Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 14


__ADS_3

Hening, hanya terdengar suara detak jam dinding yang jadi irama. Tak ada satu patah pun yang keluar dari lisan keduanya. Kecanggungan kembali melanda di antara mereka. Tak ada yang berani memulai percakapan terlebih dahulu. Mereka sama-sama mempertahankan egoisme diri yang entah apa untungnya.


Candra sudah pamit pergi beberapa menit yang lalu. Kini, hanya tinggal Adinda dan Devin yang hanya berdua di dalam ruangan itu. Devin masih betah duduk di sofa yang ia duduki sejak adegan adu tatap dengan Candra, sedangkan Adinda memilih kembali ke kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Waktu terus bergulir tanpa terasa. Sesekali Devin melirik arloji di tangannya. Jam pun sudah hampir mendekati angka lima. Dilihatnya Adinda yang masih bergeming di tempatnya.


Seharusnya hari ini mereka menghabiskan waktu cuti. Jika Devin di beri cuti seminggu oleh papanya, lain halnya dengan Adinda yang bekerja di butiknya sendiri. Lalu lihatlah sekarang, bahkan Adinda tak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Padahal baru kemarin mereka melangsungkan pernikahan.


"Din, kita pulang sekarang!" tegas Devin berkata.


Adinda mendongakkan kepalanya. Tanpa banyak kata ia segera merapikan meja kerjanya. Meraih tas di atas meja. Kemudian melangkah keluar dari ruangannya melewati Devin begitu saja.


Devin hanya bisa melongo menyaksikan sikap Adinda yang begitu dingin padanya, sedangkan dengan mantannya justru bisa tertawa dengan ceria. Devin merasa kesal jika mengingat kejadian tadi, tapi Devin bersyukur karena Adinda masih mau mendengarkan ucapannya. Walau tak ada sepatah kata pun yang terucap sebagai balasannya.


Lagi-lagi perjalanan mereka di sertai keheningan. Devin menghela napas panjang. Sesekali diliriknya Adinda yang lebih memilih menghadap jendela.


"Din!" seru Devin. Dia benar-benar tidak tahan jika terus didiamkan.


"Hemm." Adinda hanya berdehem. Malas rasanya mengeluarkan banyak kosa kata jika ujung-ujungnya memancing pertikaian.


"Seharusnya sekarang kita masih menghabiskan paket bulan madu di hotel dan setelahnya kita pulang kerumah mama. Sekalian menginap untuk beberapa hari sebelum pindah ke apartemen," kata Devin.


"Namun, berhubung kita sudah check out lebih awal, jadi hari ini kita tinggal di apartemen saja. Aku gak mau mama papa curiga." sambungnya.


Adinda menolehkan kepalanya ke arah Devin yang tengah fokus mengemudi. Setahu Adinda apartemen milik Devin hanya mempunyai satu kamar tidur. Lantas ia harus tidur dimana? Tidak mungkin kan mereka tidur bersama.


Devin memarkirkan mobilnya di basement. Devin menurunkan koper Adinda dari bagasi dan membawanya, sedangkan Adinda menenteng tas seraya mengekori langkah Devin.


"Dev, aku tidur di mana?" Akhirnya setelah lama terdiam Adinda kini membuka suara.

__ADS_1


"Tidur di kamarku," kata Devin dengan jari telunjuk mengarah ke kamarnya. Devin terus melangkah menuju ke kamarnya seraya menyeret koper Adinda.


"Terus kamu tidur di mana Dev kalau aku tidur di sini?" tanya Adinda. Adinda meletakkan tas yang dibawanya di atas ranjang.


"Aku juga tidur di sini," jawab Devin santai.


"Hah." Adinda melongo mendengar jawaban Devin. Tidak mungkin kan mereka tidur seranjang. Secara di dalam kontrak tidak ada adegan ranjang. Adinda segera menepis pikiran yang tidak-tidak.


Devin meletakkan koper di samping Adinda. Ia berjalan menuju lemari dan membukanya.


"Pakaianmu simpan di sini Din." Devin menunjuk bagian yang kosong dalam lemarinya.


"I-iya," jawab Adinda tergagap. Segera ia membuka koper dan tas lalu mengeluarkan isinya. Dan mulai menatanya satu persatu.


"Aku mandi dulu Din," pamit Devin.


