Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 74


__ADS_3

WARNING: Masih area 21+.


Terik mentari menyelusup melalui celah-celah gorden. Adinda mengerjapkan matanya perlahan. Dilihatnya jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Perlahan Adinda menyingkirkan lengan kekar yang melingkar posesif di perutnya.


Devin membuka matanya saat Adinda menyingkirkan tangan Devin yang memeluknya. Dilihatnya Adinda yang bersiap untuk beranjak dari tempat tidur.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Devin seraya tangannya meraih tangan Adinda.


"Sudah bangun? Maaf ya, tidurnya jadi terganggu. Aku lapar, Dev," ucap Adinda.


"Kita mandi dulu, setelah itu kita sarapan." Devin mendudukkan dirinya.


"Iiissshhh, sarapan apanya? Coba liat, udah jam berapa sekarang," tunjuk Adinda pada jam di atas nakas.


Devin mengikuti arah yang ditunjukkan oleh istrinya itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang setelah sholat shubuh mereka tidur kembali. Selain karena rasa kantuk yang tak tertahankan, mereka juga kelelahan akibat pertempuran mereka yang seolah tanpa jeda. Jadilah mereka bangun kesiangan dan melewatkan waktu sarapan.


"Hehe, maaf ya. Pantesan aku ngerasa laper banget. Ya udah yuk, kita mandi," ajak Devin.


"Aawww," ringis Adinda saat ia hendak melangkah, tapi badannya terasa remuk semua.


"Kenapa, Din?" tanya Devin panik.


"Ini semua gara-gara kamu, Dev. Remuk semua badanku rasanya," gerutu Adinda.


"Maaf." Devin tersenyum mendengar jawaban Adinda.


"Aahhh, mau ngapain?" Adinda tersentak saat Devin tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.


"Udah, nurut aja sama suami," ucap Devin santai. Ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Ccckkk." Adinda berdecak kesal.


Perlahan Devin menurunkan Adinda di lantai kamar mandi. Tangannya terulur hendak membuka kancing piyama Adinda, namun segera di tepis oleh Adinda.


"Mau ngapain lagi sih?" tanya Adinda dengan tatapan tajam.


"Cuma mau bantu bukain doang kok," kilah Devin seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gak usah di bantuin, aku bisa sendiri. Ya udah sana keluar. Aku mau mandi." Adinda mendorong dada bidang Devin, tapi tentu saja Devin tetap bergeming di tempatnya.


"Aku juga mau mandi Din," ucap Devin.

__ADS_1


"Ya keluar dulu lah Dev, aku masih mau mandi," ucap Adinda.


"Mandi bareng aja Din, biar cepat selesai," ucap Devin dengan tersenyum smirk.


"Gantian aja Dev, aku malu," ungkap Adinda.


"Loh, ngapain malu? aku udah ngeliat juga merasakan setiap inci tubuh kamu. Jadi, ngapain mesti malu? Lagian, siapa coba tadi malem yang bilang 'lakukanlah'?" Devin terkekeh melihat wajah Adinda yang merona.


"Iiisshhh, ya udah gak apa-apa mandi bareng. Katanya udah laper banget? Ngobrol terus, kapan yang mau mandi." Adinda membalik badannya membelakangi Devin. Malu rasanya saat Devin mengungkit kejadian tadi malam.


"Tapi aku masih pengen makan yang lain." Devin melingkarkan tangannya di perut rata Adinda.


"Ma-maksudnya?" tanya Adinda gugup. Badannya meremang sebab kini tangan Devin mulai kembali bergerilya dan memberikan sentuhan yang membuatnya merinding.


Devin menggigit kecil telinga Adinda membuat Adinda geli. Kemudian lidah Devin perlahan turun menyusuri leher jenjang Adinda.


"Eegghh, Dev stop!" protes Adinda.


Bukannya berhenti, Devin justru membalikkan tubuh Adinda agar menghadap padanya. Diraihnya tengkuk Adinda dan Devin mulai menyatukan bibir mereka. Digigitnya bibir bawah Adinda agar terbuka. Kemudian melum*tnya penuh gair*h.


