Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 63


__ADS_3

Adinda berhenti sejenak saat sampai di depan pintu kamar hotel yang ditempati suaminya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Adinda menempelkan key card di tangannya. Perlahan pintu itu pun terbuka.


"Ka--kalian!" Luruh sudah air mata Adinda menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapannya.


"Surprise!" seru semua orang yang berada di dalam ruangan, begitu pun dengan Sinta dan Alia yang berada di belakang Adinda.


Adinda tak dapat berkata-kata, hanya air mata yang kini mewakili perasaannya. Seumur hidupnya ini adalah kejutan ulang tahun yang luar biasa. Setelah sebelumnya mendapat kejutan yang sungguh memilukan.


Adinda membalikkan badannya dan menepuk pelan lengan kedua temannya secara bersamaan. Bukannya mengaduh, namun Sinta dan Alia justru tertawa.


"Kalian jahat, hampir aja jantungku mau copot," ucap Adinda seraya menghapus air matanya.


"Kalau copot ya tinggal di pasang aja lagi, Din. Tuh ada pak Dokter yang siap membantu dua puluh empat jam non stop," goda Alia yang membuat semuanya tertawa.


Adinda berhambur memeluk kedua temannya. Rasa cemas dan curiga yang beberapa saat lalu sempat singgah, kini berubah menjadi rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Makasih," ucap Adinda seraya melerai pelukannya.


"Sama-sama, Din," ucap Sinta dan Alia serempak.


"Sayang, selamat ulang tahun," ucap Ivan yang membuat Adinda membalikkan badannya.


Ivan tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Ia merentangkan kedua tangannya. Adinda pun berhambur ke pelukan Ivan dengan air mata yang lagi-lagi mengalir di pipinya. Adinda mendongak menatap Ivan yang juga tengah menatapnya.


"Maaf ya, Sayang," ucap Ivan seraya menyeka air mata yang jatuh berderai di pipi mulus sang istri.


"Tadinya aku tak ingin mempercayai ucapan kedua temanku, tapi penjelasan mereka membuatku berpikiran yang tidak-tidak tentangmu. Apalagi ucapan Sinta lebih bisa dipercaya dari pada Alia." Adinda melirik kedua temannya yang terkikik. "Tapi-- aku suka kejutan ini. Makasih ya, Kak." Adinda memindai seluruh ruangan yang telah disulap sedemikian rupa.


Adinda melerai pelukannya. Dipandanginya satu persatu anggota keluarganya yang kini tengah berkumpul dalam satu ruangan yang sama.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Fathan.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayah." Adinda berhambur memeluk sang ayah.


Satu persatu anggota keluarga Adinda dan Ivan memberikan ucapan selamat kepada Adinda. Adinda menangis haru, apalagi saat melihat putri kecilnya juga ada di tengah-tengah mereka.


"Selamat ulang tahun cucu kesayangannya Oma," ucap oma Fani seraya memeluk Adinda.


"Makasih banyak, Oma. Pantesan tadi Adin seperti melihat Oma lagi naik ojek. Ternyata beneran Oma," Adinda melerai pelukannya dan menatap oma Fani dengan senyum yang terukir di wajah cantiknya.


"Iya, Sayang. Oma tidak mau sampai melewatkan momen bahagia cucu kesayangan Oma ini. Maaf ya Sayang, karena harus bawa cicit Oma panas-panasan. Tadinya mau naik mobil, tapi khawatir macet." Oma Fani mengelus surai panjang Adinda yang tergerai.


"Ya udah, sekarang tiup lilin dulu ya Sayang," ajak mama Rita pada Adinda.


Adinda mengangguk dan tersenyum pada mama mertuanya. Ia terlebih dulu berdoa dan kemudian meniup lilin angka dua puluh enam sesuai usianya kini.


Adinda kemudian memotong kuenya. Potongan pertama ia suapkan pada ayahnya. Kemudian di potongan kedua, ia menyuapkannya pada suaminya.


Adinda membersihkan sisa cream di bibir Ivan dengan tangannya. Sigap Ivan menahan tangan Adinda. Pandangan mereka beradu. Seolah terhipnotis, mereka seakan lupa bahwa di ruangan ini mereka tidak sedang berdua.


