
Mila meraih ponselnya yang berdering di atas nakas. Dilihatnya nama pemanggil yang ternyata adalah suaminya. Segera ia menggeser ikon gagang telepon berwarna hijau itu ke atas.
"Assalamualaikum, Mas," ucap Mila ketika panggilan itu terhubung.
"Waalaikumsalam. Maaf, apa benar ini nomor istrinya pak Fathan, pemilik ponsel ini?" Suara bariton terdengar di seberang.
Mila menjauhkan ponsel dari telinganya. Sekali lagi ia melihat nama pemanggil, tertera nama panggilan sayang untuk suaminya. Lantas, siapa orang yang kini tengah berbicara padanya dan menggunakan ponsel suaminya.
"Bu, hallo, hallo, apa Ibu dengar saya?" tanya orang di seberang menarik Mila dari lamunan.
"Oh ya Pak, maaf. Iya Pak benar, saya istrinya mas Fathan," jawab Mila gugup.
"Maaf Bu, saya dari pihak kepolisian, dengan berat hati saya menyampaikan kalau suami Ibu saat ini ada di rumah sakit karena kecelakaan," jelas orang tersebut yang mengaku sebagai polisi.
"Apa? Bapak tidak sedang bercanda, kan?" tanya Mila.
Tentu saja Mila sangat cemas, tapi ia juga tidak bisa langsung percaya begitu saja terhadap orang asing. Polisi itu menghembuskan napas panjang, kemudian mengirim foto yang berisi gambar di lokasi kecelakaan dan juga foto Fathan ketika masuk ruang ICU.
Luruh sudah air mata Mila ketika melihat pesan gambar yang dikirim oleh pihak kepolisian. Segera ia bangkit dan bergegas untuk menuju rumah sakit tempat Fathan kini berada.
Mila diantar pak Rudi, sopir pribadi yang bertugas mengantar Mila kemanapun ia ingin pergi. Selama perjalanan, air mata Mila tak berhenti mengalir di pipinya. Pak Rudi menatap iba pada nona mudanya.
"Non, yang sabar ya Non. Den Fathan itu kuat. Bapak yakin den Fathan akan baik-baik saja," hibur pak Rudi pada Mila sekaligus pada dirinya sendiri.
"Aamiin, semoga saja Pak," harap Mila.
Begitu sampai di parkiran rumah sakit, Mila segera turun dan berlari menuju ruang ICU. Dalam keadaan panik, ia lupa bahwa kini ia tengah berbadan dua.
"Non, hati-hati Non," teriak pak Rudi ketika melihat nona mudanya itu berlari sangat cepat. Segera ia menyusul agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Keluarga pasien atas nama pak Fathan?" tanya dokter.
"Iya Dok, saya istrinya," jawab Mila.
__ADS_1
"Mari Bu, ikut saya," kata dokter itu seraya melangkah. Mila mengekori langkah sang dokter menuju ruangannya
"Begini Bu, kondisi pasien sekarang sedang kritis. Beliau kehilangan banyak darah serta terdapat gumpalan darah di otak pasien akibat benturan yang cukup keras. Kami dari pihak rumah sakit meminta kesediaan keluarga pasien untuk menyetujui tindakan operasi yang akan kami lakukan. Operasi ini harus dilaksanakan sesegera mungkin. Semua keputusan ada di tangan Ibu selaku keluarga dari pasien. Jika Ibu setuju, silakan tanda tangani berkas ini dan urus administrasi," jelas dokter panjang lebar.
"Lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok," ucap Mila serak.
Mila meraih pulpen dan meraih berkas yang disodorkan oleh dokter padanya. Ia membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu.
"Apa suami saya bisa diselamatkan, Dok," tanya Mila penuh harap.
"Kami hanya manusia biasa Bu, tapi kami akan berusaha sebaik mungkin yang kami mampu. Doakan saja Bu, semoga ada mukjizat yang diberikan Tuhan pada suami Ibu," jawab dokter.
Tindakan operasi segera dilakukan. Mila mondar-mandir di depan ruang operasi. Ia menyesali tindakannya yang berakibat fatal bagi suaminya. Seharusnya ia bisa lebih bersabar dan tak memaksakan keinginannya itu.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan suamiku. Aku menyesal, seharusnya aku tak meminta mas Fathan untuk pergi," gumam Mila lirih. Namun, gumaman itu masih bisa ditangkap dengar oleh orang yang kini berada di belakannya.
"Oh, jadi semua ini gara-gara kamu. Das*r perempuan pembawa s*al!" Mila tersentak kaget mendengar teriakan orang di belakangnya.
"Mama," desis Mila.
