Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 55


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


Malam telah larut, Adinda terbangun dari tidur lelapnya. Perutnya yang buncit terasa sakit. Tak lama kemudian rasa sakit itu berangsur hilang. Adinda kembali memejamkan mata, namun rasa sakit itu kembali dirasa.


Ia beranjak menuju kamar mandi setelah rasa sakitnya kembali reda. Sejak usia kehamilannya memasuki trimester ketiga, Adinda sering bolak-balik ke kamar mandi.


Adinda melangkah perlahan seraya memijat punggungnya yang terasa sakit. Seperti biasa ia melakukan ritual buang air kecil yang akhir-akhir ini tak bisa ia tahan. Alangkah terkejutnya ia, ketika terdapat bercak d*rah di cel*na d*lamnya.


"D*rah? Apa mungkin aku akan melahirkan? Bukankah masih kurang dua minggu lagi dari hari perkiraan lahir. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" lirih Adinda seraya menahan rasa sakit yang semakin sering muncul.


Fathan dan opa Nathan sedang melakukan perjalanan bisnis, sedangkan oma Fani sedang menginap di rumah keponakannya, tante Febri. Besok adalah acara pernikahan salah satu anak tante Febri. Adinda tidak ikut karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh.


Adinda berjalan perlahan menuju tempat tidur. Dilihatnya jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Diraihnya ponsel yang tergeletak di atas nakas. Adinda mengetik pesan pada orang yang bisa ia mintai tolong saat ini.


Adinda berjalan mondar-mandir sesuai dengan apa yang ia pelajari jika sudah mendekati masa persalinan. Saat kakinya terasa kram, ia berhenti berjalan dan membaringkan dirinya di tempat tidur. Ia memiringkan badannya ke kiri.


Tak lama kemudian terdengar deru suara mesin mobil yang berhenti di halaman. Dokter Ivan turun dan berjalan dengan langkah lebar. Ia begitu khawatir saat menerima pesan dari Adinda. Ia takut terjadi apa-apa dengan Adinda.


Bi Eli membukakan pintu ketika mendengar bel berbunyi tiada henti. Ia mengernyit heran saat pintu terbuka dan mendapati dokter Ivan tengah berdiri dengan raut wajah cemas.


"Assalamualaikum, Bi," sapa dokter Ivan.


"Waalaikumsalam, Den," jawab bi Eli, "Maaf Den, ada apa ya bertamu tengah malam seperti ini?" tanyanya.


"Tadi Adinda mengirimkan pesan sama saya, Bi. Katanya dia mengalami kontraksi. Sepertinya dia akan segera melahirkan, Bi," jelas dokter Ivan.


"APA?" pekik bi Eli.

__ADS_1


Bi Eli segera berlari menuju kamar Adinda, sedangkan dokter Ivan mengekori langkah bi Eli di belakangnya. Bi Eli langsung masuk ke kamar Adinda tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ya Allah, Non," pekik bi Eli ketika mendapati nona mudanya tengah meringkuk seraya meringis menahan rasa sakit.


"Cepat siapkan perlengkapan persalinannya, Bi. setelah itu bawakan ke mobil saya," perintah dokter Ivan.


Dokter Ivan melangkah menghampiri Adinda. Tanpa permisi ia menggendong Adinda ala bridal style. Gegas ia membawa Adinda menuju mobilnya.


Bi Eli menyusul dengan menenteng sebuah tas besar berisi perlengkapan persalinan yang telah disiapkan oleh Adinda. Dokter Ivan meletakkan Adinda di kursi penumpang belakang. Bi Eli turut masuk ke dalam mobil dokter Ivan dan meletakkan kepala nona mudanya di pangkuannya.


Perlahan mobil pun melaju membelah jalan raya. Ingin rasanya dokter Ivan memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tapi ia sadar jika itu sangat berbahaya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Dokter Ivan segera memanggil beberapa orang perawat untuk membantunya membawa Adinda. Adinda diletakkan di brangkar dorong dan dibawa menuju ruang bersalin.


Dokter Ivan mondar-mandir dengan cemas. Sudah sepuluh menit berlalu namun tak kunjung terdengar jerit tangis seorang bayi, sedangkan Adinda di dalam tengah berjuang untuk menghadirkan sang buah hati ke dunia.