"Ya ampun, Kakak! Adegan uwunya di sensor dong. Kasihanilah adikmu ini," seru Indah.


Sontak Adinda dan Ivan saling menjauhkan wajah mereka yang hampir bersentuhan. Adinda menunduk malu dengan wajah seperti kepiting rebus, sedangkan Ivan terlihat salah tingkah saat semua mata tertuju pada mereka berdua.


"Kalian ini, benar-benar sudah tidak sabar ya rupanya," ucap ayah Fathan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Adinda makin tak berani mengangkat wajahnya.


"Biasalah, namanya juga pengantin baru. Makanya kamu itu move on dong, Than," celetuk opa Nathan yang mengundang tawa.


"Papa, apaan sih. Fathan sudah tua. Sudah punya cucu juga. Malu sama besan." Ayah Fathan melirik besannya yang tersenyum menanggapi gurauan opa Nathan.


"Ya gak apa-apa, Mas. Kita malah senang kalau Mas Fathan mau membuka hati dan mencari pendamping hidup. Ya gak, Pa," ucap mama Rita seraya menyenggol lengan papa Indra, suaminya.


"Betul sekali itu, Than. Lagi pula Adinda sudah ada Ivan. Lagian kamu ini masih terlihat seperti abg loh," ucap papa Indra seraya mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Kalian ini. Ya sudah, sekarang kita ke resto. Sudah pada lapar kan," kata ayah Fathan mengalihkan topik pembicaraan.


"Dan untuk kalian berdua, ini paket bulan madu special untuk kalian. Maaf tidak bisa memberikan paket bulan madu ke luar negeri karena Adinda pastinya tidak akan mau meninggalkan Vina terlalu lama." Ayah Fathan mengusap puncak kepala Adinda penuh sayang.


"Ini kado dari Ayah, semoga kamu suka," ucap ayah Fathan.


Ayah Fathan memberikan sebuah kotak beludru persegi panjang pada Adinda. Adinda menerimanya dan membukanya. Sebuah kalung yang sama persis dengan hadiah ulang tahun yang ayah Fathan berikan tahun lalu.


"Ayah, ini?"


"Iya, Sayang. Maaf Ayah baru mengetahui kalau kalung yang waktu itu rusak. Makasih sudah mau menyimpannya walau tak lagi utuh," ucap ayah Fathan.


"Makasih, Ayah." Adinda kembali memeluk ayah Fathan dengan eratnya.


"Ya sudah, ayo kita ke resto. Biarkan pengantin baru ini membuat cicit yang banyak untuk Oma." Oma Fani melenggang keluar dengan mendorong stroller baby Vina.


Satu persatu mereka keluar meninggalkan kamar hotel yang didesain khusus seperti kamar pengantin yang didominasi warna merah dan putih. Taburan bunga mawar berbentuk hati di tengah peraduan. Lilin-lilin aroma terapi yang semakin menambah kesan romantis.


Kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan tersebut. Ivan menuntun Adinda untuk duduk di tepi ranjang. Tentu saja hal ini membuat jantung Adinda berdegup dengan kencang.


"Maaf ya Sayang, sudah membuatmu khawatir," ucap Ivan.


"Iya, gak apa-apa kok, Kak," balas Adinda.


"Kita lanjutin yang tadi ya," ajak Ivan seraya mengedipkan matanya.


"Hah, maksudnya?" tanya Adinda tak mengerti.


Ivan mendekatkan wajahnya ke arah Adinda. Adinda memejamkan matanya. Tak mungkin Adinda tak gampang untuk jatuh cinta pada Ivan. Selain Ivan kini adalah pasangan halalnya, Ivan juga memperlakukan Adinda dengan penuh kelembutan.


Ciuman yang awalnya biasa saja, kini makin terasa panas dan menuntut. Ivan melepaskan tautan bibir mereka agar wanitanya dapat meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


"Boleh?" tanya Ivan. Selalu pertanyaan yang sama saat ia meminta ijin mengajak istrinya mengarungi lautan kenikmatan bersama.


Adinda tersenyum dan mengangguk. (Adegan uwunya sesuai kehaluan masing-masing ya. Author gak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata 😁).


__ADS_2