
Subuh dini hari, Lana sudah bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak semalam di ranjang mewahnya yang sangat besar. Kaki gadis itu terasa dingin dan diselimuti oleh selimut yang terbuat dari bulu lomba yang sangat lembut dan mahal. Aneh, padahal AC kamarnya menunjukkan suhu ruang dua puluh empat derajat celsius. Hati Lana berdebar-debar karena ia tahu bahwa pagi ini, ia harus melakukan tes untuk mengetahui bahwa ia sedang hamil atau tidak. Tidak ada pilihan lain itu gadis itu!
Beberapa hari yang lalu ketika Lana sedang tidak ada pekerjaan sama sekali, gadis itu biasanya akan menghabiskan waktu di gym. Namun suasana hatinya saat itu, membuat Lana menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar di dekat kawasan rumahnya. Ketika ia hendak menuju ke sebuah restaurant langganannya, ia terhenti oleh sebuah toko peralatan dan baju bayi. Matanya yang besar, menatap sebuah kaus kaki dan setelan baju yang berwarna merah menyala dengan gambar sapi yang lucu.
Lana melangkah masuk ke arah toko dan disambut oleh seorang pelayan toko yang sangat cekatan. Ragu, itulah -perasaan yang terbersit di benak Lana. Lana ragu untuk membelinya atau tidak! Namun godaannya terlalu besar, Lana langsung meminta pelayan toko tersebut untuk membungkusnya dan langsung membayarnya. Lana keluar dari toko tersebut dengan kantung belanjaan di tangan dan perasaan yang campur aduk.
Setelah itu, Lana tidak jadi menuju ke restaurant namun malah pulang ke rumah. Sekarang gadis itu bangkit dari ranjang dan menuju sebuah ruangan yang khusus untuk menyimpan koleksi baju, tas, sepatu dan perhiasannya. Lana membuka sebuah lemari dan menarik sebuah kantung belanjaan itu. Dibukanya kantung itu, baju bayi dan kaus kaki itu ditaruh di atas sebuah etalase kaca. Air mata Lana bergulir ketika melihat baju tersebut.
Lana sendiri merasa ingin tahu apakah ia sedang hamil atau tidak. Tanpa menghabiskan waktu lagi, ia segera masuk ke kamar mandi dan mengambil alat tes kehamilan yang sudah disiapkannya semalam.
Beberapa menit untuk menunggu hasilnya, terasa seperti ribuan jam. Perasaan Lana sungguh tercampur aduk. Hatinya berdebar tak karuan. Akhirnya, hasil yang telah ditunggunya keluar.
DUA GARIS MERAH! IA HAMIL!!!
Lana mendekap mulutnya karena tidak percaya bahwa ia sedang hamil. Air mata bahagia bergulir semakin deras di pipinya yang lembut. Gadis itu sudah membuat keputusan jauh-jauh hari, bahwa jika ia memang sedang hamil, ia akan memberikan semua yang terbaik bagi anaknya. Ia sama sekali tidak merasa khawatir kalau kelak dia tidak akan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencoba untuk memberikan yang terbaik dan memberikan apa yang ia tidak pernah dapatkan dari seorang ibu yang egois, yang meninggalkannya dan ayahnya demi lelaki lain.
Bahagia, itulah perasaan yang dirasakan Lana saat ini. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang ibu di usianya yang masih muda saat ini. Tetapi semenit kemudian, perasaan Lana menjadi tidak karuan karena ia bingung, bagaimana perasaan Tommy jika mengetahui kehamilannya! Semakin ia berpikir, semakin sedih perasaannya. Lana memutuskan untuk mandi supaya pikirannya menjadi lebih jernih. Ia akan menjalani apapun yang akan terjadi!
Sementara itu, di apartemen Tommy, Tommy yang juga tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam, mandi dengan air dingin! Selesai berpakaian, ia membuat kopi dan menenggak dua gelas kopi hitam yang pahit dengan cepat. Tak sabar untuk mengetahui hasil dari Lana, Tommy mangambil kunci mobilnya. Lelaki itu menyupir ke arah rumah Lana. Sesampainya di rumah Lana, seorang satpam yang menjaga gerbang menanyainya! Tommy memberitahu satpam tersebut kalau ia adalah pengacara dari Lana dan dengan segera, satpam itu membuka gerbang untuk Tommy.
