
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berlalu dengan sendirinya. Lima bulan sudah usia pernikahan keduanya. Namun, hubungan keduanya masih saja jalan di tempat. Pernikahan yang hambar dengan aktivitas yang monoton.
Bahkan akhir-akhir ini Devin sering sekali pulang malam dengan alasan lembur. Berangkat pagi-pagi sekali tanpa sarapan terlebih dahulu dan pulang kerja langsung tidur.
Seperti biasa, pagi ini Adinda berkutat dengan peralatan dapur. Menyiapkan sarapan untuk Devin dan dirinya sendiri. Walau sudah beberapa hari ini makanan Adinda tak dilirik sama sekali oleh Devin, tapi setidaknya dia sudah berusaha. Kecewa memang, tapi mau marah pada siapa, jika dirinya harus diingatkan kembali akan statusnya yang hanya istri di atas kertas.
Seperti dugaan Adinda, makanan yang dengan bersusah payah hingga berpeluh-peluh ia hidangkan, sama sekali tak tersentuh. Bahkan, Devin berangkat bekerja tanpa pamit pun sudah biasa ia lakukan belakangan ini.
Adinda makan dalam diam. Menyendok sedikit demi sedikit makanan di piringnya. Untunglah selera makan Adinda tak dipengaruhi suasana hati, sehingga makanan yang ia masak tak jadi mubadzir.
"Untuk apa aku mikirin si Devin yang sama sekali tidak menghargai usahaku? Terserah dia, mau makan atau tidak," gerutu Adinda.
Perlahan tapi pasti, piring Adinda yang tadinya penuh kini tandas tak bersisa. Segera ia beranjak membereskan meja. Menyimpan makanan yang masih tersisa, yang seharusnya sudah tandas jika Devin berkenan memakannya.
Setelah selesai dengan urusan dapur, Adinda memasukkan cucian kotor ke mesin cuci. Sembari menunggu, gegas ia membersihkan seluruh ruangan.
Sementara itu, Devin tengah melakukan meeting dengan para petinggi di perusahaannya. Meeting yang dilaksanakan beberapa hari ini cukup menyita waktu dan pikiran Devin. Papa Bima sedang pergi liburan dengan mama Intan, jadi Devin lah yang bertugas mengemban tanggung jawab dalam setiap keputusan.
Dalam dua bulan terakhir saham perusahaan menurun drastis. Kerugian hampir mencapai enam puluh persen. Para klien banyak yang membatalkan kerja samanya karena perusahaan Wijaya Group dinilai telah melakukan plagiat.
Perusahaan Wijaya Group terancam gulung tikar jika masalah ini tak segera diatasi. Seluruh karyawan juga sudah dimintai keterangan, namun tak ada satu pun dari mereka yang mencurigakan.
Aditya bertugas memeriksa rekaman CCTV yang terdapat di seluruh ruangan selama dua bulan terakhir. Ia bahkan harus lembur sampai tengah malam agar masalah ini cepat menemukan titik terang. Beruntung ada David yang hari ini datang berkunjung dan mau membantunya.
"Stop Bro!" seru David, " Coba rekaman yang tadi diulang lagi," perintahnya.
__ADS_1
Aditya pun memutar rekaman yang Diminta David. Sampai pada rekaman seseorang dengan gelagat mencurigakan. Mereka memperhatikan dengan seksama. Keduanya saling pandang dan mengumpat bersamaan.
"Oh, s**t," umpat keduanya.
Mereka berjalan menuju ruangan Devin dengan bukti rekaman CCTV yang mereka bawa. Tanpa mengetuk pintu, mereka berdua menerobos masuk.
Devin tengah menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya seraya memijat pelipisnya. Tak ia sadari kehadiran dua orang sahabatnya di ruangannya. Sesekali ia menghela napas dan menghembuskannya kasar.
"Kenapa data-data perusahaan bisa bocor seperti ini?" gumam Devin.
"Loe harus lihat ini Dev. Gue yakin semua pertanyaan loe akan terjawab," seru Aditya seraya menyerahkan flashdisk yang berisi bukti rekaman CCTV yang ia bawa.
Devin tersentak kaget, ia baru menyadari jika dua orang sahabatnya sedang berdiri di hadapannya dengan wajah merah menahan amarah. Devin meraih flashdisk yang disodorkan oleh Aditya. Kemudian melihat rekaman itu di laptopnya.