"Maaf, Dok. Di mana suami pasien?" tanya dokter Ika dari pintu ruang bersalin yang terbuka. Dokter Ika baru seminggu bertugas di rumah sakit ini, jadi dia tidak tahu jika Adinda telah bercerai dengan suaminya.


"Maaf, Dok. Dia telah bercerai dari suaminya sebelum dia tahu bahwa dia tengah hamil," jawab dokter Ivan.


"Maaf, saya tidak tahu. Lalu siapa yang akan mengadzani si bayi?" tanya dokter Ika.


"Saya yang akan mengadzaninya, Dok," jawab dokter Ivan.


"Kalau begitu, mari masuk Dok." Dokter Ika mempersilahkan dokter Ivan masuk ke dalam ruang bersalin untuk mengadzani bayi Adinda.


Dokter Ivan masuk ke dalam. Perawat menyodorkan bayi mungil yang telah dibersihkan pada dokter Ivan. Dokter Ivan tersenyum memandangi bayi mungil yang terlihat cantik seperti ibunya. Ia kemudian melakukan tugas yang seharusnya Devin yang melakukannya.

__ADS_1


Sementara di negara S, Devin merasakan rindu yang menggebu. Masalah di perusahaan sudah selesai diatasi dengan baik. Namun, ada beberapa investor yang menawarkan kerja sama, sehingga mau tidak mau ia harus bertahan lebih lama lagi.


Sudah tengah malam, namun Devin tak dapat memejamkan mata. Ia merasa gelisah dalam tidurnya. Tiba-tiba saja ia merasa sangat lapar. Gegas ia keluar dari apartemen dan menuju restoran Indonesia yang buka dua puluh empat jam. Ia memesan makanan kesukaannya. Setelah makanan yang ia pesan tersaji di meja, Devin segera menyuapkannya ke mulutnya.


"Aneh, kenapa aku sudah tidak merasa mual? Apa aku sudah sembuh?" gumam Devin.


Kembali ia mencoba merasakan makanan yang lain. Hasilnya sama, ia tidak merasakan mual yang menyiksanya selama berbulan-bulan ini. Devin tersenyum bahagia. Ia kemudian mulai menyuap makanan di hadapannya hingga tandas tak bersisa.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb, atas kuasa-Mu yang telah mengembalikan nikmat yang selama beberapa bulan ini tak bisa kurasakan." Devin kemudian beranjak untuk kembali ke apartemennya setelah membayar semua makanan yang telah ia pesan.


Sesampainya di apartemen, Devin melaksanakan sholat malam sebagai ungkapan rasa syukurnya. Kemudian ia mulai mengistirahatkan diri karena besok ia harus berkutat kembali dengan segala pekerjaan yang telah menanti.


Sementara itu, Adinda dan bayinya telah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Adinda mulai belajar memberikan ASI pada bayinya dengan dibantu oleh bi Eli, sedangkan dokter Ivan menunggu di luar karena tak ingin melihat bagian t*buh wanita yang akan membuat penglihatannya tern*da.


"Den dokter, dipanggil non Adinda," seru bi Eli.


"Oh, iya Bi," jawab dokter Ivan seraya beranjak dari duduknya.


Dokter Ivan melangkah menghampiri Adinda yang tengah menimang bayinya. Ia turut bahagia melihat senyum terukir di wajah wanita pujaannya. Ia mendudukkan dirinya di kursi samping brangkar.


"Terima kasih Kak, sudah mau aku repotkan. Di rumah benar-benar tidak ada orang yang bersedia mengantar. Ayah dan opa sedang berada di luar kota. Pak Rudi sedang mengantar oma ke rumah tante Febri, sedangkan si Tono sedang mengantar bi Ningsing pulang kampung karena anaknya sedang sakit," jelas Adinda.


"Iya, gak apa-apa kok. Kakak tidak merasa direpotkan, malah Kakak senang melakukan semua ini," jelas dokter Ivan, "Oh iya, bagaimana tentang permintaan Kakak?" tanyanya.


"Permintaan apa ya, Kak?" tanya Adinda.


"Berhubung kamu sudah melahirkan, jadi masa iddahmu telah selesai. Bolehkah Kakak meminta kesempatan untuk menjadi imammu?" tanya dokter Ivan.

__ADS_1


"HAH." Adinda terlihat syok dengan ucapan dokter Ivan.


__ADS_2