Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 70


__ADS_3

Ting-tong...


Tak lama setelah kepergian polisi, bel rumah Adinda kembali berbunyi. Bi Ningsing kembali membukakan pintu dan melihat siapa yang datang bertamu.


"Assalamualaikum Bi," sapa Devin. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Waalaikumsalam, Den. Mari masuk," jawab Bi Ningsing sekaligus mempersilahkan Devin untuk masuk ke dalam kediaman Angkasa. Beliau tak perlu persetujuan tuan rumah karena Devin bukanlah tamu biasa.


"Duduk dulu ya Den, Bibi panggilkan non Adinda dulu," ucap bi Ningsing.


"Baik Bi, terima kasih," ucap Devin.


"Oh ya, Aden mau minum apa?" tanya bi Ningsing.


"Seperti biasanya ya Bi," jawab Devin.


"Siap Den, ditunggu ya!" Bi Ningsing melenggang pergi untuk memberitahu Adinda tentang keberadaan Devin sekaligus menuju dapur untuk membuatkan minum.


"Permisi Non, ada den Devin di depan," ucap bi Ningsing.


"Oh ya Bi, terima kasih," ucap Adinda.


"Siapa Mbak?" tanya Indah yang baru kembali dari kamar mandi.


"Bi Ningsih, beliau memberitahu kalau ada ayahnya Vina di depan," jawab Adinda.


"Oh, kalau gitu aku pamit dulu ya Mbak, udah sore juga ini," pamit Indah.


"Ya udah, yuk turun ke depan bareng." Mereka pun turun bersamaan dengan menggendong anak mereka masing-masing.


"Hai Dev," sapa Adinda.


"Hai Din. Halo anak ayah." Devin mengambil alih Vina dan menciuminya dengan gemas.


"Mbak aku pulang ya," pamit Indah.


"Ya udah, hati-hati di jalan," pesan Adinda.


"Mas Devin, saya duluan ya, mari," pamit Indah.

__ADS_1


Devin hanya tersenyum dan mengangguk. Karena mereka tak sedekat itu walau hanya sekedar basa-basi.


"Silakan diminum Dev," ucap Adinda.


"Iya, makasih," ucap Devin.


Devin meraih gelas dan meminum minuman yang telah disuguhkan oleh bi Ningsing beberapa saat lalu. Ia meletakkan kembali gelas itu di meja dan memindai seluruh ruangan.


"Sepi banget Din, pada ke mana?" tanya Devin.


"Ayah sama opa belum pulang. Kalau oma tadi pamitnya mau ke dokter buat check up kesehatan," jelas Adinda.


"Sepertinya itu ayah sama opa," ucap Adinda saat mendengar deru suara mesin mobil yang berhenti di halaman.


Tak lama kemudian, dua pria beda generasi itu melangkah masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam.


"Loh, ada nak Devin. Sudah lama?" tanya opa Nathan saat Devin berdiri dan menyalami keduanya secara bergantian.


"Barusan Opa," jawab Devin.


"Sebentar ya Dev, Om sama Opa masih mau ke kamar dulu. Kalian lanjutkan dulu mengobrolnya," ucap ayah Fathan.


"Baik, Om," jawab Devin.


Selepas sholat maghrib berjamaah dan makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga kecuali Adinda. Adinda sedang berada di kamarnya sebab Vina yang haus dan sudah terlihat mengantuk.


Devin menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum mengutarakan niat kedatangannya kali ini ke kediaman Angkasa. Bukan hanya sekedar ingin mengunjungi Vina seperti biasanya, namun Devin memiliki maksud dan tujuan yang lain.


"Maaf Om, Oma, dan Opa, sebenarnya kedatangan saya kali ini selain saya merindukan putri saya, saya juga mempunyai maksud dan tujuan tertentu," ucap Devin memulai pembicaraan.


Ayah Fathan, oma Fani dan opa Nathan saling berpandangan. Sementara Devin sudah mulai gelisah. Devin takut niat baiknya tidak disambut dengan baik.


"Katakanlah!" ucap Ayah Fathan. Sebenarnya ayah Fathan sudah bisa menebak apa yang ingin Devin sampaikan, namun ia juga ingin mendengarnya secara langsung dari Devin sendiri.


"Begini Om, Oma dan Opa. Berhubung masa iddah Adinda telah selesai, saya minta izin untuk kembali meminang Adinda," ucap Devin langsung pada intinya.


