
POV Adinda
Aku terbangun ketika tenggorokan ini terasa kering. Perlahan aku pindahkan lengan kekar yang melingkar di perutku. Kulirik jam di atas nakas, ternyata sudah pukul satu malam.
Aku menghembuskan napas panjang. Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh lima. Setiap tahun aku tak pernah merayakannya. Karena hari ulang tahunku adalah hari di mana ayah kecelakaan dan dinyatakan tiada.
Tepat pada hari itu, bunda akan menangis histeris dan jatuh sakit hingga beberapa hari. Bunda selalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa ayah di masa lalu.
Satu-satunya orang yang selalu memberikanku ucapan selamat di hari ulang tahunku adalah Devin. Dia akan mengetuk pintu kamarku tepat jam dua belas malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Namun kini lihatlah, dia bahkan tertidur pulas tanpa rasa bersalah karena telah mengabaikanku. Aku pun tidak terlalu berharap mendapatkan ucapan selamat itu, karena Devin yang sekarang bukan lagi Devin yang dulu.
Aku beranjak menuju dapur untuk segera menghilangkan dahagaku. Kutuang air ke dalam gelas, lalu aku meneguknya hingga tandas. Gegas aku kembali ke kamar dan merebahkan diriku kembali di samping Devin.
Aku terbangun kembali ketika kudengar suara adzan shubuh berkumandang. Aku segera bangun dan menuju kamar mandi. Kemudian melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim walau hanya seorang diri.
Setelah selesai, aku segera beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa. Rampung dengan urusan dapur, aku segera membersihkan seluruh ruangan.
Ketika aku memasuki kamar, kulihat Devin tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Kulirik jam di atas nakas ternyata masih jam setengah enam. Apa mungkin sepagi ini kantor sudah buka? Padahal biasanya Devin berangkat ke kantor jam delapan pagi.
Aku teruskan langkah kakiku menuju lemari. Mengambil pakaian yang akan aku kenakan kemudian segera menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan ini.
Aku keluar dari kamar mandi tapi sudah tak kutemui keberadaan Devin. Aku menuju meja rias dan memoles tipis wajahku. Baru kemudian aku menuju meja makan.
"Huft, Memakan masakanku saja dia enggan. Jadi, manalah dia ingat hari ini itu hari apa," gerutuku kesal.
Segera aku menyendok nasi dan memindahkannya ke piringku. Mengisinya dengan lauk-pauk yang dengan susah payah aku hidangkan. Aku makan dalam diam hingga semua makanan di piringku tandas tak bersisa.
Ting
Baru saja aku hendak membersihkan meja makan, ada sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku abaikan sejenak, gegas aku membersihkan meja makan. Menyimpan makanan yang masih belum tersentuh. Mencuci peralatan makan yang kotor atas ulahku.
Setelah selesai, aku beranjak menuju sofa dengan ponsel digenggamanku. Aku melihat siapa yang mengirimiku pesan. Ternyata ayah orangnya, dia mengirimiku pesan ucapan selamat ulang tahun dan mengajakku untuk bertemu. Aku langsung saja mengiyakan permintaan ayah karena aku sudah sangat merindukannya.
Selesai sholat maghrib, aku sudah bersiap untuk menemui ayah. Aku menunggu kedatangan Devin untuk meminta ijin, namun sampai jam segini Devin belum juga kembali.
Aku melangkah memasuki sebuah restoran yang mewah. Kuedarkan pandangan untuk mencari sosok ayah. Aku tersenyum kala kudapati seorang laki-laki paruh baya melambai ke arahku, siapa lagi kalau bukan ayah.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Sayang," kata ayah seraya beranjak dari duduknya dan membawaku dalam dekapannya.
"Terima kasih Ayah," jawabku dengan senyum yang selalu menghiasi wajahku.
Kami pun langsung menyantap makanan yang terhidang di meja. Aku tadi siang memang sengaja mengosongkan tempat di dalam perutku agar malam ini aku bisa menyantap semua menu yang telah ayah pesan khusus buatku.
"Ini hadiah buat kamu Sayang. Semoga Adin suka. Ayah pakaikan ya?" tanya ayah yang di balas anggukan olehku.
Ayah membuka kotak beludru berbentuk persegi panjang itu. Sebuah kalung berlian dengan bandul berbentuk hati yang sangat indah. Ayah berdiri dari duduknya dan menghampiriku. Kemudian ayah memasangkan kalung itu di leherku.
Aku pandangi kalung berlian yang kini melingkar dengan cantik di leherku. Kuusap bandul berbentuk hati yang bertuliskan inisial 'A'. Aku bahagia, sungguh bahagia.
"Terima kasih Ayah," ucapku.
"Sama-sama Sayang. Oh ya, Ayah tidak bisa lama-lama karena Ayah ada janji temu dengan klien Ayah." Ayah membawa tanganku dalam genggamannya.
"Sayang, kapan pun kamu membutuhkan Ayah, insyaallah Ayah akan selalu ada untukmu. Ayah mau menebus semua waktu yang tak bisa Ayah lewati bersamamu. Ayah hanya ingin kamu bahagia Sayang." Ayah mengecup punggung tanganku berkali-kali.
Siapa pun yang melihat pasti mengira Ayah adalah sugar daddyku. Namun, aku tak peduli apa anggapan orang, yang pasti aku sekarang bahagia. Ayah sekali lagi membawaku ke dalam pelukannya sebelum ayah beranjak pergi.
