Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 39


__ADS_3

"Ayo Pa, lebih cepat lagi nyetirnya. Kita harus cepat sampai di sana sebelum hakim ketuk palu, Pa. Mama gak mau kalau anak-anak sampai berpisah, Pa," desak Intan pada suaminya. Sesekali netranya melihat arloji yang melingkar di tangannya.


"Sabar, Ma. Ini Papa sudah ngebut," ucap Bima.


Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju pengadilan agama. Sengaja memang mereka tak memberitahukan gugatan cerai yang diajukan oleh pihak Adinda pada Devin.


Kondisi Devin yang begitu terpuruk sejak kepergian sang istri, menjadi salah satu faktor alasan mereka tak memberitahukan kabar buruk ini.


"Si*l. Kenapa pakai macet segala lagi," gerutu Bima.


Sementara itu di pengadilan agama, sidang sedang berjalan. Karena kedua belah pihak tak ada yang hadir untuk melakukan mediasi, jadi sudah diputuskan bahwa memang sudah tak ada harapan lagi mereka untuk bersama. Hakim pun mengetuk palu tanda sidang putusan perceraian telah selesai. Kini, Adinda dan Devin telah resmi menjadi mantan.


"Terima kasih Pak, atas bantuannya," ucap Fathan seraya menjabat tangan pak Indra, sang pengacara.


"Sama-sama Pak. Ini memang sudah menjadi tugas saya," jawab pak Indra, " Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak," pamit pak Indra undur diri.


"Oh ya Pak, silakan," ucap Fathan.


Mereka berpisah di lobi. Setelah pak Indra tak terlihat lagi, Fathan kemudian beranjak menuju tempat parkir. Namun, belum sempat tangannya membuka pintu mobil, terdengar suara seseorang yang memanggil namanya.


"Fathan, tunggu," teriak Intan ketika melihat Fathan hendak membuka pintu mobilnya. Ia dan suaminya baru sampai di parkiran.


Fathan menoleh ke arah sumber suara. Dahinya mengernyit mencoba mengingat siapa wanita yang tadi memanggilnya, serta laki-laki di samping wanita itu yang kini tengah berjalan tergesa ke arahnya.


"Maaf, kalian siapa?" tanya Fathan. Ia mencoba mengingatnya tapi tetap saja ia lupa.


"Aku Intan dan ini suamiku, Bima," ucap Intan seraya memperkenalkan dirinya.


"Maaf, apa kita saling mengenal?" tanya Fathan.


"Kita pernah bertemu dua kali. Pertama, waktu acara pernikahanmu dengan Mila dan yang kedua waktu acara syukuran kehamilan Mila. Aku adalah sahabatnya Mila, mendiang istrimu," jelas Intan.


"Oh, pantas saja nama kalian seperti tidak asing bagiku, hanya saja maaf aku tak bisa mengingat kalian," sesal Fathan.


"Gak apa-apa. Kami memaklumi," ucap Bima.


"Maaf, bisa kita bicara sebentar?" tanya Intan pada Fathan.


"Boleh," jawab Fathan.


Mereka bertiga pun beranjak menuju cafe yang terletak di samping pengadilan agama. Memesan minuman ala kadarnya hanya untuk sekadar menemani obrolan.


"Maaf, Mas sama Mbak mau bicara apa?" tanya Fathan to the point.

__ADS_1


"Begini, ini tentang anak-anak kita." Intan menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Maksud mbak apa?" tanya Fathan tak mengerti.


"Aku dan suamiku meminta maaf yang sebesar-besarnya atas nama putraku, Devin. Sebenarnya mereka saling mencintai, jadi aku mohon jangan sampai ada perpisahan di antara mereka," mohon Intan mengiba.


"Jadi, laki-laki itu adalah putra kalian?" tanya Fathan.


Fathan memang belum mengetahui fakta ini. Informasi yang ia ketahui hanyalah pernikahan putrinya dengan laki-laki yang bernama Devin Putra Wijaya. Ia tak menyangka mantan suami putrinya adalah anak dari sahabat mendiang istrinya.


"Iya, Devin adalah putra kami," jawab Bima mantap.


"Jika memang mereka saling mencintai, tak mungkin putriku akan terluka sendiri. Cinta seperti apa yang dimiliki putra kalian? Menjalin hubungan dengan wanita lain di saat sudah mengikat janji suci dengan putriku." Fathan menghembuskan napas berat sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Bahkan dengan kejamnya laki-laki yang kalian sebut sebagai anak telah menorehkan luka yang teramat dalam, sehingga membuat putriku sampai saat ini tetap mengurung diri." Sesak dirasa setiap kali teringat putrinya yang terpuruk sendiri.


"Aku tahu kalian adalah orang baik. Kalian dengan suka rela membantu mendiang istri dan putriku waktu itu. Meski demikian, itu tak akan menjamin putra kalian menuruni sifat baik dari kedua orang tuanya." Ditatapnya kedua orang yang kini hanya mampu bungkam di hadapannya.


