Ijinkan Aku Bahagia

Ijinkan Aku Bahagia
bab 53


__ADS_3

POV Adinda


Hari ini adalah jadwal aku periksa kandungan. Sebenarnya selama hamil, aku tidak mengalami masalah kehamilan yang berarti. Namun tetap saja, aku harus memeriksakan kehamilanku sedini mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.


Oma Fani menawarkan diri untuk mengantarku dengan alasan bahwa beliau begitu mengkhawatirkanku. Aku menolak karena memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Walau kini oma sudah berumur delapan puluh dua tahun, tapi dia masih terlihat segar bugar. Hanya saja aku tidak ingin merepotkan oma dan membuatnya kelelahan. Jadi, aku meminta oma Fani untuk beristirahat saja.


Dalam perjalanan ke rumah sakit aku merasa seperti ada yang mengikutiku. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Ah, aku tidak boleh terlalu banyak pikiran. Karena pikiran yang tidak-tidak akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik terhadap kandunganku.


Sesampainya di rumah sakit, aku meminta pak Rudi untuk menungguku di mobil saja. Tidak nyaman rasanya jika ke mana-mana harus dikawal layaknya tuan putri. Kemudian aku melangkah dengan pasti masuk ke dalam rumah sakit ini.


"Din!" suara yang tak asing itu tertangkap runguku tatkala aku menjejakkan kaki ini di lobi rumah sakit.


Aku membalikkan badanku untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar. Dia, laki-laki yang sempat bertahta di palung jiwa, kini berdiri tak jauh di hadapanku. Aku harus bisa menguasai diri, walau otak ini secara otomatis memutar ulang setiap adegan yang mengerikan itu.


"Kamu ngapain ke sini? Kamu sakit?" tanyanya seraya mengikis jarak di antara kami.


Ya Tuhan, apa Devin mengikutiku? Apa yang harus aku katakan? Aku belum siap jika Devin mengetahui kehamilan ini. Aku, aku sungguh masih belum siap.


"Din, maafkan aku." Aku tersentak kaget saat tiba-tiba Devin berlutut di kakiku.


"Dev, apa yang kamu lakukan?" tanyaku. Kutolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah kami.


"Dev, tolong berdiri. Aku mohon jangan seperti ini," pintaku.


"Aku mohon, maafkan aku," katanya seraya meraih tanganku.


"Ok, aku maafin, tapi tolong berdiri sekarang." Posisi seperti ini sungguh sangat membuatku tidak nyaman.


"Makasih, Din," katanya.

__ADS_1


Aku menghembuskan napas lega karena Devin akhirnya tak berlutut di kakiku lagi. Namun, Aku sangat terkejut saat Devin tiba-tiba memelukku dengan erat. Keringat dingin mulai terasa membasahi tubuhku. Dadaku terasa sangat sesak. Setelah itu aku tak mengingat apa pun lagi.


Aku mengerjapkan mataku perlahan. Aku berteriak histeris tatkala di sekelilingku terdapat banyak wajah menyerupai Devin. Aku sungguh sangat takut jika mereka akan melakukan sesuatu yang akan menyakitiku. Namun, beberapa saat kemudian aku kembali terlelap. Entah obat apa yang mereka masukkan ke dalam cairan infusku.


Aku kembali membuka mata setelah cukup lama terlelap. Kutolehkan kepalaku ke arah sofa di ruangan ini. Aku tersenyum saat mendapati oma tengah duduk sembari membaca koran.


"Oma," panggilku yang membuat oma Fani seketika melihat ke arahku.


"Sayang, sudah bangun?" tanya oma seraya beranjak menghampiriku.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya kali ini oma Fani benar-benar nyata, bukan halusinasi belaka. Itu artinya pikiranku sudah kembali tenang.


"Ada yang bisa Oma bantu?" tanya oma seraya menarik kursi di samping brangkar pasien dan mendudukkan dirinya.


