
Waktu terus bergulir, hari berganti hari tanpa terasa. Hari pernikahan pun semakin dekat. Tak ada kesibukan yang berarti yang dilakukan kedua belah pihak, semua persiapan pernikahan diserahkan pada pihak WO. Baju pengantin sendiri, sudah selesai dibuat.
Namun, lain halnya dengan Adinda. Di saat mempelai wanita seharusnya di pingit, Dia justru masih sibuk bekerja. Padahal Intan sudah mewanti-wanti Adinda untuk istirahat saja. Namun, Adinda tetaplah Adinda. Mana bisa ia mengabaikan permintaan para pelanggan.
Seperti biasa kalau sudah terlalu fokus sama pekerjaan, jam makan siang pun tak ia hiraukan. Tangannya masih bergerak aktif mencorat-coret kertas. menghasilkan desain pakaian sesuai pesanan.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum." Intan mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum ia melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adinda.
"Waalaikumsalam." Seketika atensi Adinda beralih pada sesosok wanita yang kini berjalan menuju sofa di dalam ruangannya.
"Pasti belum makan, kan? Istirahat dulu! Mama gak mau kalau sampai anak Mama yang satu ini sakit." Intan mulai menata makanan yang ia bawa di meja.
"Iya Tante." Adinda meletakkan pensil yang di pegangnya. Ia berdiri dan menuju sofa.
"Loh, kok masih manggil Tante? Mama dong sayang! Kan sebentar lagi kamu jadi anak Mama." Intan mulai membiasakan Adinda untuk memanggilnya dengan panggilan mama.
"Eh, maaf Ma." Adinda tersenyum. Membayangkan statusnya sebentar lagi yang akan berubah menjadi seorang istri membuatnya tersipu.
Istri....
__ADS_1
Huft... Kata-kata istri yang sebentar lagi di sandangnya membuat batinnya menjerit pilu. Seandainya gelar seorang istri yang akan di sematkan padanya bukan hanya di atas kertas, tentunya kebahagiaan yang dirasakannya bukanlah angan belaka. Namun sayang, sepertinya tidak mudah merubah pandangan seorang Devin bahwa masih ada wanita yang lebih layak menerima cintanya.
Biarlah ia akan menjalani takdir hidupnya. Mengikuti kemana arus akan membawanya. Meski ia tak munafik, bahwa harapan itu selalu ia gaungkan dalam setiap sujud dan doanya. Berharap mengais kebahagiaan dalam rumah tangganya kelak dan berharap masih ada cinta yang tersisa untuknya. Agar ia bisa turut mengecap manisnya madu tanpa hadirnya seorang madu.
Selesai makan siang, Intan menunjukkan contoh desain kertas undangan yang dibawanya. Adinda menatap kagum desain kertas undangan tersebut. Pilihan sang mertua memang selalu sempurna. Apalagi nanti nama mempelai akan tertera namanya dan sang calon suami.
Suami...
Lagi-lagi Adinda tersenyum getir. Rumah tangga seperti apa yang akan dijalaninya kelak? Jika seseorang yang di gadang-gadang menjadi calon imamnya mempunyai kekasih dan yang jelas bukan dirinya.
"Besok lusa kalian foto prewedding ya Sayang. Biar kertas undangan pernikahan kalian makin kece badai. Pasangan yang sangat serasi, yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik." Intan tersenyum dan menatap Adinda yang tersipu malu.
Intan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. "No no no. Mama gak mau ada penolakan. Pernikahan kalian kan masih kurang dua minggu lagi. Jadi, Masih cukup waktu Sayang. Lagian mereka semua itu adalah orang yang sudah benar-benar ahli di bidangnya," jelas Intan
"Iya Ma." Akhirnya Adinda pun pasrah. Apapun keputusan Intan dia yakin adalah yang terbaik untuknya.
---
Sementara itu di belahan bumi yang berbeda seorang pria paruh baya duduk termenung di kursi kebesarannya. Di tangan kirinya ada sebuah foto yang ia genggam dan digenggaman tangan kanannya sebuah ponsel yang menunjukkan foto seorang gadis yang dikirim oleh informannya.
Netranya tak pernah lepas memandangi foto wanita cantik yang masih menguasai hatinya. Membandingkannya dengan foto si gadis yang ada di ponselnya. Foto tersebut bak pinang dibelah dua.
__ADS_1
"Seharusnya aku mencarimu lebih awal. Bodohnya aku mempercayai perkataan mereka yang menganggapmu tiada. Fakta baru yang aku dapatkan membuatku sangat menyesal. Kini, kamu benar-benar pergi untuk selamanya. Bagaimana kabar anak kita? Dia terlihat sangat cantik sama sepertimu. Aku berjanji akan menjaganya. Seandainya ia memintaku untuk membawanya pergi maka aku akan membawanya. Namun, untuk sekarang aku hanya bisa menatapnya dalam diam. Ada saatnya nanti aku kembali muncul ke permukaan." Pria itu mengusap lelehan bulir bening di pipinya.
Laki-laki adalah makhluk yang kuat. Laki-laki juga tak boleh menangis. Namun, laki-laki juga manusia yang juga memiliki segudang stok air mata.
"Mengapa rasanya sakit sekali?" Pria itu memukul- mukul dadanya. Berharap mengurangi rasa sesak yang menggelayut di hatinya.
Salahkah ia jika kini menangisi belahan jiwanya yang telah benar-benar meninggalkannya? Menangisi ketidak berdayaannya untuk menemui putri semata wayangnya? Padahal seharusnya ia berada di samping putrinya. Meluapkan kasih sayang yang tak pernah ia berikan. Mengucapkan kalimat ijab untuk membagi tanggung jawab pada sosok pujaan hati putrinya.
Namun, semuanya masih terasa rumit. Ia harus lebih dulu mengurai benang kusut yang terjadi di masa lalu. Biarlah ia menjaga putrinya dari kejauhan. Memberikan perlindungan walau tanpa bertatap muka.
"Seandainya kau tak bahagia bersamanya, maka ayah akan membawamu pergi jauh. Tak akan ayah biarkan seorang pun menyakiti putri ayah." Tangannya mengusap foto yang terpampang di layar ponselnya. Dia tak ingin kehilangan putri semata wayangnya lagi. Namun, untuk saat ini masih terlalu banyak permasalahan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum ia menemui putrinya.
---
Hello para readers kesayangan. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, aamiin.
Ini adalah novel pertamaku. Jadi, mohon maaf apabila ada typo and kata-kata yang kurang berkenan. Maklum masih newbi 😊 masih harus banyak belajar.
Novel ini udah sampai bab 6 loh. Tapi kok masih sepi 😢 jadi sedih aku tuh. please like dan favorit biar author tambah semangat lagi. Dan komennya juga ya, supaya author tahu apa yang harus di perbaiki.
Salam sayang banyak-banyak buat para readers 🥰🥰
__ADS_1