
Devin kembali mengantarkan Adinda pulang ke rumahnya. Netranya sesekali melirik ke arah Adinda. Devin menghela napas pelan. Ingin dia memulai pembicaraan terlebih dahulu, namun lagi-lagi Devin hanya mampu diam. Hanya suara musik yang terdengar mengalun di tengah keheningan mereka.
"Makasih ya Dev, udah mau nganterin aku pulang," kata Adinda setelah mereka sampai di halaman rumah Adinda.
"Iya, sama-sama Din," jawab Devin.
"Ya udah, aku turun dulu ya Dev. Hati-hati di jalan." Adinda bersiap membuka pintu mobil.
"Din!" seru Devin sebelum Adinda turun dari mobil. Rasanya ia masih ingin lebih lama bersama Adinda. Akhir-akhir ini hubungan mereka yang kurang baik membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama lagi.
"Iya, ada apa Dev?" tanya Adinda.
"Hmmm, selamat malam Din." Devin tak mungkin mengatakan kalau dia masih ingin berlama-lama bersama Adinda.
"Selamat malam juga Dev." Adinda tersenyum membalas ucapan Devin.
Devin kembali melajukan mobilnya perlahan setelah Adinda turun. Tak lupa Devin membunyikan klakson dan melambaikan tangannya. Adinda pun membalas lambaian tangan Devin.
Setelah mobil Devin tidak terlihat lagi dari pandangannya, ia pun berlalu menuju rumahnya. Adinda memutar kunci dan menekan handle pintu lalu membukanya. Perlahan ia melangkah masuk. Seperti biasa rumah selalu tampak sepi. Dia pun menutup pintu dan menguncinya kembali.
Adinda menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Netranya lekat memandangi langit-langit. Adegan demi adegan di pantai tadi sore berputar kembali di benaknya. Seandainya saja ... aahhh lagi-lagi Adinda hanya mampu berandai-andai.
Ia merasa bahagia sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. Bahagia karena hanya tinggal hitungan hari ia akan bersanding di pelaminan dengan laki-laki yang ia cintai. Sedih karena hubungan ini tak lebih dari kamuflase belaka.
Adinda beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Lelah hati dan lelah pikiran membuat dia memutuskan untuk berendam sejenak.
---
Sesampainya di apartemen, Devin langsung menuju ke kamar mandi karena badannya terasa sangat lengket. Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia pun membaringkan badannya.
Devin meraih ponsel di atas nakas. Dia terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dari Liona. Serta serentetan pesan yang menanyakan keberadaannya. Ponselnya ketinggalan sehingga ia tak tahu kalau Liona menghubunginya.
Ponsel Devin kembali berdering. Segera ia mengangkatnya.
"Halo Sayang. Kemana aja sih dari tadi?" Terdengar Liona menggerutu kesal di seberang telepon setelah panggilannya tersambung.
"Maaf Sayang, tadi ponselku ketinggalan," sahut Devin.
__ADS_1
"Ketinggalan? Emangnya kamu pergi kemana?" tanya Liona.
Devin membuang napas pelan. "Aku ada sesi pemotretan buat foto prewedding," jelas Devin.
"Duh senangnya yang lagi fota-foto sama calon istri. Sampai-sampai aku di lupain. Katanya sayang? Katanya cinta? Lantas mana buktinya?" Liona berdecak kesal.
"Maaf Sayang, bukannya aku mau ngelupain kamu. Kamu kan tahu sendiri aku gak bisa nolak permintaan mamaku. Maaf ya Sayang. Jangan marah gitu dong. Nanti cantiknya hilang. Gimana kalau besok pulang kantor kita jalan? Aku kangen," rayu Devin.
"Ya udah, besok jemput aku di apartemen. Aku mau shopping tapi kamu yang traktir," kata Liona.
"Iya Sayang, kan aku yang ngajak kamu jalan. Jadi, memang seharusnya aku yang traktir. Ya udah kamu istirahat, ini udah malem. Sampai jumpa besok Sayang. I love you!" Devin tersenyum membayangkan ekspresi sang kekasih. Kini dia tak perlu khawatir Liona akan merajuk.
"Iya udah, kamu juga istirahat ya Sayang. I love you too," balas Liona
Devin memutus panggilan teleponnya. Di letakkan kembali ponselnya di atas nakas. Tak butuh waktu lama ia pun berkelana di alam mimpi.
---
Keesokan harinya, sesuai janji yang telah di sepakati Devin menjemput Liona di apartemennya setelah ia pulang terlebih dahulu.
