
Bahagia itu bukan tentang apa atau siapa. Namun, tentang bagaimana cara kita menjalaninya. Sesuatu yang kita suka, belum tentu bisa membuat kita bahagia. Namun, sesuatu yang membuat kita bahagia, sudah pasti kita akan menyukainya.
Terkadang, seringkali kita berjuang sampai akhir, walau belum tentu mendapatkan hasil. Namun ada saatnya kita harus menyerah, jika diri sudah tak sanggup lagi melangkah.
Jangan risau bahagia tak menghampiri, setelah kepahitan yang datang bertubi-tubi. Percayalah bahwa realita sudah sesuai dengan takdir kehidupan, walau harus dibumbui dengan drama yang tak kunjung usai.
Setelah berhasil melewati itu semua, akan ada satu wajah yang senantiasa menghiasi saat kita membuka mata. Pemandangan indah yang menjadi suguhan setiap ada kesempatan.
Seperti halnya Adinda yang saat ini tengah menikmati pemandangan di hadapannya. Seorang laki-laki yang tak pernah ia sangka akan menjadi pendamping hidupnya, justru kini tengah terlelap sambil mendekap dirinya dengan erat.
Perlahan Adinda menyingkirkan lengan kokoh yang memeluknya dengan posesif. Diliriknya jam di atas nakas yang masih menunjukkan jam dua belas malam. Gegas ia turun dan memunguti satu persatu pakaiannya yang berceceran di lantai. Kemudian ia beranjak menuju kamar mandi untuk buang air kecil.
Setelah selesai, Adinda kembali merebahkan diri di samping suaminya. Adinda tersenyum melihat wajah damai suaminya. Ada rasa tak biasa yang menyusup hingga ke dalam palung jiwa. Betapa benih-benih cinta itu telah tumbuh begitu cepatnya.
Ting...
Adinda mengernyitkan keningnya saat ada sebuah notifikasi pesan di ponselnya. Adinda mencoba abai dan melanjutkan petualangannya menjelajah alam mimpi.
Ting...
Namun, sekali lagi notifikasi pesan kembali terdengar beberapa saat kemudian. Membuatnya mau tak mau untuk membuka mata. Tangannya meraba-raba nakas untuk mencari ponselnya. Diraihnya ponselnya yang tergeletak di atas nakas walau enggan.
Seketika Adinda melebarkan matanya dan terduduk saat membaca nama si pengirim pesan. Adinda melirik suaminya yang masih terlelap. Adinda mengambil napas dan menghembuskannya perlahan sebelum membaca deretan pesan yang dikirim oleh mantan suaminya.
'Selamat ulang tahun, Adinda. Maaf, baru sempat mengucapkan. Seharusnya kemarin malam ya? Dulu, aku adalah orang pertama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Namun, sudah dua kali aku kehilangan kesempatan itu. Pertama, sesuatu yang sangat aku sesali hingga kini karena telah berhasil membuatmu pergi meninggalkanku. Lalu sekarang, karena tuntutan pekerjaan yang membuatku abai dengan hari kelahiranmu. Namun percayalah, tak ada niatan sedikit pun dalam hatiku untuk melupakan hal itu.'
Setetes bulir bening mengalir di sudut netra kala teringat kenangan yang telah mereka lewati bersama. Namun, masih tersisa secuil rasa sakit kala kenangan satu tahun yang lalu terlintas dalam benaknya. Tak ingin terus berlarut dalam kesedihan, gegas Adinda menghapus sisa air mata di pipinya. Kemudian kembali membaca pesan kedua yang dikirim oleh mantan suaminya itu.
'Hadiahnya besok ya. Aku akan datang langsung ke rumahmu. Sekalian untuk meminta restu pada orang tuamu untuk kembali meminangmu. Sekarang aku masih dalam perjalanan menuju bandara untuk pulang. Sampai jumpa besok, Adinda. I love you.'
Adinda terbelalak saat membaca pesan kedua dari Devin. Devin memang belum mengetahui perubahan statusnya kini. Bukan lagi berstatus janda seperti yang Devin ketahui. Namun sekarang sudah ada seseorang yang bernama suami yang kini masih terlelap di sampingnya.
Adinda tak ingin Devin datang menemuinya di rumahnya dan membuat laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu mengutarakan niatnya. Tanpa pikir panjang, jemarinya dengan lincah langsung mengetik pesan balasan untuk mantan suaminya itu.
'Jangan ke rumah. Kita bertemu di luar. Kabari kalau sudah sampai. Nanti aku sharelock lokasinya.'
Setelah pesan terkirim, Adinda langsung menonaktifkan ponselnya. Ia hanya tidak mau tiba-tiba ada panggilan masuk dari Devin saat tengah malam begini, apalagi statusnya adalah wanita bersuami.
__ADS_1
Adinda kembali merebahkan dirinya di samping suaminya. Adinda terlihat sangat gelisah. Ia takut tak bisa mengontrol diri ketika bertemu nanti. Namun, walau bagaimanapun cepat atau lambat ia akan kembali bertemu dengan Devin. Mengingat ada bagian dari diri Devin yang kini ada bersamanya.
Perlahan Adinda mulai terlelap dengan pikirannya yang masih berkelana. Waktu terus bergulir hingga adzan shubuh berkumandang. Ivan terbangun dan tersenyum melihat wanitanya masih tertidur lelap.
