Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 33


__ADS_3

POV Adinda


Aku pergi meninggalkan kantor Devin dengan perasaan yang entah. Ingin sekali aku marah karena Devin membentakku dan tak mau mendengar penjelasanku. Selama aku mengenal Devin, baru kali ini dia bersikap kasar padaku. Semarah-marahnya Devin, tak pernah ia sampai tega meneriakiku.


Secara status, akulah yang seharusnya di bela, bukan Liona. Aku adalah istri Devin yang sah, baik secara hukum maupun agama. Sedangkan Liona hanya sebatas kekasih yang seharusnya mundur ketika Devin sudah mengikat janji suci dengan wanita lain.


Bukannya aku egois mengklaim Devin sebagai milikku, karena memang itu faktanya. Jujur, aku lelah menjalani rumah tangga yang penuh dengan kepura-puraan.


"Pak, ojek Pak," ucapku pada si bapak tukang ojek yang mangkal di seberang perusahaan.


"Ayok Neng, ini helmnya dipakai dulu," katanya seraya menyerahkan helm untuk aku kenakan.


Segera aku naik ke atas motor matic milik si bapak tukang ojek. Motor pun mulai melaju meninggalkan pangkalan. Jangan berharap Devin akan lari terbirit-birit untuk mengejarku, karena itu mustahil. Air mata ini pun rasanya sudah kering dan enggan menetes.


"Maaf Neng, ini mau kemana?" tanya si bapak tukang ojek yang kini aku tumpangi.


Aku tersentak dari lamunanku. Padahal saat ini aku lagi naik motor, bukan mobil. Bisa-bisanya aku menjelajah dalam dunia lamunan, kalau jatuh bagaimana? Kan sakit.


"Ke TPU Taman Indah ya, Pak," jawabku.


"Mampir dulu di toko bunga ya, Pak," sambungku.


"Baik, Neng," kata si bapak tukang ojek.


Tak lama kemudian, motor matic itu berhenti di sebuah toko bunga. Aku turun dan masuk ke toko untuk membeli bunga yang biasa di tabur di makam serta air mawar sebagai pelengkapnya.


Motor pun kembali membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Beberapa saat kemudian kami pun sampai, si bapak menghentikan motornya di luar pemakaman. Aku turun dan melepas helm yang aku kenakan. Kemudian mengembalikannya pada si bapak tukang ojek.


"Pak, bisa tunggu saya? Saya hanya sebentar saja," pintaku


"Iya, gak apa-apa, Neng. Bapak tunggu di warung itu ya," kata si bapak seraya tangannya menunjuk warung di seberang jalan.

__ADS_1


"Baik Pak, kalau begitu saya masuk dulu," kataku yang dibalas anggukan oleh si bapak.


Aku melangkah masuk ke area pemakaman. Seminggu yang lalu aku bertemu dengan ayah di tempat ini. Ayah berjanji akan mengunjungiku sebulan sekali, tapi sekarang aku sudah sangat merindukan ayah. Apakah ayah di sana juga merindukanku?


"Assalamualaikum, Bunda," sapaku pada gundukan tanah di hadapanku.


Aku berjongkok dan mulai berdoa. Setelah selesai, aku mulai bercerita seperti saat Bunda masih hidup, saat beliau dengan setia mendengarkan setiap keluh kesahku. Sesekali aku memungut dedaunan yang jatuh dari pohon cempaka.


Mentari memancarkan cahayanya yang terik. Panasnya seakan menembus ubun-ubun. Aku segera bangkit dan berpamitan pada bunda untuk meninggalkan tempat ini. Selain sudah merasa kepanasan, aku juga tak ingin membuat si bapak tukang ojek terlalu lama menungguku.


Aku melangkah meninggalkan area pemakaman. Kemudian menghampiri si bapak yang tengah ngopi di warung seberang. Gegas si bapak menghabiskan kopinya yang hanya tinggal separuh. Kemudian kami kembali naik motor untuk menuju panti asuhan tempat bunda dulu dirawat dan dibesarkan.


Dari kejauhan kulihat anak-anak panti sedang bermain di bawah rindangnya pepohonan. Motor pun berhenti di pinggir jalan. Aku turun dan membayar ongkos yang sengaja aku lebihkan, sebagai ungkapan terima kasihku karena si bapak mau di repotkan olehku.


