
****Seminggu kemudian****
Lana dan Tommy telah berpisah dengan cara yang tidak baik seminggu yang lalu. Lana sangat berjuang keras untuk melupakan rasa sakit hati dan malu yang sangat besar dengan menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Jika gadis itu sedang tidak bekerja, maka ia akan menyibukkan diri di rumah dengan memasak atau membuat kue-kue!
Bi Ina tentu saja senang melihat kehadiran Lana yang setiap tidak bekerja, selalu di rumah. Namun Bi Ina merasakan ada yang tidak beres dengan Nona yang telah ia rawat beberapa tahun belakangan ini. Bi Ina hanya berpikir dan menyimpan pertanyaannya di dalam hati.
Sedangkan Tommy juga sama sekali tidak bisa diandalkan. Dalam seminggu dia hanya bekerja empat hari dan selalu marah-marah! Sekretarisnya, Wulan, sampai gugup dan tegang sepanjang hari. Pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu, Tommy selalu menghilang. Dave sampai khawatir dan bertanya-tanya dimana lelaki itu menghabiskan akhir pekannya. Dave sudah diberitahu oleh Fiona bahwa kejadian waktu Tommy bercanda dengan mereka akan menyebabkan masalah antara Tommy dan Lana. Dulu Dave tidak mempercayai bahwa hal tersebut akan menjadi masalah, namun ketika ia melihat sahabat serta rekannya menjadi seperti ini, Dave menjadi percaya kepada Fiona.
Tommy menghabiskan akhir pekannya hanya di rumah dan meminum alkohol sepanjang hari dan sepanjang waktu. Semakin pria itu berpikir bagaimana ia menyakiti Lana pada hari itu, semakin menyesal dia! Tetapi Tommy bingung harus berbuat apa karena Lana menolak untuk bertemu bahkan tidak pernah menjawab telpon atau pesan darinya!
Tommy lari ke alkohol yang ia pikir sangat membantunya melupakan kehadiran sosok Lana di apartemennya. Tommy merindukan saat Lana berada di apartemennya. Apartemennya menjadi terasa lebih hangat dan nyaman. Namun ketika Lana tidak lagi berada disana, apartemen itu kembali terasa kosong dan dingin.
****Di rumah sakit****
Fiona yang merasa sudah lebih baik, mengajak Angie untuk menemaninya ke rumah sakit. Hari ini adalah hari dimana Fiona dijadwalkan untuk kontrol setelah pulang ke rumah beberapa saat. Dave sangat sibuk bekerja dan langsung menyetujui ketika Fiona berkata ia akan meminta tolong Angie untuk menemaninya. Ketika Fiona bertanya kepada Angie, gadis itu langsung menyetujuinya karena gadis itu sangat tertarik kepada Dokter Rio yang dipikirnya sangat tampan. Angie menyukai pembawaan Dokter Rio yang sangat tenang dan berwibawa.
Angie sudah menjemput Fiona dua jam sebelum jadwal pemeriksaannya. Sebelum ke rumah sakit, Angie mengajak Fiona untuk membeli kue untuk diberikan kepada Dokter Rio. Fiona sangat setuju dengan ide dari Angie karena gadis itu merasa berhutang budi juga kepada Dokter Rio. Angie yang sangat bersemangat membeli kue, memilih banyak sekali kue kering dan kue basah karena Angie tidak tahu kesukaan Dokter Rio. Setelah membayar semua kuenya, Angie dan Fiona bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Angie menyuruh Fiona untuk mengambil nomer antrian terlebih dahulu ketika ia berusaha untuk membawa kue-kuenya. Angie menolak Fiona ketika Fiona berusaha untuk membantunya.
Di konter pendaftaran, Fiona bertemu dengan Lana.
"Hi Lana. Sedang apa kamu disini?" tanya Fiona.
"Ini sedang mau memeriksa kandunganku." jawab Lana sambil berbisik karena tidak ingin orang lain mengetahuinya.
"Kalau kamu sedang apa? Apakah sakit lagi?" tambah Lana.
"Tidak...tidak sakit lagi kok. Hanya mau kontrol ulang. Eh, habis ini, kamu ada waktu?"
"Ehhmmm, seharusnya ada. Kenapa?"
"Makan siang bareng yuk? Itupun kalau kamu mau!" tanya Fiona yang ragu.
"Boleh aja kok. Mana ponselmu?"