"Din!"
"Pulang!" seru Devin.
Devin mencekal tanganku dan menyeretku keluar. Dia menghempaskan tubuhku ke dalam mobil. Kemudian Devin melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, itu membuatku takut.
"Dev, kamu mau kita mati?" Devin menoleh sekilas dengan tatapan tajamnya, membuatku mengunci mulutku rapat.
Mobil berhenti di basement apartemen. Sekali lagi Devin mencekal tanganku dan menyeretku menuju unit apartemen kami. Aku tertatih mengimbangi langkah lebar Devin. Bahkan lenganku terasa teramat sakit. Aku tak tahu apa salahku, sehingga Devin melakukan ini padaku.
"Das*r perempuan murah*n!" seru Devin tepat di depan wajahku.
"Ternyata semua wanita sama saja. Sudah berapa banyak laki-laki yang menjam4h tubuh ini?" tanya Devin seraya tangannya yang lain mer3m4s payud***ku.
"Aakkhhh," pekikku. Aku tak bisa melakukan apa-apa karena kini badanku terhimpit ke dinding.
"Apa kau menikmatinya, hah? Dasar j*l*ng!" seru Devin seraya semakin kuat ia mer3m4snya.
__ADS_1
Sakit, tentu saja sakit. Namun, lebih sakit lagi hati ini mendengar umpatan yang keluar dari mulut Devin. Devin merobek gaun yang aku kenakan dan juga menarik paksa kalung pemberian ayah.
"Dev, apa yang kamu lakukan?" tanyaku saat menyadari kalung yang belum satu jam aku pakai kini berserakan di lantai.
Devin tertawa nyaring, tapi terdengar mengerikan di telingaku. Devin melempar tubuhku ke atas ranjang. Aku mencoba berontak tapi Devin malah menampar pipiku dengan keras. Entah bagaimana ceritanya, kini Devin sudah berhasil melepas semua pakaian yang aku kenakan.
"Dev, ja-- emmphh." Aku tak bisa melanjutkan protesku karena Devin membungkamku dengan ci*m*nnya yang kasar dan menuntut. Bahkan kini tangannya bergerak liar menj*m*h tubuhku.
"Dasar perempuan j*l*ng! Sudah punya suami tapi masih saja bermesraan dengan laki-laki lain di tempat umum." Aku tertegun mendengar ucapan Devin. Apa yang di maksudnya adalah ayah? Aku melamun sampai tak sadar apa yang dilakukan Devin pada tubuhku.
"Aakkhhh," teriakku tertahan saat kurasakan sakit yang sangat luar biasa di bagian inti tubuhku.
Aku lihat Devin tertegun sejenak melihatku merintih kesakitan, tapi kemudian ia kembali melakukan aksinya dengan brutal. Aku takut, sangat takut. Entah berapa kali dia menghuj*m tubuhku karena aku kehilangan kesadaran saat dipaksa melayani hawa n*fs*nya.
Aku terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Bulir bening lolos membasahi pipi kala teringat kejadian semalam. Devin memang memiliki hak atas tubuhku, tapi bukan seperti ini caranya. Dia bagai monster yang siap mencabik mangsanya kapan saja.
"Aakkhh." Aku mengaduh sakit kala mencoba turun dari tempat tidur.
Aku raih ponsel di atas nakas dan mengetik pesan pada seseorang. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuh ini.
"Ya Tuhan, apa ini?" pekikku.
Hampir seluruh tubuhku dipenuhi tanda merah yang sengaja Devin buat. Aku menangis sesegukan di bawah guyuran shower. Kusudahi aksi mandiku setelah dirasa badanku sedikit membaik.
Kulihat Devin masih tertidur pulas di tempat tidur yang menjadi saksi betapa biad*bnya dia sebagai seseorang yang seharusnya melindungi. Aku langkahkan kaki ini menuju lemari dan segera memakai pakaian. Kukeluarkan semua barang-barangku dan memasukkannya ke dalam koper.
"Selamat tinggal Dev. Maaf jika aku harus pergi, aku tak mau kejadian semalam terulang kembali." Kuusap bulir bening yang tiada henti membasahi pipi.
Gegas aku melangkah sebelum Devin terbangun dari tidur lelapnya. Aku berjalan sesekali meringis kesakitan. Aku menyeret koper yang berisi semua barang-barangku, hanya tersisa gaun yang Devin robek yang tak kubawa. Aku juga membawa kalung pemberian ayah.
Di depan sana, ayah menungguku dan menatapku iba. Aku semakin mempercepat langkahku. Aku berhambur ke pelukan ayah dan kembali menumpahkan air mata.
"Ayah, Adin takut. Bawa Adin pergi dari sini," pintaku.
"Iya Sayang. Ayah pastikan laki-laki itu tak akan pernah bertemu lagi denganmu. Dia memang suamimu, dia memiliki hak atas tubuhmu, tapi tak seharusnya ia menjadikan istrinya sebagai budak na*s*. Ayah akan menyelesaikannya untukmu." Ayah mengelus punggungku yang bergetar.
Kemudian kami pun pergi meninggalkan tempat ini sebelum Devin terbangun dan menyadari aku tak ada. Aku takut ia akan melakukan sesuatu yang lebih kejam padaku.
__ADS_1
"Selamat tinggal Dev," batinku