Devin menunduk setelah menyelesaikan kata-katanya. Lega karena mampu berkata dengan lancar tanpa kendala. Namun, ia juga merasa khawatir dan takut jika ternyata kalimat penolakan yang harus ia terima.


"Begini, Om sebagai orang tua Adinda tentunya menginginkan yang terbaik untuk putri Om. Namun, Om tidak bisa memutuskan dengan siapa putri Om akan bersanding. Adinda sudah dewasa, dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Jadi, semua keputusan Om serahkan sepenuhnya pada putri Om. Karena walau bagaimanapun yang akan menjalani itu semua adalah Adinda, bukan Om," ucap ayah Fathan.

__ADS_1


Devin mendonggakkan wajahnya. Ia mengangguk mengerti. Walau ia belum mendapatkan jawaban yang pasti, tapi setidaknya ia sudah mendapat sinyal hijau dari keluarga Adinda.


"Sudah tidur?" tanya oma Fani saat melihat Adinda melangkah menghampiri mereka di ruang keluarga.


"Sudah Oma," jawab Adinda seraya mengulas senyumnya.


"Lagi pada ngobrolin apa nih?" Adinda mendudukkan dirinya di samping oma Fani.


"Ada yang ingin nak Devin bicarakan sama kamu," jawab oma Fani.


"Kalian berdua bicaralah. Kami pamit dulu," ucap opa Nathan. Beliau beranjak seraya menggandeng sang istri.


"Ayah ke kamar dulu ya. Kalian bicaralah." Ayah Fathan pun juga turut beranjak meninggalkan Adinda dan Devin.


"Din," panggil Devin.


"Iya Dev, ada apa?" tanya Adinda.


Mata mereka beradu. Ada rasa rindu yang sulit untuk di ungkapkan. Adinda memutus pandangan mereka. Ia tak kuat melihat tatapan penuh cinta dan kerinduan dari mantan suaminya itu.


"Din, kedatanganku kali ini mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Aku harap kamu bisa menyambut dengan baik niat baikku ini." Devin sejenak menjeda ucapannya. Ia menghela napas dan menghembuskannya perlahan.


"Kedatanganku ke mari untuk meminangmu. Maukah kamu untuk menerimaku kembali? Merajut kembali semuanya dari awal. Aku janji Din, aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Bersama-sama kita merawat dan membesarkan putri kita." Devin menatap lekat Adinda yang masih memalingkan wajah di hadapannya.


"Maaf Dev, aku tidak bisa," ucap Adinda.


"Kenapa Din? Bukankah kita masih saling mencintai?" Devin sangat yakin jika Adinda masih memiliki rasa yang sama dengan dirinya.


"Tapi aku benar-benar tidak bisa." Adinda menunduk. Ia akui masih menyimpan rasa itu pada Devin, tapi ia masih ingin sendiri.


"Demi Vina, Din," rayu Devin.


"Jika alasannya hanya demi Vina, kita tetaplah orang tua Vina sampai kapan pun. Namun, untuk saat ini aku masih butuh waktu untuk sendiri. Tolong mengertilah perasaanku. Aku bukan lagi seorang gadis. Aku adalah seorang janda yang berpisah karena maut. Bahkan, pusara suamiku masih basah oleh air mata. Jadi, maaf Dev, aku tidak bisa," ucap Adinda.


"Baiklah, aku mengerti. Mungkin saat ini kamu masih butuh waktu untuk sendiri, tapi tolong pikirkan baik-baik. Aku mohon, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kulakukan. Aku akan tetap menunggumu. Kalau begitu aku pamit Din. Tolong sampaikan salamku pada semuanya." Devin beranjak dari duduknya. Ia menghela napas panjang. Ia kecewa sebab usahanya kali ini sia-sia.


"Dev!" Devin menghentikan langkahnya.


"Aku ingin kita tetap menjadi sahabat seperti dulu dan jangan meminta lebih dari itu. Lanjutkanlah hidupmu dan janganlah menungguku," ucap Adinda.

__ADS_1


Devin kembali melanjutkan langkahnya. Ia tak tahu harus memberi jawaban apa. Namun jauh di dasar hatinya, ia sungguh berharap Adinda dapat membuka hatinya kembali.


Tangis Adinda pecah setelah deru suara mesin mobil milik Devin kian menjauh. Ia memang masih sangat mencintai Devin. Namun, ia sadar diri dengan statusnya kini.


__ADS_2