Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 59


__ADS_3

POV Adinda.


Drrtt drrtt drrtt.


Kuraih benda pipih persegi panjang yang berdering tiada henti. Kuperhatikan deretan angka di layar ponsel yang seperti tak asing bagiku. Kugeser ikon gagang telepon berwarna hijau agar tak hanya menerka-nerka tentang identitas si pemanggil.


"Assalamualaikum," seruku saat panggilan terhubung.


"Waalaikumsalam, Din!" seru orang di seberang sana yang membuatku diam terpaku.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan di pintu yang membuatku terkesiap. Gegas kumatikan sambungan telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Sayang!" seru oma Fani dari ambang pintu yang terbuka.


"Yuk, turun. Suamimu sudah menunggu di bawah," ajak oma Fani padaku.


Aku berusaha tersenyum walau hatiku masih berdetak tak karuan kala mengingat panggilan telepon barusan. Jangan sampai hal ini mengecewakan semua orang, terutama laki-laki yang kini telah bergelar suamiku.


Oma Fani menggandeng tanganku. Kami melangkah menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan. Terlihat di bawah sana berkumpul keluarga kecil kami. Tak banyak yang hadir, hanya keluarga inti dariku dan kak Ivan.


Oma mendudukkan diriku di samping kak Ivan. Tatapan mata kami beradu. Kak Ivan tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku, segera kuraih dan kucium punggung tangannya dengan takdzim. Kemudian ia mencium keningku cukup lama.


"Ya ampun, Kakak. Jangan di sini kenapa, lanjut di kamar gih! Kasihan adikmu ini yang masih ditinggal suami dinas di luar kota," celetuk Indah, adik dari kak Ivan.


"Maaf, kelamaan jomblo," ucap kak Ivan yang membuat semua orang tertawa.


Kutundukkan wajahku menahan malu. Bisa-bisanya aku menikmati adegan tadi sampai lupa akan keberadaan orang-orang di sekitarku.


Setelah aku dan kak Ivan menandatangani berkas-berkas pernikahan kami, kami semua menikmati hidangan yang telah disiapkan. Aku merasa bahagia bisa berkumpul dengan anggota keluarga dalam suasana yang membahagiakan ini. Walau tak bisa aku pungkiri ada rasa tak nyaman di sudut hati.


"Kenapa?" tanya kak Ivan saat melihat diriku hanya menatap makanan di piringku.


"Eh, enggak apa-apa kok," jawabku, "Oma, Vina mana ya, Oma?" tanyaku pada oma Fani untuk menghindari kecanggungan ini.


"Kamu tenang saja, Sayang. Tadi Oma lihat, Vina masih tidur. Jangan khawatir, Vina aman sama bi Eli. Apalagi stok ASIPnya masih banyak," jawab oma Fani.

__ADS_1


Aku tersenyum lega mengetahui putriku yang tidak rewel seperti biasanya. Aku memang sengaja tidak memakai jasa baby sitter untuk membantu merawat bayiku. Aku ingin seperti bunda yang merawat dan menjaga anaknya seorang diri. Lagi pula di sini semua orang sangat menyayangi Vina.


"Ya udah, sekarang makanannya dimakan ya, Sayang," kata kak Ivan seraya mengelus pundakku.


Aku menoleh kaget pada kak Ivan. Apa aku tak salah dengar dengan apa yang dia ucapkan? Rasanya ini terlalu cepat. Namun, tak mungkin juga panggilan di antara kami hanya sebatas nama mengingat diriku sekarang adalah istrinya.


"Loh kok malah bengong? Kakak suapin ya?" Aku menggeleng cepat dan segera menyuap perlahan makanan di piringku hingga tandas.


"Ini minumnya." Kak Ivan menyodorkan segelas air padaku.


"Makasih." Aku segera meneguk minuman yang diberikan oleh kak Ivan hingga tandas.


Kak Ivan terlihat meraih tisu dan menghadap padaku. Dia membantuku mengelap mulut dan pipiku. Ya Rabb, betapa sungguh manis perlakuannya. Perhatian kecil yang membuat hati ini berdesir bahagia.


"Kakak, iihh. Pamer terus!" celetuk Indah.


Segera aku menarik diri. Aku menunduk dengan wajah yang tersipu malu. Aku merutuki diri yang terbuai tanpa melihat situasi dan kondisi.