"Gue bilang juga apa Bro. Dia itu bukan wanita baik-baik. Sudah banyak yang jadi korbannya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya." David hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya tak merespon ucapannya.
"Padahal dia itu punya istri yang lebih dari sempurna menurut gue, tapi malah disia-siakan," kata Aditya pada David. Netranya melirik Devin yang hanya bergeming.
"Kalau memang dia tak berminat menjadikan Adinda istrinya, Gue dengan senang hati akan meratukannya," sambung Aditya.
"Apalagi gue Bro. Meskipun ekonomi gue pas-pasan, tapi gue akan berusaha membahagiakan dia," timpal David.
"Kalian sadar gak, yang kalian omongin itu istri gue? Kepala gue ini udah pusing banget, ditambah dengerin obrolan kalian malah makin pecah nih kepala," geram Devin.
"Sabar Bro. Oh iya, sebenarnya kedatangan gue ke sini mau nunjukin ini sama kalian." David meletakkan amplop coklat di meja kerja Devin.
__ADS_1
Devin meraih amplop coklat yang diletakkan David di atas meja kerjanya, kemudian ia membukanya. Ada banyak lembar foto di dalamnya. Dilihatnya satu persatu foto yang sudah pasti bukan hasil editan.
"Br*ngs*k!" Devin mengumpat dengan tangan yang terkepal erat.
Devin merasa sangat marah. Seseorang yang ia percaya untuk menjadi calon istri dan ibu dari anak-anaknya kelak, nyatanya tak lebih dari seorang j*l*ng. Foto Liona dengan berbagai pose yang menantang dengan laki-laki yang berbeda, sudah cukup membuktikan bahwa wanita itu benar-benar tidak layak untuk dijadikan partner hidup.
Ditambah bukti rekaman CCTV yang menunjukkan kalau Liona lah orang yang telah mencuri data-data perusahaan. Bahkan bukti rekaman CCTV itu juga menunjukkan bahwa Liona dengan sengaja memancing amarah Adinda dan sengaja mengadu domba dirinya dengan sang istri.
"Gue saranin kalian harus cepat bertindak. Gue akan berusaha membantu kalian semampu yang gue bisa. Ingat Dev, untuk sementara berpura-puralah tidak mengetahui apa pun. Kita harus mengumpulkan lebih banyak bukti, baru setelah itu kita cebloskan dia ke bui," jelas David panjang lebar.
"Ok, gue paham. Secepatnya gue akan bikin perhitungan sama dia," kata Devin.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Devin pun pulang terlambat karena memang masih banyak yang harus ia kerjakan. Devin bersyukur pusat permasalahannya segera ditemukan. Ia pastikan Liona akan membayar semuanya.
Devin melajukan mobilnya membelah jalan raya. Diliriknya jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Devin menghembuskan napas panjang. Sudah lebih dari dua minggu ia pulang terlambat karena pekerjaannya begitu menyita waktunya.
Kedua orang tua Devin belum mengetahui permasalahan yang kini di alami putranya. Mereka berangkat liburan tanpa tahu kini perusahaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Rencananya mereka akan menghabiskan waktu sekitar sebulan untuk melepas lelah dari segala hiruk pikuk kehidupan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamnya.
Mobil yang ia kendarai kini telah sampai di apartemen. Gegas Devin memarkirkannya di basement. Kemudian ia berjalan dengan langkah lebar menuju unit apartemennya.
Dilihatnya Adinda yang tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala. Devin meraih remote dan mematikan televisi. Kemudian Devin segera memindahkan Adinda ke tempat tidur agar Adinda jauh lebih nyaman. Kemudian ia berlalu ke kamar mandi untuk mengguyur badannya yang terasa lengket.
Tak butuh waktu lama kini Devin sudah selesai dan juga mengenakan piyama. Ia naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya dari belakang. Devin berulang kali meminta maaf meskipun ia tahu bahwa permintaan maafnya tak akan didengar oleh Adinda karena Adinda kini tengah tertidur pulas. Devin berharap masalah ini cepat selesai agar ia bisa membina rumah tangga yang bahagia bersama sang istri dan anak-anaknya kelak.
__ADS_1