Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Permohonan yang terdalam!


__ADS_3

Dave duduk sendirian dalam gelap dan hanya ada penerangan secukupnya di kapel kecil di rumah sakit. PAra dokter dan perawat di ruang intensif hanya mengizinkan mereka masuk untuk melihat wajah mungil Fiona yang pucat dan lemah. Jika Dave bisa pergi ke bar, ia akan menghabiskan sebotol penuh alkohol disana. Melihat Fiona terbaring lemah tak berdaya, membuat Dave sangat terguncang. Fiona setidaknya tersambung dengan enam mesin monitor dengan jarum di lengan yang menyuplai nutrisi dan narkotika sebagai pereda sakit.


Ada selang keluar dari sisi tubuhnya untuk mengeluarkan cairan dari paru-paru. Mungkin itu juga selang yang digunakan untuk mengembangkan paru-paru Fiona. Belum pernah Fiona terluka sedemikian parah sepanjang hidupnya. Fiona tampak sangat rapuh, tak berdaya dan kesepian. Mata besar gelapnya terpejam. Ada lingkaran hitam di bawahnya. Saat Fiona bernapas, Dave bisa mendengar serak suara cairan di dada gadis itu. Bibir Fiona biru. Gadis itu seolah-olah sudah meninggal.


Disentuhnya tangan mungil Fiona dengan tangan besar milik Dave dan Dave teringat kemarin pagi ketika ia hendak pergi ke kantor. Dave sudah memiliki firasat buruk yang akan menimpa Fiona. Gadis itu kemarin tampak sangat ceria ketika melambaikan tangan ke arah mobil Dave yang sudah berangkat untuk pergi ke kantor. Kata-kata Fiona yang mengucapkan bahwa gadis itu mencintainya, menggema di kepala Dave. Dave memejamkan mata dan bergidik. Jika Fiona tidak selamat, ingatan gadis itu tentang Dave adalah rasa cita yang baru dirasakan oleh gadis itu sehari.


Seharusnya aku mengatakan bahwa aku mencintainya sejak pertama aku jatuh cinta, pikir Dave yang geram dengan kelakuannya sendiri. Gengsi membuatnya menunda-nunda untuk menyatakan perasaanny terhadap gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Dave selalu saja menyakiti hati Fiona dengan adanya surat perceraian dan kehadiran Lana yang membuat gadis itu cemburu. Dave mencoba mengingat-ingat bagaimana gadis itu tersenyum kepadanya, membuka bibirnya ketika dicium dan menjawab gairah Dave dengan gairah yang sama besarnya!


Terlintas kata-kata bijak lama di pikirannya. Berhati-hatilah dengan keinginanmu; kau bisa saja mendapatkannya. Dipandanginya tubuh Fiona yang mungil yang tidak bergerak dan dilihatnya akhir dari semua yang ia cintai.


Suara berisik menarik perhatiannya. Tommy sudah kembali. Tommy duduk di bangku panjang bersamanya, tampak sangat tidak nyaman.


"Tuhan tidak suka kepadaku." kata Tommy kepada Dave , mendesah keras sambil memandang berkeliling.


"Mungkin aku membawa hal buruk kepada Fiona hanya dengan mendekati kapel!"


"Tuhan tidak membalas dendam," sahut Dave berat. "Biasanya Tuhan memberi kita kelonggaran lebih daripada yang pantas kita dapatkan."


"Seharusnya kita berdua tidak menjadi dekat sama sekali dengan Fiona. Gadis itu menjadi korban karena kita. Dia menjadi sasaran orang yang memiliki dendam kepada kita!" sahut Tommy.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan kenyataan ini, Tom. Dua hari lalu, akhirnya kami dapat mengetahui perasaan kami masing-masing. Kami saling mencintai, Tommy. Bisa kau bayangkan bagaimana hancurnya hatiku melihat istri yang aku cintai berada di ruangan dengan bantuan alat-alat untuk menopang kehidupannya?" ucap Dave serak. Dave sangat terlihat berantakan dan sengsara.


"Aku paham. Aku dulu juga lelaki yang penuh dengan rasa dendam terhadap kehidupan. Aku menyalahkan kehidupan yang tidak adil yang terjadi padaku sampai aku bertemu dengan Fiona. Dia wanita pertama setelah bertahun-tahun lamanya, yang memandangku dan tidak melihat seorang lelaki yang penuh rasa dendam dan dosa. Dia punya cara mengesalkan yang membuatmu merasa penting, dibutuhkan, berguna. Dia membuatku senang hanya dengan melihatnya tersenyum kepadaku." jelas Tommy kepada Dave.


Dave benci mendengar komentar dari lelaki saingannya.


