
POV Adinda.
Aku melangkah perlahan dengan digandeng oleh oma Fani di sampingku. Jujur, aku merasa grogi menghadapi situasi ini. Apalagi mama Intan sedang berada di rumah ini. Beliau juga membantu meriasku, tanpa tahu siapa dan apa tujuan makan malam kali ini.
Masih kuingat dengan jelas saat mama Intan menceritakan tentang semua hal yang telah dilalui Devin saat masa kehamilanku. Devin mengalami kehamilan simpatik, sedangkan aku sama sekali tidak pernah merasakan gejala kehamilan yang berarti. Mengidam pun bisa dihitung dengan jari. Hanya na*s* makanku saja yang meningkat.
Jujur, aku benar-benar tidak tega saat mengetahui hal itu. Namun, rasa trauma itu masih saja terus terngiang dalam benakku, hingga aku tetap bertekad untuk merahasiakan kehamilan ini pada Devin.
Kehadiran kak Ivan dalam hidupku seakan menyembuhkan rasa traumaku. Perhatian yang selalu ia berikan membuatku merasa nyaman. Namun, aku hanya menganggapnya tak lebih dari seorang kakak saja.
Kata cinta yang pernah kak Ivan ucapkan, aku hanya menganggapnya sebagai salah satu caranya untuk menghiburku. Namun, di sinilah aku sekarang. Berada satu ruangan dengan keluargaku beserta kak Ivan dan kedua orang tuanya. Situasi yang tak pernah terlintas dalam anganku sebelumnya.
Aku duduk di samping oma Fani. Kutundukkan pandanganku, aku tak berani mengangkat wajah ini untuk melihat sekitarku. Bahkan saat yang lain menggoda kak Ivan karena tertangkap basah mencuri pandang ke arahku, aku hanya diam dan tertunduk malu.
"Sayang, bagaimana? Apa kamu bersedia untuk menerima lamaran nak Ivan?" tanya ayah padaku.
Aku mengangguk perlahan sebagai jawabanku. Tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan yang telah kupikirkan dengan matang. Jujur, saat ini aku masih belum mempunyai rasa apa-apa. Namun, aku tak ingin membuat mereka semua kecewa.
"Alhamdulillah," seru semua orang serempak.
Aku angkat wajahku, aku tersenyum melihat binar bahagia di wajah mereka semua. Aku hanya berharap, semoga keputusanku ini adalah yang terbaik untuk semuanya.
"Ini Sayang cincinnya." Tante Rita mengambil sebuah kotak beludru berbentuk hati dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada kak Ivan.
Melihat kotak beludru yang kini ada di genggaman kak Ivan, aku jadi teringat tentang kejadian di saat aku hanya dijadikan kelinci percobaan oleh Devin. Aku tersenyum getir kala mengingat kejadian itu. Sungguh miris, ternyata aku hanya dibutuhkan saat ada maunya saja.
__ADS_1
"Din, Kakak pasangkan ya?" tanya kak Ivan dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah tampannya.
Aku hanya mengangguk. Entah mengapa aku tak bisa berkata apa-apa. Aku takut salah bicara. Kemudian kak Ivan mulai memasangkan cincin yang ukurannya sangat pas di jari manisku. Begitu pun aku, aku juga memasangkannya di jari manis kak Ivan.
Kupandangi cincin yang baru saja kak Ivan sematkan di jari manisku. Kucoba menerima dengan lapang dada semua kenyataan ini, walau kuakui belum ada rasa di hatiku. Namun, aku tak ingin membuat laki-laki baik di hadapanku kecewa. Walau bagaimanapun aku pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan dan rasanya sungguh sakit.
Mungkin inilah jalan takdir yang harus aku lalui. Dulu, aku menikah dengan orang yang kucinta, namun ia membuatku terluka. Aku hanya berharap hubungan ini lebih baik dari sebelumnya. Walau masih tak ada cinta, setidaknya kehadiran kak Ivan sudah mampu mengobati rasa traumaku akan pahitnya berumah tangga.
Acara malam ini pun berjalan lancar. Aku pamit ke kamarku terlebih dahulu karena aku sudah terlalu lama meninggalkan bayiku dan juga mama Intan. Aku tak ingin mama Intan merasa bahwa dirinya sudah tak lagi di anggap keberadaannya.
"Ma, loh Mama kenapa?" tanyaku saat kulihat wajah wanita paruh baya di hadapanku basah oleh air mata.