Rumah Lana berkesan minimalis modern. Sekeliling rumah itu terbuat dari kaca yang berdiri tegak hingga tingkat dua rumah tersebut. Luas rumah tersebut tidak begitu besar, namun sangat tertata rapi. Taman kecilnya ditumbuhi aneka macam bunga yang harum. Tommy menekan bel rumah dan seorang asisten rumah tangga yang sudah tua, membuka pintu untuk Tommy.
"Selamat Pagi Tuan!" ucapnya sopan.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bi! Apakah Lana ada? Saya Tommy Wong, pengacara Lana."
"Nona sedang mandi, Tuan. Tadi saya disuruh menyiapkan sarapan di kolam ikan. Apakah Tuan mau bergabung untuk sarapan juga?" tanya asisten rumah tangga tersebut dengan rasa keibuan.
"Panggil saya Tommy saja,Bi. Nama Bibi siapa? Kalau sarapannya ada lebih, saya mau. Tapi jika tidak ada, segelas kopi saja, maka saya akan sangat berterima kasih!"
"Nama saya Bi Ina. Tentu saja ada lebih, Nak Tommy. Silahkan Nak Tommy menunggu disini. Saya akan segera kembali." sahut Bi Ina sambil menunjukkan jalan ke arah kolam ikan kecil namun indah itu. Air mancur kecil ada di tengah-tengahnya.
Tak berselang lama, Bi Ina sudah kembali dan membawakan roti tawar yang dipanggang, telur dadar orak arik dan sosis panggang beserta bermacam-macam selai sehat buatannya sendiri. Lalu Bi Ina kembali menghilang ke dapur rumah tersebut dan kemudian kembali untuk mengantarkan kopi, susu, dan jus jeruk segar dan beberapa macam buah yang sudah dipotong.
Lana turun ke bawah dan menuju ke kolam ikan, gadis itu terkejut karena tahu Tommy sedang berada di rumahnya untuk pertama kali. Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa kemarin malam kalau ia akan datang kesini. Tommy sedang duduk dan ngobrol dengan akrab dengan Bi Ina yang sudah bekerja lama untuknya sejak ia memulai karir sebagai model. Bagi Lana, Bi Ina sudah dianggap seperti ibunya sendiri, dari Bi ina juga, Lana mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari ibunya sendiri.
"Selamat pagi, Lana. Maafkan aku, datang ke rumahmu tanpa diundang sepagi ini."
"Selamat pagi juga, Tommy. Silahkan duduk!"
"Apakah kamu sudah melakukan tes tersebut?"
Lana menatap mata Tommy dan menjawabnya hanya dengan anggukan. Dada Tommy terasa sesak dan berdebar-debar.
__ADS_1
"Apa hasilnya?"
Lana tidak langsung menjawab, namun gadis itu langsung pergi kembali ke dalam rumah dan menaiki tangga ke lantai dua. Lana mengambil alat yang dipakainya untuk tes tadi dan mencucinya. Setelah itu, ia segera kembali ke lantai bawah dan memberikan hasil tes tersebut kepada lelaki yang berada di hadapannya.
Tommy melihat ada DUA GARIS MERAH! Dia bingung apa arti dari dua garis merah tersebut, Dilihatnya Lana dengan kebingungan.
"Aku...Aku hamil!" ucap Lana serak karena takut dengan reaksi Tommy.
Tangan Tommy bergetar ketika memegang alat tes tersebut. Dadanya terasa sesak karena rasa bahagia yang membuncah. Aku akan menjadi seorang ayah! pikir Tommy.
Tommy langsung menghampiri Lana dan memeluk gadis itu dengan tidak sadar. Pelukannya sangat erat.
Bi Ina yang mendengar keributan dari arah kolam ikan segera berlari untuk menghampiri Lana dan Tommy.
"Ada apa ini?" tanya Bi Ina bingung.
"Kami akan menjadi orang tua, Bi!" ucap Tommy senang.
Bi Ina mendekap mulutnya dan menangis bahagia. akhirnya rumah ini tidak akan menjadi sepi dan sunyi lagi.
"Aku akan segera menikahi Lana, Bi!" tambah Tommy.
Lana hanya berdiri dan bingung untuk bereaksi. Gadis itu tahu Tommy akan menikahinya karena lelaki itu merasa harus bertanggung jawab terhadap dirinya dan bayinya. Namun bagaimana dengan cinta?
__ADS_1
Apakah aku tidak pantas untuk dicintai? batin Lana sedih.
Lana hanya menatap kedua orang yang sedang bahagia di depannya dengan tatapan kosong. Hatinya yang tadinya terasa kosong menjadi terisi sedikit.