
Tommy dan Lana menghabiskan malam hari mereka dengan bercerita tentang diri mereka masing-masing. Tommy tidak merasa percakapan mereka begitu akan terasa sangat menyenangkan. Waktu berlalu dengan cepat dan mereka tidak menyadarinya. Tommy mengajak Lana untuk pergi ke kamar sehingga mereka bisa beristirahat.
Lana merasa kikuk ketika tubuhnya berdekatan dengan tubuh Tommy. Gadis itu bertanya-tanya apakah ia akan sanggup untuk tidur di samping Tommy nanti.
Tommy sedang mencari-cari peralatan untuk mandi dan menyikat gigi baru untuk digunakan oleh Lana. Tommy mempersilahkan Lana untuk membersihkan diri di kamar mandi dan ia membersihkan ranjang. Tidak lama kemudian Lana sudah selesai mandi, Tommy mempersilahkan gadis itu untuk beristirahat. Lampu kamar diredupkan and AC telah disetel dengan suhu ruangan yang cukup nyaman sehingga gadis itu tidak akan kedinginan.
Lana berbaring di ranjang, berpikir apakah ia bisa tertidur. Namun karena kelelahan, bahkan sebelum Tommy kembali dari kamar mandi, gadis itu sudah tertidur. Tommy keluar dari kamar mandi, dia mendengar suara napas yang teratur. Gadis itu tertidur! Senyum tipis tersungging di bibir tipisnya. Pria itu duduk dan menatap gadis yang tidur dengan damai di sampingnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Kata-kata Lana terngiang di kepalanya. Gadis itu tidak mau bercerai karena norma yang ia percaya. Perceraian dibenci oleh Tuhan! Tommy juga percaya dengan kata-kata itu, oleh sebab itu, dia tidak mau menangani kasus perceraian. Bagi Tommy, kasus perceraian, kebanyakan tidak berakhir dengan baik. Selalu ada pihak yang menuntut, menyalahkan, berselingkuh atau pihak yang tersakiti.
Bagi Tommy pernikahan itu sakral! Pernikahan tanpa cinta namun berkomitmen. Apakah hanya komitmen akan cukup menjadi landasan dalam pernikahan? Besok aku harus mampir dan berbicara dengan Dave! putus Tommy dalam hati.
Hari itu dia cukup lelah juga, ditaruhnya handuk yang basah ke keranjang cucian. Disisir rambutnya yang telah kering, kemudian Tommy bergabung dengan Lana yang sudah tertidur. Pria itu memastikan bahwa gadis itu nyaman dan menarik selimut untuk menghangatkan gadis tersebut. Lengannya yang besar, mendekap gadis yang sedang tidur dengan erat. Jika ia mengambil keputusan untuk menikahi gadis ini, maka ia harus membiasakan untuk tidur bersama seperti ini. Hatinya terasa damai dan nyaman. Pria itu tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Tidak memakan waktu yang lama, ia akhirnya juga jatuh tertidur.
********Pagi Hari********
Mereka berdua bangun kesiangan. Ponsel Lana berdering, asistennya menelponnya untuk mengingatkan bahwa ia ada meeting bersama klien baru untuk membahas iklan baru yang akan dibuat. Perusahaan kosmetik mengontrak Lana untuk menjadi ambasador produk kecantikan baru yang akan segera dirilis. Lana yang lupa akan meeting tersebut, terburu-buru bangun. Tommy membuka mata dan melihat Lana sudah memakai gaun putih yang gadis itu kenakan kemarin.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Aku harus pergi. Aku lupa kalau hari ini aku ada meeting bersama dengan perusahaan AW!"
"Aku akan mengantarkanmu!" jawab Tommy yang sudah terbangun.
"Tidak perlu! Aku sudah memberitahu supirku untuk menjemputku. Dia sudah ada di parkiran mobil!" ucap Lana tergesa-gesa.
"Kalau begitu, berhati-hatilah dan jangan sampai kecapaian. Ingat kandunganmu masih kuat. Aku akan menghubungimu nanti!" sahut Tommy lembut kepada Lana.
Gadis itu tidak terbiasa dengan perhatian Tommy. Sebelumnya lelaki itu selalu menyindir atau menghindarinya. Lana sedikit menikmati perhatian dari lelaki itu.