"Terima kasih, karena Oma selalu ada buat Adin. Adin sayang sama Oma," ucapku tulus.


"Oma juga sayang sama cucu Oma ini. Oma minta maaf sama kamu Sayang. Seandainya dulu Oma tidak egois, mungkin kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari ini." Oma Fani begitu menyesali perbuatannya di masa lalu.


"Oma jangan sedih lagi ya. Semua itu sudah berlalu. Sekarang pun Adin merasa sangat bahagia bisa berkumpul kembali bersama Oma, ayah, dan juga opa," ucapku.


Kuhapus perlahan air mata yang menetes di pipi oma Fani. Memiliki mereka dalam hidupku adalah suatu anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Di saat aku kehilangan sosok seorang ibu, di saat aku tak bisa menggantungkan diri pada pasangan hidupku, di saat itulah Tuhan mengirimkan sebuah jawaban atas segala doaku lewat mereka.


Lantas, nikmat yang mana lagi yang harus aku dustakan? Pelangi selalu muncul dalam hidupku setelah badai. Walau bisa dikatakan hidupku tak semulus jalan tol yang tanpa hambatan, tapi aku bersyukur masih bisa merasakan kenikmatan di setiap perjalanan hidupku yang berliku dan kadang curam.


Pintu perlahan terbuka, menyembulkan sosok laki-laki tampan dengan pakaian kebesarannya. Laki-laki yang beberapa hari lalu membuatku insomnia karena kata-katanya yang tak bisa aku prediksi sebelumnya. Laki-laki pemilik senyum manis yang terlihat se*y dan menggoda.


Aku menepuk keningku pelan. Waduh, mikir apa aku ini? Mana mungkin segampang itu diriku terpesona oleh pesonanya yang memang mempesona. Eh, tuh kan. Bangun Din, bangun, hadeeee.


"Ada apa, Sayang? Apa ada yang sakit?" tanya oma Fani cemas.

__ADS_1


"Enggak, Oma. Adin tidak apa-apa. Oh ya, ayah sama opa mana Oma?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Mereka masih ada di jalan. Sebentar lagi sampai kok," jawab oma.


Kulirik dokter Ivan yang tersenyum ke arahku seraya memeriksa kondisiku. Aku memalingkan wajahku ke samping. Jangan sampai dokter Ivan menyadari jika aku salah tingkah hanya karena melihat senyumannya.


"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?" tanya oma setelah melihat dokter Ivan telah selesai memeriksa kondisiku.


"Sudah membaik, Oma. Bahkan malam ini pun bisa pulang," jawab dokter Ivan.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Sayang, kamu bisa pulang malam ini," kata oma antusias.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk ke arah oma. Pandangan dokter Ivan yang sedari tadi tak pernah lepas dariku, entah mengapa membuat lidah ini terasa kelu. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja karena masih terngiang ucapan yang dokter Ivan katakan tempo hari.


"Assalamualaikum," seru dua orang laki-laki yang kini melangkah memasuki ruangan ini.


"Waalaikumsalam," jawab kami bertiga serempak.


"Kalau begitu, saya permisi," pamit dokter Ivan pada kami.


"Gimana keadaanmu, sayang?" tanya ayah seraya mengelus rambutku.


"Alhamdulillah sudah membaik, Yah. Bahkan, Adin sekarang sudah bisa pulang," jawabku.


"Alhamdulillah. Kalau begitu ayah urus administrasi dulu," kata Ayah.


"Ma, Pa, titip Adinda. Fathan mau mengurus administrasi dulu," pesan ayah seraya beranjak keluar.


Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, kami pun beranjak pulang. Di perjalanan, aku merasa ada seseorang yang mengikuti mobil kami. Namun, aku tak memberitahukan hal ini kepada yang lain. Karena bisa jadi ini hanya perasaanku saja. Sejak kejadian itu, entah mengapa aku selalu merasa ketakutan secara tiba-tiba. Namun, sampai masuk gang yang menuju rumah, mobil itu tetap mengikuti kami dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2