
Keesokan pagi, subuh, Lana yang sudah terbangun, menyingkirkan lengan berotot Tommy yang sedang memeluknya. Lana bangkit perlahan-lahan sehingga tidak membangunkan Tommy dan memakai gaunnya. Tidak lupa mengambil highheels-nya dan tasnya. Lana berjalan dengan cara berjinjit agar tidak membuat suara gaduh. Dibukanya pintu kamar hotel perlahan dan keluar dari sana. Setelah berhasil menutup pintu, Lana menghembuskan nafas panjang. Dia terlihat seperti pengecut yang tidak mau berhadapan dengan musuhnya! Tetapi dalam kasus ini, mengalah dan mundur adalah jalan terbaik!
Sementara itu, di dalam kamar, Tommy sudah terbangun sejak Lana menyingkirkan lengannya namun ia berpura-pura kalau ia masih tidur. Tommy bangun dari ranjang dengan tubuhnya yang telanjang total, berjalan dengan malas ke arah meja yang sudah disediakan alat pembuat kopi. Tommy menghidupkan mesinnya dan menaruh gelas di bawahnya. Sambil menunggu mesin itu untuk membuatkan kopinya, Tommy pergi ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya dengan cepat.
Aku tidak akan balik ke apartemen dan akan langsung ke kantor dan meminta Dave untuk memberikan kasus Lana untukku! putus Tommy dalam hati.
Badannya terasa segar setelah mandi dengan cepat, Tommy memakai pakaian yang sama yang ia kenakan kemarin. Tommy meminum kopi hitam pekatnya yang terasa pahit dan menghabiskannya dengan cepat. Ia seharusnya bisa bersantai di kamar yang sudah ia bayar dengan mahal dan juga mendapatkan sarapan yang enak, tapi Tommy sungguh tidak bisa berada di situ lebih lama lagi. Tommy langsung ke parkiran mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, meluncur ke kantor dengan cepat!
Sesampainya di kantor, Tommy langsung menuju ke kantor Dave. Namun yang ada hanya Astrid yang sedang bersiap-siap sebelum bosnya datang.
"Apakah Dave belum datang?" tanya Tommy dengan muka serius.
"Belum, Pak!"
"Tolong kabari saya di ruangan saya kalau Dave sudah datang!" perintah Tommy.
"Baik, Pak!"
Tommy langsung keluar untuk menuju ke ruangannya sendiri. Wulan, sekretarisnya sudah datang dan juga sedang membereskan berkas-berkas yang harus diserahkan untuk Tommy hari ini.
"Pagi, Pak. Apakah bapak mau kopi seperti biasanya?"
"Iya. Tolong carikan saya sarapan pagi juga, yang praktis!" kata Tommy.
"Baik, Pak! Ada lagi?"
"Tolong kamu pergi ke ruangan Dave untuk mengecek apakah ia sudah datang atau belum! Lakukan secara berulang setiap lima menit!"
"Baik, Pak!" jawab Wulan yang sudah dua tahun bekerja untuk bosnya. Wulan tahu bahwa sesuatu sedang terjadi, tapi bosnya tipe yang tegas dan lugas. Jadi, Wulan berusaha menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut dan mengerjakan apa yang sudah diperintahkan oleh bosnya!
Wulan langsung pergi ke kafe seberang jalan dan membelikan sebuah croissant mentega untuk bosnya dan kembali ke kantor. Setelah membuatkan kopi dan menata rotinya di atas piring kecil, Wulan mengantarkannya ke ruangan Tommy.
"Apakah Dave sudah datang?" tanya ulang Tommy.
__ADS_1
"Belum, Pak!"
"Baiklah, kamu boleh kembali bekerja. Jangan lupa untuk mengecek Dave kalau ia sudah datang!"
Wulan hanya mengangguk dan meninggalkan ruangannya. Seperti yang diperintahkan oleh Tommy, Wulan menghubungi Astrid setiap lima menit yang membuat Astrid kesal tapi paham kalau Wulan juga tidak memiliki pilihan lain!
Tommy menatap jam dinding di kantornya. Sudah pukul setengah sembilan tapi Dave belum datang juga!
Sialan si Dave! Apa yang sedang ia lakukan di rumah? batin Tommy kesal.
Sementara itu, Dave dan Fiona bangun kesiangan. Mereka tidak bisa tidur semalam! Mereka masih tidur berpelukan yang sudah menjadi seperti kebiasaan mereka saat ini. Dering ponsel Dave yang berulang-ulang, membangunkan Dave dan Fiona!
"Aku rasa kamu harus mengangkat telpon itu!" gumam Fiona yang masih setengah tidur.
