
"Sayang, dicoba ya bajunya," kata Ivan. Ia mengambil sebuah lingerie pilihannya dan menyodorkannya pada Adinda.
"Gak mau, masih pagi juga," tolak Adinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa kalau masih pagi? Cuma nyobain aja, kan?" tanya Ivan.
"Awalnya memang cuma nyobain, tapi aku yakin kalau Kakak punya maksud terselubung." Adinda tetap bersikukuh menolak ide suaminya.
"Hehe, ketahuan deh," kata Ivan.
Ivan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gagal sudah keinginannya untuk berolahraga memeras keringat bersama sang istri.
"Ya udah, aku mau nelfon oma dulu. Aku kangen sama Vina." Adinda beranjak dari sofa.
"Ya ampun, Sayang. Baru saja kalian ketemu di resto tadi," kata Ivan.
"Aku cuma mau mastiin ke oma, stok ASIPnya Vina cukup apa enggak sampai kita pulang besok," jelas Adinda seraya melanjutkan langkahnya.
Adinda meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mengaktifkan kembali ponselnya yang sempat ia nonaktifkan tadi malam. Niat hati ingin menghubungi oma Fani untuk menanyakan keadaan Vina, namun saat ponsel kembali aktif malah ayahnya Vina yang langsung menghubunginya.
Ddrrtt drrtt drrtt...
Adinda menghela napas dalam dan membiarkan panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Ivan pun melangkah mendekati Adinda saat melihat istri kesayangannya itu tampak gelisah.
"Ada apa? Hemm," tanya Ivan seraya memeluk Adinda dari belakang.
"Ini." Adinda menyodorkan ponselnya pada Ivan dan membiarkan suaminya itu melihatnya sendiri.
Ivan menerima ponsel yang Adinda berikan. Ia membaca sederet pesan yang dikirimkan oleh mantan suami istrinya itu. Bukannya marah, ia justru tersenyum walau terselip rasa cemburu di sudut hatinya.
"Pergilah," ucap Ivan seraya mengembalikan ponsel Adinda.
"Gak apa-apa emang?" tanya Adinda.
"Gak apa-apa Sayang. Bukankah ada banyak hal yang harus dibahas antara kalian?" Ivan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Adinda. Ia menghirup aroma tubuh istrinya yang membuatnya candu.
"Terima kasih, Kak," ucap Adinda.
"Tapi ada syaratnya." Ivan semakin mempererat pelukannya.
"Ya ampun, memang apa syaratnya?" tanya Adinda. Adinda menggeliat geli karena kini tangan Ivan mulai menjelajah kemana-mana.
"Gampang kok," ucap Ivan. Ia membisikkan sesuatu yang membuat jantung Adinda berdegup tak karuan.
"Memang harus ya?" Adinda merasa risih untuk menyanggupi syarat yang diajukan oleh suaminya.
__ADS_1
"Tidak ada tawar-menawar. Menolak keinginan suami itu dosa loh," ucap Ivan.
"Sebentar, aku ambilkan dulu," sambungnya.
Ivan melepas pelukannya. Ia berjalan menuju sofa. Ivan mengambil sesuatu sebagai syarat untuk istrinya. Ivan tersenyum penuh arti seraya melangkah menghampiri Adinda. Ivan kembali menyodorkan sebuah lingerie yang tadi sempat ditolak oleh istrinya.
"Baiklah," kata Adinda pasrah.
Adinda mengambil lingerie itu dari tangan suaminya. Ia kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian yang dikenakannya dengan sebuah lingerie sexy di tangannya.
"Ini sih sama aja gak pakai baju, tembus pandang gini." Adinda membolak-balik badannya di depan cermin.
Malu rasanya jika harus berlenggak-lenggok dengan pakaian transparan seperti ini. Namun, Adinda membuang jauh rasa malu itu karena Ivan adalah pasangan halalnya.
Biarlah tubuh moleknya terekspos di hadapan suaminya. Jangankan pakaian transparan, tanpa sehelai benang pun bisa jadi ladang pahala untuknya.
Adinda mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia melangkah ke luar dari kamar mandi. Dilihatnya suaminya itu tengah berbaring di atas peraduan. Perlahan Adinda melangkah menghampiri suaminya.
"Kak," panggil Adinda karena suaminya itu memejamkan mata.
Ivan menggeliat dan membuka matanya perlahan. Seketika ia mendudukkan dirinya dan meneguk saliva. Bidadari yang kini tengah berdiri di hadapannya sungguh terlihat luar biasa.
"Jangan gitu dong liatnya, aku malu," Adinda mencoba menutupi aset berharganya dengan kedua tangannya.