Tommy ingat kalau kemarin dia memberitahu alamat apartemennya kepada Lana. Pria itu menjadi sedikit khawatir mengingat gadis itu sedang mengandung anaknya. Namun ia tidak berhak untuk menghalangi Lana untuk bekerja. Tommy akhirnya hanya mengantarkan Lana hingga ke mobilnya dengan selamat. Pria itu takut jika ada wartawan yang membuntuti mereka kemarin.
Beberapa saat setelah itu, Tommy masih berkutat di dapur untuk meminum kopinya. Diambil ponselnya dan dia menghubungi Dave.
"Bro, Gimana kabar Fiona?"
"Sudah membaik. Kata dokter dalam beberapa hari, jika kondisi Fiona seperti ini, Fiona sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah. Aku juga sudah mendapatkan asisten rumah tangga untuk membantuku merawat Fiona dan membantu pekerjaan rumah!"
"Kalau begitu, aku akan mampir nanti setelah bekerja. Ada beberapa hal yang ingin aku diskusikan denganmu!"
__ADS_1
"Okay. Aku akan menunggumu. Bawakan makanan ya! Aku bosan dengan makanan di kafetaria rumah sakit!"
Tommy mematikan sambungan telpon dan berangkat bekerja. Banyak pekerjaan yang tertunda karena kasus penusukan Fiona dan kejadian Lana kemarin. Ia tidak boleh membuang-buang waktu, ia juga harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sudah terbengkalai.
*****Jam Makan Siang*****
Tommy sudah bekerja sedari pagi tanpa henti. Ia tidak menyadari waktu yang sudah berlalu dengan cepat. Jika perutnya tidak memberontak, ia pasti masih berkutat dengan berkas-berkas laporan. Tadi pagi, pria itu tidak sempat untuk sarapan. Perutnya berbunyi berulang kali. Tommy menarik napasnya, dilihat jam yang berada di mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tommy mematikan laptopnya dan mengambil kunci mobilnya. Ia akan pergi makan di restaurant di pusat perbelanjaan di dekat kantor.
Di pusat perbelanjaan itu ada sebuah restaurant yang menyajikan makanan secara prasmanan. Jadi Tommy tidak perlu untuk menunggu makanannya untuk dimasak lagi. Sesampainya di sana, Tommy bergegas untuk mengambil makanannya dan melahapnya dengan cepat supaya ia bisa kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Setelah perutnya sesak karena kekenyangan, Tommy memutuskan ia akan berjalan-jalan sebentar di pusat perbelanjaan itu. Tiba-tiba ia berhenti di sebuah toko perhiasan.
Aku masih tidak yakin untuk menikah dengan Lana, tetapi tidak ada salahnya jika aku melihat-lihat terlebih dulu. Siaoa tahu ada yang terlihat bagus! batin Tommy yang sedang berdiri dan menatap etalase perhiasaan.
Tommy akhirnya masuk ke toko itu. Dilihatnya beberapa cincin dengan seksama, ada beberapa cincin yang menarik perhatiannya.
"Bolehkah aku melihat cincin ini?" tanya Tommy ke pelayan toko.
"Pilihan yang bagus, Tuan. Ini cincin berlian solitaire. Besar karatnya 1 karat. Ada sertifikat GIA yang diakui seluruh dunia dan tingkat kejernihan berlian ini adalah F!"
Pelayan toko tersebut menyebutkan harga cincin itu. Harga yang tidak begitu memalukan untuk melamar gadis sekelas Lana, pikir Tommy. Tommy memutuskan untuk membelinya, namun ketika hendak membayar, matanya menangkap sepasang cincin pernikahan berwarna putih polos dengan ukiran yang tidak terputus. Unik sekali. Tommy mengira-ngira besar jari Lana dan akhir mungkin memang kedua cincin itu memang ditakdirkan untuk gadis itu. Ukurannya pas! Tommy langsung membayarnya dan pergi kembali ke kantor.
__ADS_1
Karena sudah menemukan cincin untuk melamar Lana, Tommy memantapkan hatinya. Ia memutuskan untuk melamar Lana dan akan mengabari Fiona dan Dave nanti sore seusai kerja.