"Dev, yang mana nih yang cocok sama aku, yang merah apa yang hitam?" tanya Liona pada Devin sambil memperlihatkan kedua tas di tangannya.
"Pilih yang mana yang kamu suka, tapi kalau menurut aku nih ya, semuanya itu cocok sama kamu Sayang. Jadi, ambil saja semuanya." Devin tersenyum sambil mengusap pucuk kepala sang kekasih.
"Beneran nih? Makasih Sayang. Aku makin cinta deh sama kamu." Liona bergelayut manja di lengan Devin.
"Hmm, bukan hanya tas, kalau kamu mau baju, sepatu atau yang lainnya, aku bakal kabulin," kata Devin.
"Kamu memang kekasihku yang paling baik," puji Liona.
"Ya iyalah Lio Sayang. Memangnya selain aku, siapa lagi kekasih kamu?" Devin terkekeh pelan.
"Hmm itu, ya gak ada lah Sayang. Cuma kamu seorang yang ada di hatiku." Liona tersenyum lebar untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Dalam hati ia merutuki perkataannya. Hampir saja ia keceplosan.
"Ya udah yuk kita keliling lagi!" ajak Devin
Setelah cukup lama berkeliling dan mencari barang yang di inginkan Liona, mereka melangkah menuju kasir.
__ADS_1
"Makasih ya Sayang buat semua ini." Liona tersenyum senang. Di meja kasir kini berjejer beberapa paperbag yang berisi barang belanjaan Liona.
"Iya Sayang, apa sih yang gak buat kamu?" Devin balas tersenyum sambil menjawil dagu kekasihnya.
Devin menyerahkan kartu sakti pada kasir setelah seluruh belanjaan selesai di total. Setelah transaksi selesai, Devin mengambil paperbag tersebut dan membawanya.
"Aku aja Dev yang bawa. Masa udah di bayarin, terus aku masih ngerepotin kamu." Liona hendak meraih paperbag di tangan Devin, tapi Devin malah membawa tangan Liona dalam genggamannya.
"Gak apa-apa Sayang. Biar aku aja yang bawain." Devin tidak mengijinkan Liona mengambil alih paperbag yang di tentengnya.
Liona bersorak dalam hati. Ternyata semudah ini membodohi seorang Devin. Laki-laki yang sangat piawai dalam berbisnis tenyata begitu b***h dalam urusan cinta.
Liona menyesali keputusannya. Kenapa tidak dari dulu ia memanfaatkan Devin. Ia tahu Devin menyukainya sejak mereka masih berseragam putih abu-abu. Namun, gaya hidup Liona yang selalu serba mewah menjadikan ia menolak cinta Devin yang pada saat itu bisnis orang tua Devin kalah jauh dari bisnis keluarganya.
Selesai dengan urusan shopping, mereka menuju sebuah restoran untuk mengisi perut. Setelah itu Devin kembali mengantar Liona ke apartemennya.
"Masuk dulu Sayang!" Liona mengajak Devin untuk masuk ke dalam apartemennya.
Devin tersenyum dan mengikuti langkah kaki Liona yang masuk ke dalam.
"Sebentar ya Sayang, aku ambil minuman dulu." Liona pun berlalu menuju dapur.
Tak lama kemudiaan Liona kembali dengan dua kaleng minuman dingin di tangannya.
"Dev, aku tahu kamu gak bisa nolak keinginan orang tua kamu, tapi aku punya ide supaya pernikahan kalian batal." Liona tersenyum.
"Ide apa Sayang?" tanya Devin.
"Buat aku hamil!" seru Liona menawarkan ide gilanya.
"Ngaco kamu Lio. Aku gak mau melakukan itu sebelum menikah," tolak Devin. Ia tak habis pikir, bisa-bisanya Liona mengusulkan ide gila tersebut.
"Berarti kalau kamu udah nikah sama Adinda, kamu mau ngelakuin itu sama dia?" tanya Liona.
"Liona Sayang. Aku kan sudah bilang kalau ini hanya pernikahan sementara yang terikat perjanjian hitam di atas putih. Aku dan Adinda gak akan terlibat masalah ranjang, itu salah satu poin perjanjiannya," kata Devin
Devin memberitahu poin-poin perjanjian pernikahan kontraknya pada Liona. Meski Liona sempat protes karena setelah menikah Devin akan membawa Adinda untuk tinggal di apartemennya. Liona khawatir, Devin tiba-tiba khilaf. Namun, Devin bisa meyakinkan Liona bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan. Meskipun Devin sendiri tidak tahu apakah dia bisa menepati janjinya.
__ADS_1