Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 42


__ADS_3

POV Adinda


"A-aku hamil." Aku menatap nanar benda kecil pipih yang kini ada di genggamanku.


"Enggak, gak mungkin." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku masih tak percaya dengan bukti nyata di tanganku.


Kuambil lagi satu strip testpack lalu mencelupkannya kembali ke dalam urine yang sudah kutampung dalam wadah bersih. Namun, lagi-lagi hasilnya sama. Merasa masih belum puas, kuulangi kembali. Kali ini bukan hanya satu, namun semua sisa testpack yang berjumlah delapan itu kucelupkan bersamaan.


"Ya Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" lirihku.


Aku menatap semua testpack di tanganku dengan perasaan yang bercampur aduk. Badanku luruh ke lantai dengan tangis tertahan. Bukannya aku tak menginginkan ada kehidupan lain dalam tubuh ini. Aku bersyukur, sangat bersyukur, hanya saja untuk saat ini aku belum siap. Apalagi kondisi psikisku masih belum sepenuhnya stabil. Aku masih trauma dengan kejadian itu.


Bagaimana caranya aku menyembunyikan kehamilanku pada Devin? Perut ini akan semakin membesar seiring usia kehamilanku yang terus bertambah. Aku tak ingin Devin mengetahuinya dan menjadikannya alasan untuk mengikatku kembali. Aku tak ingin terjerat lagi oleh rasa cinta yang hanya membuatku terluka.


Gegas aku mengguyur badan ini. Biarlah semua itu aku pikirkan nanti. Untuk saat ini biarlah ini menjadi rahasia pribadi.


Saat sarapan bersama, entah mengapa selera makanku menguap begitu saja. Makanan yang terlihat lezat di piringku hanya kuaduk-aduk tanpa ada niat mencicipinya. Pikiranku menerawang jauh, entah bagaimana akhirnya aku menjalani kehamilanku tanpa seorang suami. Jika kebanyakan wanita di luar sana hamil setelah menikah, tapi lain halnya denganku yang hamil setelah berpisah.


"Loh, kok belum dimakan, Sayang?" tanya opa saat menyadari isi piringku masih utuh.


Aku tersentak dari lamunanku. Kulihat mereka memandangku penuh tanya. Aku tersenyum ke arah mereka. Apa aku harus memberitahu mereka akan kehamilan ini? Karena tak mungkin aku menyembunyikannya dari mereka terlalu lama.


"Ada apa, hmm? Apa ada yang mengganggu pikiran cucu Oma yang cantik ini?" tanya oma seraya mengelus surai panjangku yang tergerai.


"Tidak ada, Oma," jawabku. Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan.


"Kalau begitu, makanlah. Ayah tidak ingin kamu sakit lagi," kata ayah.

__ADS_1


"Iya, Ayah." Pada akhirnya makanan di piring ini aku makan karena tak ingin mubadzir. Aku menyuap sedikit demi sedikit makanan ini ke mulutku. Terasa hambar saat pikiran melanglang buana tak tentu arah.


Setelah sarapan, aku memutuskan untuk kembali istirahat di kamar. Entah mengapa badanku akhir-akhir ini terasa cepat lelah. Apa ini karena efek dari kehamilanku? Aku tersenyum seraya mengelus perutku yang masih rata.


Tok tok tok


Ketukan di pintu kamarku seketika mengalihkan atensiku dari pikiran tentang kehamilan ini.


"Sayang, boleh Oma masuk?" tanya oma.


"Iya, Oma, sebentar." Aku berjalan menuju pintu. Sengaja pintu aku kunci karena aku masih takut Devin bertindak nekat saat tak ada orang di rumah ini.


Aku membuka pintu dan menggeser sedikit badanku. Aku mempersilahkan oma masuk ke kamar ini. Oma melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada di kamarku. Aku pun turut mendudukkan diriku di samping oma.


"Sayang, Oma tahu, pasti ada yang sedang kamu pikirkan. Coba kamu cerita sama Oma. Oma siap jadi pendengar setia," bujuk oma.


"Jadi, kamu hamil?" tanya oma. Aku mengangguk dan berhambur ke pelukan oma.


