakukan mengingat statusku kini yang hanya seorang mantan.


Ya Tuhan, mengapa dulu aku tidak bersyukur mendapat istri sebaik dan secantik Adinda? Kini lihatlah, terlalu banyak laki-laki yang mengantri untuk menjadikannya istri. Candra, mantannya. Kedua sahabatku, Aditya dan David. Lalu satu lagi, laki-laki di depan sana. Bahkan mungkin, akan ada banyak lagi setelah ini.


Aku memutuskan untuk kembali ke mobilku dan pulang saja. Kembali aku mengendap-ngendap agar tidak diketahui oleh security yang tempo hari mengusirku. Syukurlah aku bisa melewati pintu gerbang ini dengan aman.


Sampai di rumah, aku segera masuk ke kamar. Gegas aku menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan ini. Kemudian seperti biasa, melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Tak pernah lupa kupanjatkan segala doa agar segala hajat segera di ijabah.


Setelah itu, aku merebahkan diriku di ranjang king size di kamarku. Mengistirahatkan diri karena badan ini terasa teramat lelah. Bukan hanya badan yang lelah, namun hati dan pikiranku juga. Berharap saat terbangun nanti, kebahagiaan menghampiri.

__ADS_1


__ADS_2