Fiona yang masih tidak pecaya bahwa Lana bisa begitu ramah dan baik, mengambil ponselnya dari tas dan memberikan kepada Lana. Di saat Lana mengambil ponsel Fiona, Angie sudah datang bergabung dengan mereka.
"Eh kenalin, ini sahabatku, Angela Pramono tapi panggil aja Angie."
__ADS_1
Angie yang merasa namanya sudah disebutkan Fiona langsung mengulurkan tangannya.
"Whoa, Fio, ini betul Lana Wilson? Betulkan? Mataku tidak salah lihat kan? Gila cantik betul..." ucap Angie sambil mengusap-usap matanya.
"Hush, malu-maluin aja kamu!" kata Fiona yang merasa malu.
"Oh Hi, iya betul aku Lana Wilson. Senang berkenalan denganmu, Angie! Nanti dia ikut untuk makan siang kan?" tanya Lana ke arah Fiona.
"Iya, itupun kalau boleh."
"Boleh saja. Ini nomer ponselku, aku sudah menyimpannya di sana. Bisakah kamu menelponnya sekarang sehingga aku bisa menyimpan nomormu juga?"
Fiona langsung menghubungi nomer Lana. Ketika menghubungi Lana, Fiona melihat cincin berlian pertunangan yang diberikan Tommy sudah tidak ada disana. Fiona berasumsi bahwa mereka sedang bermasalah. Fiona sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur dengan keadaan Tommy dan Lana tapi menurut kata hati Fiona, ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan hubungan Tommy dan Lana. Demi bayi mereka, batin Fiona.
"Kalau begitu aku akan menemui dokterku dulu. Nanti kalau sudah selesai, aku akan menghubungimu dimana kita akan makan siang!" kata Lana kepada Fiona.
"Baiklah. Semoga bayinya sehat-sehat saja ya!"
"Terima kasih. Kamu juga ya!"
Mereka akhirnya berpisah untuk melakukan cek kesehatan masing-masing.
Ketika Fiona dan Angie berjalan ke ruang tunggu, ternyata nomor mereka yang telah dipanggil karena hari ini tidak banyak pasien yang mendaftar. Fiona dan Angie langsung masuk dengan membawa kue yang sangat banyak.
"Hi Dok, masih ingat saya kan? Ini saya bawakan banyak kue untuk Dokter karena saya tidak tahu kesukaan Dokter!" ucap Angie tanpa henti kepada Dokter Rio yang hanya bisa tersenyum kepada Angie.
"Fio, bagaimana kabarmu? Apakah ada keluhan atau yang sakit?"
"Eh, halo Dok. Akhir-akhir ini kok saya merasa pusing dan mual ya dok. Apakah dokter bisa menuliskan resep untuk menghilangkan mual dan pusing saya, Dok?"
"Sejak kapan kamu merasa seperti itu?" tanya Dokter Rio yang langsung maju dan memeriksa tubuh dan luka Fiona.
"Akhir-akhir ini Dok. Apalagi menstruasi saya tidak datang! Kata Dave, suami saya, itu kemungkinan karena saya sedang sakit maka hormon saya menjadi tidak seimbang Dok."
"Hahaha itu betul, tapi apakah kamu sudah memeriksa apakah kamu hamil atau tidak?"
"Ya sama sekali tidak dong dok! Kan saya masih muda dan baru sakit!"
"Memang kalau masih muda tidak bisa hamil?" goda Dokter Rio.
Angie yang mendengar kata-kata Dokter Rio langsung menjerit.
"Aku akan mempunyai keponakan. Horay!"
"Hush, Angie, diam dulu dong. Itu kan belum pasti!" kata Fiona malu. Memang dalam hubungan persahabatan mereka, Angie selalu menjadi orang yang ceria dan bersemangat, berbeda dengan Fiona yang lebih mandiri dan tenang. Karena itu, teman Angie selalu banyak dan Fiona kurang bergaul tetapi Angie selalu bersama-sama dengan Fiona dan berusaha untuk melindunginya.
"Luka kamu sudah sangat bagus. Sudah lumayan kering, tapi masih jangan terlalu beraktivitas yang berat ya. Aku akan menyuruh kamu untuk melakukan beberapa tes lagi, untuk kehamilanmu. Kamu nanti memberikan darahmu ya, soalnya kan ini sudah agak siang, kalau memakai alat tes kehamilan, harus pagi dan belum makan atau minum. Jadi tes kehamilan yang diambil darahnya ya! Itu juga lebih akurat walaupun lebih mahal."
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa Dok!"
