Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 22


__ADS_3

"Din!"


"Adinda," panggil Alia. Alia mengibaskan tangannya di depan Adinda yang senyum-senyum sendiri dari tadi.


"Adinda!" panggil Alia sekali lagi. Alia menggeleng-gelengkan kepala melihat Adinda masih bergeming di tempatnya sambil tersenyum.


"Ya ampun nih bocah. Ngelamunin apa sih? Sampai-sampai aku panggil berkali-kali tetap senyam-senyum gak jelas," gumam Alia.


"Adinda, woy!" seru Alia nyaring disertai tepukan pelan di pundak Adinda.


"Eh, iya Dev, ada apa?" Adinda tersentak dari lamunannya ketika merasakan tepukan di pundaknya.


"Hahahaha." Tawa Alia menggema.


Adinda menoleh ke asal suara yang menertawakannya. Adinda melongo mendapati Alia berada di ruangannya, bukan Devin. Adinda berdecak kesal melihat Alia masih tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


"Ketawa aja terus, sampai meledak tuh perut entar." Adinda mencebik kesal.


"Roman-romannya ada yang lagi bahagia nih," ucap Alia menaik turunkan alisnya.


Adinda memutar bola mata malas. Temannya yang satu ini memang paling ahli dalam urusan menggoda, tapi bukan menggoda dalam tanda kutip loh ya.


"Ngelamunin apa sih? Senyam-senyum terus dari tadi. Sampai-sampai aku panggil berulang kali tetep gak dengar. Sekalinya jawab, eh langsung si ayang yang diingat," sambung Alia.


"Apaan sih?" Adinda tersipu. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Malu rasanya terus menerus digoda oleh teman-temannya.


"Ciyeee, pipinya udah kayak kepiting rebus tuh!" goda Alia.


"Udah dong! Aku potong gaji entar." Adinda melotot, namun hanya dibalas cengiran oleh Alia.


"Ampun, ampun bos. Jangan potong gaji saya." Alia menangkupkan kedua tangannya disertai anggukan kepala berkali-kali.


"Kalau ada kenaikan gaji, saya ikhlas dan menerimanya dengan sepenuh hati," sambung Alia seraya tertawa di akhir kalimatnya.


"Idih, ngarep." Adinda memutar bola mata malas.


"Harus dong," ucap Alia menggebu-gebu.


Tok tok tok.


"Assalamualaikum," ucap Devin di ambang pintu yang telah terbuka.


"Waalaikumsalam," jawab Adinda dan Alia serempak.


Mereka menoleh ke asal suara dan mendapati Devin tengah berdiri di ambang pintu. Devin melempar senyum manisnya ke arah Adinda. Perlahan Devin melangkah menghampiri sang istri yang berada di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku keluar dulu ya Din. Jangan melamun lagi. Si ayang udah datang," bisik Alia seraya menaik turunkan alisnya.


Adinda berdecak kesal menanggapi ucapan Alia. Ia jengah terus menerus digoda. Karena sudah bisa di pastikan pipi Adinda akan merah merona.


"Kenapa?" tanya Devin.


"Gak apa-apa kok Dev," jawab Adinda.


Kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan tersebut. Adinda kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda.


"Belum selesai ya?" tanya Devin.


"Tinggal sedikit lagi Dev," jawab Adinda. Tangannya sibuk menarikan pensil di atas kertas putih.


Beberapa saat kemudian, pekerjaan Adinda telah selesai. Rencananya mereka akan berkunjung ke rumah orang tua Devin.


"Sudah?" tanya Devin ketika melihat Adinda menyusun kertas hasil desainnya.


Adinda hanya mengangguk. Tangannya sibuk merapikan meja kerjanya. Adinda tak berani bersitatap dengan Devin terlalu lama. Karena sekarang kondisi jantungnya sedang tidak baik-baik saja.


Devin memandang lekat ke arah Adinda. Ada perasaan yang tak biasa saat berdekatan dengan Adinda. Entah kenapa desiran aneh itu menyusup ke dasar hatinya. Devin menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mungkin rasa itu adalah cinta. Karena hingga kini hanya nama Liona yang bertahta.


Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar. Mereka tampak salah tingkah ketika netra mereka beradu pandang. Devin membukakan pintu mobil untuk Adinda. Kemudian berjalan memutar dan membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri.


Perlahan, mobil pun beranjak meninggalkan halaman butik. Devin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali netranya melirik ke arah Adinda, begitu pun sebaliknya.


