Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 46


__ADS_3

Drrtt drrtt drrtt...


Dering ponsel di atas nakas membangunkan Adinda dari tidur siangnya. Diraihnya ponsel yang terus berbunyi tiada henti. Adinda mengernyit kala mendapati nomor tak dikenal di layar. Adinda meletakkan kembali ponselnya hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.


Tak lama ponselnya berdering kembali. Malas rasanya mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal. Adinda telah mengganti nomor ponselnya sejak kejadian itu. Hanya segelintir orang yang mengetahui nomor barunya.


Ting...


'Assalamualaikum.' Sebuah pesan masuk dari nomor yang tadi menelponnya.


Adinda mengernyit bingung. Ia mencoba menerka-nerka tentang siapa pemilik nomor tak dikenal yang menghubunginya. Bahkan, nomor tak dikenal itu kini mengiriminya pesan.


'Waalaikumsalam. Maaf, ini dengan siapa ya?' Send, pesan langsung berubah centang dua berwarna biru.


Tak ada balasan hingga beberapa menit kemudian, membuat Adinda berdecak kesal. Tanpa Adinda tahu bahwa seseorang di seberang sana kini tengah menetralkan debaran jantungnya. Berulang kali orang itu mengetik pesan, namun dihapusnya kembali. Ia terlalu gugup walau tak bertatap muka langsung dengan sang pujaan hati.


'Maaf sebelumnya jika lancang mencari tahu nomor ponselmu tanpa adanya izin darimu terlebih dahulu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal yang harus aku ungkapkan.' Setelah sepuluh menit berlalu, nomor asing tersebut kembali mengiriminya sebuah pesan.


"Nih orang siapa sih? Ditanya siapa, malah jawabnya apa. Gak jelas," gerutu Adinda. Ia melempar asal ponselnya dan kembali merebahkan diri.


Ting...


Lagi, nomor asing itu mengiriminya pesan, namun Adinda mengabaikannya. Ia lebih memilih melanjutkan tidur siangnya yang sempat terjeda.


Seseorang di seberang sana mendesah kecewa saat pesannya hanya centang dua berwarna hitam. Beberapa menit berlalu namun tetap tak terbaca.


Dia menyandarkan diri di kursi kebesarannya. Ia mendongak memandangi langit-langit. Merutuki diri yang tak bisa berterus terang. Terlalu lama tak berhubungan dengan lawan jenis membuatnya kaku.


Adinda membuka mata dan menggeliat malas. Ia bangun dari tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kemudian menuju meja rias untuk memastikan wajahnya masih sama seperti semula. Apa kata dunia jika tiba-tiba hidungnya menghadap ke atas, kan gak lucu.


"Huwaaa, kok aku makin lebar gini." Adinda memutar badannya di depan cermin.

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibiarkan. Apa aku minta ayah buat mengajakku kerja ya? Sudah lebih dua bulan hanya menjadi kaum rebahan, rasanya sungguh bosan." Adinda menyudahi aksi bercerminnya, kemudian beranjak keluar dari kamarnya.


Adinda turun menapaki anak tangga satu persatu. Keadaan rumah tampak sepi seperti tak berpenghuni. Adinda terus melangkah menuju meja makan. Ia merasa lapar, padahal sebelum tidur siang tadi ia sudah mengisi perutnya. Namun, Adinda harus kecewa karena tak ada apa-apa di meja makan.


Kembali ia melangkahkan kaki menuju dapur. Berharap menemukan sesuatu yang bisa ia makan. Namun lagi-lagi tidak ada makanan apa pun di dapur.


"Ya ampun, aku udah lapar banget ini. Padahal makan siang tadi makanku banyak, sekarang udah lapar lagi. Iisshh, apa gak makin melar nih badan," decaknya.


"Non, ada yang bisa Bibi bantu?" tanya bi Eli saat melihat nona mudanya itu mondar-mandir di dapur.


"Oh, enggak kok Bi. Saya cuma mau ambil minum saja," jawab Adinda. Tak mungkin kan ia berkata bahwa saat ini ia tengah mencari-cari makanan, malu lah.


Adinda kembali lagi ke kamarnya dengan rasa lapar yang ia tahan. Niat hati ingin delivery, namun urung ia lakukan. Karena sudah pasti orang rumah akan mengetahuinya bahwa ia banyak makan.


'Apakah kamu tidak mengingatku?' Ingin rasanya Adinda menelan ponsel yang ia genggam tatkala ia membaca pesan yang sempat ia abaikan.


