
Flashback on...
Huek huek huek
"Masih mual terus ya?" tanya Fathan seraya memijat tengkuk istrinya.
"Iya Mas," jawab Mila lemah.
Fathan memapah istrinya menuju tempat tidur. Ia menumpuk beberapa bantal agar istrinya nyaman untuk bersandar. Fathan sendiri duduk di tepi tempat tidur. Perlahan jari-jemarinya bergerak memijat kaki istrinya yang terlihat bengkak. Fathan benar-benar tak tega melihat kondisi Mila yang tergolek lemah seperti ini.
Usia kehamilan Mila sudah memasuki trimester ketiga, tapi ia masih sering mual muntah. Sejak awal kehamilan, tak ada asupan makanan selain rujak dan air mineral yang bisa diterima perutnya.
Sama seperti wanita hamil pada umumnya, Mila juga mengalami ngidam. Ngidam yang Mila rasakan tidak terlalu aneh. Ia hanya ingin dipeluk dan mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh suaminya sampai ia terlelap. Kalau tidak, tidurnya pasti akan gelisah sepanjang malam. Begitulah seterusnya dari awal kehamilan hingga sekarang.
Malam semakin larut. Sepi, sunyi, senyap, di kala semua orang tengah terlelap. Mila terbangun dalam keadaan lapar. Dalam mimpinya ia terbayang tengah makan bubur ayam favoritnya yang berlokasi di samping panti asuhan. Namun, jarak antara kota yang ia tinggali saat ini dengan panti asuhan sangatlah jauh. Butuh sekitar lima jam perjalanan.
Mila mencoba mengabaikan keinginannya itu. Namun, saat ia memejamkan mata, ia mengalami mimpi serupa, sehingga membuat Mila mau tak mau membuka mata. Tak pernah sebelumnya ia mempunyai keinginan sampai terbawa mimpi hingga berulang kali.
"Mas, bangun." Mila menggoyangkan lengan suaminya.
"Hmm." Fathan menggeliat malas. Ia malah semakin mempererat pelukannya.
"Mas, iiihh, bangun dong," rengek Mila. Ia menepuk pelan lengan suaminya.
"Ada apa Sayang?" tanya Fathan dengan mata terpejam.
"Aku lapar," jawab Mila.
Sontak Fathan membuka mata. Ia mengurai pelukannya. Kemudian ia turun dari tempat tidur hendak ke dapur. Namun belum sempat ia memutar handle pintu, Mila sudah memanggilnya
"Mas, mau ke mana?" tanya Mila.
Fathan menghentikan gerakan tangannya yang akan menyentuh handle pintu. Ia menoleh pada sang istri yang terlihat semakin kurus itu.
__ADS_1
"Katanya lapar. Sebentar, Mas buatkan dulu bumbu rujaknya," jawab Fathan. Ia tersenyum ke arah Istrinya.
"Aku gak mau makan rujak Mas," kata Mila.
Fathan melangkah menuju tempat tidur. Kemudian ia duduk di samping istrinya. Dielusnya surai panjang sang istri penuh sayang.
"Terus mau makan apa? Hmm," tanya Fathan seraya menjawil gemas dagu istrinya.
"Aku pengen makan bubur ayam Mas," jawab Mila.
"Bubur ayam ya? Sebentar ya Sayang, Mas bangunin bi Eli dulu. Mas bisanya hanya bikin bumbu rujak, itu pun semenjak kamu hamil." Fathan menarik gemas hidung sang istri.
"Iiihh, apaan sih Mas. Sakit tahu," sungut Mila seraya menepis tangan suaminya.
Fathan hanya tertawa melihat istrinya yang cemberut. Menurutnya, Mila terlihat begitu menggemaskan. Ia mengacak gemas rambut sang istri.
"Aku gak mau bikinan bibi, Mas." Mila menahan lengan suaminya yang hendak berdiri.
"Kamu mau bikinan Mas? Sayang, tapi Mas gak bisa buat bubur ayam," ucap Fathan.
"Aku gak mau bubur ayam bikinan Mas," sela Mila.
"Terus, mau bubur ayam buatan siapa?" tanya Fathan.