Mila hanya menunduk, ia tak berani melawan mertuanya. Ia sudah terbiasa mendengar hinaan dan cacian yang ditujukan padanya. Mila memang merasa bersalah, namun tak seharusnya mertuanya itu menuduh yang bukan-bukan terhadap dirinya. Kini ia sedang berduka, suami tercintanya sedang berjuang sendirian di dalam sana.
"Heh, das*r t*li. Sebaiknya kamu pergi saja dari tempat ini. Bisa-bisa darah tinggiku kambuh berdekatan dengan perempuan pembawa s*al sepertimu," umpat Fani.
"Ma, tapi Mila mau di sini, Ma. Mila mau nungguin mas Fathan sampai sadar, Ma," ucap Mila mengiba.
"Berani melawan kamu sekarang ya?" geram Fani.
"Maaf Ma." Mila menunduk tak berani beradu tatap dengan mertuanya.
Melihat Mila yang hanya bergeming di tempatnya, membuat Fani semakin murka. Fani menyeret Mila keluar. Amarahnya meluap, ia bahkan lupa bahwa kini Mila sedang mengandung cucunya. Baginya, Mila adalah perempuan pembawa s*al bagi keluarganya.
Mila terhuyung, langkahnya terseok-seok mengimbangi langkah kaki sang mertua yang tergesa-gesa. Perutnya terasa kram, namun ia bisa apa selain menuruti titah sang mertua. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, Fani tak henti-hentinya mengumpat kesal pada Mila.
__ADS_1
Mobil berhenti di halaman rumah Fathan dan Mila. Sekali lagi Fani menyeret sang menantu masuk ke dalam rumah. Tak ia pedulikan Mila yang meringis menahan sakit.
"Cepat kemasi barang-barangmu!" seru Fani.
"Ma--"
"Aku bukan mamamu!" teriak Fani murka.
Fani merogoh ponsel di dalam tasnya yang berdering. Ia menjauh dari Mila yang tengah menangis sesegukan. Selesai menerima panggilan telepon, ia bergegas menghampiri Mila yang masih bergeming di tempatnya.
"Gara-gara kamu, anakku sekarang meninggal!" teriak Fani.
"A-apa Ma? Mama tidak bercanda kan Ma?" tanya Mila memastikan.
"Hey, cepat kemasi barang-barangmu. Ingat! Hanya barang-barangmu. Jangan membawa atau mengambil apapun di rumah ini."
"Ma, Mila gak tahu harus pergi kemana Ma. Apalagi sebentar lagi Mila akan melahirkan cucu Mama," kata Mila. Ia masih berharap mertuanya itu mau berbelas kasihan padanya.
"Itu urusanmu. Lagi pula aku tidak yakin bahwa anak yang kamu kandung itu adalah cucuku. Orang miskin sepertimu pasti akan menghalalkan segala cara untuk menjerat anakku dan menggerus semua hartanya." Fani berjalan ke arah lemari. Ia menurunkan semua pakaian Mila dan melemparnya asal.
"Cepat kemasi barang-barangmu ini. Aku tak sudi menampung perempuan pembawa s*al sepertimu," geram Fani.
Tanpa banyak kata, Mila memungut satu persatu pakaiannya yang kini berserakan di lantai. Ia mengambil koper di sudut ruangan dan memasukkan semua pakaian yang sudah ia kumpulkan. Mila masih tak percaya bahwa suaminya telah meninggal. Seandainya memang benar, ia ingin melihat jasad suaminya untuk yang terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi.
"Das*r lelet!" Fani sungguh sangat tidak sabar. Ia menyeret Mila setelah melihat Mila selesai mengemasi barang-barangnya.
"Nyonya, kasihan non Mila, Nya." Bi Eli tergopoh-gopoh menghampiri majikannya. Bi Eli tadi sedang sholat shubuh di belakang, jadi dia tidak tahu kalau nona mudanya menjadi bahan amukan sang mertua.
"Diam kamu. Di sini kamu hanya pembantu. Jadi, jangan pernah ikut campur atau kamu saya pecat," murka Fani.
Fani terus menyeret Mila hingga keluar gerbang. Dia menghempaskan cekalan tangannya. Dia berbalik menutup gerbang. Tak ia hiraukan teriakan sang menantu di luar sana.
"Aahhh, tolong." Badan Mila merosot ke tanah. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit. Cairan merah itu pun kini mengalir di sela p*hanya.
__ADS_1
Sorot lampu mobil dari kejauhan meyilaukan netranya. Mila mengangkat sebelah tangannya, berharap mendapat pertolongan. Perlahan mobil itu berhenti tepat di dekatnya. Si pengendara mobil turun dan segera menghampirinya.
"MILA," teriaknya histeris ketika melihat Mila tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir tiada henti.