"Dok, apakah habis ini ada pasien?" tanya Angie.
"Kayaknya masih ada dua tapi habis itu tugas saya selesai. Memang kenapa?"
"Dokter masih ingat kan, janji dokter untuk pergi makan dengan saya. Bisakah siang ini Dok?"
"Boleh saja. Tapi tunggu saya selesai ya?"
"Oke Dok. Nanti biar Fiona berbincang dengan Lana di meja lain, Dokter sama saya saja di meja yang lain!"
Perkataan Angie sungguh membuat Dokter Rio kebingungan. Namun ia tidak mau bertanya lebih jauh. Fiona akhirnya turun ke lantai bawah untuk melakukan tes kehamilan dan ditemani oleh Angie. Proses untuk tes kehamilan sangat cepat sekali dan hasilnya bisa langsung keluar.
Fiona dan Angie yang sedang menunggu hasil tesnya menjadi sangat tegang sekali. Akhirnya seorang petugas keluar dari ruangan dan memanggil nama Fiona. Fiona yang tegang langsung berdiri dan menemui petugas itu.
Petugasnya memberikan sebuah amplop yang disegel dengan rapi. Fiona menerimanya dan kembali ke bangkunya karena kakinya terasa lemas sekali.
Angie yang sudah tidak sabar, agak memaksa Fiona untuk membuka amplop tersebut. Akhirnya Fiona memberanikan dirinya dan membuka amplop itu. Hasilnya positif! Dia sudah positif hamil selama tiga minggu. Berarti dia sudah hamil sebelum peristiwa penusukan itu. Fiona langsung kaget dan menangis sedangkan Angie yang bahagia, langsung menjerit kalau ia akan menjadi bibi!
"Kamu harus mengabari Dave segera!" ucap Angie.
"Nanti. Aku tidak mau mengganggu pekerjaan Dave sekarang! Ia sudah cukup sibuk akhir-akhir ini. Sekarang kita kembali dulu ke ruangan Dokter Rio dan bertanya apa yang harus aku lakukan sekarang!" putus Fiona.
Angie setuju dan mereka kembali ke ruangan Dokter Rio. Tetapi masih ada seorang pasien di dalam, jadi mereka harus menunggu di luar ruangan. Fiona hanya diam karena masih kaget dan berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Surat hasil tes kehamilannya sedang dibaca oleh Fiona berulang kali dan hasilnya tetap sama, yaitu Positif. Fiona sangat bahagia sekali karena ia sedang hamil. Air mata menetes di pipinya. Ia dan Dave akan menjadi orang tua!
Dokter Rio akhirnya sudah selesai dengan pasien sebelumnya dan mempersilahkan Fiona dan Angie untuk masuk ke ruangannya. Fiona memberikan hasil tesnya namun Dokter Rio hanya melihat raut wajah Fiona.
"Selamat ya. Apakah kamu sudah punya ginekolog?"
"Iya Dok, terima kasih. Saya belum punya ginekolog Dok."
"Kalau begitu mau saya jadwalkan dengan teman saya. Dia handal juga."
"Boleh Dok."
Dokter Rio langsung menelpon seseorang dari kantornya.
"Rin, apakah kamu ada jadwal kosong minggu ini?" tanya Dokter Rio di telpon.
Setelah beberapa saat Dokter Rio menelpon, akhirnya Dokter Rio menaruh telponnya dan berkata. "Rabu nanti ya, sore jam lima, kamu datang ke alamat ini. Dia menyisihkan waktu untukmu karena semua full. Jadi kamu akan datang ke rumahnya. Bilang saja dari Dokter Rio kepada perawat yang bertugas disana. Oke?"
"Iya dok. Terima kasih banyak Dok!" kata Fiona tulus.
"Jadi, saya sudah selesai sekarang. Apakah kita akan jadi makan siang?"
Fiona bingung dengan perkataan Dokter Rio dan langsung menatap Angie yang sudah bersemangat dan menjawab iya ke arah Dokter Rio. Fiona mencoba untuk menghubungi Lana dan langsung mendapat jawaban kalau Lana juga sudah selesai. Jadinya mereka akan bertemu di restaurant di pinggir kota yang sangat nyaman. Fiona pergi bersama dengan Angie yang diikuti oleh mobil Dokter Rio. Fiona juga memberitahu Dave bahwa dia tidak akan langsung pulang ke rumah, supaya suaminya tidak mengkhawatirkan jika Bi Ayu melaporkan kalau dia akan pulang terlambat.
__ADS_1