
Drrtt drrtt drrtt
Getar ponsel di atas nakas yang berasal dari ponsel milik Adinda seketika mengalihkan Atensi mereka. Adinda beranjak untuk meraih benda pipih persegi panjang tersebut. Deretan angka tanpa nama terpampang di layar.
Adinda membiarkan ponselnya terus berkedip tanpa ada niat untuk mengangkatnya. Adinda paling malas untuk mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal. Kalaupun penting, pasti si penelepon akan menghubunginya kembali.
"Siapa?" Devin mengerutkan kening melihat Adinda membiarkan panggilan di ponselnya mati dengan sendirinya.
"Entah." Adinda mengedikkan bahu acuh.
Drrtt drrtt drrtt
Beberapa saat kemudian, benar saja ponsel Adinda berdering kembali. Terpampang deretan angka yang sama di layar. Adinda menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas.
"Hallo, assalamualaikum," sapa Adinda kepada orang di seberang telepon.
"Waalaikumsalam," jawab orang di seberang.
"Maaf, ini dengan siapa ya?" Rasanya Adinda tidak asing dengan suara ini.
"Baru tadi siang kita ketemu, masa udah lupa Din." Si penelepon terdengar terkekeh di ujung telepon.
"Candra?" tebak Adinda. Siapa lagi laki-laki yang ia temui tadi siang selain Devin dan Candra.
"Yaps, betul sekali. Ternyata kamu masih mengingatku. Aku pikir kamu udah ngelupain aku Din. Apakah kamu juga sering memikirkan aku seperti aku yang selalu memikirkanmu?" ucap Candra dengan percaya diri.
Lalu mereka terlibat obrolan yang sesekali di iringi dengan tawa hingga panggilan berakhir. Adinda lupa bahwa di ruangan itu ia tak sendiri. Ada orang lain yang sejak tadi mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras.
Adinda berbalik seraya membuka mukenah yang masih ia kenakan. Dia tak melihat ada orang yang tengah berdiri di hadapannya. Adinda melangkah dan tanpa sengaja menabrak Devin karena pandangannya tertutup oleh mukenah yang belum terlepas sempurna.
Tubuh Adinda limbung. Dengan sigap Devin mendekap erat pinggang Adinda sebelum menyentuh lantai. Bak adegan di sinetron, keduanya saling tatap dengan tubuh saling membeku.
__ADS_1
Devin membantu Adinda berdiri tanpa melepas dekapan tangannya. Desiran aneh yang menjalar tiba-tiba membuat suhu di ruangan semakin memanas. Devin mendekatkan wajahnya ke arah Adinda. Seolah terhipnotis Adinda memejamkan matanya.
Entah siapa yang memulai kini b***r keduanya saling bersentuhan. Terasa kaku karena ini adalah yang pertama kali bagi keduanya. Hanya sekedar bersentuhan, namun bagi seorang amatiran sudah bisa di pastikan irama jantung keduanya berdetak tak karuan.
Devin menjauhkan wajahnya. Dilihatnya Adinda yang masih memejamkan mata dengan rona kemerahan. Devin melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas. Devin memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya kembali ke arah Adinda.
Drrtt drrtt drrtt.
Getaran ponsel di atas nakas membuat Adinda membuka matanya. Dilihatnya wajah Devin yang hanya berjarak satu inci dengan wajahnya. Refleks Adinda mendorong Devin dan memalingkan wajahnya ke samping.
"Oh s**t. Siapa sih? Ganggu aja. Bikin kepala cenat-cenut tahu gak. Haaahhh." Devin mengumpat dalam hati seraya meraih ponselnya.
Dilihatnya layar ponsel yang menampilkan nama sang kekasih. Kesal tadi yang ia rasakan kini berubah jadi sebuah senyuman. Devin melangkah menuju balkon dan tanpa ragu Devin segera mengangkat telepon yang terus berdering tiada henti.
Adinda menatap nanar punggung tegap Devin yang kini beranjak meninggalkannya. Baru saja Devin mencuri c**man pertamanya dan kini tanpa rasa bersalah Devin malah bertelepon ria dengan wanita lain. Seharusnya ia tak boleh terbuai oleh pesona seorang Devin.