Adinda menata pakaiannya ke dalam lemari. Suara gemericik air dari arah kamar mandi sedikit mengusik rungunya. Tinggal seatap hanya berdua dengan Devin tak pernah ada dalam agenda hidupnya.


Sia-sia rasanya Adinda membangun benteng agar rasa cinta itu tak menerobos semakin dalam. Jika pada akhirnya mereka harus tinggal seatap bahkan seranjang berdua.


"Din!"


"Adinda!" seru Devin.


Adinda tersentak kaget. Bisa-bisanya ia melamun sampai tak menyadari jika Devin telah memanggilnya berulang kali. Adinda membalikkan badannya menghadap ke arah Devin.


"Aahhhh!" Adinda berteriak melihat pemandangan di depan matanya. Adinda segera menutup matanya dengan kedua tangannya dan membalikkan badannya kembali memunggungi Devin.


"Kamu ngapain sih Dev? Gak malu apa?!" Kesal Adinda masih dalam posisi yang sama.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih teriak-teriak kayak ngeliat hantu. Aku cuma mau ngambil baju. Ngapain juga harus malu. Bukannya kamu udah sering ya ngeliat aku bert********g d**a kayak gini? Lagian kita ini kan sudah sah jadi suami istri. Jadi tidak ada hal yang harus di tutup-tutupi," jelas Devin panjang lebar.


"Tapi bukan berarti harus buka-bukaan kayak gitu juga Dev." Adinda semakin kesal terhadap Devin. Bukankah isi surat perjanjian dibuat secara sadar oleh Devin sendiri, tapi mengapa kini justru Devin yang mau melanggarnya.


"Apanya yang buka-bukaan? Lihat, aku masih pakai han...... Aahhhhh!" Devin berteriak tak kalah nyaringnya dari Adinda ketika melihat bagian bawahnya yang keriput karena kedinginan.


Gegas Devin berlari ke kamar mandi. Devin menyambar handuk yang masih tergantung dan lupa ia kenakan saat keluar kamar mandi barusan. Ia merutuki kebodohannya yang lupa bahwa kini ia tak lagi tinggal sendiri.


Devin melangkah keluar dari kamar mandi dan menuju lemari, sedangkan Adinda masih berdiri di tempat semula dengan tangan yang masih menutupi wajahnya.


"Din, aku mau ngambil baju," lirih Devin. Malu sebenarnya tapi mau bagaimana lagi.


Adinda hanya menggeser sedikit badannya. Tangannya masih tetap menutupi wajahnya yang memerah. Padahal bukan Adinda yang t********g tapi kenapa dia yang merasa malu sendiri.


Gegas Devin memakai bajunya. Devin merasa malu sekali atas kejadian barusan. Namun, bukankah Adinda sudah halal untuknya? Devin tersipu mengingat ekspresi Adinda yang melihatnya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


"Sudah Din. Kamu mandi dulu sana. Sebentar lagi masuk waktu maghrib. Kita sholat berjamaah," instruksi Devin pada Adinda.


Adinda menurunkan tangannya. Perlahan ia membuka kedua matanya. Dilihatnya Devin yang sudah berpakaian lengkap. Membuatnya menghembuskan napas lega.


"I-iya Dev." Adinda mengambil handuk bersih miliknya. Memilih satu stel baju yang akan dia gunakan. Setelahnya membawanya ke kamar mandi.


Hanya Sebentar Adinda mengguyur badannya. Ia tak mau membuat Devin menunggunya lama. Teringat kejadian barusan membuat Adinda tersipu malu dengan wajah yang semerah tomat.


Adinda keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Dilihatnya Devin tengah menggelar sajadah untuk alas mereka melakukan ibadah bersama.


Setelah itu mereka sama-sama khusyuk menjalani ritual sebagai seorang muslim. Adinda menc**m punggung tangan Devin seusai mereka sholat berjamaah.


"Maaf." Devin menggenggam tangan Adinda yang hendak dilepas Adinda setelah selesai menyalaminya.

__ADS_1


Adinda hanya menyunggingkan senyumnya. Adinda menggigit bibir bawahnya kala menyadari posisinya sekarang yang terlalu dekat dengan Devin. Devin memejamkan matanya untuk menetralkan debaran jantungnya. Menurutnya ekspresi Adinda sungguh menggemaskan.


Drrttt drrtt drrtt.


__ADS_2