
Gadis cantik dengan balutan gaun pengantin itu sedang menatap dirinya di pantulan cermin. Hari ini adalah hari pernikahannya. Niat hati hanya ingin menikah sekali seumur hidup, namun rupanya sang takdir berkata lain. Pernikahan ini adalah pernikahan ketiganya.
Gadis cantik yang tak lagi gadis itu, tak lain dan tak bukan adalah Adinda. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan saran dari orang-orang terdekatnya, akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan laki-laki yang masih menguasai hatinya dari dulu hingga saat ini.
Seberapa kuat ia mencoba untuk bertahan dan menutup hatinya rapat-rapat, namun ia sungguh tak berdaya saat putrinya selalu meminta ayahnya untuk tetap tinggal. Adinda selalu menangis diam-diam saat ia tak sengaja melihat Vina yang senantiasa berdoa agar ia bisa merasakan apa yang anak-anak lain rasakan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Eka Lestari binti almarhum Fathan Angkasa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Terdengar seruan kalimat qabul yang diucapkan oleh Devin dengan lantang dan tegas di bawah sana.
Entahlah apa yang Adinda tengah rasakan saat ini. Perasaan bahagia dan sedih itu melebur jadi satu saat statusnya telah berubah menjadi seorang istri kembali. Ia merasa bahagia bisa mewujudkan impian putrinya. Namun di sisi lain ia juga merasakan kesedihan yang mendalam.
Tujuh tahun telah berlalu, namun sosok laki-laki baik yang kini telah tenang di alam sana, seakan rasanya baru kemarin mereka masih bersama. Sesak senantiasa menyeruak kala kenangan kebersamaan dengan Ivan berputar di benaknya.
Apalagi kini orang-orang terdekatnya telah tiada. Mulai dari oma Fani yang tutup usia walau beliau dalam keadaan sehat. Kesedihan yang dirasakan opa Nathan karena kehilangan istri tercintanya membuat keadaannya semakin drop. Walau sempat dirawat, namun takdir berkata lain. Sebulan kemudian opa Nathan menyusul sang istri.
Beberapa tahun kemudian sang Ayah pun turut meninggalkannya. Terasa hancur hidup Adinda kala itu. Namun sosok malaikat kecil yang senantiasa mengulas senyum manisnya itu, membuat Adinda kembali bangkit dan bersemangat menjalani kehidupan.
"Sayang," panggil mama Rita lembut.
"Ma-mama." Adinda tersentak dari lamunannya. Ia segera menghapus jejak basah di pipinya.
"Loh, kamu kenapa Sayang? Apa yang membuatmu sedih?" tanya mama Rita. Wanita paruh baya itu terlihat begitu khawatir saat tak sengaja melihat Adinda menghapus air mata di pipinya.
"Enggak kok Ma, cuma kelilipan aja," jawab Adinda.
Mama Rita menghembuskan napas lega. "Syukurlah, Mama pikir kamu kenapa-kenapa. Sini Sayang, Mama bantu." Mama Rita membantu merias Adinda kembali.
"Makasih Ma," ucap Adinda saat mama Rita telah selesai memperbaiki riasan Adinda yang sempat kacau karena habis menangis.
"Sama-sama Sayang," ucap mama Rita lembut.
"Adinda juga minta maaf sama Mama. Adinda tidak bermaksud untuk mengkhianati almarhum kak Ivan dengan menikah lagi." Adinda menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Mama Rita meraih tangan Adinda. Diusapnya dengan lembut penuh kasih sayang. Baginya, Adinda bukan hanya sekedar menantu, tapi Adinda sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Sayang, jangan lagi bicara seperti itu. Kamu tidak mengkhianati siapa pun. Mama yakin, Ivan pasti akan turut merasakan kebahagiaan jika kamu bahagia. Jadi, jangan sedih lagi ya." Adinda mengangkat wajahnya. Ia tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang kita turun yuk. Acara ijab qabulnya sudah selesai. Semua orang sedang menunggumu," ucap mama Rita.
"Iya, Ma," jawab Adinda. Mereka pun beranjak untuk menuju ruang keluarga yang disulap menjadi tempat akad nikah.
Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh anggota keluarga dan tetangga terdekat saja. Tak perlu mewah, yang penting sah. Apalagi pernikahan ini bukanlah pernikahan yang pertama bagi keduanya.
"Akhirnya Mama bisa memenuhi keinginan terakhirmu. Semoga kamu bahagia di sana, Sayang," batin mama Rita.
