Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 71


__ADS_3

Tahun demi tahun berlalu, banyak hal yang terjadi dalam kehidupan Adinda. Adinda kehilangan satu persatu anggota keluarganya karena tutup usia. Lima tahun pertama merupakan masa-masa tersulit dalam hidupnya.


Devin masih setia menunggu Adinda membuka kembali hatinya. Namun, Adinda masih tak ada keinginan untuk kembali menjalin suatu hubungan dengan lawan jenis. Suka dan duka ia lewati bersama putrinya semata, cukup bersama putrinya.


Urusan hotel dan salon kecantikan milik keluarganya, Adinda serahkan pada orang-orang kepercayaan almarhum ayah Fathan. Adinda sendiri mulai kembali merintis karirnya. Bahkan dua tahun terakhir ini, Adinda sudah mulai membuka cabang di beberapa daerah.


Drrttt drrtt drrtt...


Adinda menghentikan aktivitas menggambarnya. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja kerjanya. Dilihatnya nama pemanggil yang ternyata dari sekolah Vina.


"Ada apa ya?" gumam Adinda seraya menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas.


"Halo, assalamualaikum Bu," sapa Adinda ketika panggilan itu terhubung.


"Baik Bu, saya segera ke sana." Adinda menghembuskan napas panjang. Ini bukan yang pertama kalinya ia mendapat panggilan dari pihak sekolah jika anaknya membuat ulah.


"Widi, tolong kamu handle butik sebentar. Saya masih ada urusan," titah Adinda pada asistennya.


"Baik, Bu," jawab Widi.


Gegas Adinda melajukan mobilnya menuju sekolah dasar tempat Vina menimba ilmu. Tak berapa lama kemudian, ia sudah sampai di sekolah Vina. Dengan langkah lebar ia menuju ruangan kepala sekolah.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum, permisi," sapa Adinda.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di ruangan serempak.


"Mari Bu, silahkan masuk." Ibu kepala sekolah mempersilahkan Adinda masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan duduk Bu," ucap ibu kepala sekolah.


"Baik Bu, terima kasih." Adinda mendudukkan dirinya di kursi yang berbataskan meja dengan kepala sekolah, sedangkan kursi di sebelahnya sudah bisa dipastikan adalah orang tua dari anak yang katanya adalah korban.


"Maaf Bu, kalau boleh tahu, kali ini anak saya terlibat dalam masalah apa Bu?" tanya Adinda. Ia melirik Vina yang duduk seraya menundukkan kepalanya di sofa.


"Vina--"


"Anak Ibu itu sudah bikin kepala anak saya terluka. Dia sudah melempari anak saya dengan batu. Lihatlah!" Ibu anak laki-laki itu memotong ucapan kepala sekolah. Ia menunjuk anaknya yang sedang duduk di sisi sofa yang lain dengan pelipis yang di plester.


"Maaf Bu, jika anak saya sudah berbuat salah. Namun, saya sebagai ibunya sungguh sangat mengenal bagaimana anak saya. Dia tidak akan membuat ulah jika dirinya tidak salah." Kepala sekolah hanya mengangguk mengiyakan ucapan Adinda.


"Jadi, Ibu ini mau bilang kalau yang salah itu anak saya, begitu?" dengus ibu dari anak laki-laki yang bernama Rio itu.

__ADS_1


"Maaf Bu, saya tidak bermaksud menuduh anak Ibu yang telah berbuat salah. Sebaiknya kita tanyakan langsung pada anak-anak kita," saran Adinda.


"Tanyakan saja. Paling anak Ibu itu tidak akan mau mengakui kesalahannya," cibir ibu yang sudah seperti toko emas berjalan itu.


"Maaf Ibu kepala sekolah, saya mau ke Vina dulu," pamit Adinda.


"Oh ya Bu, silahkan," jawab ibu kepala sekolah.


Adinda beranjak menghampiri Vina. Diusapnya rambut putrinya itu penuh sayang. Vina mengangkat wajahnya dan melihat bundanya sedang tersenyum ke arahnya.


"Vina, Sayang, coba Vina jelaskan sama Bunda. Kenapa Vina sampai membuat temannya terluka?" tanya Adinda lembut.


"Vina lagi duduk-duduk sendiri di taman, Bunda. Tiba-tiba ada yang melempar bola. Lihat! Kening Vina juga memar, tapi Vina tidak cengeng." Vina menunjuk keningnya yang memerah.


"Sakit ya, Sayang? Sudah diobati?" tanya Adinda cemas.