Mereka turun dan berjalan beriringan. Sungguh, mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Seandainya rasa cinta itu tak hanya Adinda seorang diri yang merasakannya, tentu sangat pantas jika mereka dikatakan sebagai pasangan yang serasi.


Devin menekan bel. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Bi Inah muncul dengan memegang sapu di tangannya.


"Assalamualaikum Bi," ucap Adinda dan Devin bersamaan. Adinda dan Devin menoleh satu sama lain menyadari kekompakan mereka terjadi tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam Den Devin, Non Adinda," jawab bi Inah.


Adinda dan Devin bergantian menyalami bi Inah. Status bi Inah memang seorang Art, tapi beliau sudah dianggap sebagai keluarga karena beliau sudah bekerja sejak papa Bima masih remaja.


"Mama ada Bi?" tanya Devin.


"Ada Den. Nyonya lagi di taman belakang," jawab bi Inah menjelaskan apa yang beliau ketahui.


"Oh, terima kasih Bi." Devin mengucapkan terima kasih yang dibalas anggukan oleh bi Inah.


Devin menggandeng tangan Adinda menuju taman belakang. Adinda tentu saja salah tingkah dibuatnya. Berdekatan dengan Devin seperti ini membuat Adinda merasakan adanya berjuta kupu-kupu yang hinggap di d**anya.


"Assalamualaikum Ma." Lagi-lagi mereka terlihat kompak.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Mama Intan menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya anak dan menantunya berjalan menghampirinya.


"Mama, apa kabar?" tanya Adinda seraya mencium punggung tangan sang mertua.


"Alhamdulillah, baik Sayang," jawab mama Intan.


"Mama kangen sama kamu," sambungnya.


Mama Intan membawa Adinda dalam pelukannya, sedangkan Devin bergantian melihat mamanya dan tangannya yang mengambang.


"Ma, pegal tahu ma tetap kayak gini," rajuk Devin.


Mama Intan melerai pelukannya dengan Adinda. Mama Intan menoleh ke arah Devin. Ia mengikuti arah pandang Devin yang ditunjukkan dengan dagunya.


"Ya ampun Sayang, Mama lupa," kata mama Intan. Ia menerima uluran tangan sang putra dan juga membawanya dalam pelukannya.


"Salah apa aku ini ya Tuhan, sehingga Mama melupakan diriku sebagai anak satu-satunya," kata Devin mendramatisir.


"Aawww, sakit Ma. Mama KDRT terhadap anak sendiri." Devin mengusap lengannya yang dipukul pelan oleh mamanya.


"Gak usah lebay gitu Sayang. Mana mungkin Mama melupakan anak Mama yang manjanya minta ampun kayak gini." Mama Intan terkekeh geli melihat tingkah laku putranya yang sudah dewasa tapi masih bertingkah manja padanya.


"Ya udah yuk, kita ngobrolnya di dalam saja," ajak mama Intan pada Devin dan Adinda.


Mama Intan melangkah masuk dengan diikuti oleh Adinda dan Devin. Mama Intan menuju dapur untuk mencuci tangannya, sedangkan Adinda dan Devin menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.


"Aku apa kamu dulu Din yang mandi?" tanya Devin sesampainya mereka di kamar.


"Terserah," jawab Adinda. Jawaban singkat yang terkesan ketus. Namun, kenyataannya Adinda tengah sibuk menetralkan debaran jantungnya.


"Atau, kita mandi bersama saja?" goda Devin menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih Dev." Lagi-lagi Adinda tersipu.


"Lebih menghemat waktu kan Din? Waktu Ashar sebentar lagi lewat," kata Devin dengan maksud terselubung.


"Aku sedang tidak sholat Dev," ungkap Adinda.


"Ya udah, aku mandi dulu ya," kata Devin yang dibalas anggukan kepala oleh Adinda.


Adinda menatap punggung tegap Devin yang beranjak menuju kamar mandi. Ada gelenyar aneh yang menggelitik perutnya. Menimbulkan sensasi hangat yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.


Adinda merangkum pipinya dengan kedua telapak tangannya. Untung saja Devin sudah berada di kamar mandi, sehingga Adinda tak perlu risau Devin melihat rona kemerahan di pipinya.


Namun, sesuatu yang ia lihat di depan matanya membuat ia terlonjak kaget dan berteriak nyaring.

__ADS_1


"Aaaahhhhh..."


__ADS_2