"Kamu ini ya. Biarin aja kenapa. Dari pada melihat mereka baku hantam. Kan kalau melihat mereka akur begini, hati Mama jadi adem," sela tante Rita.


"Bercanda, Ma. Ah, Indah jadi kangen mas Yongki kalau begini. Mas Yongki, cepatlah kembali." Semua orang terlihat tertawa bahagia.


"Sayang, anak Bunda." Aku tersenyum melihat putriku yang semakin menggemaskan.


"Cicit Oma sudah selesai ***** ya?" tanya oma Fani dari arah pintu kamarku yang terbuka.


"Sudah, Oma," jawabku seraya meletakkan bayi gembulku di boksnya.


"Kalau begitu, sini sama Oma. Boboknya di kamar Oma ya, Sayang," kata oma Fani seraya menggendong bayiku.


"Loh, kenapa harus tidur di kamar Oma?" tanyaku tak mengerti.


"Kamu ini gimana sih? Sudah lupa kalau kamu sekarang pengantin baru? Biar Vina tidurnya sama Oma. Kalian buatin Oma cicit yang banyak," goda oma Fani seraya melangkah keluar dengan tawanya.


"Ishh, apaan sih," decakku.


Kuraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Kutekan tombol power untuk mengaktifkan ponselku. Dari tadi pagi sengaja kubiarkan ponsel dalam keadaan mati untuk menghindari panggilan dari Devin.

__ADS_1


Drrtt drrtt drrtt.


Benar saja, saat ponsel diaktifkan langsung ada sebuah panggilan masuk. Aku mencoba menahan gemuruh di dada kala melihat deretan angka yang sama dengan yang menghubungiku tadi pagi.


"Assalamualaikum," sapaku ketika panggilan terhubung.


"Waalaikumsalam, Din. Alhamdulillah, akhirnya tersambung juga. Aku mencoba menghubungimu kembali, tapi ponselmu tidak aktif," cecar Devin.


"Ponselku mati kehabisan daya," kilahku. Terpaksa aku berbohong, padahal aku sengaja menonaktifkan ponselku.


"Din, maafkan aku atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu. Maaf jika aku sudah lama tidak menemuimu. Bukannya aku ingin menghindar atau pun menjauh. Namun, selama ini aku sedang berada di negara S. Minggu depan aku pulang, Din. Aku harap kita bisa memulai kembali hubungan ini dari awal," ucap Devin yang membuat dadaku terasa sesak.


"Kamu tahu dari mana nomorku, Dev?" tanyaku walaupun aku sudah tahu jawabannya.


"Dari mama, maaf ya," sesalnya.


"Ya," jawabku singkat.


"Din, kamu masih marah ya?" tanya Devin.


"Enggak kok," jawabku.


"Syukurlah, minggu depan aku pulang Din. Tunggu aku kembali. Kita mulai semuanya dari awal. Akan aku perbaiki semua kesalahan yang pernah aku perbuat padamu," ungkap Devin.


"Sudah malam, Dev. Aku mau tidur. Assalamualaikum." Gegas kumatikan ponselku tanpa menunggu jawaban dari Devin.


Kutekan dada ini yang terasa sesak. Walau masih ada rasa di sudut hati yang terdalam. Namun, statusku kini adalah milik orang. Aku tak ingin memberikan harapan palsu padanya yang akan membuatnya semakin terluka. Akan kutunggu kedatangannya. Bukan untuk memberinya harapan, namun untuk sekedar menjelaskan tentang semuanya.


Terlalu sibuk dengan pikiranku, sampai aku tak sadar bahwa ada orang lain di ruangan ini. Lengan kokoh yang tiba-tiba melingkar di perutku membuatku tersentak kaget.


"Ada apa, hem?" tanya kak Ivan.


"Sejak kapan Kakak ada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaannya, tapi aku malah balik bertanya padanya.


"Dari tadi, melamun aja sih," jawab kak Ivan seraya membalikkan badanku.


"Mulai sekarang, jangan pernah menangis lagi," ucapnya seraya menghapus air mata di pipiku.

__ADS_1


Ya Rabb, aku sungguh teledor. Jangan-jangan kak Ivan tahu semuanya? Apa yang harus aku lakukan sekarang?


__ADS_2