
Semalam, setelah Fiona selesai mandi, Fiona langsung menuju ke ranjang dan mematikan lampu di meja disampingnya. Dave samar-samar melihat kalau mata Fiona agak sedikit bengkak. Namun Dave tidak berani bertanya dan memutuskan untuk mandi juga. Setelah selesai mandi, Dave belum bisa tidur. Dia memutuskan untuk duduk di ruang pantry dan membawa laptopnya untuk bekerja. Dave membaca beberapa berkas-berkas kasus yang dikirimkan rekan-rekan kerjanya. Akhirnya setelah waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Dave merasa mengantuk. Dia mematikan laptopnya dan langsung menuju ke ranjang.
Syukurlah Fiona sudah tertidur pulas. Apakah perkataanku tadi menyakiti hatinya? Ketika Fiona memintanya untuk memperlakukan dia seperti seorang teman atau seorang adik, hati Dave sedikit kecewa. Dave sungguh mulai menyukai Fiona tetapi untuk cinta, ini terlalu awal untuknya. Namun Dave juga tidak mau jika melihat Fiona bersama lelaki lainnya. Apakah ini namanya ego lelaki? pikir Dave.
Dave naik ke atas ranjang dan menyelimuti dirinya dan Fiona. Dia segera untuk mematikan lampu dan pergi tidur. Dia sudah tidak sanggup menahan kantuknya.
Pagi Hari!
Fiona terbangun karena mendengar suara ponsel yang terus menerus berbunyi. Siapa sih yang sudah menelpon pagi-pagi begini? batin Fiona. Fiona segera bangun dan melihat ponselnya. Namun itu bukan ponselnya, berarti itu ponsel Dave. Fiona tidak bermaksud mengintip ponsel Dave, tapi Fiona melihat ada pesan masuk yang bertuliskan "Angkat Dave, PENTING!!!"
Ketika hendak menaruh ponsel Dave kembali ke meja, ada panggilan video call. Fiona ragu untuk mengangkatnya namun berpikir bagaimana jika ini benar-benar darurat.
Ketika diangkat pada deringan ke empat, Fiona melihat seorang lelaki yang juga tak kalah tampan seperti Dave dalam balutan jas. Walaupun sama-sama tampan, namun lelaki ini memiliki aura yang lebih ramah daripada Dave. Matanya terlihat lebih lembut. Potongan rambutnya pendek dan rapi dengan belahan rambut di samping. Hidungnya juga mancung walaupun tidak semancung Dave. Bibirnya lebih berisi daripada Dave.
"Halo. Selamat pagi. Apakah ini betul ponsel Dave atau aku salah menghubungi orang?" tanya Tommy.
"Eh, Halo. Ini betul ponsel milik Dave, namun Dave masih tidur."
"Kalau begitu kamu pasti Fiona ya?"
__ADS_1
"Iya. Kalau boleh tahu, dengan siapa saya berbicara?"
"Aku Tommy Wong, rekan kerja Dave. Salam kenal dan maafkan aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahanmu karena aku sedang menemui klien di luar kota."
"Salam kenal dan tidak apa-apa. Apakah kamu memerlukan Dave? Aku bisa membangunkan dia!"
"Tidak perlu. Aku bisa menghubunginya nanti! Bagaimana dengan bulan madu kalian? Apakah kalian benar-benar bulan madu?"
Fiona bingung dengan pertanyaan Tommy. "Benar-benar bulan madu? Apa maksudmu?"
"Eh, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tapi ketika Dave membuat surat perjanjian pernikahan untukmu, aku berada disana. Waktu itu aku sudah mencoba menasehati Dave namun dia tidak mendengarkanku."
"Hehehe. Tidak apa-apa. Memang seperti itu kejadiannya. Kami memang tidak sedang bulan madu. Anggap saja kami sedang liburan." jawab Fiona sambil meringis.
"Ketika aku melihatmu, aku bersyukur bahwa pernikahan kalian hanya berada diatas kertas." goda Tommy sambil tersenyum lebar.
Dave sudah terbangun namun tidak segera berdiri karena dia ingin mendengarkan percakapan Fiona. Dave tidak percaya bahwa Tommy sedang menggoda istrinya. Sialan si Tommy!
"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu."
Dave puas mendengar jawaban Fiona. Rasakan itu! batin Dave senang.
"Untuk gadis secantik kamu, aku rela kok untuk menunggu!" kata Tommy.
__ADS_1
Cukup! Aku tidak bisa mendengarkan ini lagi, pikir Dave. Dave dengan sengaja membuat suara-suara supaya Fiona menyadari kalau dia sudah terbangun.
"Eh Tommy, kayaknya Dave sudah bangun. Tunggu sebentar ya, akan kuberikan ponsel ini ke dia."
"Tunggu sebentar, berikan dulu nomer telponku ke aku!" sela Tommy.
Dave langsung cepat-cepat datang menghampiri Fiona.
"Pagi sayang." ucap Dave sambil mengecup dahi Fiona. Dave dengan sengaja mencium dahi Fiona untuk memberitahukan kepada Tommy bahwa Fiona adalah miliknya.
"Fioooona, jangan lupa ya nanti berikan nomer telponmu! Eh, halo, brother. Ada yang mau aku diskusikan denganmu."
"Senang berbicara denganmu Tommy." ucap Fiona sopan.
Fiona menyerahkan ponsel ke Dave dan beranjak ke arah kamar mandi untuk mandi karena Fiona berpikir Dave dan Tommy akan memerlukan privasi untuk berbicara. Ketika Fiona sudah menutup pintu, Dave melotot ke arah Tommy.
"Apakah kamu sudah gila, bro? Gadis yang sedang kamu goda adalah istriku!"
"Halah, istri di atas kertas kan? Kan, kamu sendiri yang membuat surat perjanjian itu. Kalau aku tahu jika gadis yang kamu nikahi secantik ini. Aku akan membatalkan kepergianku untuk menemui klien dan datang di pernikahanmu untuk menjadi orang yang keberatan dengan pernikahan itu!"
"Fiona cantik banget, bro! Sopan pula! Hati-hati diluar sana akan banyak lelaki mengejarnya!" ucap Tommy yang membuat Dave sebal setengah mati.
"Pokoknya selama aku belum menceraikannya, dia masih istriku! Apa yang ingin kamu diskusikan? Aku gak punya waktu banyak. Hari ini aku akan pergi ke pantai untuk snorkeling bersama Fiona."
__ADS_1
Mereka sudah larut dalam diskusi tentang pekerjaan hingga beberapa saat. Akhirnya, Tommy mengakhiri telponnya karena ada jadwal persidangan yang harus dihadirinya. Dave yang masih duduk, berpikir ulang kenapa waktu itu dia ngotot untuk membuat surat perjanjian itu? Kenapa dia tidak berusaha mengenal Fiona terlebih dahulu? Bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki kesalahan yang sudah dibuatnya? Dave merasa marah dan cemburu ketika ada lelaki lain yang mengatakan bahwa Fiona cantik. Dave merasa cemburu ketika ada lelaki lain yang berusaha mendekati Fiona.
"Sialan si Tommy! ucap Dave geram.