Tangan Devin pun tak tinggal diam. Satu persatu kancing piyama Adinda dibukanya tanpa melepas pagutan bibir mereka. Adinda menepuk dada Devin karena ia kesulitan bernapas. Mau tak mau Devin melepas tautan bibir mereka. Devin pun melucuti pakaiannya sendiri hingga tubuh polos itu terpampang nyata di hadapan Adinda.


"Devin, malu ih." Adinda spontan memunggungi Devin. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wajahnya merona saat mengingat si naga yang sedang upacara.


"Eeegghhh," lenguh Adinda. Seberapa kuat ia mencoba untuk tak bereaksi, namun akhirnya des*h*n itu lolos juga dari bibirnya.


Secepat kilat Devin meloloskan pakaian istrinya. Jari-jemarinya dengan lincah memberikan sentuhan yang membuat tubuh Adinda bergetar hebat, hingga pada akhinya Adinda mencapai puncaknya.


Devin merengkuh tubuh Adinda yang melemas seakan tak bertenaga. Ia membiarkan istrinya sejenak untuk memulihkan tenaganya. Setelah dirasa cukup ia kembali melakukan aksinya.


Setelah lebih satu jam lamanya, mereka pun telah selesai dengan ritual mandi plus-plusnya. Adinda menggerutu sebab badannya terasa sakit semua, apalagi perutnya tak henti-hentinya berbunyi dengan nyaring.


"Maaf Sayang. Aku benar-benar kelaparan," bujuk Devin.


"Udah tahu kelaparan, masih aja ngajak begituan," decak Adinda.


"Kan aku laparnya yang lain Sayang. Aku pengen makan kamu. Bahkan sekarang aja masih belum kenyang." Devin mengedipkan matanya menggoda Adinda.


"Iisshhh, apaan sih!" Adinda memalingkan wajahnya ke samping. Ia tak menyangka Devin ternyata begitu mesum.


"Ya udah yuk, kita turun. Aku udah laper ini," ajak Adinda.

__ADS_1


"Yakin mau turun?" tanya Devin.


"Ya yakinlah. Udah laper juga," sahut Adinda.


"Gak malu emang dilihat para Art?" tanya Devin lagi.


"Ngapain malu, udah biasa juga," jawab Adinda seraya melangkah menuju pintu walau sesekali meringis.


"Coba ngaca dulu," ucap Devin yang membuat Adinda menghentikan langkahnya.


"Ngaca?" tanya Adinda memastikan.


"He'em," jawab Devin.


Adinda membalikkan badannya seraya mengerutkan kening heran. Namun, tak urung ia melangkah menuju meja rias.


"DEVIN!" pekik Adinda.


"Iya Sayang, ada apa?" Devin melangkah santai menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Ada apa, ada apa. Kalau kayak gini ya malu lah yang mau turun." Adinda menunjuk tanda merah yang memenuhi lehernya serta bagian dadanya dengan kesal. Bahkan bisa dipastikan tanda merah itu juga terdapat di sekujur tubuhnya.


"Ya udah jangan cemberut gitu dong, Sayang. Aku ambilin ya makanannya. Kita makan di sini saja," bujuk Devin.


Kruyuuuukkk...


Devin tertawa mendengar bunyi perut Adinda yang berbunyi dengan nyaring. Adinda tentu saja malu, tapi rasa kesalnya lebih mendominasi.


"Ya udah, cepetan. Nih cacing-cacing udah pada demo dari tadi," ucap Adinda.


"Ok, ok." Devin segera beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan untuk mereka berdua.


Setelah beberapa saat Devin kembali dengan sepiring nasi beserta lauknya dengan porsi double. Tak lupa segelas air putih di tangan kirinya.


"Kok cuma satu?" tanya Adinda heran.


"Sepiring berdua," jawab Devin seraya menyendok makanan di piring yang ia bawa.


"Aaaa." Devin menyodorkan suapan pertamanya untuk Adinda. Adinda tentu menerimanya dengan senang hati.


Kemudian Devin menyuap makanan untuk dirinya sendiri. Begitu seterusnya, mereka makan menggunakan sendok yang sama secara bergantian hingga makanan yang tersaji di piring tandas tak bersisa.

__ADS_1


"Ya Rabb, terima kasih atas semua kebahagiaan ini. Semoga tak ada lagi badai yang menghampiri," batin Adinda.


__ADS_2