"Assalamualaikum Adik-adik," seruku ketika sudah sampai di dekat mereka.


"Waalaikumsalam Kak Adinda," jawab mereka antusias, satu persatu mereka berhambur menjabat tanganku.


"Kami kangen banget loh sama Kakak."


"Iya nih, kangen banget."


Aku hanya tersenyum menanggapi celotehan yang mereka ucapkan. Dulu, aku memang sering berkunjung ke tempat ini setiap ada kesempatan. Sejak aku bekerja sendiri, aku selalu menyisihkan hasil jerih payahku untuk mereka. Namun, semenjak bunda meninggal, aku belum sempat menyambangi panti asuhan ini. Bahkan, sekarang aku berkunjung hanya membawa diri.


"Maafin kakak ya Adik-adik. Kakak baru sempat datang berkunjung. Maaf juga ya, kedatangan Kakak kali ini tanpa buah tangan," sesalku


"Gak apa kok Kak. Kakak datang saja, kami sudah senang," jawab Arsilia, salah satu anak panti yang di angguki oleh anak-anak yang lain.


"Oh ya, nenek Hanum ada?" Aku menanyakan keberadaan ibu panti pada mereka.


"Ada Kak, ada di dalam," jawab mereka serempak yang membuatku tersenyum akan kekompakan mereka.

__ADS_1


"Ya sudah ya, Kakak masuk dulu, mau menemui nenek Hanum," pamitku pada mereka.


Aku melangkah menuju ke dalam sebuah bangunan rumah yang begitu luas dengan banyak kamar di sana sini. Aku melangkah masuk setelah mengucap salam. Tak kutemui seorang pun di ruang tamu. Aku menuju dapur, dimana aku mendengar obrolan para orang dewasa.


"Assalamualaikum," sapaku yang membuat obrolan mereka terhenti.


Di dapur ini ada nenek Hanum dan kedua anaknya, bunda Aira dan bunda Aisyah. Serta mbak Melda dan mbak Feli, anak dari bunda Aira. Bunda Aisyah sendiri memiliki satu orang anak laki-laki yang kini tengah kuliah di luar kota. Mereka sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan malam nanti.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Aku melangkah menghampiri mereka dan menyalami mereka satu persatu. Kemudian ikut bergabung bersama mereka.


Tanpa terasa hari sudah semakin sore. Nenek Hanum memintaku untuk ikut makan malam bersama. Aku pun mengiyakan karena memang sudah lama aku tak merasakan masakan panti.


Sengaja aku tak memberi tahu Devin karena hatiku masih kesal. Lagipula dia tak akan merasa kelaparan karena masih ada makanan yang tinggal dihangatkan saja. Kalaupun ia tak selera, ya tinggal beli saja.


Aku pulang setelah selesai sholat isya berjamaah. Seandainya saja Devin memarahiku karena pergi tanpa pamit lalu pulang hingga malam, tinggal abaikan saja.


Aku membuka pintu apartemen, seketika netraku menatap sosok Devin yang tengah duduk di sofa menghadap televisi. Aku teramat lelah untuk berdebat. Gegas aku menuju kamar tanpa menoleh ataupun menyapa.


Terdengar langkah kaki yang mengikutiku, namun aku tak peduli. Aku menuju lemari untuk mengambil pakaianku. Aku sudah mandi di panti, tapi tak nyaman rasanya jika tak berganti pakaian. Kemudian aku melangkah menuju kamar mandi.


"Din," panggil Devin.


Aku berhenti dan menoleh sekilas. Lalu kuteruskan langkahku menuju kamar mandi. Terserah Devin mau berpikir apa tentangku. Aku benar-benar lelah dan butuh istirahat.


Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama. Kulihat Devin duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya. Aku pun melangkah ke tempat tidur untuk mengistirahatkan diri. Aku berbaring miring dan memunggunginya.


Devin turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Kulirik dari ekor mataku Devin tengah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Tak lama kemudian ada pergerakan di ranjang. Tanpa diduga tangan kekar itu melingkar di perutku.


"Maaf," bisiknya.

__ADS_1


Aku tetap pura-pura tidur. Kudengar helaan napas Devin. Tak butuh waktu lama kini Devin sudah terlelap. Aku pun mencoba memejamkan mata ini. Aku hanya berharap semoga hari esok jauh lebih baik lagi.


__ADS_2