"Sudah Bunda, jangan khawatir," ucap Vina.


"Oh ya, terus bagaimana selanjutnya?" tanya Adinda. Ia ingin tahu kejadian yang sebenarnya.


"Terus Rio datang bukannya minta maaf sudah melempar bola sembarangan, eh malah bilang kalau Vina gak punya ayah. Vina jadi kesel, Bunda. Bukannya Bunda sering bilang kalau kita salah, segeralah meminta maaf. Terus siapa bilang kalau Vina gak punya ayah," jelas Vina panjang lebar. Sesekali ia melirik kesal pada anak laki-laki yang duduk di sisi sofa yang lain.


"Terus kenapa kamu sampai melempar anak saya dengan batu? Coba kamu menghindar, kan anak saya tidak akan terluka sampai seperti itu," geram si ibu.


"Kamu--"


"Sudah-sudah. Bagaimana kalau kita tanyakan pada Rio." Ibu kepala sekolah memotong ucapan ibunya Rio. "Rio, apa benar yang Vina sampaikan barusan?" tanya ibu kepala sekolah.


Rio hanya mengangguk dengan kepala tertunduk. Setelah melalui proses perdebatan yang cukup panjang, akhirnya masalah di sekolah Vina bisa diselesaikan dengan baik.


...----------------...


"Sayang, kenapa makanannya hanya dilihatin terus? Dimakan dong, Sayang," ucap Adinda saat melihat makanan di piring Vina belum tersentuh sama sekali.


"Vina tidak lapar, Bunda," jawab Vina.


"Vina sayang, Vina harus makan ya biar tidak sakit," bujuk Adinda.


Ting tong...


"Sebentar ya, Bunda ke depan dulu," pamit Adinda. Kemudian ia beranjak untuk melihat siapa yang datang bertamu pada malam hari.


"Assalamualaikum," sapa Devin saat pintu terbuka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Silahkan masuk Dev. Vina ada di ruang makan." Adinda menepi dan membiarkan Devin melangkah menuju tempat di mana Vina berada.


"Assalamualaikum, anak Ayah," sapa Devin.


"Waalaikumsalam, Ayah," balas Vina. Kemudian ia meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangannya.


"Loh, kenapa makanannya belum dimakan?" tanya Devin yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Vina.


"Ayah suapin ya?" tawar Devin lembut.


Vina mengangguk mengiyakan. Tak apa ia dikatakan anak manja sebab pekerjaan ayahnya akhir-akhir ini sangat menyita waktu, sehingga sudah lebih dari dua bulan ia tak bertemu dengan ayahnya.


"Kamu makan juga, Dev," ucap Adinda.


"Sebenarnya aku kangen masakanmu Din, tapi aku baru saja menghadiri jamuan salah satu kolega bisnisku yang ada di kota ini. Maaf ya Din," sesal Devin.


"Gak apa-apa kok, Dev," jawab Adinda.


"Wah, anak Ayah pintar," puji Devin saat suapan terakhir mendarat sempurna di perut mungil putrinya.


"Makasih, Ayah." Vina memamerkan deretan giginya yang berjajar rapi.


"Din, aku pamit ya," pamit Devin.


"Loh, sudah mau pulang?" tanya Adinda.


" Iya, besok pagi aku ada meeting," jelas Devin.


"Oh." Adinda hanya beroh ria. Adinda beranjak menuju dapur dengan membawa bekas makan malam mereka.


"Sayang, Ayah pamit ya." Devin mengusap rambut panjang Vina yang tergerai.


"Pantas saja teman-teman Vina sering bilang kalau Vina gak punya ayah. Ayah pulang cuma sebentar, terus pergi lagi. Padahal Vina masih kangen sama Ayah." Vina menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayah kan harus kerja." Devin juga sangat merindukan putrinya, namun ia tak bisa berlama-lama sebab banyak pekerjaan yang menanti esok hari.


"Ayah sibuk terus. Ayah sudah gak sayang lagi sama Vina," ucap Vina serak.


"Kata siapa Ayah tidak sayang sama Vina? Ayah sayang banget loh sama Vina, tapi besok pagi Ayah ada meeting Sayang," jelas Devin.


"Kalau begitu, bisakah Ayah tetap tinggal? Seperti teman-teman Vina yang kadang hampir setiap hari berangkat sekolah diantar oleh ayahnya yang akan berangkat bekerja. Vina juga pengen merasakan hal itu Ayah," ucap Vina seraya terisak.


"Ya Rabb, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" batin Devin dilema.

__ADS_1


__ADS_2