"Apa yang harus Adin lakukan Oma? Adin belum siap hamil, tapi Adin juga tidak ingin melakukan aborsi." Air mata ini pun tak sanggup lagi kutahan.


"Hust, ngomong apa kamu ini? Tidak boleh ada yang namanya aborsi, dosa. Kamu jangan khawatir, Sayang. Ada Oma, ayah dan opa yang akan selalu ada untukmu. Jadi, jangan pernah punya pikiran untuk menggugurkan kandunganmu. Oma sudah lama tidak mendengar tangisan bayi di rumah ini." Oma melerai pelukannya dan mengusap air mata yang masih mengalir di pipiku.


Aku tersenyum senang. Aku merasa beruntung, di saat aku terpuruk masih ada orang-orang yang begitu menyayangiku. Apalagi oma, bisa dikatakan beliau adalah orang yang akan selalu ada dalam suka dan dukaku.


Setelah seharian aku hanya berdiam diri di kamar, aku memutuskan untuk jalan-jalan sore di taman sebentar untuk menghirup udara segar. Segera aku menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


Namun, baru saja aku masuk ke kamar mandi tiba-tiba aku merasa pusing, kepala ini terasa berputar. Badanku terasa lemas tak bertenaga. Aku meraba-raba dinding untuk mencari pegangan. Makin lama rasa sakit ini makin tak tertahankan. Pada akhirnya badanku limbung di dinginnya lantai kamar mandi.

__ADS_1


Saat aku membuka mata, tampak ruangan ini dengan warna putih yang mendominasi. Wangi obat-obatan menguar memenuhi indera penciumanku.


"Sayang, sudah sadar," tanya oma.


Oma kemudian menekan tombol yang berada di dinding samping brangkar untuk memanggil dokter. Aku mencoba untuk duduk, tapi kepalaku masih terasa berdenyut nyeri.


"Sayang, sini Oma bantu." Oma membantuku untuk duduk dari rebahanku.


"Terima kasih, Oma," ucapku lemah. Rasanya aku tak punya tenaga hanya untuk sekedar berkata-kata.


Tak lama kemudian seorang dokter laki-laki masuk ke ruangan ini. Dia tersenyum padaku, kemudian mulai memeriksa kondisiku.


"Bagaimana Dok, keadaan cucu saya?" tanya oma pada dokter yang kuketahui bernama 'Ivan Nickolas Pradana' dari name tag di pakaian kebesarannya.


"Kondisinya sudah lumayan membaik, tapi sebaiknya rawat inap dulu untuk beberapa hari," jawab dokter Ivan, "Jangan terlalu banyak pikiran agar kesehatannya cepat pulih," pesan dokter Ivan padaku.


Dokter Ivan memandangku dengan pandangan yang entah. Aku menunduk tak ingin terlalu lama bersitatap dengan dokter yang memiliki garis wajah yang membuat kaum hawa meleleh. Rahang tegas, alis tebal, jambang tipis, serta bibir tebal nan merah muda yang terlihat menggoda di mataku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran yang mulai terkontaminasi ketampanan salah satu ciptaan Tuhan di hadapanku.


"Kenapa, apa ada yang sakit?" tanya dokter Ivan cemas.


Aku mendongakkan kepalaku. Dokter Ivan memandangku dengan senyuman yang begitu menawan. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.


"Ehem." Aku menoleh pada oma yang berdehem. Hampir saja aku melupakan keberadaan oma di ruangan ini. Kulihat oma tersenyum penuh arti. Pasti oma berpikir aku menyukai dokter Ivan karena terlihat salah tingkah. Oh, tentu saja tidak!


"Oma tinggal dulu ya, Sayang. Oma mau cari makan sebentar. Ayah dan opa masih di jalan, sebentar lagi sampai," kata oma setelah dokter Ivan keluar beberapa saat lalu.


Aku mengangguk mengiyakan. Aku mencoba memejamkan mataku setelah oma berlalu dari ruangan ini. Namun, tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang berderit. Aku membuka mata dan menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


"Kamu ...."


__ADS_2