"Dia memang selalu begitu. Betapa pun buruk keadaannya, dia selalu bisa tersenyum." komentar Dave setelah semenit berlalu.


"Dia membuatku berpikir bisa menyesuaikan diri di sini, jika aku mencobanya. Selama hidup aku belum pernah berpikir untuk menetap di suatu tempat di manapun, sampai sekarang!" sahut Tommy.


"Terima kasih sudah menemaniku disini. Fiona akan sangat senang jika mengetahui kau berada disini juga untuknya!"


"Aku bersedia memberikan apa saja untuk mengembalikan waktu dan membetulkan semuanya. Kenapa kebahagiaan hanya terjadi satu hari untuk kami berdua? Ini sungguh tidak adil!"


"Tidak hanya kau, kita semua Fiona selamat dari insiden ini dan kembali sehat dan normal. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa kepada Tuhan dan berharap yang terbaik bagi Fiona." ucap Tommy.


Dua lelaki yang sangat peduli kepada gadis yang membawa keceriaan dalam hidup mereka sedang duduk di kapel kecil dan memohon kepada Tuhan agar menghukum mereka saja dan memohon untuk menyelamatkan nyawa seorang gadis yang ada di hati mereka.


Dave merasa lebih nyaman dengan kehadiran sahabatnya disana. Dia merasa tidak akan sanggup jika hanya ada dirinya di rumah sakit. Hari sudah menjadi semakin larut, namun Dave tidak mau meninggalkan rumah sakit sama sekali. Tommy memutuskan untuk berjalan ke kafetaria yang ada di rumah sakit tersebut dan membelikan makanan dan kopi yang banyak untuk mereka.

__ADS_1


Dave sudah kembali dan duduk di ruang tunggu di depan ruang perawatan intensif. Semua korden yang menutupi ruangan tersebut ditutup oleh perawat yang bertugas di dalam sehingga Dave tidak bisa melihat wajah mungil istri yang dicintainya. Tak lama kemudian, Tommy datang dan membawa makanan dan kopi untuk Dave.


"Aku tidak ada nafsu makan. Terima kasih sudah membelikannya!"


"Dave, jika kamu tidak makan, kamu juga akan jatuh sakit. Bagaimana jika Fiona membutuhkanmu tapi kamu malah jatuh sakit juga!" kata Tommy mencoba untuk menyadarkan sahabatnya.


Dave berpikir ada betulnya juga perkataan Tommy. Diambilnya bungkusan makanan yang dibeli oleh Tommy beserta dengan air dan kopi. Dimakannya makanan tersebut dengan paksaan karena Dave sungguh tidak memiliki nafsu untuk makan. Hati dan pikirannya tertuju kepada Fiona. Ia sangat khawatir kepada Fiona. Bagaimana ia bisa makan di saat istrinya terbaring rapuh dan tidak sadarkan diri!


"Terima kasih atas makanan dan minumannya. Tapi kamu sendiri juga harus makan. Setelah makan, kembalilah ke rumah. Besok tolong bantulah aku untuk bekerja dan tolong cari keparat yang sudah menusuk istriku. Usahakan untuk menangkapnya. Aku akan bayar berapapun untuk bisa menangkap orang itu!" kata Dave penuh emosi.


"Itu memang rencanaku. Aku akan kembali ke rumah setelah ini. Aku sudah mencari rekaman CCTV yang berada di kampus bersama temanku yang polisi. Dia sudah membawa dan menyelidikinya. Besok aku akan ke kantor untuk menangani pekerjaanmu juga. Kamu tenanglah disini. Kabari aku jika ada perubahan kondisi Fiona!"


"Aku akan mengabarimu secepatnya jika ada perubahan dengan Fiona. Jika istriku selamat, aku juga harus mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu dan menemaninya!"


"Aku akan membantumu. Kamu tenang saja! Fokus saja dengan perkembangan kondisi kesehatan Fiona!"


Tommy dan DaveĀ  berdiam diri beberapa saat untuk makan. Setelah makan, Dave mengantarkan Tommy ke mobilnya. Sesampai di mobil, Tommy yang tadi kelupaan, memberikan kepada Dave kantong tidur dan bantal kepadanya, jadi Dave bisa tidur di depan ruangan dengan nyaman. Setelah itu Tommy berpamitan kepada Dave dan Dave kembali ke depan ruang perawatan intensif untuk menunggu perkembangan keadaan istrinya.


Hatinya sungguh terasa tercabik-cabik dan sakit sekali ketika mengingat kondisi terakhir Fiona. Dave tak henti-hentinya memohon mukjijat dari Tuhan untuk Fiona.

__ADS_1


__ADS_2