Mama Rita menggandeng Adinda. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Jika ada yang bertanya apakah mama Rita sakit hati? Jawabannya, tidak sama sekali. Justru mama Rita merasa bahagia yang tiada tara. Permintaan terakhir putranya yang sempat ia anggap hanya bualan semata, akhirnya ia bisa menunaikannya walau butuh waktu yang cukup lama untuk mewujudkannya.
Flashback on...
"Assalamualaikum, Ma," sapa Ivan saat ia berkunjung ke rumah orang tuanya saat pulang kerja.
"Ivan pulang kerja langsung mampir ke sini Ma," jawab Ivan.
"Ada apa, hem? Sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan," tanya mama Rita.
"Ma, Ivan boleh minta tolong sama Mama?" Mama Rita mengangguk dengan seulas senyuman di wajahnya.
"Ma, jika suatu hari Ivan tak bisa lagi menjaga Adinda, Ivan mohon sama Mama agar bisa menggantikan Ivan untuk menjaganya. Satu lagi, tolong satukan kembali Adinda dengan mantan suaminya." Mama Rita mengernyit saat mendengar permohonan putranya yang tak masuk akal.
"Kamu ngomong apa sih?" Mama Rita tak mengerti dengan perkataan putranya yang ambigu.
"Terima kasih karena telah menjadi orang tua yang terbaik buat Ivan. Ivan sayang sama Mama," ucap Ivan kala itu. Ivan mengulas senyum manisnya. Kemudian ia berpamitan setelah menerima telepon dari istrinya. Meninggalkan mama Rita yang masih memikirkan ucapan putranya.
"Aneh," gumam mama Rita.
__ADS_1
Seminggu setelah kejadian itu, mama Rita mendengar kabar bahwa putranya kecelakaan. Gegas ia menuju rumah sakit tempat putranya dirawat.
Mama Rita merasakan sesak yang luar biasa. Sosok putra sulungnya kini terbujur kaku di hadapannya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, seandainya ia tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir ia berbicara dengan putranya, pasti ia akan meminta Ivan untuk tinggal lebih lama saat terakhir kali berkunjung ke rumahnya.
Kini ia mengerti jika kedatangan putranya waktu itu adalah yang terakhir kali dan ucapannya adalah permintaan terakhirnya yang harus ia wujudkan.
Flashback off...
Kini sepasang anak manusia itu telah sah kembali menjadi pasangan suami istri. Walau pernikahan mereka sangat sederhana, namun kebahagiaan terlukis jelas di wajah semuanya, apalagi Vina.
Vina termasuk orang yang paling bahagia. Ia turut sibuk mempersiapkan pernikahan kedua orang tuanya. Berulang kali ia bolak-balik melihat pintu. Tak sabar rasanya menunggu ayahnya datang. Ia juga bolak-balik melihat bundanya yang sedang dirias. Adinda dan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Vina yang tak bisa diam.
Satu persatu tamu undangan beranjak pulang setelah mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Begitu pun dengan keluarga Ivan.
"Bunda, Ayah, malam ini Vina tidur sama Bunda dan Ayah ya," ucap Vina antusias.
"Vina Sayang, katanya Vina kangen sama Oma. Terus katanya mau ikut Oma sama opa ke pasar malam buat naik bianglala?" bujuk mama Intan.
"Oh iya, Vina lupa Oma." Vina memamerkan deretan giginya yang berjajar rapi.
"Kalau begitu, pamit dulu sama ayah dan bunda," ucap papa Bima.
"Bunda, Ayah, Vina mau ikut oma sama opa. Besok Vina kan libur sekolah, jadi Vina mau nginap ya?" pamit Vina.
"Iya Sayang," jawab Devin. Adinda hanya tersenyum dan mengangguk. Tinggal berdua dengan Devin setelah sekian lama membuatnya merasa canggung.
Mama Intan dan papa Bima juga turut berpamitan. Tinggallah Adinda dan Devin yang tersisa selain para Art yang pastinya sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
"Sini Din, aku bantu," ucap Devin saat melihat Adinda kesulitan untuk membuka risleting gaun pengantinnya.
Keduanya merasa dejavu. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Adinda yang merasa berdebar saat berada di dekat Devin setelah sekian lamanya. Lain halnya dengan Devin yang menetralkan debaran jantungnya, pandangannya, dan juga sesuatu yang semakin terasa sesak dan memberontak.
__ADS_1