"Terima kasih atas semua jasa yang telah kalian lakukan. Namun maaf, aku tak bisa mengabulkan permintaan yang kalian harapkan. Sidang putusan telah selesai dan kini mereka sudah bukan lagi menjadi sepasang suami istri," jelas Fathan panjang lebar.


"APA?" pekik Intan tak percaya.


"Itulah kenyataannya. Maaf, aku harus undur diri. Masih banyak pekerjaan di kantor yang menanti." pamit Fathan.


Intan tergugu di tempatnya. Ia tak menyangka bahwa semuanya akan berakhir secepat ini. Dia masih berharap semua yang ia dengar hanyalah halusinasi.


"Bagaimana ini, Pa? Kasihan anak kita. Akibat perbuatannya, kini ia harus kehilangan kesempatan," cicit Intan.


"Sabar, Ma. Nanti kita sama-sama pikirkan solusinya. Sekarang, ayo kita pulang. Papa juga harus pergi ke kantor." Bima membawa tangan Intan dalam genggamannya.


Akhirnya mereka pulang tanpa membawa kabar gembira. Tak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun selama perjalanan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Keesokan harinya, Devin telah siap dengan setelan pakaian kerjanya. Sudah hampir sebulan ia tak menginjakkan kakinya di kantor. Ia ijin cuti pada papanya untuk mencari keberadaan istrinya, walau ia belum menemukan titik terang.


"Pagi Ma, pagi Pa," sapa Devin. Ia menarik kursi dan mendudukkan dirinya di meja makan.


"Pagi, Sayang. Jadi, hari ini mau ke kantor?" tanya Intan memastikan.


"Iya, Ma." jawab Devin.


Devin mengambil sepotong roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kesukaannya. Ia jadi teringat akan istrinya. Ia begitu merindukan rasa masakan yang dibuat sendiri oleh sang istri.


"Hhmmppp." Devin membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian berlari ke arah wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Tenggorokannya terasa tercekat saat roti itu masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Bima heran melihat Devin berlari dengan kedua tangan yang menutup mulutnya.


"Papa tanya sama Mama, terus Mama mau tanya sama siapa?" tanya Intan.


"Permisi. Maaf Tuan, Nyonya," kata bi Inah seraya mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena ia lari tergopoh-gopoh dari arah luar.


"Iya Bi, ada apa?" tanya Intan.


"Ini Nyonya, ada paket untuk den Devin." Bi Inah menyerahkan surat yang baru saja ia terima dari seorang kurir.


"Terima kasih, Bi," ucap Bima seraya menerima surat yang disodorkan oleh bi Inah padanya.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nyonya," pamit bi Inah undur diri. Ia membungkukkan diri sebelum berlalu dari hadapan majikannya.


"Surat apa itu Pa?" tanya Intan. Tangannya menunjuk sebuah amplop yang dipegang oleh suaminya.


"Ini Ma. Mama lihat saja sendiri." Bima menyodorkan amplop di tangannya pada sang istri.


Intan menerima amplop yang disodorkan oleh suaminya. Tanpa membukanya pun ia sudah tahu apa isi dari amplop cokelat tersebut.


"Jangan sampai Devin tahu isi dari amplop cokelat ini, Pa," kata Intan. Ia tak sadar bahwa Devin berdiri di belakangnya.


"Apa yang tidak boleh Devin ketahui, Ma?" tanya Devin.


"Dev." Intan menoleh dan mendapati putranya tengah melipat kening di hadapannya. Kemudian ia memberikan amplop tersebut untuk dibaca sendiri oleh sang putra.


Devin memicingkan matanya ketika membaca tulisan yang tertera di amplop cokelat tersebut. Ia memberanikan diri untuk melihat isinya. Tangannya gemetar kala ia membaca rangkaian aksara yang tertulis di dalamnya.


Badannya luruh ke lantai dengan Netra yang berkaca-kaca. Ia belum siap dengan semua ini. Haruskah ia kehilangan kesempatan setelah ia menyadari bahwa Adinda begitu berarti dalam hidupnya.


Intan dan Bima turut merasakan kesedihan yang sama. Orang tua mana yang tak terluka kala melihat putra semata wayangnya hancur seperti ini.


"Maafkan aku, Din. Maafkan aku. Maafkan aku yang terlambat meraba rasa. Aku mohon jangan seperti ini. Aku akui aku yang salah. Masihkah ada kesempatan untuk kita merajut asa? Sekali lagi, maafkan aku," batin Devin terisak. Ia sangat menyesali perbuatannya yang berujung luka.


 ***


Hello para Readers kesayangan. Apa kabar?


Maafkan Author ya Readers kemarin libur up. Baby lagi tumbuh gigi jadi rewelnya minta ampun. Giliran dia anteng, bundanya kesirep 😁.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Readers. Like, Favorit, Vote, dan komennya juga ya. Butuh kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi.


Apalagi ada yang berbaik hati memberikan sekuntum bunga sebagai tanda cinta serta segelas kopi untuk teman begadang 😊, sesuatu yang bisa menjadi mood booster agar Author lebih semangat ngehalunya 😁.

__ADS_1


Salam sayang banyak-banyak buat para Readers sekalian 😊.


__ADS_2