"Sayang." Mama menghampiriku dan membawaku dalam dekapannya.
"A-apa memang sudah tak ada kesempatan lagi untuk anak Mama?" tanya mama Intan tersedu.
"Enggak, Sayang. Buat Mama, kamu adalah wanita yang terbaik untuk Devin. Apalagi sudah ada Vina di antara kalian. Mama mohon, berikanlah anak Mama satu kesempatan lagi," bujuk mama Intan seraya melerai pelukannya.
"Maaf Ma, semua ini tidak sesederhana itu. Adinda dengan Devin sudah resmi bercerai. Bukankah jika Adinda ingin rujuk dengan Devin, Adinda harus menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain?" tanyaku.
"Iya juga sih, tapi kenapa Authornya enggak ya? Dia langsung rujuk tuh," sindir mama Intan.
(Kenapa Authornya dibawa-bawa ya 🤔)
"Ma, mungkin ini memang sudah jalan takdir Adinda dan Devin yang harus seperti ini. Meskipun Adinda tidak bisa lagi bersama dengan Devin, setidaknya kami berdua masih bisa berteman seperti dulu. Bahkan Adinda akan tetap menjadi anak perempuan Mama," ungkapku seraya menghapus sisa air mata di pipi mama Intan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Mama tak bisa memaksamu untuk menerima Devin kembali. Mama hanya berharap kamu bahagia, Sayang. Semoga calon suamimu saat ini bisa memberikan kebahagiaan itu," kata mama Intan seraya tersenyum padaku.
Akhirnya, mama Intan bisa menerima keputusanku. Walau rasanya aku tidak tega menyakiti perasaan wanita yang selama ini menjadi ibu kedua bagiku, namun aku tidak ingin terjatuh ke lubang yang sama. Karena sejauh aku mengenal Devin, dia adalah tipe orang yang tak bisa ditebak apa isi hatinya. Terkadang ia ramah, namun bisa juga bersikap sangat dingin.
"Oh ya, kenapa Mama tadi tidak turun untuk makan malam bersama?" tanyaku.
"Tadi memang bi Ningsing memanggil Mama untuk ikut makan malam bersama, tapi Mama belum merasa lapar. Jadi, Mama memutuskan untuk tetap berada di sini," jawab mama Intan.
"Kalau begitu sekarang Mama makan ya. Adinda tidak mau kalau nanti papa Bima menyalahkan Adinda karena melihat Mama makin kurusan di sini," bujukku.
"Kamu ini bisa aja. Coba lihat Mamamu ini. Selama seminggu Mama di sini, badan Mama semakin bertambah melar saja. Kerjaan Mama cuma makan dan tidur saja. Malam pun tak bisa ikutan begadang karena kamu tidak mengijinkan," rajuk mama Intan.
"Adinda hanya tidak ingin Mama kelelahan saja. Ya sudah Mama makan dulu ya. Biar Adinda suruh bi Ningsing mengantar makan malam Mama ke sini," bujukku.
"Baiklah kalau anak Mama ini memaksa." Aku tersenyum senang saat mama Intan setuju untuk makan malam.
Tiga bulan kemudian, sesuai rencana yang telah ditetapkan, hari ini adalah hari pernikahanku dengan kak Ivan. Ini adalah pernikahanku untuk yang kedua kalinya. Tak ada pesta seperti sebelumnya. Hanya sebuah acara sederhana sesuai kesepakatan bersama.
Aku tersenyum melihat penampilanku di cermin. Kak Ivan benar-benar menepati ucapannya. Ia membuatku menjadi orang yang istimewa. Mungkinkah sudah tumbuh benih-benih cinta di hatiku?
Wanita mana yang takkan terpikat oleh pesona dokter tampan yang kini sedang menyerukan kalimat qabul dengan lantang di bawah sana. Selama aku mengenalnya, aku tak pernah menemukan hal yang tidak baik pada dirinya.
Drrtt drrtt drrtt
Kuraih benda pipih persegi panjang yang berdering tiada henti. Kuperhatikan deretan angka di layar ponsel yang seperti tak asing bagiku. Kugeser ikon gagang telepon berwarna hijau agar tak hanya menerka-nerka tentang identitas si pemanggil.
__ADS_1
"Assalamualaikum," seruku saat panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam, Din!" seru orang di seberang sana yang membuatku diam terpaku.