"Hmmm!" jawab Dave. Mata Dave masih berat tapi tangannya berusaha meraih ponsel yang diletakkannya di meja di samping ranjangnya.
"Halo."
"Sialan kamu, Dave! Apakah kamu masih tidur?" suara Tommy menggelegar di ponsel Dave.
"Pagi-pagi buta? Matahari sudah hampir berada di tengah dan kau bilang masih pagi buta?" ucap Tommy kesal.
Suara Tommy begitu keras sehingga Fiona langsung bangun dari tidur dan beranjak ke luar kamar untuk membuatkan kopi dan sarapan untuk suaminya. Sedangkan Dave kesal terhadap Tommy karena membuat Fiona beranjak dari pelukannya! Diliriknya jam yang ada di ponselnya, jamnya sudah menunjukkan waktu setengah sembilan dan memang bukan pagi-pagi buta seperti yang dipikirnya!
"Halo!Halo! Kamu masih disitu?" tanya Tommy.
"Iya!" kata Dave yang berusaha bangkit dari ranjang.
"Aku tunggu kamu di kantor, secepatnya!"
"Iya..iya! Aku akan bersiap-siap! Aku akan berangkat setelah makan pagi!" kata Dave santai.
"Makan di kantor! Kalau bisa, kamu berangkat sekarang!" perintah Tommy dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah gila? Pertama kamu membuat Fiona langsung bangun ketika mendengar suaramu yang keras itu! Kedua, istriku pasti sedang memasakkan sarapanku sekarang! Ketiga, Fiona akan membunuhku kalau aku tidak memakannya! Ke empat, gara-gara perkataanmu semalam, aku jadi tidak bisa tidur! Jadi sekarang, tunggu saja di kantor hingga aku datang! Kalau kamu tidak mau menunggu, minta saja apa yang kamu perlukan dari Astrid! jelas Dave sangat detail dan mematikan telepon.
Dave pergi mandi dan bersiap-siap. Fiona yang sudah selesai memasak, langsung masuk ke kamr untuk membantu Dave bersiap-siap. Kemeja, dasi dan celana sudah disiapkan Fiona sementara Dave sedang mandi. Ketika Dave keluar dan berpakaian, Fiona sedang berlari-lari untuk mengambilkan sepatu dan kaos kaki Dave.
"Tidak usah terburu-buru, Fio!" ucap Dave lembut.
"Bukankah Tommy menelpon dan sepertinya sedang ada sesuatu yang serius terjadi? Kita juga bangun kesiangan!" tanya Fiona yang panik sendiri.
"Aku hari ini tidak ada meeting atau persidangan yang penting kok! Aku tidak tahu kenapa Tommy menggangguku seperti ini. Ayo kita makan dulu!" ajak Dave.
Mereka berjalan menuju ke meja makan, Fiona menyiapkan piring dan menaruh nasi goreng beserta dengan sosis dan telur mata sapi untuk Dave dan mengambil untuk dirinya sendiri.
"Apakah kamu tidak terburu-buru, Fio?"
"Aku tidak ada kelas lagi hari ini karena persiapan menjelang test tengah semester. Jadi aku akan belajar di rumah dan memasak hari ini!"
"Aku harap aku juga bisa berada di rumah hari ini dan menghabiskan waktu denganmu!" goda Dave.
"Ayo cepat makan sarapanmu dan pergi bekerja! Tommy sedang menunggumu!"
"Biarkan saja dia menunggu! Aku akan menikmati sarapan pagiku dan membalas Tommy atas kejadian semalam!"
"Kejadian semalam? Memangnya apa yang sedang terjadi?"tanya Fiona kebingungan.
"Rahasia!" goda Dave lagi.
Wajah cantik Fiona langsung menjadi cemberut mendengar jawaban dari Dave. Mereka menghabiskan makan dengan saling berdiam diri. Makanan sudah habis dan Fiona mengantar Dave keluar ke arah mobil.
"Hati-hati di jalan ya!"
"Kamu juga! Hati-hati di rumah! Jika ada sesuatu yang mencurigakan, telpon aku!" kata Dave sambil mengecup pipi Fiona.
Tangan Fiona refleks langsung memegang pipinya. Walaupun itu hanya sentuhan sederhana, hati Fiona menjadi berdebar-debar karena bahagia. Akhirnya Dave pergi berangkat ke kantor dan Fiona kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
Di kantor, Tommy sedang berjalan mondar mandir di kantornya dan menunggu Dave dengan tidak sabar. Hati Tommy sedang gusar dan tidak enak.