Ivan tersadar dari rasa terpukaunya. Kemudian ia beranjak dari duduknya. Tanpa babibu lagi terjadilah sesuatu yang diinginkan antara keduanya.
"Kakak gak mau ikut masuk?" tanya Adinda.
Mereka kini berada di parkiran sebuah restoran yang akan menjadi tempat pertemuan Adinda dan Devin, setelah terlebih dahulu menjemput Vina di kediaman Angkasa.
"Bisa gak manggilnya jangan Kakak terus?" tanya Ivan.
"Terus mau manggil apa? Bukannya Kakak dulu yang mau dipanggil dengan sebutan kakak," kata Adinda.
"Iya memang, tapi itu kan dulu. Sekarang kita kan sudah jadi suami istri, Sayang. Manggilnya yang romantis gitu," pinta Ivan.
Adinda tersenyum geli. Ia tak habis pikir, seorang dokter tampan yang penuh wibawa berubah menjadi seseorang yang bucin dan sedikit mes*m.
"Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu ya Suamiku," pamit Adinda.
"Baik Istriku. Awas, jangan baper sama mantan," pesan Ivan. Ia tersenyum mendapat panggilan baru dari istrinya.
"Apaan sih. Ya sudah, assalamualaikum," pamit Adinda seraya menyalami tangan suaminya.
"Waalaikumsalam," balas Ivan.
__ADS_1
Adinda turun dari mobil. Ia melangkah perlahan memasuki restoran dengan Vina yang tertidur pulas di gendongannya. Adinda memilih tempat duduk di dekat jendela. Kemudian ia memesan minuman seraya menunggu kedatangan Devin.
Tak berapa lama kemudian, Devin pun datang. Ia berjalan dengan langkah lebar untuk menghampiri Adinda dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Namun, Devin semakin memperlambat langkahnya saat ia menyadari ada seorang bayi dalam gendongan mantan istrinya itu.
Ia mulai menerka-nerka tentang bayi siapa itu. Mungkin bayi itu adalah anak Adinda dengan laki-laki lain. Mungkin juga bayi itu bisa jadi adalah darah dagingnya sendiri.
"Din," panggil Devin yang membuat Adinda menoleh padanya.
"Dev, apa kabar?" tanya Adinda dengan seulas senyum.
"Baik, Din. I-ini?" tanya Devin seraya menunjuk bayi yang berada dalam dekapan Adinda.
"Bayi mungil ini adalah anak kita. Namanya Devina Aulia Putri. Dipanggil Vina." Adinda membelai pipi bayi mungil yang masih terlelap itu penuh sayang.
Deg.
Devin tak menyangka bahwa kini ia telah menjadi seorang ayah. Ia sangat bahagia sekaligus sedih karena baru mengetahui fakta ini. Namun, ia dapat memaklumi sikap Adinda mengingat kejadian yang membuatnya merasa menyesal hingga saat ini.
"Boleh aku menggendongnya?" tanya Devin.
Adinda mengangguk dan memberikan Vina pada ayah kandungnya. Vina perlahan membuka mata dan tersenyum manis pada ayahnya. Devin menitikkan air mata melihat Vina yang menyambut hangat kedatangannya.
"Maaf, karena aku baru memberitahumu saat ini." Adinda memalingkan wajahnya ke samping. Ia takut terbawa suasana menyaksikan pemandangan di hadapannya.
"Aku mengerti. Lagi pula seharusnya aku yang meminta maaf." Devin menghapus air matanya. Ditatapnya wanita pujaannya itu penuh kerinduan.
"Terima kasih karena telah menghadirkan Vina ke dunia. Walau aku tahu pasti rasanya sangat sulit," ucap Devin.
"Lalu, bagaimana dengan tawaranku?" sambungnya yang membuat Adinda menoleh ke arahnya.
"Maksudnya?" Adinda mengerutkan kening. Ia tak mengerti tentang tawaran yang Devin maksud.
"Memberikan keluarga yang utuh untuk Vina," jawab Devin mantap.
"Maaf, aku tidak bisa," tolak Adinda.
"Kenapa Din?" tanya Devin.
"Karena, aku sudah menikah," jawab Adinda seraya memalingkan wajahnya.
Devin terpaku saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Adinda. Namun, ia mencoba tegar dan menerimanya dengan lapang dada. Walau ia masih berharap bisa hidup bersama kembali dengan mantan istrinya itu.
"Selamat ya, aku turut bahagia jika kamu bahagia," ucap Devin.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka selayaknya sahabat. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka tak suka.
__ADS_1
"Aku gak akan ngebiarin kalian hidup bahagia," geramnya seraya berlalu dari tempat itu.