"Aku mau bubur ayam bang Salim, di samping panti Mas," ucap Mila dengan wajah berbinar. Hanya membayangkannya saja, membuat dia meneguk saliva.
Fathan menoleh ke arah nakas. Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Ia menghembuskan napas pelan. Ini masih tengah malam, tapi istrinya malah mengidam.
"Sayang, sekarang masih jam satu malam," ucap Fathan seraya menunjuk jam di atas nakas.
"Iya aku tahu, tapi aku pengennya sekarang," rengek Mila.
"Kalau pengennya sekarang, ya minta di buatin sama bibi aja Sayang. Kalau belinya di bang Salim itu kejauhan. Lima jam perjalanan loh. Mas gak mau, kamu menahan lapar terlalu lama. Apalagi kata dokter, kamu tidak boleh bepergian terlalu jauh karena kondisi kamu sangat lemah," terang Fathan.
__ADS_1
"Ya udah gak usah," dengus Mila.
Mila membaringkan dirinya memunggungi Fathan. Matanya berkaca-kaca. Dia pun tak mengerti kenapa bisa menginginkan sesuatu sampai seperti ini. Biasanya ia selalu bisa menekan setiap keinginannya jika tidak terlalu penting.
Fathan menghembuskan napas panjang. Terlihat punggung sang istri yang bergetar. Ia tahu istrinya kini sedang menangis. Ia pun ikut merebahkan diri di samping Mila dan memeluk istrinya itu dari belakang.
"Maafkan Mas ya Sayang," sesal Fathan.
Mila menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak terdengar oleh Fathan. Namun, percuma saja karena kini tangisnya makin pecah mendengar kata maaf dari suaminya.
"Setiap saat dan setiap waktu Mas selalu bertanya padaku, apa ada sesuatu yang ingin aku makan. Namun, aku tak pernah menginginkan makanan apa pun karena percuma saja. Setiap kali semua makanan itu masuk ke perutku, di saat itu juga makanan itu langsung aku muntahkan. Lalu sekarang, giliran aku sangat menginginkan sesuatu, tapi Mas tak mau mengabulkannya," ungkap Mila dengan suara yang bergetar.
Fathan membalikkan badan sang istri agar menghadap dirinya. Disekanya air mata yang mengalir tiada henti dari pipi sang istri. Dikecupnya lama kening wanita yang menguasai hatinya itu.
"Baiklah, Mas yang akan pergi sendiri, kamu tunggu di sini. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh kelelahan dan bepergian terlalu jauh. Nanti bubur ayamnya dihangatkan lagi di sini." Fathan mencium pipi istrinya bertubi-tubi.
"Mas, apaan sih. Udah dong," protes Mila dengan pipi yang bersemu merah.
"Biar tidak ada yang kangen," goda Fathan.
"Siapa juga yang bakalan kangen." Mila mencebik kesal. Fathan hanya tertawa melihat istrinya yang menggerutu namun tersipu.
"Sayang, jangan nakal-nakal ya. Jangan buat Bunda mual dan muntah terus ya. Tolong jagain Bunda selama Ayah pergi. Ayah sayang sama kalian berdua." Fathan mengelus perut istrinya dan menciumnya lama.
Fathan beranjak dari tidurnya. Ia mengambil jaket dan mengenakannya. Tak lupa ponsel dan dompet dikantonginya.
"Ya sudah, Mas berangkat sekarang ya Sayang," pamit Fathan. Lagi, ia mendekap tubuh sang istri, serta mencium kening, pipi, dan bibir istrinya cukup lama.
"Udah dong Mas, sana berangkat." Mila mendorong tubuh suaminya yang terlihat enggan melepas pelukannya.
"Hati-hati di jalan," kata Mila yang hanya dibalas anggukan oleh suaminya.
Jalanan tampak sepi dan lengang. Karena memang masih tengah malam, jadi tak ada satu kendaraan pun yang melintas. Fathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum agar ia lekas sampai di tempat tujuan. Dia tak mau membuat istrinya terlalu lama menunggu.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ada sebuah motor yang melintas, keluar dari sebuah gang kecil di kiri jalan. Fathan membanting stir ke sebelah kanan. Namun naas, karena laju kendaraan yang sangat kencang, Fathan tak bisa mengendalikan kendaraannya.
Braaakkkkk....