"Kalau hanya angka-angka begini sudah pasti ingatanku di luar kepala, tapi mana aku tahu situ siapa. Hanya rangkaian kata tanpa disertakan foto, mana bisa aku ingat. Aku kan bukan cenayang." Adinda berdecak kesal, tanpa ada niat membalas pesan yang ia anggap tidak penting.


Ia menyambar tas kecil di atas nakas, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Ia memutuskan untuk mencari makan di luar saja sembari membeli beberapa snack untuk persediaan nyemilnya.


Tak lama kemudian taxi online yang ia pesan sudah menunggu di luar. Gegas Adinda keluar dan menghampiri taxi online yang ia pesan. Taxi pun melaju membelah jalan raya.


Sesampainya di restoran yang ia tuju, Adinda langsung memesan makanan karena perutnya sudah terasa teramat lapar. Adinda terlalu fokus menyantap makanannya sampai ia tak menyadari ada seseorang yang kini telah duduk di depannya.


"Makannya pelan-pelan. Takkan ada siapapun yang akan mengambil makananmu." Adinda menghentikan kunyahannya dan mendongak menatap ke arah sumber suara.


"Candra," desis Adinda dengan mulut yang berisi makanan.


"Hai Din, apa kabar?" tanya Candra, "Jawabnya bentar lagi kalau makannya sudah selesai," sela Candra ketika melihat Adinda yang hendak membuka suara dengan mulut penuh.


Adinda kembali melanjutkan makannya. Ia menyuap sedikit demi sedikit makanan itu ke mulutnya, tidak sebar-bar tadi sebelum ia tahu ada Candra di dekatnya. Pelan tapi pasti makanan di piringnya tandas tak bersisa.

__ADS_1


Candra menyodorkan segelas minuman milik Adinda ke arahnya. Pelan-pelan Adinda meneguknya hingga minuman itu tersisa setengahnya. Seandainya tidak ada Candra, pastilah segelas minuman itu tandas hingga tetes terakhir.


"Makannya sampai belepotan gini." Candra meraih tisu dan mengelap bibir Adinda yang belepotan oleh saos pasta yang ia makan.


Adinda terpaku oleh perlakuan yang Candra berikan padanya. Seandainya yang ada di hadapannya kini adalah Devin pasti ia merasa sangat bahagia. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir kenapa bayangan Devin masih terlintas di benaknya. Walau tak bisa ia pungkiri, ada rasa rindu di sudut hatinya yang kelabu.


"Makasih, Dra," kata Adinda saat Candra selesai mengelap bibirnya.


"Sama-sama. Oh ya, apa kabar?" tanya Candra.


"Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri gimana kabarnya? Kenapa bisa ada di kota ini?" tanya Adinda. Tak mungkin kan Candra sengaja membuntutinya.


"Alhamdulillah kabarku baik. Bahkan sekarang jauh lebih baik saat bisa melihatmu kembali." Adinda menundukkan kepalanya. Ia tak ingin pipinya yang merona dilihat oleh Candra.


"Aku ada di sini karena sedang berkunjung saja. Restoran ini adalah salah satu cabang yang aku miliki. Namun, siapa sangka aku bisa bertemu dengan seorang bidadari yang sedang kelaparan." Adinda berdecak kesal membuat Candra tertawa.


"Gak lucu," gerutu Adinda.


"Aku memang tidak lucu, tapi ini yang lucu," kata Candra seraya menarik gemas hidung Adinda.


"Sakit tahu." Adinda mengusap hidungnya yang ditarik oleh Candra.


"Maaf deh, jangan marah. Sebagai permintaan maafku, makanan yang kamu pesan ini gratis," kata Candra.


"Boleh nambah?" tanya Adinda.


"Cckk, dasar rakus." Candra berdecak.


Adinda tersenyum lebar ke arah Candra. Entah kenapa jika mendengar ada kata gratisan, semangatnya kembali berkobar. Tak akan ia sia-siakan kesempatan ini. Masih ada ruang dalam perutnya untuk menampung satu porsi makanan lagi.


Adinda memanggil waiters dan kembali memesan makanan. Candra hanya tersenyum melihat Adinda yang tengah komat-kamit membaca buku menu. Ia turut senang melihat Adinda senang.

__ADS_1


"Oh ya, kamu sendiri kenapa bisa ada di kota ini, Din?" tanya Candra saat waiters berlalu dari hadapan mereka.


Adinda kemudian menceritakan semuanya kecuali masalah rumah tangganya. Mereka masih asyik mengobrol, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka tak suka.


__ADS_2