Bulir bening terasa mendesak di kedua sudut netra. Gegas Adinda melangkah keluar kamar agar tak semakin lama mendengar tawa orang yang sedang kasmaran. Dihapusnya air mata yang mulai merebak tanpa bisa di tahan.
Cukup lama Devin menerima panggilan telepon dari sang kekasih. Membuat senyum terukir di wajah tampannya. Setelah panggilan telepon berakhir, Devin segera masuk ke kamarnya. Dilihatnya sekeliling namun tak ia temukan keberadaan Adinda.
Wangi masakan yang menguar seketika menusuk indera penciumannya. Devin sedikit mengernyitkan keningnya. Namun kemudian, Devin menarik kedua sudut bibirnya keatas. Kini ia tahu dimana keberadaan Adinda tanpa harus mencarinya.
Devin tertegun melihat Adinda tampak berkutat dengan peralatan dapur dengan sebuah apron yang melingkar di badannya. Rambut panjangnya digelung memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus dengan peluh yang menetes.
"Masak Din?" tanya Devin seraya mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Eh iya Dev. Tunggu sebentar, ini hampir selesai," jawab Adinda. Kemudian melanjutkan kembali aktifitas memasaknya.
Adinda menyajikan masakan yang telah selesai dibuatnya di meja makan. Dua piring nasi goreng dengan irisan sosis dan telur mata sapi ala Adinda. Serta segelas orange juice untuk Devin dan segelas air putih hangat untuk dirinya. Adinda menarik kursi dan mendudukkan dirinya berhadapan dengan Devin.
"Maaf, cuma bisa masak nasi goreng sama telur. Di kulkas gak ada bahan makanan lain," kata Adinda.
__ADS_1
"Ya gak apa-apa Din, besok kita belanja buat kebutuhan dapur. Sekalian besok kita ke rumah mama papa buat pamitan untuk langsung tinggal di sini," jelas Devin.
"Ya udah makan yuk! Aku laper banget." Adinda membaca doa dan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
Devin pun melakukan hal yang sama. Ia akui masakan Adinda sangat pas di lidahnya. Bahkan menurutnya lebih enak dari pada masakan Art di rumahnya ataupun mamanya.
Mereka makan dalam diam. Hanya sekejap kini dua porsi nasi goreng telah tandas di piring keduanya.
"Gimana rasanya Dev?" tanya Adinda setelah menenggak habis minumannya.
"Enak banget Din," puji Devin seraya mengacungkan kedua jempolnya.
"Sejak kapan bisa masak?" tanya Devin. Setahu Devin, selama Adinda tinggal di rumahnya tidak pernah sekalipun terjun ke dapur. Semua pekerjaan dilakukan oleh para Artnya
"Sejak ngontrak Dev. Bunda yang ngajarin aku masak. Kata bunda, perempuan itu harus bisa masak," jelas Adinda. Ia senang masakannya mendapat pujian dari Devin.
"Berarti bisa dong masak makanan yang lain?" tanya Devin yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Adinda.
"Kalau begitu aku pengen kamu selalu masak buat aku. Kamu gak keberatan kan?" Devin sepertinya telah jatuh cinta akan cita rasa masakan Adinda.
"Aku gak keberatan kok Dev. Ini memang sudah tugas aku. Walau aku tak di anggap istri olehmu." Adinda meneruskan kalimat terakhirnya dalam hati.
Adinda membereskan peralatan makan dan mencucinya. Kemudian menyusul Devin yang telah beranjak menuju kamarnya.
---
Hai hai hai.... Gimana nih kabarnya para readers kesayangan?
Novel ini udah sampai bab 15 loh. Viewsnya udah 400+. Jumlah yang udah lumayan banyak buat author newbi kayak aku. Tapi ada yang aneh 🤔 like n favnya dikit. Mungkinkah para pembaca novelku adalah readers ghaib? Atau novelku yang butuh banyak perbaikan?
Please tinggalkan jejak ya readers. Like, Favorit, n komennya juga ya. Biar author tambah semangat dan novel ini gak hiatus.
__ADS_1
Buat yang udah like n fav, author ucapkan banyak terima kasih. Dukungan kalian adalah mood booster buat aku.
Salam sayang buat kalian semua 😊