"Sayang, bangun, sudah shubuh." Sebenarnya Ivan tak tega membangunkan Adinda yang masih tertidur pulas. Alasannya karena dialah yang membuat Adinda sangat kelelahan. Namun, dia ingin setiap ada kesempatan bisa melaksanakan ibadah bersama dengan istrinya.
Perlahan Adinda membuka matanya dan tersenyum melihat suaminya yang masih terlihat tampan walau baru bangun tidur.
"Mandi yuk!" ajak Ivan yang membuat senyum Adinda menghilang.
"Mandi bareng?" tanya Adinda seraya mendudukkan dirinya.
"Iya, biar tabungan pahalanya nambah," jawab Ivan santai.
"Cuma mandi biasa aja, kan?" tanya Adinda cemas.
"Iya, Sayangku. Memang kamu maunya mandi yang bikin keringat bercucuran gitu? Kalau begitu, suamimu ini akan siap mengabulkan permintaan istriku tercinta," goda Ivan.
"Iihhh, bukannya gitu. Sisa semalam aja masih ngilu. Kalau nambah lagi, bisa-bisa aku gak bisa berdiri." Adinda menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak ide mesum suaminya.
"Ya udah yuk, katanya mau mandi. Nanti shubuhnya kelewat loh." Adinda melepaskan tangan Ivan yang memeluknya saat merasakan sesuatu yang mengeras menempel padanya. Adinda tak ingin Ivan menerkamnya kembali.
"Yah, ketahuan kalau si naga pengen nambah," desah Ivan. Adinda hanya tertawa seraya berlari ke kamar mandi.
"Sayang, kenapa dikunci?" tanya Ivan saat hendak membuka pintu kamar mandi yang ternyata dikunci.
"Mandinya sendiri-sendiri aja ya suamiku. Kalau mandi bareng, takutnya si naga berusaha menerobos masuk gua." Adinda terkikik geli saat menyadari ucapannya sedikit vulgar.
"Baiklah," jawab Ivan pasrah.
Pagi itu mereka sarapan bersama dengan seluruh anggota keluarga. Jangan lupakan dua teman yang selalu usil, Sinta dan Alia. Setelah acara prank kemarin, mereka tidak ada yang pulang. Ayah Fathan meminta mereka semua untuk ikut serta menginap di hotel selama semalam sebagai ungkapan terima kasihnya.
"Din, kita pamit dulu ya," pamit Sinta seraya memeluk temannya itu.
"Buru-buru banget sih. Kalian gak mau lanjut nginep buat temenin aku di sini?" tanya Adinda seraya melerai pelukannya.
"Kamu mah enak ada yang nemenin bobok. Kalau aku sama Sinta kelamaan nginep berdua di hotel, entar orang nyangka kami ini kaum belok," ucap Alia seraya memeluk Adinda.
__ADS_1
"Kalau Sinta sih aku tidak perlu khawatir karena dalam waktu dekat ini bakalan nikah. Justru kamu yang aku khawatirin Al," goda Adinda.
"Ya ampun, aku sedih loh ini." Alia menepuk pelan punggung Adinda dan melerai pelukannya.
"Makanya cepat nyari, biar kita-kita gak lagi khawatir sama kamu," timpal Sinta.
"Sudah nemu sih, tapi sayang anaknya gak mau punya emak tiri modelan kayak aku ini," Alia melirik Adinda yang terlihat melotot padanya. Ketiganya pun tertawa bersama.
"Oh ya, Din. Jangan lupa kado dari kita dipakai ya," pesan Sinta.
"Aku masih belum sempat bukain kado. Iya nanti aku pakai," jawab Adinda.
"Adinda gak sempat bukain kado karena sibuk bukain yang lain," goda Alia.
Adinda menepuk keningnya pelan. Bisa-bisanya teman satu ini yang terkenal ori, tapi ngomongnya ke sana kemari.
Kini, Adinda dan Ivan berada di dalam kamar hotel yang mereka tempati. Adinda menatap tumpukan kado yang tersusun di meja. Perlahan ia membuka satu persatu kado tersebut.
"Ini dari opa." Adinda membuka bungkus kado dan melihat isinya. Sebuah album foto kenangan ayah Fathan dan almarhumah bunda Mila. Adinda mendekap erat album foto tersebut.
"Yang ini dari oma." Adinda terbelalak saat membuka kado yang ternyata sebuah lingerie berwarna merah dan hitam.
Adinda kemudian membuka kado dari mertuanya. Isinya pun membuat Adinda syok. Begitu pun saat kado dari adik iparnya serta kedua temannya ia buka. Adinda ingin pingsan saja rasanya.
Tinggal satu kotak terakhir, yaitu kado dari suaminya. Adinda berharap kado yang akan ia buka kali ini tidak benar-benar membuatnya pingsan.
"TIDAK!" pekik Adinda.
Ivan yang sedang berada di balkon segera berlari menghampiri istrinya. Ia takut terjadi apa-apa.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ivan khawatir.
"I-ini," tunjuk Adinda pada tumpukan kain transparan yang beraneka warna di sofa.
Ivan mengikuti arah pandang yang ditunjukkan oleh istrinya. Ia terbelalak kaget saat melihat tumpukan kain yang bukan hanya hadiah darinya.
Mereka pun saling pandang dengan ekspresi wajah yang berbeda. Ivan memandang Adinda dengan menaik-turunkan alisnya, sedangkan Adinda memandang Ivan dengan raut cemas dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1